by

Orasi Ghaib 21 Ramadhan

Dalam kitab ‘Umdah Al-Zair, yang ditulis oleh Sayyid Haidar (Guddasa Sirruh) diriwayatkan oleh salah seorang sahabat Nabi saw yaitu Usaiyd ibn Safwan, dia berkata, “Ketika sang Imam pewaris dan pemegang wasiat Nabi yaitu sayyidina Ali bin Abi Talib meninggal dunia, pada saat itu rumah kediaman beliau as diriuhkan dengan suara tangisan dan rintihan dari para hadirin yang menjerit histeris menyaksikan pemandangan di hadapan mereka. Pemandangan dan suasana yang penuh tangis dan haru seperti inipun, dahulu pernah terjadi yaitu tatkala nabi Muhammad saw meninggalkan dunia ini dan disaksikan oleh para pengikutnya.
Nampak dari arah sana, tiba-tiba muncul seorang yang berjalan sambil menangis, merintih sedih. Dia menjerit bergumam dan menyeru berulang-ulang pada halayak ramai yang saat itu sedang kalut dan panik mendengar kabar kematian Imamnya, dia berteriak “Hari ini putuslah sudah ke khalifahan Rasulullah”. Kata-demi kata diucapkannya hingga dia mendekati ‘rumah duka’ di mana jasad suci kini terkujur bersimbahkan kesyahidan.
Orang tersebut mulai memasuki halaman rumah duka, langkah demi langkah diayun hingga ia berdiri di depan pintu. Dia menyaksikan pemandangan yang memilukan hatinya, di mana sang Imam kini telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Lalu orang tersebut di hadapan para hadirin berorasi;
رَحِمَكَ اللهُ يَا أَبَا الْحَسَنِ
Semoga Allah mengasihani engkau wahai ayahnya Hasan
كُنْتَ أَوَّلَ اْلقَوْمِ إِسْلاَمـًا, وَ أَخْلَصَهُمْ إِيْمَانًـا, وَ أَشَـدَّهُمْ يَقِيْنًـا
Sungguh engkaulah orang pertama memeluk Agama Islam, paling ikhlas dalam keimanan, paling mapan dalam keyakinan,
وَ أَخْوَفَهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ, وَ أَعْظَمَهُمْ عَـنَاءً
Paling takut pada Allah Yang Maha Mulia, dan yang paling besar cobaannya
وَ أَحْوَطَهُمْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ آلِهِ
Paling hormat terhadap Rasulallah SAW
وَ آمَـنَهُمْ عَلَى أَصْحَـابِهِ, وَ أَفْضَلَهُمْ مَنَاقِبَ, وَ أَكْرَمَهُمْ سَوَابِقَ
Pengayom pada sahabat-sahabatnya, paling utama kedudukannya, paling mulia posisinya
وَ أَرْفَعَـهُمْ دَرَجَةً وَ أَقْرَبَـهُمْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ آلِهِ
Paling tinggi martabatnya, paling dekat hubungannya dengan Rasulallah SAW
وَ أَشْـبَهَهُمْ بِهِ هَدْيـًا وَ خُلْـقًا وَ سَمْـتًا وَ فِعْـلاً
paling menyerupai Rasulallah SAW dalam perangai, budi pekerti, gerak dan diam.
وَ أَشْرَفَـهُمْ مَنْـزِلَةً, وَ أَكْرَمَهُمْ عَلَيْهِ.
Paling mulia kedudukannya dimata Nabi dan paling dihormati
فَجَزَاكَ اللهُ عَنِ اْلإِسْلاَمِ وَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَ آلِهِ
وَ عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ خَيْرًا.
Semoga Allah SWT beserta Rasulallah SAW dan Agama Islam serta seluruh kaum muslimin membalas segala amal kebajikanmu
قَوَيْتَ حِيْنَ ضَعُفَ أَصْحَـابُهُ , وَ بَرَزْتَ حِيْنَ اسْتَكَـانُوْا
Engkau tetap kokoh disaat para sahabat mulai melemah, kau pertaruhkan nyawa disaat mereka diam dan pasrah
وَ نَهَـضْتَ حِيْنَ وَهَـنُوْا
Engkau bangkit tegak disaat mereka lunglay melayu
وَ لَزِمْتَ مِنْـهَاجَ رَسُوْلِ اللهِ إِذْ هَمَّ أَصْحَابُهُ , وَ كُنْتَ خَلِيْفَتَـهُ حَقًّا
Engkau tetap consist pada metode Nabi disaat para sahabat mulai goyah,
sungguh hanya engkaulah pengganti Nabi yang paling layak
لَمْ تُنَـازَعْ وَ لَمْ تُضْرَعْ بِرَغْمِ الْمُنَافِقِيْنَ , وَ غَيْظِ الْكَافِرِيْنَ
Tak ada yang dapat menolak kenyataan (Imamah) ini walaupun harus berbenturan dengan orang-orang munafik serta angkara murka kaum kafir
وَ كُرْهِ الْحَاسِدِيْنَ , وَ صِغَرِ الْـفَاسِقِيْنَ
Kedengkian orang-orang Sirik, dan pelecehan orang-orang Fasik
فَـقُمْتَ بِاْلأَمْرِ حِيْنَ فَشِـلُوْا , وَ نَـطَقْتَ حِيْنَ تَـتَـعْـتَـعُوْا
Engkau tegakkan (Imamah) ketika mereka gagal dan kandas,
Engkau kumandangkan suara (keadilan) ketika mereka diam seribu bahasa
وَ مَضَيْتَ بِـنُوْرِ اللهِ إِذْ وقَـفُوْا , فَاتَّـبَعُوْكَ (فَلَوْ إِتَبَعُوْكَ)فَـهُدُوْا
Engkau tetap konsist melaju dalam cahaya Ilahi disaat semua kaki enggan melangkah, andai mereka mengikutimu mereka pasti sukses dan selamat
وَكُنْتَ أَحْفَـظَهُمْ صَوْتًـا,

وَ أَعْلاَهُمْ قُنُـوْتًا, وَ أَقَـلَّهُمْ كَلاَمًا
Engkau paling lembut suaranya, paling tinggi ketaatannya, paling ringkas tutur katanya
وَ أَصْوَبَهُمْ نُـطْقًا , وَ أَكْبَرَهُمْ رَأْيـًا, وَ أَشْجَـعَهُمْ قَلْـبًا
Paling absah ucapanna, paling piaway pendapatnya, paling berani jiwanya
وَ أَشَـدَّهُمْ يَقِيْـنًا, وَ أَحْسَنَهُمْ عَمَلاً , وَ أَعْرَفَهُمْ بِاْلأَمُوْرِ
Paling mapan keyakinannya, paling baik amalnya, paling mengerti dalam kepemimpinan
كُنْتَ وَ اللهِ يَـعْسُوْبًا لِلدِّيْنِ أَوَّلاً وَ آخِرًا
Demi Allah… engkaulah pelindung Agama ini pada setiap tahapan
الأَوَّلُ حِيْنَ تَفَرَّقَ النَّاسُ , وَ اْلآخِرُ حِيْنَ فَشِـلُوْا
Disaat mereka pecah akibat saling beda pendapat, dan disaat mereka gagal dan kandas
كُنْتَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ أَبـًا رَحِيْمًا, إِذْ صَارُوْا عَلَيْكَ عِـيَالاً
Engkau terhadap kaum mukminin seperti ayah pengayom,
disisimu mereka seolah-olah anak didikmu
فَحَمَلْتَ أَثْقَالَ مَا عَنْـهُ ضَعَـفُوْا , وَ حَفِظْتَ مَا أَضَـاعُوْا
وَ رَعَيْتَ مَا أَهْمَـلُوْا
Kau pikul beban yang mereka tak mampu mengangkatnya, kau jaga segala yang mereka hilangkan, engkau simpan apa-apa yang mereka telah lantarkan
وَ شَمَّرْتَ إِذَا اجْـتَمَعُوْا , وَ عَلَوْتَ إِذْ هَلَـعُوْا , وَ صَبَرْتَ إِذْ أَسْرَعُوْا
Kau ceriakan suasana dalam kesatuan, kau lindungi ketika mereka takut, kau bijaksana ketika mereka lepas kontrol
وَ أَدْرَكْتَ أَوْتَـارَ مَا طَلَبُـوْا , وَ نَـالُوْا بِكَ مَا لَمْ يَـحْتَـسِبُـوْا
Kau gapai segala yang terlintas pada angan-angan mereka, sehingga mereka meraih kesuksesan diluar perhitungan
كُنْتَ لِلْكَافِرِيْنَ عَذَابًـا صَبًّـا وَ نَهْبًـا , وَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ عَمَدًا وَ حِصْنًا
Engkau dimata orang kafir bagai azab yang keras nan pedih, Namun di mata kaum mukminin engkau ibarat tiang penyangga, benteng pelindung
فَطِرْتَ وَ اللهِ بِنِعْمَـائِهـَا , وَ فُزْتَ بِحِبَـائِهَا
Maka demi Allah…, engkau telah meraih semua lencana, dan engkau sukses memenangkannya
وَ أَحْرَزْتَ سَـوَابِقَهَـا , وَ ذَهَبْتَ بِفَضَـائِلِـهَا
Engkau selamatkan Agama dari (kehancuran) pendahulu-pendahulunya, dan engkau berlalu dengan keberhasilan gemilang
لَمْ تُفْلَـلْ حُجَّـتُكَ , وَلَمْ يَزِغْ قَلْبُـكَ , وَ لَمْ تَـضْعُفْ بَـصِيْرَتُكَ
Argumenmu tak tersangkal, tak pernah hatimu tergelincir, wawasanmu tak pernah dangkal
وَ لَمْ تَجْـبُنْ نَـفْسُكَ , وَ لَمْ تَـخُنْ
Jiwamu tak pernah gentar dan khianat
كُنْتَ كَالْجَبَلِ لاَ تُحَرِّكُهُ الْعَوَاصِفُ
Engkau bak gunung kokoh yang tak dapat digoncang oleh Badai dan Taufan
وَ كُنْتَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ” آمَنَ النَّاسُ فِيْ صُحْبَتِكَ وَ ذَاتِ يَدِكَ ”
Engkau sebagaimana terucap dalam sabda Nabi alaihissalam ”Orang-orang akan merasa aman sentosa dalam menjalin persahabatan dengan mu“
وَ كُنْتَ كَمَا قَالَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ” ضَعِيْفًا فِيْ بَدَنِكَ قَوِيًّـا فِيْ أَمْرِ اللهِ”
Engkau sebagaimana tertutur dalam sabda Nabi alaihissalam “Lemah dalam raga, namun kuat dalam menjalankan perintah Allah“
مُتَوَاضِعًا فِيْ نَفْسِكَ , عَظِيْـمًا عِنْدَ اللهِ
Sangat rendah diri pada manusia namun sangat besar dalam pandangan Allah
كَبِيْرًا فِي اْلأَرْضِ , جَلِيْـلاً عِنْـدَ الْمُؤْمِنِيْنَ
Disegani dimuka bumi, dihormati oleh setiap mukmin
لَمْ يَكُنْ ِلأَحَدٍ فِيْكَ مَـهْمَزٌ , وَ لاَ لِقَائِلٍ فِيْكَ مَـغْمَزٌ
Tak ada jalan unuk melecehkan atau mencela mu
وَ لاَ ِلأَحَدٍٍٍٍ فِيْكَ مَـطْمَعٌ , وَلاَ ِلأَحَدٍ عِنْدَكَ هَـوَادَةٌ
Tak ada yang dapat mengelabuimu, disisimu tak ada orang yang engkau spesialkan
اَلضَّعِيْفُ الذَّلِيْلُ عِنْدَكَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ , حَتَّى تَأْخُذَ لَهُ بِـحَقِّـهِ
Disisimu, Orang yang lemah dan hina akan mulia dan kuat dalam ketentuan acuan hukum
وَ اْلقَـوِيُّ اْلـعَزِيْزُ عِنْدَكَ ضَعِيْفٌ ذَلِيْـلٌ , حَتَّى تَأْخُذَ مِنْهُ الْحَـقَّ
Orang yang kuat dan mulia akan menjadi lemah dan rendah disisimu, hingga ketentuan Kebenaran
dihadapan “Hukum”
وَاْلقَـرِيْبُ وَ الْـبَعِيْـدُ عِنْـدَكَ فِيْ ذَلِكَ سَوَاءٌ
Orang yang dekat dan yang jauh sama sepadan dihadapanmu
شَأْنُكَ الْحَـقُّ وَالصِّـدْقُ وَ الْرِّفْـقُ
Sepak terjangmu adalah “kebenaran, kejujuran, dan kes

etia-kawanan”
وَ قَـوْلُكَ حُـكْمٌ وَ حَتْـمٌ
Ucapanmu adalah Hukum dan Ketetapan
وَ أَمْـرُكَ حِـلْمٌ وَ حَـزْمٌ
Perangaimu adalah kemuliaan dan keyakinan
وَ رَأْيُكَ عِـلْمٌ وَ عَـزْمٌ فِيْمَـا فَعَـلْتَ
Pendapatmu adalah pengetahuan, ketetapan terhadap segala yang kau lakukan
وَقَدْ نَهَـجَ بِـكَ السَّبِيْلُ , وَ سَـهُلَ بِكَ الْعَسِيْرُ
Engkau telah merancang Sistim, dan meringankan jalan yang berat
وَ أُطـْفِـئَتْ بِكَ النِّـيْرَانُ وَ اعْتَـدَلَ بِكَ الـدِّيْنُ
Engkau padamkan api (fitnah), dan denganmu tegaklah Agama ini
وَ قََوِيَ بِكَ اْلإِسْـلاَمُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ
Kokohlah Islam dan seluruh pemeluknya
وَ سَبَقْتَ سَبْـقًا بَعِيْـدًا , وَ أَتْـعَبْتَ مَنْ بَعْـدَكَ تَعَـبًا شَدِيْـدًا
Kau telah jauh mendahului kami dalam segala hal, dan ummat yang (ingin) mengikuti jejakmu akan sangat kepayahan
فَجَلَلْتَ عَنِ الْبُكَاءِ , وَ عَظُمَتْ رَزِيَّـتُـكَ فِي السَّمَـاءِ
Engkau lebih besar dari sekedar tangisan, dan sungguh besar rasa kepedihan yang dirasakan oleh para penghuni Langit
وَهَدَّتْ مُصِـيْـبَـتُكَ اْلأَنَـامَ
Petaka kini melanda alam semesta
فَإِنَّا لِلَّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ…..
“Sesungguhnya kita dari Allah, dan sungguh kita akan kembali kepada-Nya”
رَضِيْنـَا عَنِ اللهِ قَضَـاءَهُ , وَ سَلَّمْنَـا ِللهِ أَمْرَهُ
Kami rela atas ketetapan Alah, dan kami serahkan segala sesuatu pada-Nya
فَـوَ اللهِ لَنْ يُصَـابَ الْمُسْلِمُوْنَ بِمِثْـلِكَ أَبَـدًا
Demi Allah…, umat Islam tidak akan mendapatkan penganti seperti dirimu lagi
كُنْتَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ كَهْفـًا وَ حِصْنًـا وَ قُـنَّـةً رَاسِيًا
Engkau laksana Benteng pelindung bagi kaum mukminin
و عَلَى الْكَافِرِيْنَ غِلْظَـةً وَ غَيْـظًا
Dan terhadap orang kafir laksana angkara dan siksa
فَأَلْحَقَكَ اللهُ بِـنَـبِـيِّـهِ
Kini Allah telah menyatukan engkau dengan Nabi (Muhammad)-Nya
وَ لاَ حُـرِمْنَـا أَجْـرَكَ , وَ لاَ أَضَـلَّنَـا بَـعْـدَكَ
Maka janganlah kami diharamkan dalam menggapai (pahala) kebaikanmu, dan janganlah pula kami tersesat sepeninggalanmu.
Setelah orang tersebut menyampaikan orasinya di hadapan para hadirin yang terlarut dalam ucapan-ucapannya, terlena akan kata-katanya nan penuh fakta, tersusun rapih dan tertata indah, maka mulailah terdengar kembali isak tagis serta ratapan dari para sahabat Nabi dan pula para sahabat serta pengikut sayyidina Ali as yang hadir saat itu.
Namun, ketika para hadirin ingin mencari tahu siapa gerangan orang yang menyampaikan orasi tadi, sayang sekali mereka tidak mendapatkannya. Orang tersebut ‘Raib’ dari pandangan mata para hadirin yang saat itu menyimak orasinya tadi. Dia pergi hilang tanpa jejak, tak ada yang tahu siapakah gerangan dia, dari mana asalnya dan kemana orang tersebut pergi berlalu…………'”.
Salamun Alayka Ya Aba al-Hasan Wa al-Husein.
Sumber:
kitab Dhiya’ al-Salihin hal 74-76, juga kitab al-Muntakhab al-Hasany hal 829-831, pada bab Ziarah Amir Al-Mu’minin Ali ibn Abi Thalib as dihari ke 21 bulan suci Ramadhan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed