by

Muqaddimah Kisah Mubahalah [Dr Hakimelahi ]

Pada tanggal 24 Dzukhijjah, menurut riwayat adalah hari mubahalah. Walaupun ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa yaumul mubahalah terjadi pada tanggal 25 Dzulhijjah. Selain itu ada beberapa peristiwa penting, yaitu peringatan turunnya ayat 55 dari surat Al-Maidah, tentang Imam Ali bersedekah dengan cincinnya dalam keadaan rukuk. Ketiga, hari ini juga hari syahadah sahabat amirul mukmnin Ali bin Abi Thalib.
Di wilayah Arab Saudi ada wilayah yang namanya Najran. Di daerah tersebut, dulu orang-orangnya menyembah berhala. Kemudian mengikuti nasrani hingga datang rasul dan mereka mendapat surat dari Rasulullah yang berisi undangan ajaka kepada tauhid.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengirim sekelompok orang yang terdiri dari para tokoh pemuka agama di Najran. Ketika mereka sampai di Madinah, tapi Rasulullah tidak menerima mereka dan mengacuhkannya. Mereka heran dan menanyakan kepada Imam Ali.
Imam mengatakan “Jangan-jangan kalian masuk menemui Rasul dengan memakai pakaian yang mewah, pakaian sutra atau cincin emas. Kalau kalian ingin menemui Rasul dan Rasul mau menerima kalian, lepaslah pakaian-pakaian yang menjadi kebanggaan kalian, yang menjadi sumber kalian untuk berbangga dan bersikap sombong terhadap orang lain”.
Akhirnya mereka melepaskan pakaian dan perhiasan kebanggaan mereka. Lalu mereka menemui Rasulullah dengan membawa hadiah. Rasul menerima sebagian hadiah tersebut dan menolak sebagian yang lain.
Kemudian datang waktu maghrib, Rasulullah segera berdiri  diiringi para sahabat dan shalat berjamaah. Orang-orang Nasrani Najran tersebut memisahkan diri dan mereka melakukan ibadah dengan cara mereka sendiri. Rasul pun tidak melarang meraka dan membiarkan mereka melakukan ritual tersebut.
Setelah itu, Rasulullah menemui mereka dan menyampaikan risalah nabawiyyah. Kemudian terjadi perdebatan panjang dengan pengikut Nasrani najran tersebut. Terjadi dialog yang panjang sekali. Rasulullah menyampaikan segala bukti ajaran yang dibawa dari Allah. Namun semua bukti itu dibantah dan ditolak oleh mereka. Walau itu adalah kebenaran. Mereka menolak semua argumentasi Rasulullah. Akhirnya, tidak pilihan lain, selain melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah mengajak mereka bermubahallah.
Mubahallah merupakan tradisi di kalangan orang-orang waktu itu jika mereka tidak lagi menemukan cara lain. Untuk menyampaikan kebenaran kepada pihak yang lain mereka akan pergi ke lapangan yang terbuka di bawah sengatan terik matahari. Lalu meminta kepada Allah supaya Allah menurunkan azab kepada pihak yang ada pada kebatilan.
Rasulullah telah menyampaikan segala bentuk bukti kebenaran ajaran dari Allah. Dan Rasul mengatakan “Terimalah agama ini, lalu masuklah dengan sepenuhnya. Jika kalian tidak mau menerima agama ini, marilah kita bermubahalah”. Mereka sepakat melakukan mubahallah dengan Rasulullah dan pergi ke lapangan terbuka. an meminta Allah menurunkan azab atas mereka yang dalam keadaan batil
Setelah disepakati besoknya akan melakukan mubahalah, pimpinan rombongan yang paling disegani dan paling dihormati mengatakan pada seluruh rombongannya, “kita akan melihat esok hari, jika orang yang mengaku nabi ini membawa sahabat-sahabatnya, maka kita akan bermubahalah pada dia.  Karena itu berarti ia ragu dengan kebenarannya. Akan tetapi jika ia membawa keluarga yang dikasihi, artinya ia yakin akan kebenarannya. Dan Kita tidak akan melaksanakan mubahalah.”
Rasul keluar dari rumah dengan menggandeng imam Husain yang saat itu berusia sekitar tiga tahun, bersama dengan imam Hasan. Di belakang beliauu ada Imam Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah. Hal ini disaksikan oleh orang-orang Madinah. Rasulullah mengajak mereka menepati janji, saat itulah mereka menolak ajakan mubahalah tersebut.
Pimpinan mereka mengatakan “sumpah demi Allah, aku menyaksikan wajah-wajah yang jika wajah-wajah itu memohon kepada Allah. Allah akan mengazab dan tidaka akan membiarkan satu orang nasrani pun tersisa di muka bumi ini. Akhirnya mereka membatalkan mubahallah. Dan  mengatakan “Wahai Rasul, kami tidak akan bermubahallah tapi biarkan kami berada dalam agama kami, kami akan membayar jizyah sebagai bentuk ketundukan kami terhadap pemerintahan yang ada di Madinah.”
Setelah mereka menolak bermubahalah, Rasulullah bersabda kepada para sahabat : “Sumpah demi Allah, jika mereka mau melaksanakan mubahallah, niscaya tidak akan ada satupun dari mereka yang tersisa di muka bumi ini. Bahkan burung-burung yang ikut kepada mereka pun akan binasa”
Bagaimana pun tidak, di dalam kelompok kecil itu ada Ali bin Abi Thalib, Hasan wal Husain, ada Fathimah Azzahra. Manusia-manusia yang jika meminta pada Allah, Allah pasti akan mengabulkannya.
Yang disampaikan ini baru muqaddimah singkat dari kisah mubahallah. Kita akan merujuk kepada ayat al-Qur’an yang turun berkenaan dengan kisah ini.. (bersambung)
 
*Ditranskip dari ceramah Dr Hakimelahi  (Direktur ICC) di Yayasan Aalulbait as. Kamis, (14/09). Diterjemahkan oleh USt. Hafiz Al Kaff.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed