by

Ketika Sebuah Zaman Memerlukan Seorang Ali

Kisah syahidnya Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Talib as selalu menjadi sebuah renungan yang dalam bagiku dalam setiap peringatannya..
Imam Ali as dibunuh oleh Abdur Rahman bin Muljam, seorang yang kuat secara ritual tetapi dangkal dalam pemahaman agama. Sosok-sosok seperti dia banyak sekarang ini. Orang-orang yang beragama dengan nafsu dan tanpa akal.
Menarik bagiku bahwa Imam Ali as, yang dikenal sebagai seorang pemberani, pahlawan perang, ditakuti musuh dan disegani kawan, syahid justru bukan di medan perang tetapi di tempat beliau ibadah.
Yang lebih menarik, Imam Ali as sangat tahu kapan ia dibunuh, pada waktu apa dan siapa pembunuhnya. Ia bahkan membangunkan pembunuhnya ketika mau shalat subuh dan berkata, “Laksanakan tugasmu..”
Sebuah keberanian yang di luar akal manusia ketika seseorang berjalan menuju pintu takdirnya.
Saya pernah bertanya, jika Imam tahu kenapa ia tidak membunuh si calon pembunuh terlebih dahulu ? Jawaban yang saya dapat sangat mengagetkan, “Imam Ali as tidak menghukumi sesuatu yang belum terjadi…”
Logika berfikir saya campur aduk kala itu. Bagaimana seseorang bisa memahami apa yang belum terjadi ? Mungkinkah itu ?
Sampai saya sadar ketika Imam sendiri menasihati, ” Orang bodoh selalu men-sifati orang lain seperti dirinya sendiri.. ” Bagaimana bisa saya begitu bodoh men-sifati seorang Imam dengan diri saya ini. Saya seperti anak TK men-sifati seorang profesor dengan keilmuan saya yang tidak ada apa-apanya ini.
Hari ini adalah hari kedua setelah Imam Ali as dibacok kepalanya dan merusak otaknya. Tetapi sejarah mencatat, beliau tetap sadar dan berbicara kepada anak-anaknya meninggalkan banyak pesan yang berguna kepada manusia..
Thomas Carlael, filsuf Inggris pernah berkata mengenai Imam Ali,
“Mau tidak mau, kita telah dibuat cinta kepada Imam Ali. Betapa dia adalah seorang kesatria besar dan punya karakteristik yang tinggi. Hati nuraninya telah menjadi sumber yang mengalirkan kasih sayang dan kebajikan. Dia seorang yang pemberani, namun keberaniannya larut dengan kasih sayang dan kelembutan hati.”
Dibagian lain ia menulis: “Kami tidak sanggup menahan kata-kata kami untuk memuji dan menyanjung Ali. Dia adalah kesatria besar dan agung. Dia adalah sumber rahmat, ihsan serta manifestasi sebuah kebesaran, keberanian dan kelembutan. Slogan kesatria religius ini tak lain adalah keadilan.”
Fuad Jordac seorang penulis beragama Kristen mengatakan: “Setiap kali kesulitan datang di dalam kehidupan saya, maka saya berlindung dengan Ali as, sebab beliau adalah penolong setiap orang yang terkena musibah.
Beliau adalah sumber makrifat dan hikmah. Bagi orang-orang dzalim beliau bagaikan petir yang menyambar, sedangkan bagi kaum tertindas, beliau adalah pelindung yang sangat penyayang.”
George Jordac seorang cendikiawan Nasrani Libanon. Ia telah banyak mengkaji sejarah hidup Imam Ali bin Abi Talib. Antara lain ia pernah mengungkapkan perasaannya sebagai berikut:
“Wahai zaman, andaikan dengan segala kekuatanmu… Wahai jagat raya, andaikan dengan segala kesanggupanmu engkau bisa menciptakan sosok pahlawan besar, maka sekali lagi ciptakan manusia seperti Ali, sebab zaman memerlukan orang seperti Ali.”
Ya Imam, entah bagaimana menderitanya engkau pada hari ini… Ini adalah hari dalam setiap tahun dimana air mataku sulit tertahan untuk tidak terjatuh.
 
oleh : Denny Siregar,  Sabtu, 25 Juni 2016

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed