by

Tugas Para Perempuan Pasca Tragedi Asyura

Selama 20 tahun pemerintahannya, Muawiyah telah berhasil mengosongkan identitas keislaman dan kemanusiaan umat Islam. Kecemburuan mereka telah musnah dihadapan kezaliman dan kesewenang-wenangan, kerusakan dan kemungkaran, ketidakadilan dan perampasan hak asasi. Singkatnya mayoritas umat Islam terdiri dari manusia-manusia rendah, tidak memiliki harga diri dan lebih mementingkan urusan perut.

Kematian Muawiyah dan munculnya Yazid semakin menambah parah keadaan, karena Yazid, berbeda dengan ayahnya, bahkan tidak menampkakkan lahiriah keislaman sama sekali. Dalam masa yang singkat dari keberlanjutan kondisi ini menyebabkan Islam terlupakan.

Berbekal ilham dari ilmu gaib, Imam Husain as memiliki metode terbaik yang dapat dilakukan dalam hal ini. Beliau as menyerahkan sebagian tugas dari kebangkitan dan revolusinya kepada keluarga yang mayoritas perempuan dan anak-anak perempuan. Mereka juga berhasil menyampaikan misi Imam Husain as ke seluruh kawasan negara Islam dalam masa singkat dengan menggunakan metode terbaik dengan beberapa alasan.

Pertama, Ahlulbait Imam Husain as memiliki hal lazim yang dibutuhkan untuk membangkitkan kecemburuan dan kesadaran masyarakat. Dari satu sisi rombongan tawanan ini berjalan dibarengi oleh kepala-kepala suci syuhada yang merupakan orang-orang terbaik dan terpilih, khususnya kepala suci Imam Husain as. Dari sisi lain anak-anak kecil yang tidak berdosa dan perempuan-perempuan terhormat juga berjalan bersama mereka (rombongan) dan dari sisi ketiga ucapan tegas para perempuan dalam momen yang tepat telah berhasil menembus ke dalam jiwa umat Islam. Serangkaian faktor inilah yang menjadi faktor terbaik dan yang paling berpengaruh dalam membangunkan kesadaran umat Islam yang terlelap.

Kedua, dalam waktu singkat Ahlulbait Imam Husain as menyelimuti tiga kota penting negara Islam dengan propaganda mereka. Mereka masuk Kufah terlebih dahulu yang pernah menjadi kota politik dan militer terpenting negara Islam. Di kota tersebut pernah tinggal orang-orang yang selalu siap berperang (pasukan perang) yang mana Futuhat Islam (penaklukan negara-negara lain). Banyak diraih dari tangan mereka dan ayah-ayah mereka dan sampai saat itupun masih terhitung sebagai kota yang masih memiliki kepentingan militer tersendiri. Setelah kota Kufah, rombongan tawanan memasuki kota Damaskus, pusat pemerintahan Yazid dan mereka mengumandangkan suara kemazluman dan ketidakadilan yang mereka alami kepada masyarakat. Selanjutnya sampailah mereka ke Madinah, tempat tinggal terakhir mereka. Di mata umat Islam, Madinah dengan adanya makam suci Rasulullah saw dianggap sebagai tempat khusus. Selain tiga kota penting ini, dalam perjalanan dari Kufah ke Syam, mereka juga melewati kota lain.

Masuknya Ahlulbait ke setiap kota sedemikian rupa sehingga seluruh penduduk kota cepat mengetahui dan tidak lama kemudian mereka (penduduk) memperoleh informasi mengenai alur rincian tragedi Karbala dan kejahatan Yazid.

Ketiga, Muawiyah pada masa pemerintahannya menggunakan berbagai metode untuk menutupi tindak kejahatannya. Ia melakukan banyak kejahatan secara tersembunyi. Oleh karena itu sebagian besar tindak kejahatannya tertutup rapi dari umat Islam dan bahkan mungkin sampai saat ini pun tetap tidak terlihat. Ia juga menuding satu kelompok dengan tuduhan dan kebohongan sehingga seakan-akan memiliki kelayakan untuk dipenjara, disiksa, dan bahkan sampai dibunuh. Dengan perantara ini, ia banyak mengurangi tindak keburukannya. Pada waktu-waktu tertentu juga menyebarkan beberapa isu kejadian di kalangan masyarakat dengan berbagai ragam. Hal ini menyebabkan tidak ada seorangpun dapat menisbatkan kejadian tersebut kepadanya secara pasti. Contoh perbuatan keji Muawiyah nampak jelas dalam pembunuhan Hijr bin Uday bersama para sahabatnya dan Amr bin Hamq.

Setelah memegang tampuk kekuasaan, Yazid sedemikian congkaknya sehingga berprasangka akan dapat menghabiskan Islam dan menghapus nama Nabi saw dan keluarga beliau as dari lembar sejarah untuk selama-lamanya. Dengan dalih inilah ia menjadi sebab utama dalam kesyahidan Imam Husain as secara tragis dan menjadikan Ahlulbait beliau as sebagai tawanan. Pada mulanya ia melihat Islam telah habis. Oleh karenannya ia membacakan bait syair ini dalam sebuah acara pertemuan yang ia laksanakan:

Andaikan keluarga dan para sesepuhku tidak terbunuh dalam perang Badar, Mereka akan melihat kepedihan Kabilah Khazraj dari layangan busur anak panah

Sedemikian gembirannya, mereka akan mengatakan :

Wahai Yazid, jangan pernah lemah

Bani Hasyim telah bermain dengan kerajaan(mulk)

Sementara tidak ada berita yang datang dari langit atau wahyu yang turun

Jangan sebut aku keturunan Khandaf 

Bila tidak dapat membalas keturunan Ahmad

dari apa yang telah mereka perbuat

 

Belum sampai beberapa hari berlalu dari saat tersebut, Yazid telah mengetahui kecerobohannya dan memutuskan untuk melepaskan tangan dari pembunuhan Imam Husain as dengan mengucapkan perkataan dusta. Namun Ahlulbait Imam Husain as melaksanakan tugas sedemikian cepat dan sangat jeli sehingga Yazid tidak dapat berbuat apa-apa dalam rangka berlepas tangan dan menunjukkan ketidakberdosaannya.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed