by

Sayyidah Zainab Alkubro, Penyampai Pesan Asyura

Suatu hari Sayyidah Zainab as yang masih kecil bertanya kepada ayahnya,
“Ayahku sayang, apakah engkau mencintaiku?”
Kemudian Imam Ali as menjawab:
“Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, kau adalah buah hatiku”.
Lantas beliau berkata lagi:
“Ayahku sayang, kecintaan hanyalah untuk Allah SWT sementara kasih sayang untuk kita”.
Dalam riwayat lain pula dijelaskan bahwa suatu hari Imam Ali as mendudukkan putrinya Zainab al-Kubra as dipangkuannya, lalu beliau mengelus-ngelus kepalanya seraya berkata:
“Putriku sayang, katakan satu.”
“Satu,” timpal beliau.
Kemudian Imam Ali as melanjutkan ucapannya:
“Putriku sayang, katakan dua”.
Namun Sayyidah Zainab as diam tidak menjawabnya.
Lalu Imam Ali as mengulangi ucapannya seraya berkata:
“Berkatalah wahai cahaya mataku”.
Sayyidah Zainab as menjawab:
“Ayahku sayang, aku tidak dapat mengatakan dua dengan lidahku yang dengannya aku katakan satu.”
Mendengar hal itu lantas Imam Ali as memeluknya dan menciumnya dengan penuh rasa haru.
Kisah di atas menunjukkan kematangan dan kemampuan daya pikir lebih yang dimiliki oleh Sayyidah Zainab as. Padahal beliau kala itu masih kanak-kanak.
Dalam usia dini beliau dapat memahami bahwa ketika beliau telah mengatakan Tuhan itu Esa maka beliau tidak dapat mengatakan  Tuhan itu dua. Dengan kata lain beliau telah memahami kontradiksi antara konsep monoteisme dengan dualisme.
Inilah salah satu perwujudan gelar ‘aqiilah (sangat berakal)’ yang disandang Sayyidah Zainab al-Kubra, berupa kematangan dan kecerdasan akal tinggi.
Hijab dan Kesucian
Berkenaan dengan hijab dan kesucian Sayidah Zainab as,
Sejarah mencatat bahwa ketika Zainab Sa hendak pergi ke pusara Rasulullah Saw di Masjid Nabawi,
Imam Ali as menyuruhnya untuk pergi di malam hari.
Imam Ali as berkata kepada Hasan as dan Husain as,
“Temani saudara perempuan kalian”.
Hasan as berjalan di depannya dan Husain as berjalan di belakangnya dan Zainab as berjalan di tengah mereka. Mereka diperintahkan oleh penghulu para mutaqin, Imam Ali as, Untuk memadamkan cahaya lampu yang menerangi pusaraRasulullah Saw, Sehingga pandangan orang-orang yang bukan muhrim tidak tertuju pada tubuh Sayidah Zainab Sa.
Yahya Mazani berkata,
“Aku sudah lama menjadi tetangga Imam Ali as di Madinah.
Aku bersumpah demi Allah,
Selama aku menjadi tetangganya,
Tidak pernah melihat Sayidah Zainab as dan tidak pernah mendengar suaranya.”
Dari sisi kesabaran dan ketekunan,
Sayidah Zainab As adalah satu-satunya orang yang memiliki kedua sifat tersebut.
Ketika berada di hadapan tubuh saudaranya, Imam Husain as, yang berlumuran darah,
ia langsung menengadahkan wajahnya ke langit dan berkata,
“Wahai Tuhanku,
Inilah sedikit pengorbanan yang kami berikan di jalan-Mu,
Maka terimalah pengorbanan ini dari kami.”
Seorang peneliti berkata,
“Di antara gelar-gelar Sayidah Zainab As adalah Ar-Radhiyah bil Qadri wal Qadha yaitu ridha atas ketentuan qadha dan qadar Ilahi.
Sayidah Zainab begitu tegar menghadapi berbagai kesulitan dan musibah, yang mana jika sedikit saja dari musibah dan kesulitan itu diberikan kepada gunung yang kokoh, maka gunung akan meleleh seketika.
Tetapi sosok yang teraniaya ini begitu kuat dan tegar, terasing dan sendiri bagaikan gunung yang mencakar langit. Ia tetap tegak menghadapi semua permasalahan.
Ia berkali-kali menyelamatkan nyawa Imam Sajjad as dari kematian. Di antaranya, ketika di majelis Ibnu Ziyad,
Setelah Imam Sajjad as beradu argumen denganIbnu Ziyad, Ibnu Ziyad mengeluarkan surat perintah untuk membunuh Imam.
Pada saat itu, Sayidah Zainab as meletakkan tangannya di leher putra saudara laki-lakinya dan berkata, “Selama aku hidup tak akan kubiarkan kalian membunuhnya.”
Sayyidah Zainab, Penyampai Pesan Asyuro
Asyuro telah berlalu. Para pejuang Karbala telah mencapai kematian termulia, yaitu syahadah. Namun, masih ada yang mengemban tugas untuk menyampaikan pesan Karbala kepada khalayak.
Mereka adalah kaum perempuan Ahlul Bait, yang dipimpin oleh Sayyidah Zainab as.
Kehadiran kaum perempuan dalam revolusi Imam Husain as merupakan bagian dari sebuah strategi perjuangan.
Imam Husain as berangkat ke Kufah dalam kondisi sudah mengetahui bahwa beliau akan syahid terbunuh. Beliau memang memilih kematian daripada hidup terhina, berbaiat kepada seorang pemimpin yang zalim. Namun, kesyahidan itu tak boleh sia-sia. Harus ada yang menjadi penyampai suara perlawanan terhadap kezaliman.
Dan mereka, yang ditugasi untuk menyampaikan pesan kebenaran itu, adalah kaum perempuan.
Sejarah mencatat bahwa segera setelah 72 pahlawan Karbala gugur syahid, pasukan Yazid membakar tenda-tenda kaum perempuan, merampas harta benda mereka, bahkan merobek baju dan kerudung mereka.
Kaum perempuan itu diarak dari Karbala menuju Kufah, lalu dari Kufah menuju Damaskus (Syam).
Mari kita bayangkan kondisi psikologis kaum perempuan itu. Dalam satu hari (tanggal 10 Muharam), mereka kehilangan saudara, anak, dan suami.
Sayyidah Zainab as, adik Imam Husain as, kehilangan 2 anaknya, puluhan keponakan, serta 6 saudara laki-laki, termasuk Imam Husain as sendiri.
Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan orang-orang yang dicintainya itu disiksa, dihujani panah, dan disabet pedang, sampai akhirnya gugur syahid.
Dalam kondisi yang sangat berat itu, Sayyidah Zainab as harus mampu mengendalikan emosinya.
Dia harus mengurus kaum perempuan dan anak-anak yang masih tersisa; termasuk melindungi putra Imam Husain as, yaitu Ali Zainal Abidin as yang dalam kondisi sakit.
Pasukan Yazid waktu itu berusaha membunuh Ali Zainal Abidin as, namun berhasil dihalau oleh Sayyidah Zainab as dengan kekuatan kata-katanya. Di sepanjang jalan, ketika mereka diarak dalam keadaan mengenaskan dan dipermalukan, mereka tetap tegar dan terus-menerus mengumumkan kepada khalayak, siapa mereka sebenarnya.
Dengan kepala tegak, dengan penuh harga diri dan keanggunan, Sayyidah Zainab as berkali-kali berpidato dengan teknik orasi yang mampu membangkitkan kesadaran.
Rakyat yang mendengar menjadi terguncang; mereka yang semula mengira bahwa rombongan tawanan itu adalah kaum pemberontak, segera menangis histeris dan menyesali, mengapa tidak membantu keluarga Nabi saat dibantai di Karbala.
Jika saja kekuatan itu tidak dimiliki oleh Sayyidah Zainab as dan kaum perempuan Karbala, sudah pasti penguasa akan menceritakan hal-hal lain versi mereka.
Mereka telah dan akan terus memutarbalikkan fakta;
Mereka akan memposisikan Imam Husain as sebagai pemberontak dan musuh kekhalifahan Islam.
Sayidah Zainab Kubra Sa selalu mengerjakan ibadah di malam hari,
Dan semasa hidupnya, ia tidak pernah meninggalkan salat tahajud.
Begitu sibuk melakukan ibadah sehingga ia dijuliki dengan,
“Ābidatu Āli Muhammad”
(Seorang perempuan ahli ibadah keluarga Muhammad).
Ia juga tidak pernah meninggalkan bangun malam yang diisi dengan munajat kepada Allah,
Sekalipun pada saat malam kesepuluh dan kesebelas Muharram.
Fatimah putriImam Husain as berkata, “Pada malam Asyura,
Bibiku senantiasa berdiri di dalam mihrabnya, salat dan munajat,
Sementara air matanya senantiasa mengalir ke pipinya. Keterikatan Sayidah Zainab Sa dengan Yang Maha Kuasa begitu erat,
Sehingga Imam Husain as di hari Adyura ketika berpisah dengan saudara perempuannya ini berkata:
“یا اختی لا تنسینی فی نافلة اللیل”
“Wahai adik perempuanku, jangan kau lupakan aku di sholat-sholat malam mu”.
Pada hari Asyura,
Sayidah Zainab as membawa kedua anaknya yang masih muda yang bernama Muhammad dan Aun ke hadapan Imam Husain as dan berkata,
“Allah Swt telah menerima pengorbanan kakekku, Ibrahim Khalil as, Maka terimalah pengorbananku ini.! Seandainya jihad untuk para wanita tidak dilarang, Maka setiap saat aku siap untuk memberikan jiwaku.”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed