by

Efek dan Pengaruh Kehadiran Perempuan dalam Kebangkitan Husaini (Bag. 1)

Telah kita katakan bahwa target kebangkitan dan revolusi Husaini adalah membangkitkan kesensitifan beragama umat Islam dan membangunkan kesadaran mereka yang tertidur. Imam Shadiq as dalam Ziarah Arba’in berkata, “Dan dia telah memberikan darah sucinya di jalan Mu untuk menyelamatkan hamba-hamba Mu dari kebodohan dan kesesatan” (Mafatihul Jinan – Ziaratul Arba’in- Imam Husain as).

Telah lewat bahwa untuk menyampaikan misi kebangkitan dan revolusinya kepada ummat Islam, Imam Husain as menggunakan metode dan cara terbaik dan membebankan tugas tersebut ke pundak para perempuan dan Ahlulbait (keluarga) beliau.

Selepas Imam Husain as syahid, pasukan Umar bin Sa’ad dengan bringas menyerang pasukan Imam as untuk merampas kemah-kemah Imam dan Ahlulbait. Pada saat itulah seorang perempuan kabilah Bakr bin Wail yang hadir dalam pasukan Umar bin Sa’ad bersama suaminya, dengan menyaksikan serbuan bringas pasukan Umar Sa’d ke arah para perempuan dan kemah-kemah, dia segera menghunus pedang dan berteriak lantang : “Wahai keluarga Bakr bin Wail! Mereka telah merampas putri-putri Rasulullah. . Tidak ada hukum selain hukum Allah. Bangkitlah kalian untuk membalas darah Rasul (yang mereka tumpahkan)! (al-Luhuf. hal 57)

Dia menyerang ke arah kemah untuk melindungi keluarga Imam Husain as; namun belum sempat ia berbuat sesuatu, suaminya segera menyergap dan mengembalikan pada tempatnya semua.

Meskipun langkah perempuan ini tidak berlanjut namun sebuah permulaan untuk kebangkitan pembalasan yang muncul secara luas dan menyeluruh dalam masa mendatang.

Ketika mereka ingin mengarak rombongan(kafilah) tawanan dari Karbala ke Kufah, mereka melewati mayat-mayat para syuhada. Ketika para perempuan sampai di atas gelimpangan tubuh orang-orang yang dicintai, mereka menciptakan pemandangan yang menyayat hati sehingga dengan menyaksikan hal tersebut orang-orang berhati keras pun akan terpengaruh dan membuat mereka tidak nyaman. Dalam peristiwa itu Zainab melontarkan kata-kata kepada tubuh saudaranya. Kata-kata Zainab pada kondisi tersebut memaksa kawan dan lawan untuk meneteskan air mata (Al-Luhuf, hal 58)

Sepanjang perjalanan kafilah Ahlulbait, banyak peristiwa yang ternukil yang menjelaskan bahwa penduduk Kufah sendiri- penduduk kota terdekat dengan tempat kejadian dan yang memiliki hubungan dengan peristiwa tersebut serta kesyahidan Imam Husain dan sahabat beliau melalui pasukan yang dikirim dari kota tersebut, tidak memiliki informasi tentang tragedi Asyura.

Bila tidak ada tawanan Ahlulbait, tidak dapat diketahui bahwa kapan informasi ini akan sampai di telinga mereka dan dalam jangka waktu itu dengan kesempatan yang dimiliki oleh kaki tangan Yazid, mereka dengan segala bentuk dapat memutarbalikkan informasi kebangkitan Imam Husain as. Namun tawanan Ahlulbait mengambil kesempatan untuk menghambat segala cara pemutarbalikan dan penyebaran rumor (isu) dari tangan phak Yazid.

Sepanjang perjalanan kafilah tawanan, setiap perempuan Ahlulbait menyampaikan pidato-pidato kepada penduduk dalam situasi yang sesuai. Salah satunya pidato Zainab di Kufah.

Ucapan Sayyidah Zainab di Kufah sedemikian mempengaruhi penduduk shingga perawi berkata, “Selepas Zainab berkhotbah, aku melihat penduduk menggigit tangan karena penyesalan. Di kalangan mereka aku menyaksikan orang tua berusia lanjut di sampingku menangis sedemikian rupa sehingga jenggot putihnya basah oleh air mata. Ia menengadahkan tangan ke langit dan berkata, “Ayah dan ibuku menjadi taruhan kalian! Orangtua kalian adalah paling baiknya orang lanjut usia, perempuan kalian adalah perempuan terbaik, anak kecil kalian pun yang terbaik, dan keluarga kalian adalah keluarga mulia serta keutamaan dan rahmat kalian adalah besar. Pada saat itu ia melantunkan bait syair ini; sesepuh kalian adalah yang terbaik dan ketika keturunan dan asal kalian terhitung, maka kehinaan dan kerendahan tidak memiliki tempat untuk selamanya”.(Biharul Anwar, jil. 45 110; Qissah Karbala, Ali-Nadhari Munfarid, hal 430)

Pidato lain yang dilontarkan di Kufah adalah pidato Fathimah, putri Imam Husain as, dengan ucapan yang berapi-api beliau menghujani masyarakat Kufah dengan celaan. Ucapan beliau juga sedemikian mempengaruhi penduduk Kufah sehingga semua orang menangis dan berkata: “Wahai putri orang-orang suci! Cukuplah kiranya! Engkau telah membakar hati kami, membuat sempit dada kami dan memanaskan jiwa kami” (Maqtalul Husain, Abdurrazaq al-Muqrim, 315)

Setelah Ummi Kultsum binti Ali bin Abi Thalib as menyampaikan setelah ucapan-ucapan beliau selesai, penduduk sedemikan terpengaruh sehingga rawi mengatakan, “Setelah pidato Ummi Kultsum meledaklah suara kegaduhan, tangisan, penyesalan. Para perempuan menjambak rambut dan mengucurkan debu di atas kepala, menampar wajah dan berharap mati dan binasa. Begitu pula dengan kaum lelaki, mereka pun menangis sehingga tidak terlihat sebelumnya seorang perempuan atau lelaki pun yang menangsi sedemikian rupa seperti hari itu” (Biharul Anwar, 45-112)

Bersambung ke : Efek dan Pengaruh Kehadiran Perempuan dalam Kebangkitan Husaini (Bag. 2)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed