by

Logika Karbala, Asyura adalah Logika Berbasis Kebenaran

“Logika Karbala, Asyura adalah logika berbasis kebenaran bukan keuntungan”

(Dr. Muhsin Labib)

Berikut ini cuplikan Ceramah Ust Muhsin Labib di Majelis Aza Imam Husain di Husainiyah ICC, 28/9/2017 :
1. Pandangan hidup manusia bisa dlbagi dlm dua kelompok: paradigma keuntungan dan paradigma kebenaran.
2. Paradigma keuntungan macam macam bentuknya di antaranya kenyamanan. Kalau bisa sedikit gerak, banyak untung.
3. Paradigma keuntungan cenderung melahirkan kezaliman.
4. Keuntungan bisa langsung atau tidak langsung.
5. Contoh turunan paradigma keuntungan adalah korupsi.
6. Orang bisa lama lama joging tapi tidak bisa lama lama salat. Orang bisa ikutan program diet yg mahal, tapi akan segan utk program puasa.
7. Orang berbuat baik kepada orang lain karena ingin orang lain berbuat baik kepada dirinya. Orang yg berparadigma kebenaran akan berbuat baik karena berbuat baik adalah kemuliaan. Tak peduli dgn balasan yg menyakitkan.
8. Logika Karbala, Asyura adalah logika berbasis kebenaran bukan keuntungan.
9. Akhlak itu peristiwa hati. Bukan sekadar bahasa bibir seperti senyum. Kita sering salah paham akan hal itu.
10. Tuhan sering diatasnamakan utk menutupi keburukan. Dan itu sejak dulu dilakukan.
11. Para nabi dan bijaksanawan sering berhadapan dengan kekuasaan utk melawan kekuasaan yg koruptif.
12. Rasul saw itu sabar, “hemat mukjizat” sehingga apa yg terjadi pada Nabi saw itu “sangat normal”.
13. Kita memahami Muhammad bukan dari aspek historis semata, tetapi yg lebih mendasar adalah dari aspek eksistensial sehingga dari sana kita paham bhw cahaya berpendar, ombak berdebur itu (dan semua fenomena lain) itu berkat eksistensi Muhammad saw.
14. Ka’bah itu adalah ka’bah diam dan ka’bah natiq, yang mencerahkan.
15. Imam Husain as syahid bukan karena sekadar kekejian Yazid l.a tetapi juga karena kepengecutan orang orang yg secara formal religius.
16. Dalam majelis aza hendaknya ada keseimbangan antara hitam (tangisan) dan merah (gelora, amarah, perlawanan).
17. Kita harus siap menerima risiko saat menghadiri majelis aza. Jangan sampai sibuk melakukan selfie, cerita masakan, hingga lupa akan derita komunal. Kita masih kumpulan saya-saya, belum kumpulan kita.
18. Kontribusi bisa kita berikan dengan cara menyadari prioritas.
19. Majelis aza hendaknya tidak berhenti di ritual tetapi harus menaikkan spiritual.
20. Semua musibah tidak ada harganya dibandingkan dengan musibah Imam Husain.
Sumber : Pak Arif 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed