by

Imam Sajjad as Penerus Kebangkitan Huseini

Mempelajari sejarah hidup manusia-manusia yang mencontohkan kesucian dan kebenaran sejati, meski sekilas dan singkat, akan membawa kita ke dunia kemuliaan dan keutamaan.
Hari ini kita berada di hari peringatan syahadah Imam Sajjad as. Setelah syahadah ayahanda beliau dalam tragedi Karbala, Imam Sajjad, Ali Zainalabidin as, memegang peran penting dan menentukan.
Pada saat peristiwa Karbala, Imam Sajjad as berusia sekitar 24 tahun. Setelah peristiwa besar tersebut, beliau hidup selama 34 tahun. Selama masa itu, beliau memangku jabatan Imamah dan berjuang membasmi berbagai kezaliman dan kejahilan dengan berbagai cara. Di sepanjang perjuangan beliau, hal yang paling mencolok dari semuanya ialah usaha beliau mempertahankan nilai-nilai perjuangan Karbala dan menyebarluaskannya sebagai hasil sebuah kebangkitan besar dan abadi. Imam Sajjad as, pada tahun 95 HQ, gugur syahid setelah diracun, dengan racun yang disusupkan oleh kaki tangan dan suruhan Walid bin Abdulmalik, penguasa Bani Umayyah.
Hamid bin Muslim, salah seorang penulis kisah tragedi Karbala, menulis, “Di hari Asyura, setelah syahadah Imam Husein as, bala tentara Yazid pergi menemui Ali bin Husein as. Beliau tengah berbaring karena sakit. Oleh karena mereka mendapat perintah untuk membunuh semua lelaki keluarga Imam Husein as, maka mereka pun berniat membunuh beliau. Akan tetapi, ketika mereka melihatnya tengah terbaring dalam keadaan sakit, mereka membiarkan beliau.”
Jelas sekali bahwa sakitnya Imam Sajjad as di hari Asyura mengandung hikmah dan maslahat Ilahi, sehingga beliau selamat dari pembantaian, untuk melanjutkan jalan perjuangan ayah beliau, Imam Husein as.
Melihat munculnya suasana serba sulit bagi kaum Syiah setelah tragedi Karbala dan syahadah Imam Husein as, maka pelaksanaan tugas Imamah pun menghadapi kesulitan besar. Setelah peristiwa Asyura, Imam Sajjad as, beserta rombongan keluarga yang masih tersisa, dan di samping bibi beliau, Sayidah Zainab as, bergerak dari Karbala, di Irak, menuju ke Damaskus di Syam, yang merupakan pusat pemerintahan Yazid. Dari hari-hari pertama setelah tragedi Karbala, Imam Sajjad as berusaha menyampaikan pesan kebangkitan ayah beliau ke seluruh umat manusia.
Meski kesedihan syahadah ayah dan para pengikut setia, telah melukai hati Imam Sajjad, akan tetapi, dengan ilmu yang luas dan tekad yang kuat, dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menyebarkan keutamaan Ahlul Bait as. Dengan demikian tahap lain dari kebangkitan Karbala, telah terbentuk di bawah kepemimpinan Imam Sajjad as, dengan tujuan mengokohkan dasar-dasar pemikiran kebangkitan Imam Husein as.
Dalam sejarah disebutkan, pada saat rombongan keluarga Imam Sajjad as tiba di Kufah, beliau menjelaskan dengan sangat indah, kebenaran kebangkitan Imam Husein as untuk rakyat Kufah. Dalam pidatonya, beliau menyebut Ahlul Bait sebagai simbol keadilan, ketakwaan dan kemenangan. Pidato beliau berhasil menggugah semangat-semangat yang tengah terlena. Kata-kata beliau, “Dengan wajah yang bagaimanakah kalian akan menghadap Rasul Allah saaw di hari kiamat, ketika beliau berkata, “Kalian telah membunuh putraku dan mencabik-cabik kemuliaanku.”
Di negeri Syam pun, Imam juga menyampaikan pidato yang sangat menarik dan tegas, sehingga mematahkan propaganda Bani Umayyah untuk mendiskreditkan keluarga Rasul saaw. Dengan menyebutkan berbagai keutamaan Ahlul Bait dan hakekat jalan perjuangan ayah beliau, kata-kata Imam Sajjad as merasuk ke dalam sanubari semua yang hadir. Pengaruh pidato Imam Sajjad as sedemikian kuat, membuat Yazid ketakutan dan berpikir keras untuk menemukan cara guna menghentikan pidato beliau.
Akhirnya Yazid memerintahkan orangnya untuk mengucapkan adzan. Karena menghormati adzan, Imam Sajjad as menghentikan pidatonya. Akan tetapi ketika muadzin sampai kalimat “asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, Imam Sajjad menoleh ke arah Yazid dan bertanya, Hei yazid, Muhammad ini kakekku atau kakekmu. Jika engkau katakan bahwa ia adalah kakekmu, maka engkau telah membuat kebohongan besar. Jika engkau katakan bahwa ia adalah kakekku, mengapa engkau membunuhi anak keturunannya?
Dengan penjelasan-penjelasan Imam Sajjad as dan terungkapnya wajah-wajah sebenarnya para penguasa Bani Umayyah, maka tidak ada pilihan lain bagi Yazid kecuali menjauhkan keluarga Imam Sajjad as secepatnya dari pusat pemerintahannya. Untuk itulah ia mengembalikan mereka ke Madinah. Tentu saja perlu diketahui bahwa sejarah mencatat, Yazid dan para pejabat pemerintahannya memperlakukan keturunan Rasul saaw, yang tersisa dari pembantaian Karbala, sebagai tawanan perang.
[ads1]
Padahal peristiwa Karbala sama sekali tidak tepat dikatakan sebagai peperangan. Ia lebih dikatakan sebagai pembantaian, karena jumlah kedua belah pihak yang sangat tidak seimbang; demikian pula peralatan perang, dan kondisi kedua pihak. Rombongan Imam Husein as berjumlah 72 orang lelaki yang semuanya gugur syahid. Sedangkan tentara Yazid berjumlah lebih dari 30.000 orang. Imam Husein as dan rombongannya memiliki peralatan perang yang terbatas, sebaliknya tentara Yazid. Rombongan Imam Husein as sudah kelaparan dan kehausan selama beberapa hari di padang pasir yang kering kerontang, sementara pasukan Yazid menguasai dan memonopoli air sungai Furat, dan memiliki perbekalan makanan yang melimpah.
Di masa itu, masyarakat Islam tengah dilanda krisis idiologi dan akidah. Setelah peristiwa Karbala, penguasa Bani Umayyah, lebih terbuka dan lebih berani daripada sebelumnya, dalam melakukan berbagai kezaliman dan penyebaran fasad. Pemerintahan Bani Umayyah berusaha menyibukkan rakyat dengan hal-hal yang bersifat sampingan. Akan tetapi Imam Sajjad as juga telah memulai gerakan tersusunnya untuk menjelaskan dasar-dasar idiolgi Islam dan berusaha mengembalikan umat muslimin kepada ajaran-ajaran agama yang murni. Imam Sajjad as, berusaha keras menyebarkan hukum-hukum Islam dan ajaran-ajaran pendidikan dan akhlak. Dalam hal ini beliau telah mengambil langkah-langkah penting, membuat banyak kalangan cendekiawan dan ulama memuji dan mengagumi beliau.
Syekh Mufid ra, salah seorang tokoh besar ulama Islam, menulis, “Fuqaha Ahlussunah sedemikian luas menukil berbagai ilmu dan pengetahuan Islam dari Imam Sajjad as, sehingga tak terhitung lagi. Nasehat-nasehat, doa, keutamaan Al-Quran, halal dan haram dalam hukum Islam, telah dinukil dari beliau, sehingga sangat dikenal di kalangan ulama.”
Demikian Syekh Mufid. Contoh dari ajaran akhlak Imam Sajjad as yang hingga kini masih bisa diperoleh, ialah sebuah kumpulan pandangan-pandangan beliau yang dibukukan dengan “Risaalatul Huquuq”. Dalam kitab ini, Imam Sajjad as menjelaskan hak-hak dan kewajiban berbagai macam manusia, baik antara manusia dengan Tuhannya, maupun diantara sesama manusia.
Satu lagi karya Imam Sajjad yang terabadikan, dalam rangka usaha beliau menjelaskan dasar-dasar agama, ialah ajaran-ajaran yang beliau sampaikan dalam bentuk doa dan munajat, yang sangat indah. Gaya penyampaian seperti ini memiliki daya tarik luar biasa, sehingga menyedot perhatian ulama dan cendekiawan Islam. Doa-doa Imam Sajjad as yang disusun dengan kata-kata yang sangat indah, penuh dengan makna dan ajaran Islam, baik akidah, filsafat, ahkam, bahkan politk dan pemerintahan. Doa-doa beliau ini dikumpulkan dalam sebuah kitab berjudul Shahifah Sajjaadiyyah.
Salah satu kandungan penting dalam doa beliau ialah semangat menentang kezaliman, dan upaya menegakkan keadilan, penyebaran nilai-nilai akhlak dan kemanusiaan. Dalam salah satu doanya, Imam Sajjad as mengatakan, “Ya Allah berilah kami kekuatan untuk mampu menjaga sunnah Nabi-Mu, dan berjuang melawan bid’ah-bid’ah, serta melaksanakan kewajiban amar ma’ruh nahi munkar.”
Disebutkan dalam sejarah bahwa dalam berbagai kesempatan, Imam Sajjad as selalu menghidupkan kenangan tentang tragedi Karbala. Setiap kali seseorang menyodorkan makanan kepada beliau, atau setiap kali beliau melihat air minum, beliau pasti menunjukkan kesedihan, mengingat ayah beliau, keluarga dan para pengikut setia, bahkan bayi dan kaum perempuan, yang kelaparan dan kehausan di padang Karbala. Beliau mengatakan, “Setiap kali mengingat putra-putra Fatimah yang terbunuh, tiba-tiba leherku tercekik oleh rasa pedih, dan tanpa dapat ditahan lagi, air mataku meleleh.”
Di tengah masyarakat, Imam Sajjad as dikenal sebagai dermawan, pengasih dan sangat merakyat. Sedemikian menyatunya Imam Sajjad as dengan kesedihan-kesedihan yang terjadi di tengah masyarakat, dan sedemkian cintanya beliau untuk berkhidmat kepada rakyat, membuat beliau tiap malam memikul karung-karung makanan dan membagikannya kepada warga miskin.
Beliau melakukan hal itu secara diam-diam, di tengah kegelapan malam, dan dengan pakaian samaran. Setelah beliau meninggal barulah perbuatan mulia beliau ini diketahui. Hal ini menunjukkan bahwa aktifitas dakwah beliau tidak pernah menghalangi beliau dari langkah-langkah kemanusiaan dan penyebaran keutamaan-keutamaan akhlak secara praktis.
Sumber : alhassanain.org

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed