by

Persiapan Ahlulbait Melalui Imam Husain as

Jelas bahwa menjalankan tugas penting semacam ini dalam kondisi sulit dan berat seperti di atas memerlukan rencana dan rancangan sebelumnya dan butuh persiapan mental. Dari sini Imam Husain as sebelum syahid berkali-kali meningatkan tugas penting perempuan kepada mereka dan meminta kepada mereka jangan sampai emosi atau perasaan dapat mengalahkan akal mereka dan juga keluarnya tindakan dari mereka bertentangan dengan tugas (yang diemban).

Dalam sebuah pesan yang diwasiatkan Imam Husain as kepada para perempuan pada malam Asyura, beliau as berdabda, “Wahai Zainab, Ummu Kultsum, Fathimah dan Rubab! Perhatikanlah oleh kalian ketika aku terbunuh nanti, jangan merobek kerah baju dan mencakar muka (karena malapetaka) serta jangan pula mengucapkan kata-kata yang tidak layak mengenai aku” (Maqtalul Husain, Khorazmi- jil 1, hal 238)

Ketika beliau as mengucapkan selamat tinggal dan perpisahan, “Bersiap-siaplah untuk (menghadapi) bala’ (musibah) dan ketahuilah bahwa Allah penjaga dan pelindung kalian dan segera akan menyelamatkan kalian dari keburukan para musuh dan menjadikan akhir urusan kalian kepada kebaikan dan menyiksa musuh kalian dengan berbagai azab dan mengganti bencana ini dengan bermacam-macam nikmat dan kemuliaan, maka janganlah kalian mengadu dan mengatakan dengan mulut kalian sesuatu yang akan mengurangi harga diri kalian” (Maqtalul Husain, Abdurrozzaq al-Muqim, jil 4, hal 276; Daruts Ttsaqofah Littobaah WAnnasyr, Athabah ast-Tsaniah 1411 HQ; Al-Luhuf, Sayyid bin Thawus-, hal 36)

Selain itu Imam Husain as berulang kali menghibur saudari beliau, Zainab yang pada akhirnya memikul tugas kepemimpinan bagian dari kebangkitan ini dan memintanya agar tidak menyerah diri dalam menghadapi kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan yang cukup kita tunjukkan dengan satu contoh berikut. Imam Sajjad as berkata : “Malam ketika keesokan harinya ayahku syahid, beliau as memperbaiki (mempersiapkan) pedang dan berucap :

Wahai zaman! Celakalah engkau yang telah menjadi teman tidak baik pada (siang dan malam, alangkah banyaknya engkau mempersembahkan orang-orang ter-dekatku untuk dibunuh- Dan masa tidak menerima pengganti-demikianlah urusan akan kembali kepada Allah dan setiap makhluk hidup akan melalui jalan (yang aku tempuh).

Dua tiga kali ayahku mengulang syiar ini sehingga aku mengerti maksud beliau dan mengetahui bahwa akan segera turun musibah. Pada saat itu kerongkongan-ku tersedak oleh tangisan namun aku diam. Akan tetapi ketika bibiku Zainab mendengar syiar ini ia segera pergi ke samping ayahku dalam keadaan bajunya terseret di atas tanah dan berkata :

Wahai bencana! Sekiranya kematian telah menelanku dan menyudahi kehidupanku, hari ini aku telah kehilangan ibuku Fahimah, ayahku Ali, saudaraku Hasan wahai pengganti orang-orang yang telah lewat dan pelindung orang-orang yang masih tersisa.

Imam Husain as menghiburnya dan berkata :

Ambillah jalan kesabaran dan ketabahan dan dengan itu penduduk bumi dan langit mati, segala sesuatu selain Allah akan musnah (binasa) dan Rasulullah saw adalah teladanku dan panutan untuk setiap orang Islam (Maqtalul Husain, Abdurrazaq al-Muqrim, 217. Al-Luhuf, hal 35-36).

Kemungkinan besar Imam Husain as telah memberitahukan perjalanan detail kejadian mendatang dan beliau as menjelaskan tugas masing-masing perempuan dalam setiap kondisi. Di samping mereka juga sepanjang masa menjadi tawanan memanfaatkan dukungan mental dan spiritual Imam Sajjad as yang ada bersama mereka.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed