by

PANDANGAN DUNIA : Kebenaran & Kebatilan di Alam Semesta

Apakah sistem yang berlaku di jagat alam ini merupakan sistem yang hak (benar)? Sistem yang tepat? Sistem yang seharusnya? Apakah segala sesuatu yang ada di alam semesta ini telah berada pada orbimya masing-masing?
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Salah satu pembahasan yang amat signifikan berkenaan dengan “Pandangan Alam Semesta” (ar-Ru’yah al-Kauniah) adalah persoalan kebenaran dan kebatilan. Al-Quran sendiri acapkali berbicara tentangnya. Sekaitan dengan itu, terdapat dua topik pembahasan yang akan kita diskusikan kemudian:
1.Kebenaran dan kebatilan di alam semesta.
2.Kebenaran dan kebatilan dalam masyarakat dan sejarah.
Namun, pembicaraan kita sekarang ini akan lebih terfokus pada topik yang kedua. Kendati nantinya, topik pertama yang berkaitan dengan kebenaran dan kebatilan di alam semesta akan dibahas pula secara singkat.
Kebenaran dan Kebatilan di Alam Semesta
Apakah sistem yang berlaku di jagat alam ini merupakan sistem yang hak (benar)? Sistem yang tepat? Sistem yang seharusnya? Apakah segala sesuatu yang ada di alam semesta ini telah berada pada orbimya masing-masing?
Ataukah tidak demikian adanya; sistem ini bersifat batil (tidak benar)? Mungkinkah sistem yang ada di alam ini bersifat batil? Apakah terdapat sesuatu yang semestinya tidak tercipta? Apakah keberadaan sistem ini hanya sia-sia belaka dan tidak memiliki tujuan?
Dalam menghadapi rentetan pertanyaan ini, juga berbagai pertanyaan lain yang mirip dengannya, para ulama dan cendekiawan terbagi ke dalam beberapa golongan; sebagian mendukung pandangan pertama, sebagian lainnya mendukung yang kedua, dan sekelompok lainnya memiliki pandangan alternatif yang berbeda dengan keduanya.
Para filosof, yang sebagian besar menganut paham Materialisme, memiliki persangkaan yang buruk terhadap keberadaan alam semesta (termasuk terhadap keberadaan manusia). Mereka beranggapan, seluruh yang ada di jagat alam merupakan sesuatu yang tidak semestinya ada, tidak layak tercipta, buta, tuli, dan keberadaannya hampa akan tujuan.
Sebaliknya, kaum Ilahiyyun (orang-orang yang meyakini keberadaan Tuhan) dan orang-orang yang belajar di Madrasah Ilahiah (wahana pendidikan yang mengajarkan konsep ketuhanan), khususnya Islam, dengan jelas dan pasti menyatakan bahwa penciptaan alam ini adalah sebuah kebenaran dan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dan indah.
Mereka juga meyakini bahwa di alam semesta ini tidak terdapat suatu kekurangan apapun sehingga tidak memerlukan sedikitpun tambahan. Selain itu, mereka juga yakin bahwa di alam semesta tidak terdapat sesuatupun yang bersifat sia-sia dan asal-asalan saja. Dengan kata lain, tidak terdapat satu kejanggalan pun yang terkandung dalam sistem yang berlaku di seluruh jagat alam.
“Yang membuat segala sesuatu Yang Dia Ciptakan sebaik-baiknya”,[1] juga, “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap- tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”[2] Ayat tersebut menegaskan, Tuhan kami menciptakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya dan menganugerahkan segenap hal yang diperlukan ciptaan-Nya.
Semencara dalam pandangan kelompok ketiga dikatakan bahwa keberadaan alam (dan manusia) ini tersusun dari komponen kebaikan dan keburukan, kepantasan dan ketidakpantasan, serta keharusan dan ketidakharusan. Di alarn ini, kita melihat adanya dua hal yang saling bertolak belakang.
Kita acapkali menyaksikan di alam ini berbagai kebaikan dan keburukan, keadilan dan kezaliman, kesempurnaan dan kecacaran, sehat dan sakit, kebidupan dan kematian, ketertiban dan kekacauan, kebaikan dan kerusakan, serta kesuburan dan kegersangan. Kedua hal yang saling bertolak belakang tersebut mencerminkan seolah-olah alam ini memiliki dua pencipta. Dikarenakan adanya dua hal yang saling bertolak belakang, tidak mungkin semua yang ada di jagat alam ini berasal dari satu sumber (pencipta).
Penyembahan berhala dan dualisme (penyembahan ganda), yang terdapat pada masa Iran kuno, bersumber dari keyakinan bahwa di alam ini terdapat dua tuhan (mabda’) tuhan kebaikan, kebajikan, dan cahaya (Yazdân), serta tuhan keburukan, kejahatan, dan kezaliman (Ahriman). Kedua tuhan ini (Yazdân dan Ahriman), dengan masing-masing pasukannya, senantiasa bertikai dan berperang.
Namun darinya terbetik kabar gembira bahwa pada akhimya kelak pasukan kebajikan dan cahaya akan menghancurkan pasukan kejahatan dan kezaliman. Seluruh pasukan kejahatan dan kezaliman akan musnah dan binasa, sementara keberadaan pasukan kebajikan dan cahaya akan tetap hidup abadi.
Meskipun pembahasan baik (al-khair) dan buruk (asy-syar) telah saya uraikan secara mendetail dalam buku “al-Adlul llâhi”, namun sesuai dengan topik pembahasan kita kali ini, saya akan mengutarakan sekelumit pembahasan yang berkenaan dengan permasalahan tersebut.
Dalam filsafat ketuhanan, dasar dari segala sesuatu berjalan seiring dengan “kebenaran”, “kebajikan”, “kesempurnaan”, dan “keindahan”. Sedangkan seluruh kebatilan, kejahatan, ketidaksempurnaan, serta keburukan —yang pada akhimya dan sesuai hasil akhir dari berbagai kajian— berujung pada ketiadaan (‘adam), bukan pada keberadaan (wujud).
Pada satu sisi, keburukan (asy-syar) pada dasarnya bukanlah keburukan, melainkan penyebab ketiadaan pada sesuatu. Berbagai keburukan tak lebih sebagai akibat sampingan dari keberadaan berbagai kebaikan dan kebenaran. Memang, kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain.
Namun demikian, sifat keterkaitan antarkeduanya tidak bersifat esensial, alias nisbi (relatif) belaka. Hubungan antara keburukan dan “dengan kebenaran” serta “dengan kebaikan” ibarat hubungan antara “performa” (penampakan atau al-mazhhar) dan “eksistensi” (keberadaan atau al-wujûd). Suatu keberadaan akan senantiasa diiringi dengan “performa” (penampakan).
Masalah paling pokok sekaitan dengan hal itu adalah kcmunculan esensi (al-mâhiah) yang senantiasa mengikuti eksistensi (al-wujûd), Keberadaan (eksistensi atau al-wujûd) bersifat umum dan semata-mata mengandung kebaikan. Dalam dirinya tidak terdapat ketidaksempurnaan (an-naqsh) dan keburukan (asy-syar). Dan pada peringkat keberadaan (al-wujûd) Zat Ilahi, tak ada lagi esensi (al-mâhiah) dan juga ketiadaan (al-‘adam).
Akan tetapi, berbeda dengan itu, keberadaan makhluk-makhluk ciptaan-Nya bersifat lemah. Itu dikarenakan keberadaan mereka tak lebih sebagai akibat dari sebuab perbuatan (fi’l). Dengan kata lain, keberadaannya disebabkan oleh pelaku (fâ’il). Hanya Dia (Allah SWT) sendirilah satu-satunya pelaku absolut di antara seluruh pelaku (al-fâ’il ‘alal ithlâq), di mana semua yang ada selain-Nya merupakan hasil dari perbuatan kreatif-Nya. Dengan demikian, mereka (makhluk-makhluk) itu memiliki berbagai kelemahan (adh-dhâ’f) dan ketidak-sempurnaan (an-naqsh). Akibat sampingan dari perbuatan (fi’il) tersebut ialah terdapamya “esensi” (al-mâhiah).
Demikin pula dengan suatu perbuatan yang merupakan akibat dari perbuatan lain. “Perbuatan yang menjadi akibat” tersebut memiliki derajat yang lebih rendah (dari perbuatan pertama). Dengan demikian, sekalipun ketiadaan (al-‘adam) tidak memiliki esensi, namun ia dapat merasuk ke dalam eksistensi (al-wujûd), yang akhirnya merasuki pula dalam alam materi ini (al-yasût), yang dalam istilah para filosof llahiyun (ketuhanan), disebut sebagai eksistensi (al-wujûd) yang paling rendah dan paling tidak sempurna.
Yang menjadi pertanda lemahnya keberadaan (alam materi) ialah dikarenakan dari satu sisi, ia dapat dianggap cenderung menyerupai “esensi” (al-mâhiah) dan “ketiadaan” (al-‘adam). Karenanya, sekalipun keburukan (asy-syar) tidak memiliki esensi dan bukan bagian dari eksistensi (al-wujûd), akan tetapi ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari eksistensi (al-wujûd) pada tingkat yang paling rendah.
Dikarenakan itu, apabila kita memandang sistem eksistensi (al-wujûd) ini dari sisi keberadaannya, maka darinya tak akan terdapat keburukan (asy-syar) dan ketiadaan (al-‘adam). Ketika memandang ke atas, kita akan melihat adanya cahaya. Namun, tatkala melihat ke bawah, kita akan menyaksikan adanya bayangan di bawah kita.
Bayangan tersebut merupakan keberadaan sampingan dari benda (al-jism), yang pada hakikamya non-esensial (yang ada hanyalah cahaya). Tapi dikarenakan keberadaan benda (al-jism) itulah, maka dalam benak kita muncul “esensi” (al-mâhiah), yang merupakan sebuah akibat sampingan dari keberadaan benda. Hakikat dari bayangan tidak lain adalah ketiadaan (al-‘adam), yakni ketiadaan cahaya dalam kawasan tertentu dan eksistensi (al-wujûd) cahaya di sekeliling kawasan tersebut.
Dalam konsepsi filsafat Ilahiah (ketuhanan), dikatakan bahwa segala sesuatu terangkum dalam kalimat “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Yakni suatu keberadaan akan menjadi nampak dikarenakan nama Allah, Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Ini merupakan sudut pandang yang paling tinggi.
Keberadaan alam semesta ini tak lain hanyalah penampakan dari Maha Pengasihan dan ke-Maha Penyayangan-Nya semata. Tentunya sulit untuk menggambarkan semua itu, dikarenakan ia merupakan suatu bentuk pemikiran yang sangar tinggi dan agung. Jika seorang memiliki kesadaran yang mendalam terhadap poin tersebut, maka ia bisa dengan mudah memecahkan berbagai persoalan yang ada.
Pada tahap berikumya, pandangan semacam ini memunculkan keyakinan bahwa alam semesta memiliki dua wajah; pertama adalah wajah dari-Nya dan kedua adalah wajah menuju kepada-Nya. Wajah yang pertama (dari-Nya) ialah ke-Maha Pengasihan-Nya dan wajah kedua yang menuju kepada-Nya adalah ke-Maha Penyayangan-Nya.
Seluruh nama-nama Allah selainnya hanyalah bersifat sampingan semata dan menempati peringkat kedua, ketiga…. Berbagai sifat lain yang dimiliki Allah pada hakikamya berasal dari nama-nama tersebut (Maha Pengasih dan Maha Penyayang). Bahkan sifat “Mahamengalahkan (al-Qahhâr) berasal dari sifat Mahalembut (al-Lathîf); sebuah esensi yang memiliki sifat Mahalembut tidak memiliki sifat Mahamengalahkan.
Menurut sudut pandang tauhidi (pengesaan Tuhan), untuk mengenal eksistensi (al-wujûd), tak ada suatu pandangan pun yang bisa digunakan kecuali pandangan semacam itu. Demikian pula halnya dengan pandangan filsafat. Mereka yang benar-benar ahli dalam mengenal eksistensi (al-wujûd), tidak akan memiliki pandangan apapun selain pandangan semacam itu.
 
Sumber : Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari “Naraca Kebenaran Dan Kebatilan”, Penerbit Shadra : 2001.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed