by

Kehadiran Perempuan dalam Medan Perang

Pada mulanya ikut serta dalam medan perang dan berjihad tidak wajib bagi perempuan dalam Islam. Dalam medan Karbala (sebuah usaha difensif) sekalipun, Imam Husain as sangat wajar tidak memperkenankan mereka ikut berperang karena kemaslahatan yang dipikirkan oleh beliau as. Karena inilah para perempuan tidak ikut hadir secara militan dalam kancah peperangan Asyura. Pada hari Asyura hanya ada dua orang perempuan pergi berperang yang selanjutnya diminta kembali oleh Imam Husain as.

Diceritakan bahwa setelah Wahab berdiri tegak kembali di atas kedua kakinya untuk yang kedua kalinya, istrinya menarik tiang perkemahan dan berlari menuju medan. Ia mulai berperang di samping sang suami dan berkata kepadanya : “Demi ayah dan ibuku! Berperanglah dalam membela keluarga suci Rasulullah!”

Ketika Wahab ingin mengantarkannya kembali ke perkemahan, istrinya menarik baju dan berkata :” Aku tidak akan kembali sehingga menemui ajal bersamamu!”  Menyaksikan kejadian ini, Imam Husain as berkata kepada istri Wahab : “Engkau telah memperoleh ganjaran orang-orang baik! Semoga Allah merahmatimu. Kembalilah ke dekat para perempuan!”

Istri Wahab dengan perintah Imam Husain as kembali ke hadapan para perempuan sementara Wahab pergi berperang hingga tangannya terpisah dari badannya dan ketika itulah ia mencapai kesyahidan (al-Lufuf, hal 46)

Setelah kesyahidan Wahab, ibunya menghampiri jasad sang anak dan mulai membersihkan darah yang mengucur di wajahnya. Syimr yang menyaksikan hal ini memerintahkan kepada budaknya untuk memukulkan tiang/tongkat ke kepala sang ibu. Kepalanya retak karena pengaruh pukulan tersebut dan menemui kesyahidan di samping badan sang anak. Inilah perempuan pertama yang mereguk cawan syahadah dalam perjuangan Imam Husain as (A’lamun Nisa’ Al-Mukminat, Muhammad al-Hasun-Ummu Ali Masykur, hal 373, penerbit Uswah, cet pertama, tahun 1411). 

Perempuan lain yang pergi ke medan laga pada hari asyura adalah seorang perempuan yang turut hadir dalam kancah Karbala bersama suami dan anaknya. Telah lalu bahwa setelah kesyahidan suami, ia mengirim anaknya ke medan pertempuran untuk menolong Imam Husain as. Pemuda tersebut berperang beberapa saat sehingga pada akhirnya memperoleh syahadah. Ketika itulah pasukan Umar Sa’ad memisahkan kepala dari badannya dan melemparkannya ke perkemahan Imam Husain as.

Dalam kondisi seperti itu, sang ibu menarik tiang kemah dan menyerang orang-orangnya Yazid. Setelah membinasakan dua orang, ia kembali ke perkemahan dengan perintah Imam Husain as. (Maqtal Al-Husain; Khawarazmy, jil 2, hal 21-22).

Alasan Imam Husain as tidak memberikan izin perang kepada para perempuan pada hari Asyura walaupun Rasulullah saw sendiri mengizinkan mereka berperang dalam kondisi darurat sebagaimana perang Uhud dan Hunain, mungkin karena tidak berpengaruh perlawanan mereka dalam membela jiwa suci Imam Husain as dari satu sisi.

Dari sisi lain, apabila para perempuan turut terbunuh, tidak akan dapat kita ketahui bagaimana nasib Imam Sajjad as selanjutnya.

Sisi yang ketiga sebagaimana telah telah dikatakan bahwa tugas penyampaian misi kebangkitan Asyura dalam perjuangan Imam Husain as berada di pundak para perempuan dan ketika para perempuan terbunuh kebangkitan Imam Husain as tidak akan sempurna. Serangkaian faktor ini, kemungkinan besar adalah alasan Imam Husain as tidak mengizinkan para perempuan ikut andil dalam kancah perang.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed