by

Pandangan Tokoh-Tokoh Dunia tentang Tragedi Karbala

Berikut ini adalah pandangan tokoh-tokoh dunia tentang TRAGEDI KARBALA :
1. Soekarno
“Husein adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya di mana kekuasaan itu tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.”
2. Mahatma Gandhi
“Aku belajar dari Hussein bagaimana menjadi pemenang, aku belajar dari Hussein meraih kemenangan dalam keadaan tertindas. Kemajuan Islam tidak bertumpu pada pedang pemeluknya, namun hasil dari pengorbanan agung Hussein.”
3. Charles Dickens
“Jika Husein berperang karena hasrat dunia, maka aku tak mengerti mengapa saudarinya, istrinya, dan anak-anaknya menemaninya. Husein berkorban murni demi Islam.”
4. Edward Gibbon (1737-1794)
Sejarawan besar Britania Raya pada masanya.
“Walau sudah lama sekali masa dan situasi tragis kematian Husain di Karbala, tetap saja peristiwa tersebut akan menggugah rasa haru pembacanya, sekali pun yang berperasaan paling dingin.”
[The Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1911, jilid 5, h. 391-2]
5. Rabindranath Tagore
“Demi terus menghidupkan keadilan dan kebenaran, alih-alih menggunakan pasukan atau senjata, kesuksesan bisa diraih dengan pengorbanan jiwa. Inilah yang dilakukan oleh Imam Husein.”
6. Pandit Jawaharlal Nehru
“Pengorbanan Imam Husein demi semua kelompok dan masyarakat, sebuah teladan jalan kebenaran.”
7. Sir William Muir (1819-1905)
Negarawan dan ilmuwan Skotlandia. Menduduki jabatan Menteri Luar Negeri di pemerintahan India sekaligus seorang Guberbur Letnan di Profinsi Barat Laut
“Tragedi Karbala bukan hanya menentukan nasib kekhalifahan, namun juga nasib umat Muhammad jauh setelah kekhalifahan pupus dan tenggelam.”
[Annals of the Early Caliphate, London, 1883, pp. 441-2]
8.Antoine Bara
“Tak ada pertempuran pada masa modern dan masa lalu dalam sejarah kemanusiaan yang mendapatkan simpati dan kekaguman yang luar biasa sebagaimana telah diberikan dari hikmah kemartiran Husein dalam pertempuran di Karbala.”
9. Dr. Radhakhrisnan
“Meskipun Imam Husein memberikan hidupnya hampir1300 tahun, tetapi jiwanya yang kekal memimpin umat manusia bahkan sampai hari ini.”
10. Mao Tse Tung
”Kalian datang mengambil pelajaran dari kami padahal Revolusi Husein yang memiliki pelajaran penuh nilai ada pada kalian.”
11. Che Guevara
”Kepada seluruh kaum revolusioner dunia agar mengikuti revolusi luar biasa yang dipimpin Husein Yang Agung dan melangkah di jalannya untuk menghentikan para penguasa buruk dan menggulingkan pangkal kebusukannya.”
12. Ho Chi Minh
”Wahai prajurit-prajuritku yang gagah berani lihatlah Husein, seorang Pejuang dari Timur yang telah mengguncangkan Bumi para penguasa zalim.”
13. Mustafa Kemal Attaturk
”Sesungguhnya Husein adalah seorang pemimpin yang mengajarkan bagi kita pelajaran kesetiaan dalam kepahlawanan dan kebebasan serta mempertahankan harga diri jika mampu mengambil itu semua darinya maka tak pelak lagi kita akan dapat mengalahkan seluruh musuh-musuh kita.”
14. Mohammad Abduh:
”Peristiwa yang dialami Imam Husein adalah sebuah peristiwa besar yang mengguncangkan dunia Islam hingga hari ini karena ia telah meletakkan fondasi keadilan dan menuntut di kembalikannya hak-hak kaum tertindas yang selama ini
terampas.”
15. Edward G. Brown – Professor Bahasa Arab dan kebudayaan timur di Universitas Cambridge.
“…sebuah kenangan akan lapangan bersimbah darah, Karbala, tempat seorang cucu Rasul Allah gugur karena siksaan kehausan dan kepungan kaki tangan pembunuhnya, yang semula mampu membangitkan emosi terdalam dan perasaan penghormatan agung bagi mereka yang gugur karena teraniaya, telah menyusut hingga menjadi sesuatu yang tidak diperhatikan.”
[A Literary History of Persia, London, 1919, h. 227]
16. Ignaz Goldziher (1850-1921) – Ahli Kebudayaan Timur terkemuka dari Hungaria.
“Sejak tragedi menyedihkan di Karbala, catatan sejarah keluarga ini hanya berisi serangkaian penderitaan dan siksaan yang tanpa putus. Tragedi itu diceritakan dalam bentuk puisi dan prosa dengan gaya kesyhadaan yang kental – yang merupakan kekhasan orang Syiah. – dan juga dijadikan tema untuk setiap acara berkumpul kaum Syiah pada sepertiga pertama bulan Muharam, yaitu hari kesepuluhnya (Asyura) yang terus diperingati sebagai
hari tragedi Karbala. Kejadian mengerikan tersebut juga terus disajikan pada hari peringatan itu secara dramatis (ta’ziya).
‘Hari-hari perayaan kami adalah hari berkabung kamu,’ Begitulah yang disarikan dalam sebuah puisi karya seorang tokoh Syiah ketika mengenang banyak mihan dari keluarga Rasul. Menangis dan berduka karena kekejian dan siksaan yang dialami oleh keluarga Ali, dan berkabung untuk para syuhada: ini semua dilakukan oleh penganut setia dan tidak dapat mereka tinggalkan. Bahkan ungkapan ‘Lebih mengharukan daripada airmata Syiah’ pun menjadi pepatah Arab.”
[Introduction to Islamic Theology and Law, Princeton, 1981, h. 179]
17. Peter J. Chelkowski (Profesor Studi Timur Tengah, Universitas New York.)
“Husain berangkat dari Mekah bersama keluarga dan sahabatnya yang berjumlah sekitar tujuh puluh pengikut.Tapi di Karbala mereka ditangkap dalam sebuah penyerangan yang diperintahkan oleh khalifah, Yazid. Walaupun sudah pasti akan kalah, Husain tetap menolak untuk menyerah.
Dikelilingi banyak pasukan musuh, Husain dan sahabatnya bertahan tanpa air selama sepuluh hari di gurun panas Karbala.
Akhirnya Hussein, orang-orang dewasa serta beberapa anak laki-laki dari keluarga dan sahabatnya tewas dihujani anak panah dan tertebas pedang pasukan tentara Yazid; wanita dan anak-anak yang tersisa ditawan oleh Yazid di Damaskus. Sejarawan terkemuka, Abu Raihan al-Biruni menyatakan; “…kemudian tentara-tentara itu menyalakan api untuk membakar perkemahan mereka sementara tubuh mereka diinjak-injak kaki kuda pasukan itu; disepanjang sejerah peradaban manusia belum pernah tercatat kekejaman serupa itu.”
[Ta’ziyeh: Ritual and Drama in Iran, New York, 1979, h. 2]
18. Simon Ockley (1678-1720)  – Profesor Bahasa Arab di Universitas Cambridge.
“Kemudian Husain menaiki kudanya, lalu mengeluarkan Alquran dan meletakkan di depannya. Lalu ia bicara kepada pengikutnya untuk mengajak mereka melaksanakan kewajiban. Ia menambahkan doa: ‘Ya Tuhan, Kaulah tempatku bersandar dalam menghadapi segala masalah, dan penolongku dalam kesengsaran!’… Ia kemudian mengingatkan mereka akan kemuliaan, kekuasaan, dan derajat yang disandangnya sebagai keturunan Rasul.
Ia berkata: “Dibandingkan dengan diri kalian, aku tidaklah lebih baik dari kalian; aku yang putra dari putri nabi kalian, Ali adalah ayahku, Jafar dan Hamzah, pemimpin para syuhada, adalah paman-pamanku; dan Rasulullah saw bersabda, baik aku dan saudaraku adalah pemimpin kaum muda penghuni surga. Jika kalian mempercayaiku. Aku bersumpah apa yang kukatakan benar. Aku tidak pernah berdusta, karena aku tahu Tuhan benci kebohongan.
Jika kalian tidak percaya padaku, tanyakanlah pada para sahabat Rasulullah [ia kemudian menyebutkan nama-nama mereka] dan mereka akan mengatakan hal yang sama. Ia menjawab, ‘Tuhan melarangku untuk menyerah kepada tiran-tiran itu. Tuhan, Rasul-Nya dan leluhurku membuktikan itu. Aku berlindung kepada Tuhan dari setiap tirani yang tidak percaya pada hari perhitungan.'”
[The History of the Saracens, London, 1894, h. 404-5]
19. Robert Durey Osborn (1835-1889)  – Mayor di Bengal Staff Corps
“Husain memiliki putra bernama Abdullah, baru setahun usianya. Dia menemani ayahnya dalam perjalanan mengerikan. Tersentuh oleh tangisannya, beliau memeluk bayinya dan menangis. Tiba-tiba sebatang anak panah menembus telinga bayi itu hingga meninggal dunia di dalam pelukan ayahnya. Husain meletakkan jasad mungil itu di tanah. ‘Kita dari Allah, dan kepada-Nya kita kembali!’ dia menangis; ‘Ya Tuhan, kuatkan aku untuk menghadapi musibah ini!’ Nyaris pingsan karena kehausan dan lemah karena luka-lukanya, Husain terus bertempur dengan gagah berani, menebas mati beberapa orang musuhnya Tetapi akhirnya ia ditebas dari belakang dan sebatang tombak menancap pada punggungnya hingga ia rubuh ke tanah; begitu pelakuanya menarik senjatanya putra Ali yang malang itu pun gugur.
Kepalanya ditebas; dan segera diinjak-injak kaki kuda musuhnya. Keesokan harinya perempuan dan anak-anak dibawa ke Kufah. Jasad Husain dan pengikutnya ditinggal tak terkubur di tempat mereka jatuh. Selama tiga hari, jasad terbakar matahari dan basah oleh embun malam, lalu disantap oleh burung nasar dan hewan lainnya; penduduk setempat dan orang-orang yang tinggal di dekat Karbala merasa iba melihat keadaan mengenaskan jasad cucu Rasul, disantapa oleh hewan-hewan kotor di lapangan. Tanpa memperdulikan rasa takut mereka terhadap Ubaidallah, mereka mengebumikan syuhada itu dan teman-temannya.”
[Islam Under the Arabs, Delaware, 1976, h. 126-7]
20. Reynold Alleyne Nicholson (1868-1945) – Professor Bahasa Arab di Universitas Cambridge.
“Husain jatuh, tertembus anak panah, sementara semua pengikut setianya yang berani tewas terluka parah karena pedang. Tradisi pengikut Muhammad yang bermusuhan dengan dinasti Umayah, menganggap Husain sebagai seorang syuhada dan Yazid adalah pembunuhnya.”
[A Literary History of the Arabs, Cambridge, 1930, h. 197 ]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed