by

Sejarah Nabi Saww, Penentangan kenabian atau Tentang Kekuasaan?

Sejarah Muhammad saww, Penentangan kenabian ataukah Tentang Kekuasaan?
Film garapan Majid Majidi berjudul The Messenger of God telah menyita perhatian kaum muslimin. Berani menampilkan sejarah yang mungkin selama ini tabu dimata kaum muslimin.
Majid Majidi ingin menggiring pemikiran kaum muslimin bahwa kelahiran Rasulullah saww sebagai penutup para nabi dan Rasul bukan barang baru dimata kaum Yahudi dan Nashrani.
Justru mereka menunggu sosok beliau sebagai penyelamat akhir zaman. Sebagian kaum Yahudi berhijrah ke Mekkah dan Madinah hanya untuk menunggu datangnya Nabi akhir zaman, walaupun setelah itu mereka memeranginya karena alasan bukan dari golongan mereka atau alasan akan menghancurkan hegemoni mereka.
Tanda-tanda kenabian sudah sangat jelas dimata ulama-ulama Yahudi dan Nashrani sehingga Al-Quran mengibaratkan mereka lebih mengenal Rasulullah saww dari anak-anak mereka sendiri. Begitu pula dengan para keturunan Ismail, baik dari Umayyah atau Hasyim, mereka menantikan penutup para Nabi yang akan datang dari golongan mereka, Ismail as.
Masalah utama pengingkaran kenabian Muhammad saww, bukan karena mereka tidak percaya bahwa beliau saww adalah Nabi, melainkan persaingan kabilah Umayah dan Hasyim yang sudah turun temurun menjadi penghulu kota Mekkah. Karena Muhammad saww seorang Hasyimi, maka keturunan Umawi menolak dan mengingkari kenabian seorang Hasyimi, walaupun mendatangkan mukjizat yang nyata.
Abu Jahal adalah seorang pemimpin Mekkah yang cerdas dan dihormati, namun Allah swt menggelarinya dengan Bapak kebodohan, bukan karena ia bodoh, melainkan karena mengingkari kebenaran yang nyata. Abu Jahal yakin seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad saww adalah seorang Nabi, karena ia saksi hidup kelahiran dan perjalanan kehidupan sosok Rasulullah saww yang penuh barakah dan keajaiban. Pengingkaran seorang Abu Jahal dikarenakan sosok Muhammad saww akan menjadi duri dalam percaturan ekonomi kota Makkah dan hegemoni Quraisy.
Blokade, Boikot dan segala peperangan yang dilakukan Quraisy, Yahudi dan Nashrani terhadap Rasulullah saww bukanlah karena mereka tidak meyakini kenabian dan keagungan sosok Rasulullah saww, namun karena sosok Rasulullah saww yang datang untuk rahmat semesta alam akan merusak hegemoni mereka dalam menguasai masyarakat.
Sejarah mencatat penolakan keimamahan Imam Ali as bukan karena keraguan mereka terhadap Ali as, melainkan karena Ali adalah seorang Hasyimi dan cukup dari Hasyimi, Muhammad saww sebagai Nabi dan pemimpin arab ketika itu.
Para pemimpin Kafir Quraisy dalam memerangi Muhammad saww memakai AGAMA sebagai bumbu agar masyarakat mau memerangi beliau saww dalam membela agama nenek moyang mereka. Padahal masalah inti dari semuanya bukanlah dari kenabian sang Nabi, melainkan kehadiran beliau saww yang merusak sistem kekuasaan dan ekonomi mereka yang selama ini mereka bagun.
Terbukti para pemimpin kafir Quraisy ketika hegemoni dan kekuasaan mereka runtuh, puncaknya ketika Fathu Mekkah, tidak ada cara selain mengakui kekuatan Rasulullah saww dan masuk kedalam “Islam” yang sudah menjadi kekuatan super power di jazirah Arab ketika itu.
Mereka tiarap sementara sambil menunggu kesempatan mengambil kembali hegemoni dan kekuasaan mereka yang selama ini diambil oleh keturunan Hasyimi. Puncaknya ketika Rasulullah saww melantik putra Abu Thalib yang Hasyimi di Ghadir Khum, mereka tidak melihat itu adalah perintah Allah swt, melainkan melihat bahwa Muhammad ingin kerajaannya dipegang oleh Hasyimi yang lain dalam diri Ali bin Abi Thalib.
Kericuhan, peperangan dan pertumpahan darah dalam tubuh Islam tidak lain masalah kekuasaan dan Fanatisme kesukuan. Kemudian menjadikan agama sebagai bumbu untuk menggerakan masyarakat awwam dengan embel-embel “ bela Islam.”
Pembunuhan dan peperangan yang terjadi dalam tubuh Islam bukanlah barang baru, karena para nabi bani israil terbunuh dikarenakan para ulama Yahudi meneriakan “bela agama Musa” sehingga Awwam membunuh para Nabi.
Cara-cara lama tersebut tentunya masih dipraktekan di era millennium sekarang ini. Membenturkan kaum muslimin dengan isu mazhab dan agama adalah cara ampuh dalam menjaga hegemoni dan kekuasaan.
Cara Rahib Yahudi, Kafir Qurasiy, Bani Umayah dan Bani Abbas dalam menjaga kekuasaan dan hegemoni mereka selama ini, kini diadopsi oleh Amerika, Zionis dan Bani Saud. Semua itu tidak lain tentang menjaga dan melanggengkan kekuasaan.
Kaum muslimin dunia, khususnya Indonesia seharusnya sadar bahwa Abu Jahal baru akan selalu ada disetiap zaman. Pintar, cerdas dan berdedikasi, namun menolak kebenaran yang nyata demi kekuasaan dan kesejahteraan serta menggiring masyarakat awwam untuk memerangi kebenaran atas nama “ bela agama.”
oleh : Abu Syirin Al Hasan (FB, 17/09/17)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed