by

Mendorong Para Suami dan Anak-anak Untuk Terjun

Selain karena didikan perempuan yang mampu mewujudkan para pemberani di medan Karbala, perempuan juga memiliki peran penting karena dorongan para suami dan anak-anak mereka baik sebelum tragedi pada hari Asyura ataupun di tengah-tengah berkecamuknya peperangan.

Dipandang dari segala sisi, revolusi Asyura adalah satu-satunya revolusi agung dalam sejarah Islam. Di medan Karbala, kurang lebih dari 70 tentara harus menghadapi ribuan barisan musuh. Jelas sekali dalam medan semacam ini hanya orang-orang yang rela berkorban dan sama sekali tidak memiliki ikatan dengan sesuatu selain Allah swt dan tidak bertujuan selain untuk meraih keridhaan ilahi serta mentaati perintah-Nya.

Salah satu sahabat setia Imam Husain as dan siap berkorban adalah Zuhair bin Qin. Dia adalah sosok yang memiliki kelayakan dalam medan Asyura dan telah terpilih sebagai panglima sayap kanan pasukan al-Husain as.

Pada malam Asyura ketika Imam Husain as mengambil kembali baiat beliau dan para sahabat dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk pergi atau tetap tinggal bersama beliau as. Zuhair bin Qin berkata :”Demi Allah! Aku lebih senang terbunuh beribu-ribu kali asalkan anda sekeluarga tidak terbunuh.” Sosok mulia semacam ini pada mulanya ragu untuk membantu al-Husain as. akan tetapi karena spirit dan dorongan dari istrinya, Dailam, putri Umar- akhirnya menapakkan kaki pada jalan Imam Husain as.

Salah satu teman Zuhair bercerita, bahwa pada tahun 60 H mereka ikut serta dengan rombongan yang bersama Zuhair dalam manasik haji. Dalam perjalanan pulang mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi Imam Husain as, sehingga terpaksa singgah di sebuah rumah yang mana Imam Husain as bersama rombongan juga telah singgah di sana.

Ketika kita sedang menikmati makanan, tiba-tiba utusan Imam as memasuki ruangan. Setelah mengucapkan salam, berkata kepada Zuhair, “Husain mengharapkan kedatanganmu.” Setelah mendengar kalimat ini, orang-orang yang ada dalam majlis itu kebingungan, masing-masing tidak sadar sehingga apa yang mereka pegang terjatuh.

Dalam suasana yang hening dan membingungkan itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan istri Zuhair, “Mahasuci Allah! Putra Rasulullah saw mengharapkan kedatanganmu, tetapi kenapa engkau malah akan menjauhinya? Memangnya apa yang akan terjadi apabila engkau mendatangi dan mendengarkan ucapan beliau?”

Kata-kata ini bagaikan gertakan yang memaksa Zuhair untuk bergerak, setelah menemui al-Husain as dia menemukan suasana baru sehingga wajahnya berseri-seri. Seandainya Zuhair tidak disertai istri semacam itu, mungkin dia tidak akan pernah sampai kepada derajat yang membanggakan dan penuh pengorbanan.

Tidak diragukan lagi, seandainya di masa itu ada beberapa istri semacam itu yang penuh dengan pengorbanan dan beriman, pasti akan banyak pula sosok seperti Zuhair yang disebutkan dalam sejarah.

Setelah tertawannya Hani, Muslim bin Aqil terpaksa bangkit dan mengumpulkan anak buah, ribuan pasukan bersenjata telah terkumpul. Setelah mengatur pasukan, Muslim menentukan panglima untuk setiap laskar, mereka mulai bergerak menuju istana Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad yang hanya disertai 50 orang memasuki istana dan berlindung di dalamnya karena ketakutan, mereka menutup pintu gerbang istana. Akan tetapi apa yang terjadi ketika bahaya mengancam penduduk Kufah dengan kedatangan pasukan Yazid dari Syam? Di sinilah peran para perempuan terlihat, ketika mereka berpisah dari pasukan Muslim. Ketika malam tiba Muslim bin Aqil hanya tinggal seorang diri kebingungan di lorong-lorong kecil kota Kufah.

Seandainya para perempuan yang ada zaman itu seperti sosok istri Zuhair yang tidak mengeluarkan suami mereka dari medan bahkan malah mendorong untuk tetap berjuang dan berkoban sampai titik darah penghabisan, apakah Ubaidillah bin Ziyad akan menang? Seandainya Muslim meraih kemenangan menghadapi penduduk Kufah, Imam Husain, apakah pemerintahan sang ayah (Imam Ali as) dapat diraih kembali? Seandainya para perempuan Madinah, Kufah, dan kota-kota Islam lain seperti sosok Dailam, apakah mereka tidak akan menghadapi Yazid dan antek-anteknya? Namun sangat disayangkan, masyarakat pada masa itu sangat sedikit sekali memanfaatkan keberadaan para perempuan pemberani yang rela berkorban.

Dari sejarah Karbala, kita melihat para ibu dan istri dalam suasana yang menyayat hati seperti itu berbuat tidak sembarangan untuk mempengaruhi aktivitas suami dan anak-anak, bahkan justru memberikan spirit untuk tidak berkhianat. Salah satu sosok perempuan yang rela berkorban dan menjadi teladan dalam sejarah adalah ibu Qahab bin abdullah Kalaby. Dia disertai anak dan menantu ikut hadir dalam medan Karbala. Pada hari Asyura ibu Wahab berkata kepada anaknya, “Anakku! Bangkitlah, tolonglah putra Rasulullah”

Wahab pergi menuju medan laga, setelah berhasil membunuh beberapa orang pasukan Umar bin Sa’ad, dia kembali ke dekat ibunya dan berkata : “Ibu! Apakah sekarang engkau telah ridha padaku?” Sang ibu menjawab “Aku belum akan meridhaimu selama engkau belum meraih syahadah demi membela putra Rasulullah.”

Pada saat itu istri Wahab ikut menyahut : “Demi Allah aku  bersumpah, janganlah engkau menimpakan bencana kepadaku.”

Sekali lagi sang ibu berkata: “Anakku, janganlah engkau dengarkan ucapannya! Kembalilah ke medan tempur, lindungilah putra Nabi sehingga engkau mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat!”

Dalam sejarah Karbala telah tampak juga perjalanan salah satu sosok perempuan beriman penuh pengorbanan yang dengan spiritnya mampu membuat suami dan anaknya berhasil meraih kesyahidan demi membela al-Husain. Sekalipun namanya tidak dicatat dalam sejarah, namun kenangannya tetap hidup untuk selamanya sepanjang sejarah.

Dalam sejarah disebutkan bahwa ada seorang perempuan turut hadir bersama suami dan anaknya di medan Karbala. Pada hari Asyura sang suami telah syahid membela al-Husain as. Akan tetapi sedemikian kuat dan tabahnya sehingga kesyahidan suami tidak dapat menggoyahkan tekad dan kebulatannya.

Sepeninggal suaminya, dia berkata kepada anaknya : “Anakku, bangkitlah untuk membela putra Rasulullah hingga kesyahidan menjemput!”

Sang anak mendatangi al-Husain as untuk meminta izin berperang.

Melihat anak muda usia itu, Imam Husain as berkata : “Ayah anak muda ini telah syahid. Oleh karenanya mungkin saja kepergiaannya ke medan laga akan membuat sang ibu menjadi sedih.”

Mendengar kata-kata ini, ia berkata kepada Imam as : ” Wahai putra Rasulullah, ibukulah yang menyuruhku untuk pergi berperang.” Setelah mendapatkan izin, ia segera menuju medan perang. (Maqtal Al-Husain; Khawarazmy, jil 2, hal 21-22). 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

  1. Assalamu’alaikum.. Sebelumnya mohon maaf jika pesan dari saya ini dinilai mengganggu dan kurang berkenan. Saya dulu anti syiah dan ikut menyebar berita negatif ttg syiah. Namun setelah saya telusuri dan pelajari langsung dari sumber syiahnya sendiri dlm bbrp tahun lamanya, terutama yg berkaitan dgn masalah2 yg biasanya dipersoalkan publik, maka kini saya tahu bahwa ternyata syiah selama ini disesatkan-kafirkan dgn fitnah dan dusta, mulai dari kitab2nya dipalsukan, pihak anti syiah juga dgn berani mengarang kitab sendiri yang isinya negatif tapi menyandarkan penulisnya ke para ulama syiah, lalu berita2nya banyak yg hoax, baik berupa artikel, foto dan video, misalnya pada konflik suriah, penindasan sunni di negeri syiah iran, syiah bikin ka’bah sendiri utk berhaji, jenazah khomeini dihinakan, dll. Kemudian juga meluruskan persoalan yg slalu di ulang2 oleh banyak media berkedok islam ttg cara syahadat & adzannya syiah, cara shalatnya syiah, nikah mut’ah, caci-maki para sahabat & istri nabi SAW, Menuhankan Ali, tahrif al-Qur’an, taqiyah, dll. Semuanya telah saya rangkum pada tulisan saya yg berjudul: “Tabayyun kpd syiah: saya dari anti syiah menjadi simpatisan syiah” yang dapat anda baca di:
    Sumber Web => https://simpatisansyiah.wordpress.com (di web ini hanya trdpt 1 artikel tsb saja agar fokus utk tabayyun)
    Sumber PDF => https://simpatisansyiah.files.wordpress.com/2018/09/akbar-nur-hasan-tabayyun-kepada-syiah.pdf

    Jika anda mengaku sebagai mukmin yg baik, adil dan objektif, maka tidak ada salahnya anda utk mau mempelajari hasil pembelajaran saya tsb. Terlebih sgt fatal jika anda sampai mengkafirkan syiah, tp ternyata terbukti diakhirat kelak mereka masih muslim, maka kekafiran itu bisa jadi akan berbalik kpd anda si sipenuduh berdasarkan HR Bukhari & Muslim. Jadi pelajarilah, demi kebaikan anda di akhirat kelak. Semoga bermanfaat. Terima Kasih. Wassalamu’alaikum.. 🙂

News Feed