by

Al-Quran dan Sunnah adalah Ujaran-Ujaran Kesempurnaan

Al-Quran dan Sunnah adalah ujaran-ujaran kesempurnaan. Memerintahkan manusia untuk melakukan kesempurnaan dan kebaikan serta menjauhi segala kekurangan dan keburukan.
Allah swt mengetahui bahwa manusia tidak hanya membutuhkan ujaran-ujaran kesempurnaan yang mengajarkan kesucian saja, melainkan membutuhkan pula contoh kongkrit manifestasi kesempurnaan itu sendiri.
Untuk itu ujaran-ujaran saja tidak cukup, (Kitab-sunnah) harus ada sosok sempurna (maksum) sebagai perwujudan ujaran-ujaran tuhan yang kita sebut wakil tuhan dimuka bumi ini. Selain menjelaskan ujaran kesempurnaan dan kebaikan, mereka pula sebagai contoh langsung kesempurnaan dan kebaikan itu sendiri. Sehingga tujuan Allah swt membawa manusia kepada kesempurnaan tercapai.
Bukti kongkrit ujaran kesempurnaan dan kebaikan (kitab-sunnah) saja tidak cukup adalah maraknya ulama-ulama selebritis penjaja ujaran kesempurnaan, namun tidak mencontohkan kesempurnaan sehingga masyarakat muak, nyinyir dan menjauh dari ulama tersebut.
Ketika masyarakat menjauh, maka tujuan Allah swt menggiring manusia menuju kesempurnaan menjadi sia-sia. Disinilah hikmah filosofis Allah swt mengutus para Nabi, Rasul dan para Imam maksum sebagai perwujudan dari ujaran-ujaran kesempurnaan dan kebaikan. Bahkan sebaliknya, ujaran kesempurnaan adalah penjelasan tekstual dalam menjelaskan sosok mereka sebagai khalifatullah dimuka bumi.
Islam sebagai penutup agama dan syariat, bukan hanya ujaran-ujaran kesempurnaan dan kebaikan. Karena tanpa contoh langsung, masyarakat tidak akan mengikuti kesempurnaan. Bahkan sebaliknya, jika ada yang “mengklaim” paling Islam, namun tidak mencerminkan keislaman, masyarakat akan menjauh, nyinyir dan membenci islam sehingga efeknya adalah tujuan penciptaan tidak tercapai.
Contoh video ini yang diterjemah oleh tim Ihya Turast Ahlil Bayt as adalah miniatur kongkrit masalah-masalah diatas.
Ujaran kebaikan saja tidak cukup, harus dibarengi dengan contoh langsung kepada objek sehingga ia mencontoh apa-apa yang dilakukan subjek.
Televisi Iran selalu membuat iklan-iklan pendidikan sehingga anak-anak menonton dan mencontoh pesan-pesan yang disampaikan.
Jangan heran di Indonesia banyak terjadi bully disekolah-sekolah dari mulai sekolah dasar, hingga perguruan tinggi. Karena setiap chanel yang ditonton, dicekoki sinetron-sinetron yang mengajarkan bully orang-orang lemah.
Bully yang terjadi di Indonesia tidak hanya salah para pelaku, namun disana ada saham pemerintah yang tidak menyaring film-film yang menyuguhkan kekayaan, kemewahan, kesombongan dan membully orang-orang tertindas.
Sudah saatnya pemerintah melarang sinetron-sinetron pembawa pesan kebejatan akhlak yang disuguhkan oleh punjabisme-punjabisme berkedok hiburan.
Karena perusak utama generasi kita tidak hanya diluar rumah, melainkan didalam rumah kita sendiri yang berbentuk digital.
 
Oleh Abu Syirin Al Hasan (FB, 28/09/17)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed