by

Falsafah Wuquf di Arafah

Falsafah wukuf di Arafah adalah bahwa haji menarik dirinya dari segala ketergantungan dan keterikatan terhadap dunia.
Ia melepaskan dirinya dari istri, anak-anak, kerabat, sahabat, benda dan segala harta yang dimilikinya.
Ia menyingkirkan segala kegemerlapan dan keindahan pakaiannya.
Ia hanya mengenakan dua lembar pakaian ihram seperti kain kafan. Di antara hamparan tanah padang suci ini ia melihat dirinya miskin dan memandang Allah Swt sebagai satu-satunya yang Mahakaya dan tidak membutuhkan sehingga ia mengingat kematian, kuburan, hari Kiamat, kemiskinan dan penderitaan di hari itu.
Ia mengetahui bahwa pada hari itu tiada pelindung kecuali Allah Yang Mahakuasa. Apabila manusia dengan memperhatikan segala urusan ini, melewati suatu hari atau lebih di padang ini dan benar-benar melupakan dirinya dan tercurah perhatiannya kepada Tuhannya maka tentu saja ia akan mencapai satu tingkatan pengenalan.
Di padang ini, ia akan meninjau kembali dirinya dan segala amalan yang telah dilakukannya. Dan dengan taubat yang sebenarnya dari dosa-dosa akan dapat melesakkannya kepada makam qurb Ilahi (kedekatan kepada Ilahi).
Wukuf di Arafat tanpa berpikir dan tanpa melepaskan diri dari kelalaian dan ego sentris serta semata-mata mencukupkan diri dengan amalan-amalan lahir tentu tidak akan membuahkan pengenalan diri.
Meski dari sudut pandang fikih, dengan menunaikan amalan-amalan ini maka kewajiban dan taklif telah gugur.
Namun orang seperti ini tidak akan mendapatkan pelbagai pengenalan di antaranya pengenalan diri (makrifat nafs).
 
Sumber : Chanel Telegram @Tafsirhikmah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed