by

Puasa dan Keikhlasan

Di antara problem yang akut dalam kehidupan manusia adalah menjadikan dirinya sebagai center dalam beragam hal. Dirinya ingin menjadi pusat perhatian, pusat pujian, pusat kemuliaan. Dalam istilah agama disebut ‘Ananiyah’, problem Syaitan diusir Tuhan karena dirinya merasa menjadi yang lebih mulia dari Adam.
Problem ini juga yang banyak menghinggapi diri kita. Kita bersedih ketika diri kita tidak diperhitungkan orang, kita bangga ketika kita berdiri di depan dan kata-kata kita didengar.
Pernahkah kita mendengar hadis berikut ini : “Seluruh manusia itu celaka kecuali mereka yang beribadah, seluruh yang beribadah itu celaka kecuali mereka yang berilmu, semua yang berilmu itu celaka kecuali yg mengamalkan ilmunya, seluruh yang mengamalkan ilmunya celaka kecuali yang ikhlas dan orang yang ikhlas berada dalam tantangan yang besar”.
Untuk melepaskan diri dari sifat Ananiyah tidak lain menumbuhkan sifat Ikhlas. Ikhlas adalah ketulusan dalam perbuatan dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Artinya orang yang Ikhlas adalah orang yang menjadikan Allah SWT sebagai centernya. Allah SWT sebagai pusat perhatiannya.
Ada beragam jenis keikhlasan antara lain: Ikhlas dalam Niat, Ikhlas dalam perbuatan, Ikhlas dalam Ilmu, Ikhlas dalam Tujuan, Ikhlas dalam Ketetapan Allah, Ikhlas dalam menjalankan perintah Allah. Inti dari semua jenis Ikhlas itu semuanya menjadikan Allah SWT sebagai pusat tujuannya.
Keikhlasan membawa perubahan pada jiwa manusia karena jiwa berkembang berdasarkan orientasinya. Ketika orientasinya adalah Allah SWT maka kualitas jiwa semakin naik bersamaan dengan keikhlasan yang tumbuh dihatinya. Jiwanya berubah menjadi jiwa yang bersih dan murni.
Apa yang akan terjadi untuk seorang hamba yang sampai pada kemurnian ini ? Pertama; Syaitan tidak akan mampu menggelincirkan dirinya sebagaimana sumpah Syaitan di hadapan Allah SWT. “Sungguh Aku akan goda semua manusia kecuali hamba-hamba-Mu yang Ikhlas” (QS. Shad :82-83). Rasulullah Saw bersabda “Paling rendahnya kedudukan orang yang ikhlas di dunia adalah keselamatan dari keburukan dan di akhirat terlepas dari Neraka dan mendapatkan kemenangan dengan meraih surga”.
Ibadah puasa melatih kita untuk menjadikan Allah SWT sebagai pusat perhatian kita. Ketika kita berpuasa kita selalu merasa berada dalam pengawasan Allah, kita persembahkan setiap yang kita lakukan untuk Allah SWT. Kita berbagi kepada fakir dan miskin untuk menyenangkan Allah dan kita berlomba-lomba melakukan beragam kebaikan dan ibadah.
Orang yang berpuasa pada hakikatnya tengah memurnikan kembali jiwa dari segala sesuatu selain Allah SWT. Dengan sendirinya muncul keikhlasan pada hatinya. Dan keikhlasan inilah yang akan mengobati beragam penyakit hati yang selama ini merusak dirinya. Selamat menumbuhkan keikhlasan.
(Dr Khalid Al Walid adalah Dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung)
Sumber : http://misykat.net

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed