by

Khumus dalam Islam

Khumus merupakan salah satu pilar Islam yang ditetapkan oleh Allah dan dipraktikkan pada masa kehidupan Rasulullah Saw. Khumus artinya “seperlima”, dan mengindikasikan bahwa seperlima dari kelebihan pendapatan seseorang harus didedikasikan sesuai dengan penjelasan ayat Al-Quran berikut,
Dan ketahuilah bahwa apapun keuntungan yang kamu peroleh, maka sesungguhnya seperlima darinya diperuntukkan bagi Allah, bagi Rasul dan bagi keluarganya serta juga bagi anak –anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang terlantar, jika kamu telah beriman kepada Allah, dan pada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami Muhammad. (QS. Al-Anfal [8]:41)
Pendek kata, khumus bermakna membayarkan seperlima dari kelebihan pendapatan seseorang setelah menyisihkan belanja bagi pribadinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Khumus terdiri dari dua bagian yang sama: bagian pertama adalah bagian milik imam (saham Imam).
Bagian ini digunakan untuk membangun masjid-masjid, lembaga-lembaga Islam, sekolah-sekolah Islam, perpustakaan-perpustakaan, rumah sakit-rumah sakit, klinik-klinik, rumah yatim-rumah yatim, mencetak mushaf Al-Quran dan kitab-kitab hadis, buku-buku Islam dan ceramah-ceramah, serta aktivitas-aktivitas lainnya yang bermanfaat, membela, atau menyebarkan Islam. Bagian kedua adalah bagian yang diperuntukkan bagi para sayid (keturunan Rasulullah Saw) yang miskin karena mereka dilarang menerima sedekah (derma atau pemberian umum).
Beberapa referensi sejarah dari berbagai mazhab menyebutkan bahwa khumus eksis pada masa Rasulullah Saw dan dilarang pada masa Khalifah Pertama dan Kedua. [1]
Penafsiran oleh Ahlulbait As tentang kata “ghanimtum” dalam Surah Al-Anfal [8]:41 adalah “segala sesuatu yang kamu peroleh”—baik dari perang, pekerjaan, perdagangan, ataupun sumber-sumber lainnya—karena sejarah membuktikan bahwa Rasulullah Saw mengambil seperlima dari pampasan perang dan juga dari aset-aset selain daripada pampasan perang pada masa damai.[2] Para ulama di luar Syiah lainnya adakalanya mendukung posisi ini.[3]
 
Referensi :
1. Sunan Al-Baihaqi, jil. 6, bab “Sahm Dzil Qurba”; Musnad al- Syafi’i, bab “al-Fay”, hal.187; Sunan Abu Dawud, jil. 18, “al- k hums”; Musnad Ahmad bin Hanbal, 1:320; Kanz Al- ‘Ummal , Muttaqi Hindi, 2:305; Lisan al-Mizan, 6:148; Huliyat Abu Nu’aim , 2:205; Shahih Muslim, 5:198; Sunan Nisa’i, hal. 177, 178; Tafsir Thabari, 10:5.
2. Untuk lebih detil, lihat Musnad Ahmad bin Hanbal, 1:314; Sunan Ibnu Majah, hal. 839.
3. Kitab al-Kharâj, Qadhi Abu Yusuf, hal. 25-27.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed