by

Efek dan Pengaruh Kehadiran Perempuan dalam Kebangkitan Husaini (Bag. 2)

Selepas Ummi Kultsum, Imam Sajjad segera memulai pembicaraan. Setelah menyampaikan beberapa kata, terdengarlah suara penduduk dari setiap sudut sambil mengatakan kepada sesamanya, “Celakalah kita sementara kita sendiri tidak tahu!” Dalam kelanjutan khotbah Imam Sajjad berkata, “Semoga Tuhan merahmati orang yang menerima nasehatku dan memegang pesanku mengenai Allah, Nabi  dan Ahlulbaitnya. Sebagaimana Rasul adalah suri teladan bagi kita semua.”

Di sini serentak mereka berteriak, “Wahai putra Rasulullah! Kami semua akan taat dan mengikuti peringatan, menjaga perjanjian (baiat) dengan anda dan tidak akan meninggalkan anda. Oleh karena itu perintahkan kepada kami apa yang anda inginkan. Kami melawan orang yang memerangi anda dan menjaga perdamaian dengan orang yang damai dengan anda. Kami akan menangkap Yazid dan kami akan berlepas tangan dari siapa pun yang berbuat zalim kepada anda dan kami!” (Biharul Anwar, 45-113)

Dalam semua khotbah, Ahlulbait untuk mengungkapkan kembali rincian tragedi Karbala berhasil dengan baik. Hal ini, disamping menjadi sebab keterjagaan kesadaran masyarakat, juga turut menjaga peristiwa karbala dari penyimpangan dan penyelewengan dan mematahkan setiap kesempatan untuk membuat isu dan menyebarkannya dari pemerintahan Bani Umayyah.

Kemudian rombongan tawanan bergerak ke Syam. Di tengah perjalanan terjadi sebuah peristiwa menarik. Sekelompok perempuan di kota Halab berjuang untuk membebaskan para tawanan dan kepala-kepala suci. Ketika Khuli bermaksud membawa kepala suci Imam Husain as ke Mushel, terdapat tiga puluh orang penduduk Mushel menghunus pedang dan saling berjanji untuk berperang melawan Khuli bersama orang-orangnya. Namun Khuli segera mengetahui maksud mereka dan tanpa memasuki Mushle ia memutar arah tujuannya dan melewati bukit Afraa’ dan Ainul wardah. Seketika itu ia menulis surat kepada hakim (gubernur) Halab bahwa kepala Husain bin Ali bersamanya, meminta agar dikirimkan pasukan untuk menjemput dan melindunginya.

Ketika surat sampai di tangan Abdullah bin Umar Anshari – Gubernur Halab-, ia menjadi sangat sedih dan gelisah dan menangisi kesyahidan Imam Husain as, karena pada zaman Nabi saww ia selalu membawa hadiah untuk beliau saw dan berada di samping Imam Hasan dan Imam Husain as. Sebelumnya, ketika berita kesyahidan Imam Mujtaba sampai ke telinganya, ia membangun bentuk makam untuk Imam Hasan di dalam rumah dan menangis siang malam.

Abdullah memiliki seorang putri bernama Derrotus Shadaf. Pada waktu ia menyaksikan ayahnya dalam keadaan demikian, ia menanyakan sebabnya. Abdullah Umar menjawab : “Putriku! Orang-orang munafik telah membunuh Imam Husain as dan membawa Ahlulbaitnya sebagai tawanan ke hadapan Yazid.”

Durratus Shadal berkata : ” Wahai ayah! Tidak ada kebaikan lagi selepas kesyahidan orang-orang baik. Demi Allah! Aku akan mencurahkan seluruh usaha untuk membebaskan para tawanan dan mengambil kepala suci. Bila berhasil aku akan menguburkannya di dalam rumahku dan dengan ini akan menjadi kebanggaanku di atas seluruh penduduk bumi.”

Durratus Shadaf di seluruh kampung dan gang-gang Halab berteriak,  “Islam telah musnah!” Dengan usaha ini ia berhasil membawa tujuh puluh perempuan dan putri Anshar dan Hamir bersamanya. Setelah itu mereka semua memakai pakaian perang dan menunggu rombongan tawanan secara sembunyi-sembunyi di luar kota. Ketika matahari terbit mereka menyaksikan kepulan debu dari jauh, selanjutnya nampak bendera-bendera dan terdengar suara terompet.

Ketika mereka sampai lebih dekat terdengar suara tangisan dan keluhan dan erangan para perempuan dan anak-anak dari rombongan. Durratus Shadaf dan orang-orangnya menangis dengan menyaksikan kondisi tersebut.

Saat itu dia menanyakan pandangan para perempuan mengenai penyerangan. Para perempuan berkata, “Kita tunggu hingga mereka dekat untuk mengetahui jumlah pasukan orang-orang bersenjata.” Ketika telah dekat mereka menyaksikan orang-orang (pasukan) dengan senjata dan alat perang lengkap. Durratus Shadaf berkata kepada para perempuan, “Menurut pendapatku kita meminta bantuan kekuatan dari sebagian kabilah arab dan selanjutnya baru menyerbu mereka.” Mereka menerimanya.

Orang-orang Yazid telah memasuki kota dari pintu Arbain. Lewat surat yang disebarkan, Durratus Shadaf meminta bantuan dari penduduk Halab dan enam ribu orang segera bersiap membantu. Dari sisi lain bantuan kekuatan untuk pasukan Yazid juga telah tiba dan pada akhirnya terjadilah perang di antara dua kelompok. Dalam perang ini Durratus Shadaf syahid bersama dua belas orang perempuan (Muhammad al-Hasun- Am ala Masykur- A’lantunnisa al-Mukminati- 336-337- intisyarat uswah chobe awal 1411)

Bersambung ke : Efek dan Pengaruh Kehadiran Perempuan dalam Kebangkitan Husaini (Bag. 3 – Selesai)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed