by

Ayatullah Madzahiri : Umat Syiah Harus Meminta Maaf kepada Imam Ali As

Ulama marja taklid Ayatullah al-Uzhma Madzahiri dalam penyampaian ceramahnya menyambut masuknya peringatan wiladah Imam Ali bin Abi Thalib As menyebutkan Imam Ali As adalah kebanggaan besar bagi umat Islam Syiah. Namun menurutnya Syiah telah melakukan kelalaian besar berkenaan dengan Imam Ali As. Berikut rangkuman dari transkrip ceramah ulama besar yang bermukim di kota Qom Republik Islam Iran tersebut.
بسم الله الرحمن الرحیم
الحمدلله ربّ العالمین و الصّلاة و السّلام علی خیر خلقه أشرف بریته ابوالقاسم محمّد صلی الله علیه و علی آله الطیّبین الطاهرین و
Dengan masuknya peringatan hari lahirnya Putera Ka’bah Maula al-Muwahidin Maula Amirul Mukminin Ali ‘alahi salam aku akan berkhidmat untuk sang maula. Aku meminta izin dari para hadirin agar pahala dari majelis ilmu ini, dihadiahkan untuk Maula Amirul Mukminin Ali As.
Mengenai Amirul Mukminin As bukan hanya dari Sunni dan Syiah namun juga dari komunitas non muslim telah sangat sering dibicarakan. Adalah salah satu kebanggaan besar bagi umat Islam Syiah, ketika Sunni maupun kelompok non muslim juga turut membicarakan Imam pertama Syiah dengan penuh rasa kagum. George Jordac seorang penulis Kristiani asal Lebanon, menulis sebuah buku mengenai Imam Ali As dengan judul, “Imam Ali Suara Keadilan”. Dalam bukunya itu ia menulis puisi dan syair kekaguman kepada Imam Ali. Ketika ia ditanya, bukannya sebagai Kristiani, ia harusnya menulis syair dan puisi mengenai Yesus Kristus, Jordac menjawab, aku mencintai keutamaan dan hasil pencariankuu berakhir pada mata air keutamaan yang tidak aku temukan pada siapapun kecuali Ali.
Alhamdulillah, umat Islam Syiah banyak memuliki sumber referensi mengenai keutamaan sang Maula baik dari Syiah sendiri, maupun dari Sunni dan agama lain. Jika umat Syiah tidak memiliki referensi apa-apa mengenai Syiah kecuali kitab al-Ghadir yang telah dipersembahkan Allamah Amini di sisa-sisa umurnya, itu telah cukup bagi kita.
Berikut ini, akan saya sampaikan beberapa kekhususan Imam Ali As yang tidak dimiliki siapapun bahkan pada diri Nabi Muhammad Saw.
Kekhususan yang pertama adalah, tumbuh dan hidup dalam pengasuhan dan bimbingan langsung Nabi Muhammad Saw. Abi Thalib As adalah ayah dari Imam Ali As yang telah banyak berkorban untuk Islam. 13 tahun di Mekah jika pembelaan Abi Thalib tidak ada, sulit dibayangkan apakah Islam bisa dipertahankan atau tidak. Abi Thalib dan keluarganya telah menerima pengucilan dan embargo selama bertahun-tahun di Syi’ib Abi Thalib karena membela dakwah Nabi Muhammad Saw. Fatimah binti Asad adalah ibu asuh bagi Nabi Muhammad Saw, sehingga bisa dikatakan, Abi Thalib dan Fatimah binti Asad telah menjadi ayah dan ibu bagi Nabi Muhammad Saw sekaligus bagi Imam Ali bin Abi Thalib As.
Dalam hal ini kita tidak temukan siapapun yang memiliki kekhususan yang sama dengan yang dimiliki Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As. Ia memiliki guru dan pembimbing yaitu Nabi Muhammad Saw sejak kecil. Ia berkata dalam Nahjul Balaghah, “Aku mengikuti Nabi Muhammad Saw seperti anak kecil yang mengikuti ibunya.” Imam Ali As mendidik Ali di gua Hira. Sampai pada tahap dimana Nabi Saw berkata padanya, “Apa yang aku lihat, engkau juga melihatnya, apa yang aku dengar engkau juga mendengarkannya.” [1] Satu-satunya yang mendapat guru seperti itu, hanyalah Imam Ali As.
Ia telah dididik dan dibimbing dengan bantuan wahyu sejak masih anak-anak. Sewaktu Ali baru lahir dan dibawa keluar oleh ibunya dari dalam Ka’bah, Nabi Muhammad Saw segera menjemput dan menggendongnya dan meminta izin dari Fatimah binti Asad untuk mendidik dan membesarkannya. Dari hari pertama itu, Ali sudah berada dalam pengasuhan Nabi Muhammad Saw dan selalu bersama Nabi Saw sampai Nabi Saw wafat. Kita tidak temukan keistimewaan sebagaimana yang didapat Imam Ali As dalam hal ini.
Dalam hal pujian, kita tidak temukan sosok yang dipuji sebagaimana Imam Ali As yang dipuji sedemikian rupa baik oleh sahabat maupun musuhnya. Hatta pujian yang didapat Nabi Muhammad Saw. Literatur klasik baik dari Syiah, Sunni maupun agama lain, penuh dengan pujian terhadap Imam Ali As. Bisa dikatakan, sekitar 30 sampai 40 jilid buku yang telah ditulis dikalangan Sunni yang berisi tentang Imam Ali As dan keutamaan-keutamaan yang dimilikinya. Dalam buku “Malam di Peisyawar” adalah diantara kitab yang merangkum lautan pujian tokoh-tokoh Sunni untuk Imam Ali As begitupun dalam kitab “al-Ghadir”. Dalam kedua kitab tersebut, tidak satupun menukil riwayat dari Syiah mengenai Imam Ali As melainkan kesemuanya menggunakan literatur dan periwayatan Sunni.
Khalifah kedua, ketika usianya tidak lama lagi, ia pun membentuk dewan syura untuk bermusyawarah mengenai penggantinya. 6 tokoh Islam telah berkumpul untuk diangkat salah satu dari mereka menjadi khalifah. Kita tidak sedang ingin membahas masalah politik, namun ingatlah yang ditulis Ibnu Abi al-Hadid seorang Sunni yang beraliran Mu’tazilah dalam 20 jilid kitab syarahnya mengenai Nahjul Balaghah. Ia menukil riwayat, bahwa sewaktu Umar membentuk dewan syura dari 6 orang, ia menemukan kekurangan dari setiap orang tersebut kecuali aib Ali. Selalu terngiang di telinganya sabda Nabi Muhammad Saw yang berkata, “Ya Ali, jika imanmu dibandingkan dengan iman para penduduk langit dan bumi, imanmu masih lebih baik dari iman-iman mereka. ” [2]
Kita umat Syiah memiliki Nahjul Balaghah, namun disayangkan kita kurang memperhatikannya. Bahkan kita katakan, kita telah membuat Imam Ali As bersedih. Nahjul Balaghah harusnya diajarkan di universitas-universitas bukan hanya di hauzah-hauzah. Media-media informasi, televisi maupun radio setidaknya dua-tiga jam setiap harinya memiliki satu program yang khusus membahas dan menyampaikan pesan-pesan Imam Ali As yang terangkum dalam Nahjul Balaghah tersebut. Tokoh-tokoh Sunni berkata mengenai Nahjul Balaghah, “Selain dari Al-Qur’an, tidak kan ditemukan sebuah kitab seperti Nahjul Balaghah yang memiliki kandungan ilmu dan ma’rifat yang sangat tinggi.” [3]
Imam Ali As memiliki banyak keutamaan, yang ketika lautan keutamaan itu hendak kita bahas dalam satu dua bulan, satu atau dua tahun, tidak akan selesai. Diantara keutamaannya yang agung dan Syiah harus benar-benar membanggakannya, adalah kelahirannya di dalam Ka’bah. Tidak ada seorangpun yang memiliki keutamaan seperti itu. Fatimah binti Asad meskipun sedang hamil tua melakukan tawaf di sisi Ka’bah. Namun tiba-tiba, dinding Ka’bah terbelah dan Fatimah binti Asadpun segera masuk ke dalamnya. Begitu masuk, dinding Ka’bah kembali menyatu seperti sedia kala.
Fatimah berada di dalam Ka’bah selama tiga hari, sehingga selama di dalam Ka’bah itu mengkonsumsi makanan dari alam malakut, yang juga diperuntukkan untuk janinnya. Sementara warga Mekah, telah melakukan berbagai cara untuk mencoba mengeluarkan Fatimah dari dalam Ka’bah namun tidak sanggup. Kunci Ka’bah sama sekali tidak bisa dibuka meski dengan cara dirusak sekalipun.
Pada hari ketiga, ketika Imam Ali As telah dilahirkan, Fatimahpun keluar dari Ka’bah sambil menggendong bayinya. Abu Thalib lah yang pertama mengecup bayi tersebut. Dan ketika berada dihadapan Nabi Muhammad Saw, mata bayi Ali bertatapan dengan mata Nabi Muhammad Saw dan ketika didekati Nabi, bibir mungil Ali berucap, Salamu ‘alaikum dan kemudian membaca Al-Qur’an. Saat itu Al-Qur’an belum diturunkan, dan Nabi Muhammad Saw pun saat itu belum terangkat menjadi nabi, namun bibir mungil Ali menyenandungkan ayat dari surah al-Mukminun [5]: بِسْمِاللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحیمِ ، قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ، الَّذینَ هُمْ فی صَلاتِهِمْ خاشِعُونَ ، وَ الَّذینَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. [6]
Nabi Muhammad Saw pun meminta izin agar Ali berada dalam bimbingannya dan akan mengasuhnya. Ali pun tumbuh dalam pengasuhan dan bimbingan Nabi Muhammad Saw, dan sesekali meskipun berada di tengah-tengah banyak orang, Nabi Muhammad Saw memasukkan jarinya ke dalam mulut Ali untuk dihisap dan mendapatkan makanan dari alam malakut.
Dengan lahir di dalam Ka’bah, Imam Ali As pun mendapat julukan Putera Ka’bah. Dan ia mendapatkan panggilan seperti itu meskipun dari musuhnya. Ini adalah kebanggaan besar bagi umat Islam Syiah. Namun disayangkan, keutamaan-keutamaan Imam Ali As ini yang menjadi kebanggaan bagi Syiah masih kurang mendapat apresiasi dari kalangan Universitas bahkan dari kalangan hauzah. Alhamdulillah, kita banyak memiliki kegiatan-kegiatan budaya yang lewat jalur itu kita merawat tradisi untuk selalu mengingat dan mengenang kelahiran Imam Ali As.
Dalam tradisi keilmuan Sunni pun demikian. Meskipun dalam kitab-kitab rujukan Sunni banyak memuat riwayat mengenai keutamaan Imam Ali As namun pengkajian riwayat-riwayat tersebut secara khusus dan mendetail masih kurang dilakukan. Sementara dikalangan non muslim, berlaku tradisi jika ada yang hendak mengaku sebagai tokoh intelektual, mengaku sebagai pakar sejarah maka mereka tidak akan melewatkan pengkajian pada sosok Imam Ali As meskipun mereka tidak menerima Islam dan Syiah.
Kekurangan kita dan ketidak pedulian kita untuk lebih serius mengkaji lebih detail keutamaan-keutamaan Imam Ali As akan kita pertanggungjawabkan kelak dihadapan sang Maula. Oleh karena itu, dihari yang mulia ini, yang bertepatan dengan hari kelahiran Maula Ali di dalam Ka’bah kita meminta maaf kepada pemimpin kita akan kelalaian ini. Kita optimis, kecintaan yang benar pada Imam Ali As akan menghantarkan kita pada kemuliaan derajat untuk menjadikan sosok Maula Ali sebagai keteladanan, akan menjadikan kita orang-orang yang mau berkhidmat sepenuhnya untuk sang Maula, sampai pada saatnya tiba, kita dihantar olehnya menuju surga-Nya.
Catatan Kaki:
1] Nahjul Balaghah Khutbah 192
2] Nahjul Haq, hlm. 287 dan lihat juga: Amali (Syaikh Thusi) hlm. 575; Manaqib Al Abi Thalib,jld. 2, hlm. 370; Tarikh Madinah Damsyiq, jld. 42, hlm. 341; al-Manaqib (al-Khawarizmi), hlm. 130; al-Riyadh al-Nadharah, jld. 3, hlm. 181; Kifayah al-Thalib, hlm. 258
3] Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abi al-Hadid, jld. 1, hlm. 24
4] Amali al Shaduq, hlm. 133
5] Amali al-Thusi, hlm. 708
6] Al-Mukminun ayat 1-3 yang artinya: Sesungguhnya menanglah orang-orang yang beriman. Orang-orang yang khusyu` di dalam melakukan sembahyang. Dan orang-orang yang terhadap segala laku yang sia-sia me­nampik dengan keras.
 
Sumber : id.abna24.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed