by

Khutbah Imam Ali : Alam Dunia, Kerugian atau Keuntungan

Wahai manusia! 2 (dua) perkara yang sangat aku takutkan menimpa kalian; Hawa nafsu yang dituruti, serta panjangnya angan-angan.
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (S.A) berkhutbah :
“Dunia adalah tempat kebenaran bagi yang membenarkannya, tempat keselamatan bagi yang memahaminya, tempat kekayaan bagi berbekal darinya. Juga tempat ibadahnya para Nabi Allah, dan tempat turunnya wahyu serta tempat shalatnya para malaikat, juga tempat berdagangnya para wali Allah. Maka carilah rahmat di dalamnya dan keuntungan (surga) sebagai balasannya.
Lalu siapakah yang akan mencelanya? Dia telah mengumumkan kedekatan ajalnya dan datangnya masa perpisahan. Dia telah merelakan dirinya untuk kalian. Serta menghantar kalian dari suatu kebahagiaan kepada kebahagiaan lainnya. Juga memberi peringatan akan cobaan-cobaaanNYA, agar kalian takut dan lebih berhati-hati dari bencana.
Wahai para pencela dunia, kapankah dunia memperdayaimu dengan segala tipu dayanya ? Apakah karena banyaknya musibah yang menimpa para orang tuamu ? Ataukah karena adanya kematian yang diderita oleh para ibumu di bawah tumpukan tanah kubur ?
Wahai manusia! 2 (dua) perkara yang sangat aku takutkan menimpa kalian; Hawa nafsu yang dituruti, serta panjangnya angan-angan. Orang yang menuruti hawa nafsu akan menghalanginya dari kebenaran. Panjangnya angan-angan bisa melalaikan kalian akan kehidupan akhirat.
Barangsiapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahirnya. Dan barangsiapa yang berbuat demi kemaslahatan agamanya, Allah mempermudah urusan dunianya. Dan barangsiapa yang menjaga hubungan dirinya dengan Allah,  maka Allah akan memudahkan urusannya.
Jika engkau menjadikan agamamu mengikuti duniamu, maka engkau telah menghancurkan agama dan duniamu dan termasuk di antara orang2 yang merugi di akhirat. Dan jika engkau menjadikan duniamu mengikuti (tunduk) kepada aturan agamamu, berarti engkau telah menjaga dunia dan agamamu dan engkau akan tergolong sebagai orang yang beruntung di akhirat.
Kebaikan ada pada 3 (tiga) perkara: Penglihatan, Diam dan Pembicaraan. Setiap penglihatan yang tidak ditujukan untuk mengambil ibrah  (pelajaran) adalah kesia-siaan. Diam yang tidak disertai pemikiran adalah kelalaian. Sedang pembicaraan yang bukan zikir, itu juga merupakan kesia-siaan.
Maka beruntunglah orang yang pandangannya ditujukan untuk mengambil ibrah, diamnya karena berpikir dan pembicaraannya berisikan zikir sembari menangisi dan menyesali kesalahannya serta enggan mengganggu orang lain.”
[ Nahjul Balaghah, Subhi Al-Sholeh, khutbah 42, hal 83 ]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed