by

PANDANGAN DUNIA : Masyarakat dan Sejarah

Masyarakat dan Sejarah, Bagian kedua dari topik pembahasan ini berhubungan dengan keberadaan manusia, masyarakat, dan sejarah. Dalam hal ini, kita tidak berurusan dengan keberadaan alam semesta; apakah sistem yang ada itu baik, sempurna, paling baik, atau tidak? Akan tetapi (pembahasan ini berkaitan dengan) pertanyaan yang tertuju pada diri manusia itu sendiri, yakni bagaimanakah keberadaan manusia itu?
Apakah manusia senantiasa mencari kebenaran, menuntut keadilan, menuntut penghargaan, dan mencari cahaya? Ataukah sebaliknya, sesuatu yang buruk, merusak, cenderung menumpahkan darah, zalim, dan sejenisnya? Ataukah sebagian manusia berpihak pada kebenaran, dan sebagian lain pada kebatilan, sehingga keduanya saling bertikai?
(Baca artikel  terkait : PANDANGAN DUNIA : Kebenaran & Kebatilan di Alam Semesta )
Dalam hal ini juga terdapat beberapa bentuk pandangan. Bentuk pandangan yang pertama mengatakan bahwa menurut jenisnya, manusia merupakan sosok yang buruk dan zalim. Aktivitas yang dijalankannya tak lain hanyalah membunuh, mencuri, merampok, melakukan tipu muslihat, dan berbohong. Kebiasaan yang dimilikinya adalah berbuat keburukan, kerusakan, pemerasan, dan kezaliman. Sekalipun kita telah menyaksikan di sepanjang sejarah dan peradaban manusia, berbagai perbuatan baik, bermoral, dan manusiawi, namun semua itu merupakan hasil paksaan dan tekanan terhadap perangai dan tabiat aslinya, Sehingga mereka bisa berperilaku seperti itu.
Pada hakikamya, jiwa manusia senantiasa mendorongnya ke arah keburukan dan juga ke arah kebaikan. Bahkan terkadang dorongan tersebut sampai pada tingkat paksaan (al-jabr). Misalnya saja, ketika hidup di antara alam dan binatang buas, manusia akan menyadari bahwa jika di antara mcrcka tidak dibcntuk suatu perdamaian, sckalipun secara paksa, maka mustahil bagi mereka untuk mempertahankan jiwanya.
Karena itu, mereka mesti menanggung suatu keterpaksaan yang dibebankan atas dirinya, yakni kemestian untuk hidup bermasyarakat, dan antara satu sama lain harus melaksanakan komunikasi yang didasari pada keadilan; karena semua itu akan memberi keuntungan bagi mereka. Dengan demikian, unsur paksaan yang terdapat dalam jiwa telah memaksa manusia untuk berbuat baik; sebagaimana sebuah pemerintahan yang lemah tatkala berhadapan dengan sebuah pemerintahan yang kuat, maka akan dibuat suatu perjanjian damai dan persahabatan, demi menjaga tindakan buruk yang dikhawatirkan akan muncul darinya (pemerintahan yang kuat).
Dan jika suatu saat, musuh dari pemerintahan-pemerintahan (lemah) yang saling bersekutu tersebut sudah tidak ada lagi, maka di antara mereka (pemerintahan yang lemah) akan saling bertikai satu sama lain. Sebuah kelompok dibentuk untuk menghadapi suatu musuh (lawan), artinya jika tidak ada musuh atau lawan yang dihadapi, maka mereka tidak akan saling bersatu, dan jika musuh atau lawan dari kelompok tersebut telah lenyap, maka persekutuan tersebut akan berubah menjadi perpecahan; kelompok itu akan terpecah menjadi dua kelompok.
Dan apabila salah satu dari dua kelompok ini hancur, maka kelompok yang masih ada akan terpecah pula menjadi dua kelompok, begitu seterusnya. Kalaupun pada akhirnya yang tersisa hanya dua orang saja, maka satu sama lain akan saling bertikai dan yang paling kuatlah yang akan tetap hidup. (Inilah bentuk pemikiran Darwinisme. Menurut teori “perebutan kekekalan” Darwin, apabila semua itu diberlakukan dalam masyarakat, maka akan tercipta (masyarakat Darwinis).
Mayoritas filosof materialis kuno, dan sebagian kecil filosof masa kini, memiliki pandangan semacam itu. Mereka sangat berburuk sangka (apriori) terhadap perangai manusia. Dalam anggapannya, manusia sama sekali tidak dapat dibenahi. Selain itu, mereka tidak meyakini rumusan “tesis perbaikan”. Menurut kalangan ini, pengajuan “tesis perbaikan” merupakan sesuatu yang absurd. Mereka mengibaratkan hal ini dengan seseorang yang memberikan ketentuan (undang-undang) terhadap seekor kalajengking, agar ia dapat bersikap baik dan tidak menyengat manusia. Padahal:
Sengatan kalajengking bukan lantaran dendam, itu adalah tuntutan alam. Dikarenakan kalajengking memiliki watak dan perangai untuk menyengat, maka penerapan undang-undang dan “tesis perbaikan” tidak akan berarti sama sckali. Demikian pula halnya dengan manusia. Selama berada di muka bumi, manusia akan senantiasa cenderung pada berbagai keburukan sehingga mustahil dibenahi.
Berdasarkan pada argumen tersebut, kalangan pemikir semacam ini pada umumnya menjustifikasi tindakan bunuh diri. Mereka mengatakan, “Karena kehidupan ini adalah buruk, maka hanya terdapat satu kebaikan saja di muka bumi ini, yakni mengakhiri kehidupan yang buruk ini, sehingga dengannya manusia dapat terbebas dari dunia yang penuh dengan keburukan dan kepahitan dan juga dari keburukan keberadaan dirinya sendiri.”
Bentuk gagasan menyimpang ini berasal dari orang-orang Barat, yang kemudian disebarluaskan ke tengah-tengah masyarakat Iran oleh Shadiq Hidayat. Dalam berbagai tulisannya, ia senantiasa memberikan gambaran yang buruk tentang kehidupan. Sebagai contoh, “Kehidupan dunia ibarat comberan yang tidak lain hanyalah lumpur dan bau busuk. Dan cacing-cacing menjalani kehidupannya yang kotor dalam comberan tersebut.” Namun pada akhirnya, ia terpengaruh oleh ungkapannya sendiri dan kemudian melakukan bunuh diri.
Sewaktu buku-bukunya banyak digemari masyarakat, sebagian besar pemuda Iran nekat melakukan bunuh diri. Mereka telah scdemikian terpengaruh oleh isi buku-buku tersebut. Maani (pendiri agama Manawi yang berkebangsaan Iran, —pent.) juga memiliki filsafat kehidupan semacam itu. la beranggapan bahwa hidup ini merupakan sebuah keburukan. Akan tetapi, ia meyakini adanya perbedaan antara jiwa dan raga. la mengatakan, “Raga adalah buruk, kehidupan materi adalah buruk, dan jiwa terkurung dalam raga ini.
Dengan demikian, jika seseorang meninggal dunia atau melakukan bunuh diri, ia akan segera terbebas dari keburukan dunia; sebagaimana burung yang lepas dari sangkarnya.” Sekalipun meyakini adanya suatu bentuk kehidupan yang lain, namun dirinya menganggap bahwa secara seratus persen, kehidupan ini adalah buruk.
Berdasarkan pandangan ini, keberadaan manusia dengan kecenderungan (insting) yang dimilikinya merupakan suatu wujud (makhluk) yang buruk, dan keburukan tersebut merupakan esensi, sekaligus nasib, dirinya. Sejak pertama kali muncul di alam dunia, ia sudah demikian adanya. Dan sampai sekarang hingga pada masa mendatang pun, ia masih akan tetap demikian. Tak ada yang lain kecuali seperti itu. Segenap harapan untuk melakukan perbaikan terhadap kondisi umat manusia serta harapan untuk memiliki masa depan yang cerah tak lebih dari sebuah khayalan belaka.
Al-Quran memiliki berbagai pandangan berkenaan dengan penciptaan manusia. Salah satunya, Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Aku akan menjadikan scorang pengganti dan khalifah di muka bumi ini. Para malaikat kemudian bersikap pesimistis terhadap tingkah-laku manusia, dengan menyatakan, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,” yakni, apakah Engkau hendak menempatkan di muka bumi, orang-orang yang akan berbuat kerusakan dan mengadakan pertumpahan darah di dalamnya?
Dalam pandangan para malaikat, tabiat makhluk semacam itu tak lain hanyalah menumpahkan darah dan melakukan berbagai kerusakan. Allah Swt menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Kami mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui. Dalam konteks ini, Allah tidak menyalahkan mereka (para malaikat) dan tidak mengatakan bahwa ucapan mereka tidak benar. Namun Dia mengatakan bahwa di balik semua yang kalian ketahui, Aku mengetahui berbagai hal, dan kalian hanya mengetahuinya dari satu sisi saja, sementara kalian tidak mengetahui hakikat keberadaan makhluk yang hendak Aku ciptakan.
Posisi kalian lebih rendah dari makhluk yang hendak Aku ciptakan. Keberadaannya (makhluk itu) jauh lebih tinggi dan lebih sempurna. Dengan demikian, sebelum manusia diciptakan, para malaikat telah mengetahui sebagian dari ciri-ciri keberadan manusia. Kendati demikian, mereka masih bclum mengetahui sebagian lainnya sehingga menjadi pesimistis terhadap penciptaan manusia. Apabila ada seorang ilmuwan yang menyaksikan sisi kehidupan manusia yang kelam dan penuh noda, lantas mengeluarkan pandangan semacam itu (pesimisme), tentunya pandangannya itu bukanlah sesuatu yang amat menakjubkan.
Pandangan lain yang bertolak belakang dengan sebelumnya menyatakan bahwa tabiat dan perilaku manusia bersumber dari kebaikan (al-khair) dan kebenaran (al-haq) serta kesempurnaan (al-kamâl) dan kenyataan (al-wâqi’î). Manusia merupakan sosok yang bermoral, cinta damai, serta menyukai kebenaran. Secara esensial, tabiat manusia merupakan cahaya, keadilan, amanat, jujur, dan bertakwa. Lantas apakah yang menyebabkan manusia menjadi rusak?
Dalam pandangan mereka, kerusakan manusia berasal dari faktor luar yang dibebankan kepada manusia. Inilah juga yang mengakibatkan terjadinya kerusakan dalam sebuah masyarakat. Jean Jacques Rousseau merupakan salah seorang yang memiliki keyakinan semacam itu. Dalam bukunya yang terkenal “Emile??”, ia menulis bahwa manusia yang masih asli, manusia di luar masyarakat, manusia yang hidup di alam, merupakan sosok manusia yang sehat, sempurna, dan suci.
Seluruh penyimpangan, kebatilan, serta kerusakan semata-mata berasal dari masyarakat yang kemudian dibebankan kepadanya. Oleh sebab itu, Rousseau bersikap pesimistis terhadap kehidupan bermasyarakat. “Tesis pembenahan” yang diyakininya ialah bahwa manusia sedapat mungkin mesti kembali ke alam (Konsep Back to Nature – Penerj.). Rousseau tidak bersikap optimistis terhadap peradaban modern. Sebabnya, ia yakin bahwa peradaban modern itulah yang justru telah menjauhkan manusia dari alam.
Semakin jauh dari alam, manusia akan semakin rusak. Sebaliknya, semakin dekat dengan alam, ia akan semakin dekat dengan kemanusiaan, kejujuran, dan kesucian. Pandangan Rousseau yang nota bene seorang agamis, sekilas mirip dengan pandangan Islam berkenaan dengan fitrah manusia. Salah satunya, sabda Nabi mulia SAWW yang cukup terkenal, “Semua yang dilahirkan itu, dilahirkan dalam keadaan fitrah, sehingga kedua orang tuanyalah yang membuamya menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”
Setiap anak dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan suci, kemudian ayah dan ibunya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Kecenderungan pada Yahudi, Nasrani, atau Majusi merupakan contoh dari perubahan. Sedangkan keberadaan kedua orang tua merupakan faktor perubah dari masyarakat. Fitrah manusia pada awalnya sebat dan suci. Namun kemudian masyarakatlah yang menjadikannya menyimpang. Dalam salah satu hadisnya, Nabi SAWW membuat sebuah perumpamaan dan bersabda, “Kalian sendirilah yang telah mengiris telinga kambing yang kalian miliki.
Pernahkah terjadi binatang-binatang itu sejak pertama dilahirkan telinganya sudah dalam keadaan teriris? Tidak, tatkala dilahirkan selalu dalam keadaan sempurna, lalu manusialah yang mengiris telinganya.” Begitu pula dari sisi kejiwaan (rohani), di mana semua manusia dilahirkan dalam keadaan sehat, sempurna, menyukai kebenaran, dan cenderung pada kebaikan. Munculnya berbagai penyimpangan, pembelotan, kebohongan, kezaliman, pengkhianatan, keburukan, dan kerusakan manusia disebabkan oleb adanya suatu paksaan yang dialami setelah kelahirannya.
Dengan demikian, pandangan semacam itu lahir dari sikap yang optimistis terbadap watak serta jenis, perilaku, dan struktur keberadaan manusia yang kokoh. Mereka juga beranggapan bahwa esensi manusia adalah kenyataan dan kebenaran. Dalam keyakinan mereka, seluruh penyimpangan yang muncul tak lain diakibatkan oleh berbagai faktor luar dan non-esensial (accidential), yang dalam istilah para filosof disebut dengan “sebab-sebab yang bersifat kebetulan” (al-‘ilalul ittifâqiah).
Sedangkan berdasarkan pada sebab-sebab alamiah, sebab-sebab dari dalam, serta sebab-sebab dinamisnya, pada dasarnya gerakan manusia menuju pada jalan yang lurus. Namun dikarenakan adanya pengaruh dari perubahan faktor eksternal yang bersifat non-esensial (accidential), memaksa, serta serba mekanis, maka diri manusia menjadi terbebani oleh berbagai perilaku buruk dan tindak kejahatan.
Adapun menurut pandangan lain, dikatakan bahwa ketika berada di tengah masyarakat, sebagian manusia akan mendukung kebenaran (al-haq), sementara sebagian lainnya cenderung pada kebatilan (al-bâtil). Malaikat, dengan perantaraan ilham, mengajak manusia pada kebenaran (al-haq). Sedangkan setan, dengan cara berbisik, akan menggiring manusia pada kebatilan (al-bâtil).
Konsekuensinya, keberadaan manusia terbagi ke dalam dua kubu; sebagian berjalan di jalan yang baik dan benar, yakni berjalan di jalur iman dan para nabi; sementara sebagian lainnya yang melintas di jalan setan, serta mengingkari dan menolak ajakan para nabi. Maulawi mengatakan:
Ada dua bendera yang berkibar; putih dan hitam, Yang satu adalah manusia, dan yang lain adalah iblis
Dikatakan bahwa ada sebuah bendera putih yang merupakan bendera petunjuk, dan sebuah bendera hitam yang tak lain dari bendera kesesatan. Kesimpulan yang dihasilkan dari uraian tersebut adalah bahwa keberadaan masyarakat merupakan campuran dari kebaikan dan keburukan, hak dan batil. Itu dikarenakan ihwal keberadaan manusia sendiri (sebagai komponen dasar bagi pembentukan masyarakat) merupakan hasil campuran dari kebaikan dan keburukan.
Pertikaian dan perselisihan antara hak dan batil akan senantiasa terjadi pada setiap individu, demikian pula dalam setiap masyarakat. Lantas pihak manakah yang akan menang? Itu pembahasan lain. Alhasil, kita meyakini bahwa kemenangan akhir akan diraih oleh dipihak yang hak dan hakiki; keadilan akan menghancurkan kezaliman, kebaikan akan meraih kemenangan dalam melawan kebacitan, cahaya akan mengalahkan kegelapan, dan agama akan meraih kemenangan atas kekafiran.
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya” . “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa.”
 
Sumber : Ayatullah Syahid Murtadha Muthahhari “Naraca Kebenaran Dan Kebatilan”, Penerbit Shadra : 2001.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed