by

Efek dan Pengaruh Kehadiran Perempuan dalam Kebangkitan Husaini (Bag. 3 = Selesai)

Pada akhirnya rombongan Ahlulbait as memasuki Syam. Syam adalah sebuah tempat di mana Muawiyah mengendalikan pemerintahan lebih dari empat puluh tahun dengan kecerdikan dan kelicikan dan kemunafikan di depan masyarakat. Apa yang diketahui penduduk Syam dari Islam adalah apa yang diajarkan Muawiyah kepada mereka dan mereka terdidik sebagaimana dikehendaki oleh Muawiyah. Dengan seluruh situasi semacam ini, kehadiran Ahlulbait as di Syam juga turut mengubah kondisi dengan keuntungan Imam Husain as dan kerugian Yazid. Di Syam terjadi beberapa peritiwa yang membuat beberapa kelompok orang dapat melihat hakikat dan membangunkan mereka dari tidur kelalaian. Disini kami akan mengisyaratkan sebagian peristiwa Syam.

Ketika Ahlulbait as memasuki ruang pertemuan Yazid, seorang pengikut Yazid memintanya agar memberikan Fathimah binti Husain as kepadanya untuk dijadikan budak. Dalam keadaan itu Fathimah berlindung kepada bibinya, Zainab dan menarik bajunya. Dengan ucapan keras Zainab berkata kepada Yazid bahwa dia tidak berhak bertindak demikian.

Orang Syam yang takjub dengan cara Zainab berkata kepada Yazid, bertanya : “Siapakah perempuan ini?” Yazid menjawab, “Ini adalah Fathimah binti Husain bin Ali dan perempuan itu adalah Zainab binti Ali.”

Dengan heran orang Syam berkata, “Husain putri Fathimah dan Ali bin Abi Thalib! Semoga Allah melaknat engkau, wahai Yazid! Engkau bunuh anak-anak Nabi saw dan engkau tawan para perempuannya?! Demi Allah! Aku sangka mereka ini adalah tawanan dari Romawi.” Yazid berkata, “Demi Allah! Aku akan ikut sertakan engkau dengan mereka!” Seketika itu Yazid memerintahkan untuk memenggal kepadanya (Maqtaalul Husain – Kharazmi 2-62; al-Luhuf, Sayyid bin Thawus, hal 81-82).

Pada awal masuknya Ahlulbait, kondisi Syam seperti itu. Namun setelah beberapa lama, kehadiran Ahlulbait membuat dinamika di Syam sedemikian rupa sehingga Yazid pada mulanya merasa bangga dengan membunuh Imam Husain as terpaksa harus berlepas tangan dari pembunuhan Imam as. Pada akhirnya dalam sebuah pertemuan (jamuan) yang diadakan Yazid di hadapan para tawanan dalam rangka (merayakan) kemenangannya, Fathimah dan Sukainah bin Husain as yang melihat kepala sang ayah tidak kuat lagi menahan diri. Fathimah berteriak, “Wahai Yazid! Engkau menawan putri-putri Nabi saw?”

Sekali lagi suara tangisan dan keluhan hadirin terdengar keras dan terdengar bisikan-bisikan bernada protes dari beberapa sudut aula. Yazid yang melihat suasana pertemuan sangat tidak memihaknya, segera berpaling kepada putri-putri Imam Husain as dan berkata: “Wahai putri saudaraku! Aku tidak menyetujui apa yang mereka lakukan ini!” dan menurut riwayat Yazid mencela Ibnu Marjanah dan menisbatkan semuanya kepadanya (Qissah Karbala, Ali Nadhari Munfarid, hal 505)

Yazid memerintahkan agar kepala suci Imam Husain as digantung di atas pintu rumahnya dan menyuruh Ahlulbait memasuki rumahnya. Ketika perempuan-perempuan Ahlulbait telah memasuki rumah Yazid, tidak ada seorang pun dari perempuan keluarga Muawiyah dan Abu Sufyan yang menyambut mereka kecuali dengan tangisan dan ratapan untuk Imam Husain as. Mereka menanggalkan perhiasan dan meratapi (berta’ziah) Imam Husain as selama tiga hari.

Hindun binti Abdullah bin Amir – istri Yazid- menyobek selambu hingga sampai kepada Yazid – yang berada dalam pertemuan umum- dan berkata, “Engkau gantung kepala suci Husain di atas pintu rumahku”. Yazid bekata kepadanya, “Pergilah dan menangislah untuk Husain. Ibnu Ziyad terburu-buru membunuhnya”(Biharul Anwar, Allamah Majlisi, jil 45, hal 142-143).

Suyuti berkata, ” Pada mulanya Yazid sangat senang dan bangga dengan pembunuhan Husain bersama para sahabatnya, namun ketika ia menyaksikan permusuhan kebencian serta kemarahan masyarakat kepadanya, ia menyesal dan masyarakat pun berhak memaki Yazid. ” (Tarikhul Khulafa‘, hal 2018)

Setelah itu Yazid tidak pernah sekalipun duduk di depan hidangan siang atau malam kecuali ia mengundang Imam Sajjad as dan makan bersama belliau as.

Ketika Ahlulbait as ingin berangkat ke arah Madinah, Yazid berkata kepada Imam Sajjad as, “Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah! Seandainya sebelumnya aku berjumpa dengan ayahmu Husain as, akan akan mengabulkan segala keinginannya meskipun harus di bayar dengan harga terbunuhnya sebagian putraku. Aku akan melindunginya dari pembunuhan! Akan tetapi sebagaimana yang anda saksikan, terbunuhnya Husain adalah qadla ilahi (ketentuan Tuhan)! Apabila anda sampai di Madinah hendaknya anda selalu melayangkan surat kepadaku dan tulislah segala keperluan dan keinginan Anda.” (Tarikh Thabari, jil. 4, hal 352-354)

Tentu saja bila Yazid dapat menunjukkan peristiwa karbala dengan bentuk lain dan melepaskan tangan darinya, ia akan melakukannya, namun usaha Ahlulbait mematahkan setiap isu dan kebohongan Yazid dan seluruh tenaga yang telah dicurahkan Yazid dalam hal ini untuk memutarbalikkan kebangkitan Asyura dan mengelabui masyarakat tidak banyak menghasilkan buah.

Di samping Ahlulbait yang memikul tugas asli penyampaian misi kebangkitan Imam Husain as, para perempuan di kota-kota lain juga turut menyampaikan misi perjuangan Husaini kepada masyarakat dengan ratapan (aza’) dan tangisan mereka. Dengan cara ini mereka membangunkan kesadaran masyarakat dari keterlelapan dalam tidur panjang.

Ketika berita syahidnya Imam Husain as tiba di Madinah, Asma binti Aqil bersama sekelompok perempuan pergi ke makam Nabi saw, menangis dan berteriak-teriak. Mereka berseru kepada kaum Muhajirin dan Anshar: “Apa yang akan kalian katakan sebagai jawaban kepada Nabi saw yang hanya menerima ucapan jujur di hari Kiamat ketika beliau saw bertanya kepada kalian, ‘Kenapa kalian tidak menolong itrahku dan meninggalkan mereka sendirian menghadapi orang-orang lalim dan menyerahkan mereka kepada orang-orang zalim (tirani). Pada hari ini tidak seorangpun dari kalian mendapat syafaat di sisi Allah. (al-Amali, Syaikh Thusi, hal 89-90)

Pada hari ini, perempuan-perempuan Muslimah tampil penuh pengorbanan. Selayaknya mereka, dengan menjaga kehormatan dan kesucian, menyampaikan misi kebebasan, keadilan dan memerangi kezaliman dalam revolusi Husaini ke telinga semua orang. dengan tetap menjaga semangat dan kenangan syuhada Karbala di tengah masyarakat, mereka hadir di medan politik dalam kesempatan yang tepat, menghidupkan jiwa perjuangan melawan kezliman dan gigih menghadapi ketidakadilan, kemaksiatan, dan kemunkaran di tengah masyarakat. (Muhammad Husain Mehwary, Hukumate Islami, Qom, VII, No. 4, 2003, Diterjemahkan oleh TIm HPI]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed