by

Khotbah Imam Ali bin Abi Thalib tentang Tauhid

Ali bin Abi Thalib lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599 Masehi – wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661 Masehi. Beliau seorang sahabat terdekat sekaligus menantu Rasulullah Muhammad SAW.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu al-hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual warriorship. Ilmu tarekat, hakikat, dan irfan juga berujung kepada Ali bin Abi Thalib.
Di antara alumni-alumni lulusan akademi Rasulullah SAW, beliau adalah lulusan terbaiknya. Dengan potensi suci dan sempurna, Imam Ali mampu menangkap semua pelajaran sang guru. Ttidak ada satu hurufpun yang tidak difahami olehnya bahkan setiap satu huruf yang diajarkan oleh Rasul SAW. terbuka baginya seribu pintu ilmu. Hal ini menjadikan Imam Ali. pemilik kesempurnaan akal dan iman
Ulama irfan di semua negeri Islam menisbatkan dirinya kepada Imam Ali seperti Syibli, Junaid, Abu Yazid Basthami, dan Abu Mahfudz yang dikenal dengan nama Karlhi. Mereka menjelaskan sebuah persoalan dengan sanad yang menisbatkan dirinya kepada Imam Ali bin Abi Thalib.
Menurut pandangan Imam Ali, makriaf ketuhanan merupakan makrifat tertinggi dan merupakan paling sempurnanya makrifat. Seperti dalam ucapannya.
Berikut khotbah-khotbah Imam Ali mengenai tauhid atau ketuhanan:
سْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ،
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
Duhai Tuhanku, limpahkanlah sholawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad.
مَا وَحَّدَهُ مَنْ كَيَّفَهُ
Barangsiapa menetapkan kondisi-kondisi atau menyebutkan dengan pasti kondisi-kondisi-Nya, berarti dia tidak mengimani Keesan-Nya.
وَ لاَ حَقِيقَتَهُ أَصَابَ مَنْ مَثَّلَهُ
Barangsiapa menyamakan Dia dengan barang apapun, berarti dia tidak mengerti realitas tentang-Nya.
وَ لاَ إِيَّاهُ عَنَى مَنْ شَبَّهَهُ
Barangsiapa memberikan contoh tentang Dia, berarti dia tidak menghormati dan tidak memuliakan-Nya.
وَ لاَ صَمَدَهُ مَنْ أَشَارَ إِلَيْهِ وَ تَوَهَّمَهُ
Orang mengindikasikan atau menunjukkan posisi atau arah Dia, dan membayangkan Dia, berarti dia tidak mengetahui makna keTuhanan-Nya.
كُلُّ مَعْرُوفٍ بِنَفْسِهِ مَصْنُوعٌ
Apapun yang diketahui dengan sendirinya adalah ciptaan
وَ كُلُّ قَائِمٍ فِي سِوَاهُ مَعْلُولٌ
dan segala sesuatu yang eksis berkat yang lain, maka adalah efek dari yang lain itu
فَاعِلٌ لاَ بِاضْطِرَابِ آلَةٍ
Dia berbuat tanpa membutuhkan bantuan alat.
مُقَدِّرٌ لاَ بِجَوْلِ فِكْرَةٍ
Dia menetapkan ukuran tanpa bantuan pikiran
غَنِيٌّ لاَ بِاسْتِفَادَةٍ
Dia kaya tanpa dengan mendapatkan, tanpa dengan menerima, tanpa dengan memperoleh.
لاَ تَصْحَبُهُ الْأَوْقَاتُ
Dia tidak bersama waktu
وَ لاَ تَرْفِدُهُ الْأَدَوَاتُ
Dia tidak mencari bantuan dari sarana apa dan mana pun
سَبَقَ الْأَوْقَاتَ كَوْنُهُ
Eksistensi-Nya mendahului waktu
وَ الْعَدَمَ وُجُودُهُ
Eksistensi-Nya mendahului non-eksistensi
وَ الِابْتِدَاءَ أَزَلُهُ
Keabadian-Nya mendahului permulaan atau awal
بِتَشْعِيرِهِ الْمَشَاعِرَ عُرِفَ أَنْ لاَ مَشْعَرَ لَهُ
Dengan menciptakan pancaindra, maka diketahui, bahwa Dia tidak memiliki apa yang diciptakan-Nya itu (Dia tdk memiliki pancaindera)
وَ بِمُضَادَّتِهِ بَيْنَ الْأُمُورِ عُرِفَ أَنْ لاَ ضِدَّ لَهُ
Dengan membuat perbandingan di antara entitesis. (kontras), maka di ketahui, bahwa Dia tidak memiliki entitesis
وَ بِمُقَارَنَتِهِ بَيْنَ الْأَشْيَاءِ عُرِفَ أَنْ لاَ قَرِينَ لَهُ
Dan membuat persamaan di antara benda, maka diketahui bahwa tak ada yang menyamai-Nya.
ضَادَّ النُّورَ بِالظُّلْمَةِ وَ الْوُضُوحَ بِالْبُهْمَةِ
Dia telah menjadikan terang sebagai lawan dari gelap, cerah sebagai lawan dari suram,
وَ الْجُمُودَ بِالْبَلَلِ وَ الْحَرُورَ بِالصَّرَدِ
kering sebagai lawan dari lembab, dan panas sebagai lawan dari dingin
مُؤَلِّفٌ بَيْنَ مُتَعَادِيَاتِهَا مُقَارِنٌ بَيْنَ مُتَبَايِنَاتِهَا
Dia menjadikan selaras di antara kutub-kutub. Dia satukan beragam benda
مُقَرِّبٌ بَيْنَ مُتَبَاعِدَاتِهَا مُفَرِّقٌ بَيْنَ مُتَدَانِيَاتِهَا
Dia dekatkan apa yang jauh, dan pisahkan apa yang menyatu
لَا يُشْمَلُ بِحَدٍّ وَ لَا يُحْسَبُ بِعَدٍّ
dia tidak terkena batas , juga tak dapat dihitung dengan angka-angka.
وَ إِنَّمَا تَحُدُّ الْأَدَوَاتُ أَنْفُسَهَا
Terjadi proses tarik-menarik di antara materi
وَ تُشِيرُ الْآلَاتُ إِلَى نَظَائِرِهَا
Bagian merupakan bukti bahwa ada yang sama di antara itu
مَنَعَتْهَا مُنْذُ الْقِدْمَةَ
Kata “sejak” membuktikan bahwa materi tidak abadi
وَ حَمَتْهَا قَدُ الْأَزَلِيَّةَ
dan kata”mungkin” membuktikan bahwa materi tidak kontinu atau tidak abadi
وَ جَنَّبَتْهَا لَوْلَا التَّكْمِلَةَ بِهَا
sementara sarana-sarana tertentu selalu membuatnya tak dapat mencapai kesempurnaan.
تَجَلَّى صَانِعُهَا لِلْعُقُولِ
Melalui mater-materi itu Sang Pencipta memperlihatkan Diri-Nya pada orang yang berakal
وَ بِهَا امْتَنَعَ عَنْ نَظَرِ الْعُيُونِ
dan melalui materi-materi itu pula Dia jadi tertabiri, tak dapat dilihat
وَ لَا يَجْرِي عَلَيْهِ السُّكُونُ وَ الْحَرَكَةُ
Diam dan gerak tidak berlaku bagi-Nya
وَ كَيْفَ يَجْرِي عَلَيْهِ مَا هُوَ أَجْرَاهُ
Mana mungkin sesuatu yang Dia wujudkan mempengaruhi-Nya
وَ يَعُودُ فِيهِ مَا هُوَ أَبْدَاهُ
Mana mungkin sesuatu yang di ciptakan-Nya berbalik mempengaruhi-Nya
وَ يَحْدُثُ فِيهِ مَا هُوَ أَحْدَثَهُ إِذاً لَتَفَاوَتَتْ ذَاتُهُ
وَ لَتَجَزَّأَ كُنْهُهُ وَ لَامْتَنَعَ مِنَ الْأَزَلِ مَعْنَاهُ
Kalau saja demikian, berarti Dia bias berubah-ubah, wujud-Nya bias terbagi (menjadi bagian-bagian), dan realitas-Nya bisa tidak abadi.
وَ لَكَانَ لَهُ وَرَاءٌ إِذْ وُجِدَ لَهُ أَمَامٌ
Kalau Dia ada depannya, berarti Dia belakangnya!
وَ لَالْتَمَسَ التَّمَامَ إِذْ لَزِمَهُ النُّقْصَانُ
Dia butuh kesempurnaan seandainya saja Dia memiliki kekurangan.
وَ إِذاً لَقَامَتْ آيَةُ الْمَصْنُوعِ فِيهِ وَ لَتَحَوَّلَ دَلِيلًا بَعْدَ أَنْ كَانَ مَدْلُولًا عَلَيْهِ
Kalau demikian halnya, berarti karakteristik makhluk-Nya juga ada pada Dia, berarti Dia itu tanda (yang memberikan petunjuk atau indikasi tentang objek-objek lain) bukannya tanda yang mengindikasikan tentang Dia.
وَ خَرَجَ بِسُلْطَانِ الِامْتِنَاعِ مِنْ أَنْ يُؤَثِّرَ فِيهِ مَا يُؤَثِّرُ فِي غَيْرِهِ الَّذِي لَا يَحُولُ وَ لَا يَزُولُ وَ لَا يَجُوزُ عَلَيْهِ الْأُفُولُ
Karena Dia memiliki kekuatan pengaruh atau kekuatan untuk mewujudkan apa yang dinginkan, maka Dia mustahil di pengaruhi (atau mustahil makhluk untuk dapat membentuk kondisi-Nya.).” perubahan atau kesirnaan tak berlaku bagi-Nya.
لَمْ يَلِدْ فَيَكُونَ مَوْلُوداً وَ لَمْ يُولَدْ فَيَصِيرَ مَحْدُوداً جَلَّ عَنِ اتِّخَاذِ الْأَبْنَاءِ وَ طَهُرَ عَنْ مُلَامَسَةِ النِّسَاءِ
Kalau Dia melahirkan, berarti Dia juga dilahirkan. Kalau Dia melahirkan, berarti Dia terbatas. Dia terlalu sempurna untuk memiliki putra-putri, terlalu suci untuk beristri.
لاَ تَنَالُهُ الْأَوْهَامُ فَتُقَدِّرَهُ وَ لاَ تَتَوَهَّمُهُ الْفِطَنُ فَتُصَوِّرَهُ وَ لاَ تُدْرِكُهُ الْحَوَاسُّ فَتُحِسَّهُ وَ لاَ تَلْمِسُهُ الْأَيْدِي فَتَمَسَّهُ وَ لاَ يَتَغَيَّرُ بِحَالٍ وَ لاَ يَتَبَدَّلُ فِي الْأَحْوَالِ
Imajinasi tak mungkin dapat menjangkau-Nya, sehingga Dia tak dapat di telaah untuk dapat menilai-Nya. Kemampuan untuk menangkap atau memahami makna tak mungkin dapat menjangkau-Nya dan tak mungkin dapat membayangkan bentuk-nya. Indera tak mungkin dapat menangkap-Nya sehingga mustahil mengeksplorasi-Nya. Tangan tak mungkin dapat menyentuh-Nya, sehingga tak mungkin dapat memahami-Nya dengan menggunakan sentuhan. Dia tak berubah menjadi kondisi apa pun. Beranjak dari satu tahap ke tahap yang lain tak berlaku bagi-Nya
وَ لَا تُبْلِيهِ اللَّيَالِي وَ الْأَيَّامُ وَ لَا يُغَيِّرُهُ الضِّيَاءُ وَ الظَّلَامُ وَ لاَ يُوصَفُ بِشَيْ‏ءٍ مِنَ الْأَجْزَاءِ وَ لاَ بِالْجَوَارِحِ وَ الْأَعْضَاءِ وَ لَا بِعَرَضٍ مِنَ الْأَعْرَاضِ وَ لاَ بِالْغَيْرِيَّةِ وَ الْأَبْعَاضِ وَ لاَ يُقَالُ لَهُ حَدٌّ
Siang dan malam tak membuat-Nya jadi lain atau jadi berubah karena berjalannya waktu. Terang dan gelap tak membuat-Nya mengalami perubahan. Tak dapat dikatakan, bahwa Dia memiliki anggota badan, kaki dan tangan.
وَ لاَ نِهَايَةٌ وَ لاَ انْقِطَاعٌ وَ لاَ غَايَةٌ وَ لاَ أَنَّ الْأَشْيَاءَ تَحْوِيهِ فَتُقِلَّهُ أَوْ تُهْوِيَهُ أَوْ أَنَّ شَيْئاً يَحْمِلُهُ فَيُمِيلَهُ أَوْ يُعَدِّلَهُ لَيْسَ فِي الْأَشْيَاءِ بِوَالِجٍ وَ لاَ عَنْهَا بِخَارِجٍ
Dia tak mungkin berakhir. Tak ada yang dapat mengendalikan-Nya untuk naik turun. Tak ada yang menopang-Nya. Dia tidak didalam dan tidak diluar segala sesuatu.
يُخْبِرُ لَا بِلِسَانٍ وَ لَهَوَاتٍ وَ يَسْمَعُ لَا بِخُرُوقٍ وَ أَدَوَاتٍ يَقُولُ وَ لَا يَلْفِظُ وَ يَحْفَظُ وَ لَا يَتَحَفَّظُ
Dia menyampaikan kabar, namun bukan dengan lidah ataupun suara. Dia mendengarkan, namun bukan dengan telinga atau organ pendengaran. Dia berfirman, namun bukan dengan mengucapkan kata-kata. Dia ingat, namun bukan dengan menghapal.
وَ يُرِيدُ وَ لَا يُضْمِرُ يُحِبُّ وَ يَرْضَى مِنْ غَيْرِ رِقَّةٍ وَ يُبْغِضُ وَ يَغْضَبُ مِنْ غَيْرِ مَشَقَّةٍ يَقُولُ لِمَنْ أَرَادَ كَوْنَهُ كُنْ فَيَكُونُ لَا بِصَوْتٍ يَقْرَعُ وَ لَا بِنِدَاءٍ يُسْمَعُ
Dia menetapkan, namun bukan dengan pikiran-Nya. Dia mencintai dan menyetujui, namun bukan dengan perasaan. Dia benci dan murka, namun tidak dengan sungguh-sungguh. Bila menghendaki untuk menciptakan sesuatu, maka Dia katakana pada sesuatu itu “jadilah” maka jadilah semua itu, namun bukan dengan suara yang dapat di dengar (oleh telinga).
وَ إِنَّمَا كَلَامُهُ سُبْحَانَهُ فِعْلٌ مِنْهُ أَنْشَأَهُ وَ مَثَّلَهُ لَمْ يَكُنْ مِنْ قَبْلِ ذَلِكَ كَائِناً وَ لَوْ كَانَ قَدِيماً لَكَانَ إِلَهاً ثَانِياً لَا يُقَالُ كَانَ بَعْدَ أَنْ لَمْ يَكُنْ فَتَجْرِيَ عَلَيْهِ الصِّفَاتُ الْمُحْدَثَاتُ وَ لَا يَكُونُ بَيْنَهَا وَ بَيْنَهُ فَصْلٌ وَ لَا لَهُ عَلَيْهَا فَضْلٌ فَيَسْتَوِيَ الصَّانِعُ وَ الْمَصْنُوعُ وَ يَتَكَافَأَ الْمُبْتَدَعُ وَ الْبَدِيعُ
Firman-Nya merupakan perwujudan dari apa yang diciptakan-Nya. Tak pernah ada bandingan-Nya. Juga dia tak dapat dianggap tua. Kalau tidak, berarti ada Tuhan kedua. tak mungkin dikatakan bahwa Dia ada setelah sebelumnya tak ada, karena kalau demikian berarti pada Diri-Nya ada refleksi efek-efek ciptaan, sehingga tak ada bedanya antara ciptaan dan Dia. Kalau demikian, maka Pencipta dan makhluk sama saja, dan Penyebab serta yang disebabkan jadi sama tingkatannya.
خَلَقَ الْخَلَائِقَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ خَلَا مِنْ غَيْرِهِ وَ لَمْ يَسْتَعِنْ عَلَى خَلْقِهَا بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ وَ أَنْشَأَ الْأَرْضَ فَأَمْسَكَهَا مِنْ غَيْرِ اشْتِغَالٍ وَ أَرْسَاهَا عَلَى غَيْرِ قَرَارٍ وَ أَقَامَهَا بِغَيْرِ قَوَائِمَ وَ رَفَعَهَا بِغَيْرِ دَعَائِمَ وَ حَصَّنَهَا مِنَ الْأَوَدِ وَ الِاعْوِجَاجِ وَ مَنَعَهَا مِنَ التَّهَافُتِ وَ الِانْفِرَاجِ أَرْسَى أَوْتَادَهَا وَ ضَرَبَ أَسْدَادَهَا وَ اسْتَفَاضَ عُيُونَهَا وَ خَدَّ أَوْدِيَتَهَا فَلَمْ يَهِنْ مَا بَنَاهُ وَ لَا ضَعُفَ مَا قَوَّاهُ هُوَ الظَّاهِرُ عَلَيْهَا بِسُلْطَانِهِ وَ عَظَمَتِهِ وَ هُوَ الْبَاطِنُ لَهَا بِعِلْمِهِ وَ مَعْرِفَتِهِ وَ الْعَالِي عَلَى كُلِّ شَيْ‏ءٍ مِنْهَا بِجَلَالِهِ وَ عِزَّتِهِ
Dia menciptakan makhluk dengan tidak menggunakan model yang dibuat oleh sesuatu yang lain, dan Dia tidak mendapat bantuan dari makhluk-Nya dalam menciptakan. Dia menciptakan bumi dan mengendalikannya tanpa dengan memegangnya, menjaganya tanpa dengan memberinya topangan, menjadikannya tegak tanpa kutub, meninggikannya tanpa pilar, menjaganya agar tidak hancur atau agar tidak menjadi berkeping-keping. Dia tegakkan gunung di atasnya seperti pasak, menjadikan keras bebatuannya, membuat sungai-sungainya mengalir airnya, dan membentangkan lembah-lembahnya. Apapun yang diciptakan-Nya tak ada cacatnya. Apapun yang diperkuat-Nya, maka tak mungkin lemah. Dia menunjukkan diri-Nya di muka bumi ini melalui kekuasaan dan kebesaran-Nya. Dia mengetahui segala yang ada di dalamnya melalui pengetahuan dan pemahaman-Nya. Dia mahakuasa atas segalanya di muka bumi ini karena Dia agung lagi bermartabat.
لَا يُعْجِزُهُ شَيْ‏ءٌ مِنْهَا طَلَبَهُ وَ لَا يَمْتَنِعُ عَلَيْهِ فَيَغْلِبَهُ وَ لَا يَفُوتُهُ السَّرِيعُ مِنْهَا فَيَسْبِقَهُ وَ لَا يَحْتَاجُ إِلَى ذِي مَالٍ فَيَرْزُقَهُ خَضَعَتِ الْأَشْيَاءُ لَهُ وَ ذَلَّتْ مُسْتَكِينَةً لِعَظَمَتِهِ لَا تَسْتَطِيعُ الْهَرَبَ مِنْ سُلْطَانِهِ إِلَى غَيْرِهِ فَتَمْتَنِعَ مِنْ نَفْعِهِ وَ ضَرِّهِ وَ لَا كُفْ‏ءَ لَهُ فَيُكَافِئَهُ وَ لَا نَظِيرَ لَهُ فَيُسَاوِيَهُ هُوَ الْمُفْنِي لَهَا بَعْدَ وُجُودِهَا حَتَّى يَصِيرَ مَوْجُودُهَا كَمَفْقُودِهَا وَ لَيْسَ فَنَاءُ الدُّنْيَا بَعْدَ ابْتِدَاعِهَا
Segala yang ada di bumi ini tak ada yang menentang-Nya bila Dia minta, juga tidak menentang-Nya untuk menggagahi-Nya. Dia tidak membutuhkan apa dan siapapun. Segalanya hormat dan tunduk di hadapan kebesaran-Nya. Segalanya tak mungkin lari dari otoritas-Nya, menuju sesuatu atau seseorang untuk melepaskan diri dari-Nya. Dia tak ada bandingan-Nya, dan tak ada yang seperti-Nya. Dia akan menghancurkan bumi setelah bumi itu ada, sampai segala yang ada di bumi itu jadi tiada.
بِأَعْجَبَ مِنْ إِنْشَائِهَا وَ اخْتِرَاعِهَا وَ كَيْفَ وَ لَوِ اجْتَمَعَ جَمِيعُ حَيَوَانِهَا مِنْ طَيْرِهَا وَ بَهَائِمِهَا وَ مَا كَانَ مِنْ مُرَاحِهَا وَ سَائِمِهَا وَ أَصْنَافِ أَسْنَاخِهَا وَ أَجْنَاسِهَا وَ مُتَبَلِّدَةِ أُمَمِهَا وَ أَكْيَاسِهَا عَلَى إِحْدَاثِ بَعُوضَةٍ مَا قَدَرَتْ عَلَى إِحْدَاثِهَا وَ لَا عَرَفَتْ كَيْفَ السَّبِيلُ إِلَى إِيجَادِهَا وَ لَتَحَيَّرَتْ عُقُولُهَا فِي عِلْمِ ذَلِكَ وَ تَاهَتْ وَ عَجَزَتْ قُوَاهَا وَ تَنَاهَتْ وَ رَجَعَتْ خَاسِئَةً حَسِيرَةً عَارِفَةً بِأَنَّهَا مَقْهُورَةٌ مُقِرَّةً بِالْعَجْزِ عَنْ إِنْشَائِهَا مُذْعِنَةً بِالضَّعْفِ عَنْ إِفْنَائِهَا
Namun kesirnaan dunia setelah dunia itu diciptakan tidak lebih sulit dimengerti di banding penciptaanya untuk pertama kali. Sekalipun semua makhluk di bumi, entah itu burung atau binatang buas, binatang ternak atau binatang gembalaan, entah asal-usul dan spesiesnya beda, entah itu bangsa-bangsa pintat atu tidak pintar, semua bersatu padu berupaya bersama menciptakan satu ekor nyamuk pun, maka mereka tak akan mampu menciptakannya dan juga tak mengetahui sarana untuk menciptakannya. Akal dan kecerdasan mereka akan kebingungan, dan mereka pun akan berjalan tanpa arah. Mereka jadi tak berdaya, kemudian mengalami kekecewaan dan kecapean. Lalu mereka pun menyadari kekalahan mereka, dan mengakui ketidakmampuan untuk menciptakan seekor nyamuk. Mereka juga akan menyadari bahwa diri mereka terlalu lemah (meskipun itu) untuk menghancurkannya.”
وَ إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ يَعُودُ بَعْدَ فَنَاءِ الدُّنْيَا وَحْدَهُ لَا شَيْ‏ءَ مَعَهُ كَمَا كَانَ قَبْلَ ابْتِدَائِهَا كَذَلِكَ يَكُونُ بَعْدَ فَنَائِهَا بِلَا وَقْتٍ وَ لَا مَكَانٍ وَ لَا حِينٍ وَ لَا زَمَانٍ عُدِمَتْ عِنْدَ ذَلِكَ الْآجَالُ وَ الْأَوْقَاتُ وَ زَالَتِ السِّنُونَ وَ السَّاعَاتُ فَلَا شَيْ‏ءَ إِلَّا اللَّهُ الْواحِدُ الْقَهَّارُ الَّذِي إِلَيْهِ مَصِيرُ جَمِيعِ الْأُمُورِ بِلَا قُدْرَةٍ مِنْهَا كَانَ ابْتِدَاءُ خَلْقِهَا وَ بِغَيْرِ امْتِنَاعٍ مِنْهَا كَانَ فَنَاؤُهَا وَ لَوْ قَدَرَتْ عَلَى الِامْتِنَاعِ لَدَامَ بَقَاؤُهَا لَمْ يَتَكَاءَدْهُ صُنْعُ شَيْ‏ءٍ مِنْهَا إِذْ صَنَعَهُ وَ لَمْ يَؤُدْهُ مِنْهَا خَلْقُ مَا خَلَقَهُ وَ بَرَأَهُ
Sesungguhnya setelah kesirnaan dunia Allah Ta’ala akan tetap eksis tanpa ada apapun di samping-Nya. Dia akan tetap eksis, setelah kesirnaan alam, sebagaimana sebelum-Nya:tanpa waktu atu ruang, moment atau periode. Kemudian zaman dan waktu tak akan ada, tahun dan jam pun akan sirna.Tak ada lagi apa-apa kecuali Allah Yang Maha Esa lagi Mahakuasa. Segala perkara kembali kepada-Nya.Terciptanya segala sesuatu berada di luar daya sesuatu itu, dan kesirnaan segala sesuatu tak dapat dicegah oleh segala sesuatu itu. Seandainya segala sesuatu itu mampu mencegah kesirnaan mereka, tentu mereka akan eksis untuk selamanya. Ketika Dia menciptakan bagian apapun dari dunia ini, Dia sama sekali idak mengalami kesulitan,dan ketika menciptakan dan membentuk Dia sama sekali tidak kecapean.”
وَ لَمْ يُكَوِّنْهَا لِتَشْدِيدِ سُلْطَانٍ وَ لَا لِخَوْفٍ مِنْ زَوَالٍ وَ نُقْصَانٍ وَ لَا لِلِاسْتِعَانَةِ بِهَا عَلَى نِدٍّ مُكَاثِرٍ وَ لَا لِلِاحْتِرَازِ بِهَا مِنْ ضِدٍّ مُثَاوِرٍ وَ لَا لِلِازْدِيَادِ بِهَا فِي مُلْكِهِ وَ لَا لِمُكَاثَرَةِ شَرِيكٍ فِي شِرْكِهِ وَ لَا لِوَحْشَةٍ كَانَتْ مِنْهُ فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَأْنِسَ إِلَيْهَا ثُمَّ هُوَ يُفْنِيهَا بَعْدَ تَكْوِينِهَا لَا لِسَأَمٍ دَخَلَ عَلَيْهِ فِي تَصْرِيفِهَا وَ تَدْبِيرِهَا وَ لَا لِرَاحَةٍ وَاصِلَةٍ إِلَيْهِ وَ لَا لِثِقَلِ شَيْ‏ءٍ مِنْهَا عَلَيْهِ لَا يُمِلُّهُ طُولُ بَقَائِهَا فَيَدْعُوَهُ إِلَى سُرْعَةِ إِفْنَائِهَا
Dia menciptakan segala sesuatu bukan untuk memperbesar kekuasaan-Nya, juga bukan karena takut, juga bukan untuk menghadapi lawan, juga bukan untuk mendapatkan bantuan untuk menghadapi musuh atau lawan, juga bukan untuk memperluas wewenang-Nya, juga bukan untuk membanggakan-Nya di hadapan sekutu-Nya, juga bukan karena merasa kesepian dan juga bukan karena menginginkan teman. Kemudian setelah penciptaan-Nya Dia akan menghancurkannya bukan karena cemas menjaga dan mengaturnya, juga bukan karena akan menyenangkan-Nya, juga bukan karena tidak praktis lagi. Kalau eksistensi segala sesuatu di perpanjang, itu tidak akan membuat-Nya kecapean atau kepayahan sehingga mendorong-Nya untuk segera menghancurkannya.
وَ لَكِنَّهُ سُبْحَانَهُ دَبَّرَهَا بِلُطْفِهِ وَ أَمْسَكَهَا بِأَمْرِهِ وَ أَتْقَنَهَا بِقُدْرَتِهِ ثُمَّ يُعِيدُهَا بَعْدَ الْفَنَاءِ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ مِنْهُ إِلَيْهَا وَ لَا اسْتِعَانَةٍ بِشَيْ‏ءٍ مِنْهَا عَلَيْهَا وَ لَا لِانْصِرَافٍ مِنْ حَالِ وَحْشَةٍ إِلَى حَالِ اسْتِئْنَاسٍ وَ لَا مِنْ حَالِ جَهْلٍ وَ عَمًى إِلَى حَالِ عِلْمٍ وَ الْتِمَاسٍ وَ لَا مِنْ فَقْرٍ وَ حَاجَةٍ إِلَى غِنًى وَ كَثْرَةٍ وَ لَا مِنْ ذُلٍّ وَ ضَعَةٍ إِلَى عِزٍّ وَ قُدْرَةٍ .
Namun Allah Yang mahasuci lagi Maha Agung menjaganya dengan kemurahan hati-Nya, dengan kekuasaan-Nya. Dia menyempurnakan-Nya dengan kekuatan-Nya. Kemudian, setelah segala sesuatu itu hancur binasa, Dia wujudkan kembali bukan karena Dia membutuhkannya, juga bukan untuk mendapatkan bantuannya, juga bukan untuk mendapatkan teman, juga bukan karena tadinya tidak tahu lalu jadi tahu, tadinya butuh lalu jadi mandiri dan memiliki segalanya, tadinya hina lalu jadi mulia.”
 
Sumber : satuislam.org

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed