by

Imam Mahdi as, Tujuan Penciptaan dan Nilai-Nilai Keadilan

Allah swt berfirman dalam surat Al-Hadid ayat 25:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”
Salah satu tujuan penciptaan adalah agar manusia dimuka bumi menegakan keadilan. Untuk terealisasi tujuanNya, Ia mengutus para Rasul dan menurunkan aturan-aturan (Neraca) yang mampu membawa manusia kepada kesempurnaan ilahiah.
Huruf Ba didalam ayat “Bil Qisth” adalah Ba Ta’diyah yang bermakna, “Liyuqima Al-naasu Al-Qishta” yaitu agar manusia menegakan keadilan. Tafsir lain mengatakan bahwa Ba ayat diatas adalah Ba tasbib, yaitu, “Liyaquma Al-Nasu Bisababil Al-Qisth.” Allah swt mengutus para Rasul dan undang-undang langit agar mereka berbuat adil kepada masyarakat.
Namun, keduanya tidak bertentangan, baik itu Ba Tadiyah atau Ba Tasbib, karena para duta tuhan selayaknya mereka berbuat dan berprilaku adil dan mengajarkan keadilan kepada masyarakat, namun untuk terciptanya keadilan sosial, maka kesadaran masyarakat sangat diperlukan, karena selama mereka tidak sadar, dengan mudah mereka akan membunuh para duta tuhan yang ingin membawa mereka kepada penegakan keadilan.
Disinilah letak falsafah Imam Mahdi as ghaib, karena beliau sedang menunggu kesadaran masyarakat menegakan keadilan dan dipimpin oleh orang adil dari sisi tuhan. Selama masyarakat tidak sadar dan tidak ada yang menyadarkan tentang keadilan, maka selama itupula Imam Mahdi as akan ghaib dari tengah-tengah kita.
Masalahnya adalah kita, bukan Imam Mahdi as. Kita yang belum siap, kita yang belum sadar, kita yang enggan untuk dipimpin oleh pemimpin ilahi. Ketika kita siap, maka secara otomatis Allah swt akan menampakan Hujjah terakhirnya untuk membawa manusia kepada keadilan ilahi.
Banyak sekali hadist yang mengatakan bahwa sebaik-baiknya ibadah dizaman keghaiban Imam Zaman adalah Al-Intidhar yaitu menunggu hadirnya sang Imam. Namun, menunggu disini bukanlah menunggu pasif, melainkan menunggu aktif yaitu menyadarkan masyarakat tentang keadilan dan berbuat adil.
Tentunya ketika kita meneriakan keadilan dan menyadarkan masyarakat untuk berbuat adil, maka lawan kita adalah kedzaliman yang sekarang terkristal didalam tubuh-tubuh kapitalis. Baik kapitalis lokal, ataupun kapitalis global. Baik itu kapitalis atheis, atau kapitalis berbaju agama.
Musuh utama Intidhar adalah pembodohan, egoisme, takabbur keilmuan, harta dan martabat, merasa paling benar, paling alim, paling tokoh, paling habib, paling ustadz dan paling-paling lainnya. Selama kita tidak dipupuk dengan sifat-sifat ilahi, maka selama itu Imam Mahdi as ghaib dari pandangan kita.
Untuk itu, sebab ghaib Imam Mahdi as adalah kita semua, karena belum siap dipimpin oleh sang manifestasi keadilan ilahi. Salahkanlah kita dan makilah diri kita. Ketika kelak kita berdiri dihadapan ilahi, kita akan ditanyakan, peran apa yang telah kita lakukan dizaman keghaiban? Dan seberapa besar peran kita dalam menyadarkan masyarakat kepada nilai-nilai keadilan.
Seorang Turis barat datang ke Iran untuk Traveling dan ketika ditanya, Apakah anda muslim? Turis menjawab, saya bukan muslim.” Orang Iran kembali bertanya, “ Lalu mengapa anda memakai pakaian bergambarkan Imam Khomeini yang muslim?” Turis Barat berkata, “ Saya suka beliau, karena beliau meneriakan nilai-nilai keadilan dan melawan segala bentuk kedzaliman.”
Ya, orang yang akal dan fitrahnya belum terkontaminasi, akan mengagumi siapapun yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, siapapun itu.
oleh : Abu Syirin Al Hasan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed