by

Akhlak Indah Malik Asytar

Siapa yang tidak kenal Malik Asytar?
Panglima perang andalan Imam Ali yang bertubuh besar dan berperawakan tinggi ini terkenal dengan keberanian, kehebatan dan kepahlawanannya.
Meski perkasa, menakutkan dan menggetarkan musuh-musuhnya di medan perang, namun tokoh besar yang melegenda hingga kini memiliki akhlak indah. Ia belajar dan meneladani akhlak junjungannya, Imam Ali as.
Suatu hari dengan berpakaian terbilang sangat sederhana, pakaian yang tidak menggambarkan kedudukannya yang tinggi sebagai seorang panglima perang, ia melewati pasar Kufah.
Ketika sedang lewat itu ada seorang pedagang yang melecehkan dan mengejek pakaian yang ia kenakan. Tidak hanya itu, si pedagang itu melemparinya dengan buah kemiri.
Tapi Malik Asytar yang berakhlak indah sedikit pun tidak menoleh dan bereaksi terhadap perbuatan buruk si pedagang itu.
Malik terus saja mengayunkan langkahnya hingga tak terlihat lagi dari pandangan orang-orang sekitar tempat tersebut.
Pedagang lain yang dari tadi memerhatikan kejadian itu mendatangi si pelaku.
“Celaka engkau! Tahukah engkau siapa orang yang engkau lempar itu?”
Jawab si pelaku, “Aku tidak mengenalnya. Dia orang yang lewat seperti ribuan orang lainnya yang lewat disini.”
Pedagang lainnya itu menjelaskan, “Ia adalah Malik Asytar al-Nakha’i, sahabat dan panglima perang Amirul Mukminin Ali.”
Si pelaku berkata dengan terkejut, “Inikah Malik yang menggetarkan sendi-sendi para pemberani karena takut kepadanya dan yang namanya menggentarkan para musuhnya?”
Dijawab, “Ya, orang itulah Malik Asytar.”
Si pelaku langsung berlari mengejar Malik untuk memohon maaf darinya. Ia mendapati Malik telah berada di dalam salah satu masjid sedang melaksanakan shalat. Dan ketika Malik selesai dari shalatnya, lelaki itu bersimpuh di kedua kaki Malik dan mencium kedua kakinya.
Malik berkata kepadanya, “Apa yang engkau lakukan ini?”
Lelaki pedagang itu berkata, “Aku memohon maaf kepadamu dari perbuatanku tadi. Akulah orang yang tadi melecehkanmu dan telah bersikap kurang ajar terhadapmu.”
Lalu apa jawaban Malik?
Malik berkata, “Tidak mengapa. Demi Allah! aku tidak masuk masjid ini kecuali untuk memohon ampunan Allah untukmu.”
 
Sumber : Qishah al-Abrar, Syahid Murtadha Muthahari, halaman 32-33.
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed