by

Sayidah Khadijah as, Wanita Agung Pendamping Rasulullah

Bulan Ramadhan mengingatkan perpisahan dengan seorang wanita agung dunia Islam dan istri penuh kasih sayang dari Nabi Muhammad Saw. Seorang wanita yang menyertai Rasulullah Saw dalam suka dan duka dan membantunya menyebarkan risalah.
Salam kepada Sayidah Khadijah as, wanita pertama yang beriman kepada Rasulullah Saw. Sayidah Khadijah as adalah putri Khuwailid. Dari sisi kesempurnaan, kecantikan, kepribadian dan ketokohan merupakan wanita terdepan di masanya. Beliau berasal dari keturunan yang dikenal akan kemuliaan dan kerja keras. Sayidah Khadijah as memiliki kepribadian tinggi, pemikiran yang kuat dan pandangan yang benar.
Ahli hadis al-Qommi menulis, “Sayidah Khadijah as memiliki posisi yang tinggi di sisi Allah, sehingga sebelum kelahirannya ada pesan kepada Isa al-Masih dari sisi Allah bahwa beliau disebut “Mubarakah” dan bersama Sayidah Maryam di surga. Karena dalam Injil ketika menggambarkan ciri khas disebutkan, keturunannya berasal dari seorang wanita agung “Mubarakah”.
نَسْلُهُ مِنْ مُبارَکَةٍ، وَ هِیَ ضَرَّةُ أُمِکَ فِی الْجَنَّةِ
Kedermawanan luar biasa Sayidah Khadijah dan sikapnya yang konsisten bukan saja membuatnya menjadi pemimpin wanita Quraisy, tapi juga wanita seluruh alam. Dalam mendeskripsi istri tercintanya ini, Rasulullah Saw bersabda, “Allah memilih empat wanita dari seluruh wanita yang ada; Maryam, Asiah, Khadijah dan Fathimah.”
Di tempat lain beliau bersabda, “Wahai Khadijah! Engkau ibu terbaik yang beriman, wanita terbaik dan pemimpin wanita dunia.”
Di masa Jahiliah, dimana kebanyakan wanita terpolusi penyimpangan masa itu, Sayidah Khadijah as disebut dengan Thahirah yang berarti suci. Kepribadian suci Sayidah Khadijah as membuat beliau dihormati masyarakat umum dan para tokoh, sehingga dipanggil Sayidah an-Niswan yang berarti junjungan para wanita.
Sayidah Khadijah as tertarik dengan keindahan pribadi dan akhlak Muhammad saat berdagang untuknya. Berbeda dengan tradisi yang berlaku di tengah masyarakat, beliau sendiri yang mengusulkan untuk menikah dengan Muhammad, seorang pemuda miskin, tapi terpercaya dan pekerjaan dilakukan dengan benar. Sayidah Khadijah as memulai hidupnya bersama Muhammad dalam atmosfir yang penuh dengan cinta, rasional dan penyembahan kepada Allah.
Cintanya kepada Muhammad dari jenis cinta langit yang mengajaknya untuk membantu pemikiran dan pekerjaan Muhammad. Itulah mengapa beliau siap untuk menghadapi kesulitan dalam pelbagai dimensi kehidupannya. Sayidah Khadijah as adalah wanita pertama yang mengimani Nabi Muhammad Saw.
Imam Ali as dalam khutbah Qashi’ah mengatakan, “Hari ketika Rasulullah diangkat menjadi Nabi, cahaya Islam tidak masuk ke rumah mana pun, selain rumah Nabi Muhammad Saw dan Khadijah, sementara saya adalah orang ketiga yang menyaksikan cahaya wahyu dan risalah dan mencium aroma kenabian.”
Cahaya Islam telah merasuki pemikiran dan jiwa Sayidah Khadijah as dan dengan cahaya itu beliau mendapat hidayah dan cemerlang. Termasuk kekhususan Islam sebagai akidah revolusioner yang berseiringan dengan akal dan fitrah adalah ketika telah bersemayam dalam hati, membuat seseorang yang telah memeluknya menjadi manusia penuh pengorbanan. Demikian juga dengan Sayidah Khadijah as.
Beliau berusaha mengobati seluruh kepedihan politik dan sosial yang mengganggu Rasulullah Saw dan membantunya melanjutkan risalah ilahi. Keimanan dan pengorbanan yang ditunjukkan beliau mengantarkannya kepada sebuah maqam, sehingga Allah mengucapkan salam kepadanya.
Abu Said al-Khudri menyebut Rasulullah Saw bersabda, “Ketika di malam Mikraj, Jibril membawaku ke langit dan mengelilinginya, ketika kembali aku berkata kepada Jibril, ‘Apakah engkau memiliki hajat?’ Jibril menjawab, ‘Hajatku adalah engkau menyampaikan salam Allah dan salamku kepada Khadijah.” Ketika tiba di bumi, beliau menyampaikan salam Allah dan Jibril kepada Khadijah. Mendapat salam itu, Sayidah Khadijah as berkata, “Sesungguhnya Zat suci Allah adalah salam, salam berasal darinya dan salam akan kembali kepada-Nya. Salamku kepada Jibril.”
Sayidah Khadijah as hidup bersama Rasulullah Saw selama 24 tahun dan memberikan pelayanan luar biasa kepada Rasulullah dan agama Islam. Dukungan dana, semangat dan emosional kepada Rasulullah Saw. Beliau membenarkan Nabi Muhammad Saw ketika tidak ada orang yang menerimanya dan membantu Rasulullah di hadapan gangguan orang-orang Musyrik merupakan bagian dari dukungan Sayidah Khadijah as.
Selama hidupnya, beliau tidak mengizinkan orang-orang Musyrik mengganggu dan menyiksa Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw kembali ke rumah dengan musibah dan kegalauan yang di hadapinya di luar, Sayidah Khadijah as menenangkannya dan berusaha mengusir segala kecemasan dari benak Nabi.
Sayidah Khadijah as merupakan wanita terkaya di Jazirah Arab. Beliau memiliki sekitar 8000 onta dan konvoi dagangnya setiap hari dan malam bergerak ke daerah-daerah seperti Taif, Yaman, Syam, Mesir dan daerah-daerah lainnya. Beliau memiliki banyak budak pria dan wanita serta harta yang banyak dan menyerahkannya semua kepada Rasulullah.
Anak pamannya, Waraqah bin Naufal berkata, “Umumkan kepada masyarakat bahwa Khadijah telah memberikan semua hartanya kepada Muhammad.” Karena harta Sayidah Khadijah sejak awal telah diserahkan demi kemajuan Islam. Bahkan akhir pemberian Khadijah digunakan oleh Imam Ali as dalam perjalanan hijrah ke Madinah.
Sekaitan dengan ini, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada kekayaan yang bermanfaat bagiku seperti kekayaan Khadijah as.”
Sikap berani Sayidah Khadijah as dalam mendukung agama baru dan membela pembawanya di masa Jahiliah merupakan langkah luar biasa dan perlahan-lahan membuka jalan, sehingga Rasulullah Saw mendapat kesempatan untuk berdakwah agama Islam.
Sekaitan dengan hal ini, Thabarsi menulis, “Musibah kematian Abu Thalib dan Khadijah terjadi ketika Sayidah Khadijah waktu itu berperan selaku perdana menteri cerdas dan berani yang membela mati-matian Rasulullah Saw dari segala masalah yang di hadapinya. Kelembutan dan kasih sayangnya yang membuat Nabi Muhammad Saw lebih tenang.”
Masalah ini yang membedakan antara Sayidah Khadijah as dengan istri Rasulullah yang lain. Perbedaan yang membuat Rasulullah mencintainya dan menyatakan cintanya kepada beliau hingga ajal menemput. Aisyah pernah berkata, “Saya tidak pernah hasud kepada istri-istri Nabi Muhammad Saw selain Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Karena beliau mengisi luasnya hatinya Rasulullah, sehingga Nabi Muhammad tidak hanya Khadijah, tapi apa dan siapa saja yang mengingatkannya akan Khadijah, akan dilihat dengan gaya yang tidak biasa!”
Sebagian istri Rasulullah membayangkan bahwa dikarenakan Rasulullah Saw sebagai pemimpin umat, maka di masa depan kehidupan mereka akan lebih baik dan sejahtera. Tapi tahun berganti harapan mereka tinggal harapan. Setelah Islam tersebar, mereka mulai mendebat Rasulullah dan menuntut nafkah yang lebih. Nasihat Nabi juga tidak membuat mereka berpaling dari keinginannya, sehingga dalam riwayat disebutkan, “Suatu hari Abu Bakar menemui Rasulullah Saw dan istri-istri beliau berada di sisinya.
Ia melihat Rasulullah sedang bersedih. Ketika memahami putrinya memrotes kehidupannya dan membuat Rasulullah bersedih, Abu Bakar bangkit dan bermaksud menghukuminya. Dalam kondisi yang demikian Allah Swt menurunkan ayat 28-29 surat al-Ahzab yang memberikan pilihan kepada istri-istri Rasulullah Saw apakah memilih kelezatan dunia atau Rasulullah. Pada saat itu mereka mengetahui bahwa modal terbesar adalah bersama Rasulullah Saw.”
Sayidah Khadijah as di Syi’b Abi Thalib, tempat dimana Rasulullah bersama sahabatnya diblokade oleh musuh. Mereka tidak membolehkan air, roti dan bekal apapun ke tempat tersebut. Untuk keluar dari blokade itu, beberapa orang dikirim ke luar untuk membeli makanan dengan harga sangat mahal dan dengan cara sembunyi-sembunyi. Aisyah mengatakan, “Setiap kali Nabi Muhammad Saw menyembelih kambing, orang pertama yang mendapat bagian adalah teman-teman Khadijah.
Suatu waktu saya protes betapa Nabi berbicara akan keagungan Khadijah? Beliau menjawab, “Karena ketika ia beriman kepadaku, semua orang masih kafir. Ketika ia mempercayaiku, semua orang menyebutku pembohong dan ia menyerahkan hartanya kepadaku ketika orang-orang berusaha memblokadeku…”
Dalam buku al-Khashaish al-Fathimiyah disebutkan, “Sesuai dengan riwayat yang masyhur, ketika Sayidah Khadijah as meninggal dunia para malaikat rahmat diperintah oleh Allah membawa kain kafan khusus beliau kepada Rasulullah Saw. Selain menunjukkan keagungan dan keberkahan Khadijah, perbuatan ini untuk menghibur Rasulullah Saw.”
 
Sumber : Parstoday

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed