by

Membongkar Kedustaan Tanggapan dari Anti Syi‘ah

Syiahmenjawab.com – Beberapa hari lalu kami share postingan berjudul “Cerita Karangan Syi‘ah?” di grup WA. Isi postingan itu kutipan kitab-kitab Sunni tentang beberapa orang dari Bani Umayyah mencaci maki Imam ‘Ali as, ada pula yang mencaci maki Imam Husain as.
Diantara yang kami singgung adalah riwayat Ibnu Majah no. 121. As-Sindy (ulama Sunni) memberikan penjelasan atas riwayat itu:
أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما قيل في مسلم والترمذي.
Intinya menunjukkan Mu‘awiyah mencela Imam ‘Ali as, berkata buruk untuknya, bahkan memerintahkan Sa‘ad untuk mencaci Imam ‘Ali as.
Nah, ada member grup WA itu yang menanggapi bahwa riwayat itu dha‘if. Tadi malam dia share postingan teks Arab yang berisi argumen menilai dha‘if riwayat itu.
Ini kami kutipkan sebagian isi tanggapannya (lihat screenshot chatting grup WA di bawah):

أما سبب ضعف الرواية فإن فيها عبد الرحمن بن سابط كثير الإرسال. بالرغم من تصحيح شيخنا الألباني إلا أني أرى أنه قد اجتمعت في هذه الروايات علل عديدة ذهل عنها الشيخ رحمه الله.
وقد تكلم أهل العلم في رواية أبي معاوية عن الأعمش. قال فيه ابن عدي: « شيعي محترق: له من الأخبار ما لا أستحب ذكره » وقال ابن حجر: «إخباريٌ تالِف. لا يوثق به» وقال أبو حاتم الرازي في الجرح والتعديل: «ليس بثقة متروك الحديث» (الكامل في الضعفاء6/93 ميزان الاعتدال3/419 لسان الميزان4/584 الجرح والتعديل7/182 سير أعلام النبلاء7/301-302).
Inti dari kutipan itu: Menilai riwayat itu dha‘if dengan alasan:
1. Dalam sanadnya ada ‘Abdurrahman bin Sabith. Dia banyak melakukan irsal (sanadnya tidak bersambung).
2. Riwayat Abu Mu‘awiyah dari al-A‘masy dijarh (dicela) oleh ulama. Ada yang menilai tidak tsiqah (terpercaya), matruk al-hadits (ditinggalkan haditsnya), riwayatnya rusak, tidak dikukuhkan, dan padanya ada kabar-kabar yang tidak disukai yang tidak dianjurkan untuk disebutkan.
Poin no. 2 diklaim didasarkan pada kitab-kitab rijal diantaranya kitab al-Jarh wa al-Ta‘dil 7/182 karya Ibnu Abu Hatim, al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal 6/93 karya Ibnu ‘Adiy, dan Lisan al-Mizan 4/584 karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani.
Teks dari Ibnu ‘Adiy: شيعي محترق: له من الأخبار ما لا أستحب ذكره
Teks dari Ibnu Hajar: إخباريٌ تالِف. لا يوثق به
Teks dari Ibnu Abi Hatim: ليس بثقة متروك الحديث
__________
Bantahan
Mari kita lihat bersama kitab-kitab rijal yang disebutkan. Apakah betul teks-teks jarh (celaan) itu ditujukan untuk riwayat Abu Mu‘awiyah dari al-A‘masy? Kami juga screenshot kitab-kitabnya.
1. Kitab al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal, jilid 9 halaman 15, rijal no. 1626. Ibnu ‘Adiy menyebutkan:
لوط بن يحيى أبو مخنف كوفي… وهو شيعي محترق صاحب أخبارهم وإنما وصفته لا يستغنى عن ذكر حديثه فإني لا أعلم له من الأحاديث المسندة ما أذكره وإنما له من الأخبار المكروه الذي لا أستحب ذكره.
Lihat teks شيعي محترق dan له من الأخبار المكروه الذي لا أستحب ذكره itu justru untuk Luth bin Yahya.
2. Kitab Lisan al-Mizan, juz 4 halaman 430-431, rijal no. 6248. Ibnu Hajar menyebutkan:
لوط بن يحيى أبو مخنف اخبارى تالف لا يوثق به تركه أبو حاتم وغيره وقال الدارقطني ضعيف وقال يحيى بن معين ليس بثقة وقال مرة ليس بشيء وقال ابن عدى شيعى محترق صاحب اخبارهم
Lihat teks اخبارى تالف لا يوثق به itu justru untuk Luth bin Yahya.
3. Kitab al-Jarh wa al-Ta‘dil, juz 7 halaman 182, rijal no. 1030. Ibnu Abi Hatim menyebutkan:
لوط بن يحيى أبو مخنف روى عن صقعب بن زهير ومجالد بن سعيد… قرئ على العباس بن محمد الدوري قال سمعت يحيى بن معين يقول أبو مخنف ليس بثقة نا عبد الرحمن قال سمعت أبى يقول أبو مخنف متروك الحديث.
Lihat teks ليس بثقة dan متروك الحديث itu justru untuk Luth bin Yahya.
Nah, dari tiga kitab rijal tersebut teks jarh (celaan) yang dikutip tidak ada satu pun yang ditujukan untuk riwayat Abu Mu‘awiyah dari al-A‘masy seperti yang diklaim dalam postingan orang itu. Semua teks jarh itu ditujukan untuk Luth bin Yahya. Jadi argumen yang dishare orang itu kesalahan fatal, bahkan saya menganggap itu dusta. Hehe, berarti belum ada bukti kuat riwayat itu dha‘if.
Saya menilai orang itu tidak berniat sengaja dusta karena masalah niatnya saya belum tahu. Menilai yang tampak saja. Namun secara ilmiah, jelas isi/argumen yang dia share jelas mengandung kedustaan seperti dibuktikan di atas.Mungkin dia hanya copy paste dari beberapa website berbahasa Arab, lalu dishare tanpa mengecek dulu kitab-kitabnya.
Oh iya, ada tambahan informasi. Argumen dusta seperti itu untuk mendha‘ifkan riwayat Ibnu Majah no. 121 ternyata kami temukan dalam kitab Syubhat wa Rudud Ahadits Yuhtaj Biha asy-Syi‘ah, halaman 147. Penulisnya berinisial ‘A M S D. Dia da‘i Salafi kelahiran Beirut-Lebanon. Menempuh S3 di Kairo, dan S2 di Pakistan. Walaupun dia Salafi, saya tetap tidak menilai ajaran Salafinya yang mengajarkan dusta. Itu mungkin kesalahan dari dia tanpa mewakili mazhab yang dianutnya. Adil sejak dalam pikiran
Selamat milad Imam ‘Ali ar-Ridha as, 11 Dzulqa‘dah. Insya Allah keberkahannya selalu mengalir untuk kita semua. Titip doa, salam ziarah, dan permintaan maaf kepada Imam as karena kurang menunaikan hak:sob:. Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar, terlebih hari Jum‘at yang penuh berkah. Doa terbaik untuk semua yang dizhalimi. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina, Yaman, dan Suriah! Aamiin.

__________
Referensi kitab:
Ibnu ‘Adiy, al-Kamil fi Dhu‘afa’ ar-Rijal, jilid 9 halaman 15, rijal no. 1626.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Lisan al-Mizan, juz 4 halaman 430-431, rijal no. 6248.
Ibnu Abi Hatim, al-Jarh wa al-Ta‘dil, juz 7 halaman 182, rijal no. 1030.
A M S D, Syubhat wa Rudud Ahadits Yuhtaj Biha asy-Syi‘ah, halaman 147.
 
oleh : Muhammad Baghas

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed