by

Hukum dan Adab Memotong Hewan Qurban

Penjelasan rinci dan detail hukum-hukum syariat harus ditelusuri pada Risalah-risalah Amaliah (Tuntutan-tuntutan Praktis Fikih) para marja taklid, namun apa yang dapat dikemukakan secara global di sini adalah bahwa dari sudut pandang mazhab Ahlulbait a.s memotong hewan qurban pada hari raya Idul Adha terbagi menjadi dua bagian:

  1. Memotong hewan qurban mustahab hukumnya artinya bahwa seluruh kaum Muslimin baik ia berada di Mekkah atau di kota-kota lainnya dapat memotong hewan qurban pada hari-hari ini dan memperoleh pahala dari amalan ini.
  2.  Memotong hewan qurban wajib hukumnya artinya bahwa seseorang yang berada pada hari-hari haji di Mekkah dalam rangka menunaikan haji tamattu[1] maka wajib baginya untuk melaksanakan seluruh manasik haji tamattu di antaranya adalah memotong hewan qurban (di Mina) pada hari kesepuluh Dzulhijjah (Idul Adha) sehingga ia dapat keluar dari kondisi ihram.

Perlu diketahui bahwa salah satu adab mustahab dalam memotong hewan qurban adalah bahwa dianjurkan untuk memilih unta atau sapi dari jenis unta betina atau sapi betina dan apabila hewan yang ingin disembelih adalah kambing atau domba maka sebaiknya yang dipilih dari jenis jantan.[2] Berkaitan dengan masalah ini kami akan menyebutkan dua riwayat sebagaimana berikut ini:

Imam Musa Kazhim a.s, dalam menjawab pertanyaan Ali bin Ja’far seputar pemotongan hewan qurban, bersabda, “Sembelihlah biri-biri yang gemuk, bertanduk dan jantan. Apabila engkau tidak mendapatkan biri-biri jantan gemuk, kambing jantan gemuk dan apabila engkau tidak menemukan kambing, maka sembelihlah domba gemuk.”[3]

Dalam sebuah riwayat lainnya disebutkan, “Imam Ali As memotong hewan kurban biri-biri dari Rasulullah Saw dan biri-biri lainnya darinya sendiri setiap tahun.”[4]

Ketika seorang haji berada dalam kondisi ihram maka ia harus menjaga (tidak melakukan) hal-hal yang diharamkan baginya (menggundul dan mencukur rambut serta memotong kuku adalah di antara hal-hal yang diharamkan bagi orang yang berada dalam kondisi ihram), namun tidak diharamkan untuk memotong pendek rambut, memotong kuku dan mencukur rambut sebelum ihram.[5] Benar bahwa mustahab hukumnya bagi seseorang yang ingin menunaikan haji tamattu’ untuk tidak memotong rambut kepala dan wajahnya semenjak (awal Dzulqaidah),[6] namun apabila seseorang tidak menjalankan amalan-amalan mustahab ini maka hal itu tidak akan menciderai keabsahan ibadah haji.

Namun tidak wajib bagi haji, pada keseluruhan sepuluh hari pertama, untuk menghindari hal-hal yang diharamkan bagi ihram dan meninggalkan hal-hal tersebut hanya diwajibkan pada masa ihram saja, artinya tidak ada masalah mengerjakan hal-hal tersebut sebelum ihram dan setelah keluar dari ihram.

Demikian juga, tidak perlu setiap orang secara langsung melakukan pemotongan hewan kurban. Karena itu, dibenarkan baginya untuk mengambil nâib (pengganti) dalam mengerjakan amalan ini.[7]

Sepanjang nâib (pengganti) tidak memotong hewan kurban seorang muhrim (yang mengenakan pakaian ihram)  tidak dapat menggundul atau mencukur rambutnya dan memotong kukunya, namun apabila tiada penyembelihan pengganti (niyâbat) maka hal tidak akan merugikan orang yang menggantikan.

Hal-hal yang mendapat penegasan terkait dengan amalan-amalan mustahab pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah; karena amalan-amalan seperti puasa, takbirtahlil, tahmid, berbuat baik kepada kedua orang tua, bersedekah, melakukan silaturahmi dan amalan-amalan kebajikan lainnya setiap harinya dan pada setiap tempat adalah perbuatan terpuji.

Adapun pada hari-hari dan tempat-tempat yang mengandung keutamaan seperti sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan tanah suci Mekkah, Masyâ’ir Suci (Mina, Arafah, Masy’ar) memiliki ganjaran dan pahala yang lebih besar. Terdapat banyak riwayat yang menyebutkan ganjaran dan pahala yang melimpah atas amalan-amalan ini.[8]

Demikian juga, bertaubat dari dosa-dosa dan kelalaian merupakan sebuah perkara wajib yang harus segera ditunaikan; karena tiada satu pun yang mengetahui kabar tentang kematian kapan tibanya. Atas dasar itu, siapa saja yang memandang dirinya sebagai pendosa, wajib sesegera mungkin dan pada kesempatan pertama untuk melakukan taubat.[9] (islamquest)

 

Catatan Kaki
  1. Disebutkan bahwa haji terdiri dari tiga jenis; Haji tamattu, haji qirân dan haji ifrâd. Haji tamattu diwajibkan bagi seseorang yang tinggal jauh sebanyak enam belas Farsakh  syar’i. Haji qiran dan haji ifrad diwajibkan bagi seseorang yang merupakan penduduk Mekkah dan jarak rumahnya kurang dari enam belas Farsakh.
  2. Muhammad Fadhil Langkarani, Manâsik Haj, hal. 397, Intisyarat-e Amir Qalam, Cetakan Kedua Belas, 1423 H. Sayid Murtadha Musawi Syahrudi, Jâmi’ al-Fatawâ – Manasik Haj, hal. 205, Nasyr Masy’ar, Qum, Cetakan Ketiga, 1428 H.
  3. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 10, hal. 264, Nasyr Islamiyah, Teheran.
  4. Syaikh Shaduq, Man Lâ Yahdhur al-Faqih, jil. 2, hal. 489, Jami’ah Mudarrisin, Qum, Cetakan Kedua, 1404 H.
  5. Manâsik Haj (al-Muhassyâ lil Imam al-Khomeini), hal. 342.
  6. Manâsik Haj (al-Muhassyâ lil Imam al-Khomeini), hal. 148, seseorang yang bermaksud menunaikan haji semenjak awal bulan Dzulqaidah dan orang yang berniat menjalankan umrah mufradah (dianjurkan) untuk membiarkan rambut dan janggutnya sebulan sebelumnya.
  7. Manâsik Haj (al-Muhassyâ lil Imâm al-Khomeini), hal. 404, Masalah 1041, “Dibolehkan penyembelihan hewan kurban dilakukan (digantikan, niyâbah) oleh orang lain dan niat disampaikan oleh yang menggantikan (nâib). Mengikut hukum ihtiyâth (wujubi), orang yang berkurban juga (harus) berniat.”
  8. Syaikh Shaduq, Abu Ja’far Muhammad bin Ali Babawaih, Man Lâ Yahdhur al-Faqih, jil. 2, hal. 87 & 88, Intisyarat Jami’a Mudarrisin, Qum, 1413 H. Muhammad Yaq’ub Kulaini, al-Kâfi, jil. 4, hal. 533, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Teheran, 1365 S.
  9. Abu al-Shilah al-Halabi, Taqi al-Din bin Najm al-Din, al-Kâfi fi al-Fiqh, hal. 243.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed