by

Kondisi Mental dan Jasmani Ahlulbait dalam Memikul Tugas

Tugas keluarga Imam Husain as bermula persis ketika mereka berada dalam kondisi mental dan jasmani tersulit. Lebih dari satu bulan mereka dalam perjalanan dan tentunya dalam jangka waktu tersebut mereka tidak dapat menikmati fasilitas makan yang layak dan istirahat yang cukup, khususnya pada hari-hari terakhir ketika tidak memiliki (persediaan) air yang cukup dalam kondisi hawa panas yang membakar. Sekitar sepuluh hari mereka di bawah kepungan musuh dan pada saat itu mereka tidak dapat memejamkan mata karena di-cekam kekhawatiran dan kegelisahan.

Di samping semua itu, kurang dari sehari mereka menyaksikan di depan mata orang-orang terdekat telah bermandikan debu dan bergelimpangan darah dengan kondisi tragis dan menyedihkan. Tubuh suci mereka terinjak-injak telapak kaki kuda (tunggangan musuh) dan melihat kepala suami dan anaknya terpisah dari badannya.

Jelas bahwa setiap orang yang berada dalam kondisi semacam ini memerlukan ketenangan, istirahat, kestabilan untuk jangka waktu lama, bahkan pekerjaan sehari-hari pun tidak dapat dilakukan. Apalagi membebani tugas berat kepada seseorang dalam kondisi ini, khususnya dari pihak perempuan yang memiliki kelembutan jiwa dan perasaan (emosi) kuat. Dalam kondisi ini mengalahkan perasaan dan mengendalikan diri sangat berat bagi semua orang khususnya kaum perempuan dan biasanya akal manusia berada di bawah pengaruh perasaan. Akan tetapi keluarga Imam Husain as memiliki kepribadian sedemikian kuat, iman yang luar biasa dan tawakal kepada Allah swt tiada tanding sehingga mencengangkan seluruh orang.

Meskipun mereka selama menjalankan misi berkali-kali menampakkan perasaan, ratapan dan duka cinta untuk orang-orang tercinta, akan tetapi sekalipun tidak ter-gambar bahwa perasaan mereka mengalahkan akal dan kesadaran dan mempengaruhi-nya, namun penampilan emosi, ratapan dan duka cita mereka juga berdasarkan kesadaran dan di bawah hegemoni dan pengaruh akal dan merupakan tujuan dan program yang ingin dicapai dari pihak mereka. Berbicara, menangis, meratap dari mereka adalah sebuah pukulan secara sadar terhadap instansi pemerintahan Bani umayah dan membangkitkan kesadaran ummat Islam yang terpendam.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed