by

Allamah MH Thabathabai : Falsafah Kebangkitan Imam Husain (Bag. 2)

Kematian Muawiyah dan Kekuasaan Yazid

Tusukan terakhir yang dilesakkan Muawiyah ke tubuh Islam dan Muslimin ialah menjungkirbalikkan kekhilafahan Islam menjadi kekuasaan dinasti yang diktator dan mengangkat sang putra mahkota, Yazid, sebagai penggantinya, Padahal , Yazid bukanlah anak yang memiliki kepribadian dan karakter agamis dan bahkan tidak berusaha menunjukkannya dengan berlaga dan berpura-pura suci. Umurnya dihabiskan untuk menikmati hiburan tembang, musik, minuman arak, permainan atraktif kera, dan lain-lain tanpa menghormati hukum-hukum agama.

Terlebih lagi, Yazid tidak mempercayai agama dan ajarannya. Hal ini tampak tatkala sejumlah tawanan dari keluarga Nabi saw dan sederetan kepala para syahid yang dipenggal di padang Karbala diarak memasuki kota Damaskus. Pada saat itu, ia muncul untuk menonton arak-arakan prajuritnya. Ketika terdengar olehnya gaok parau burung gagak, segera ia berkata sebagai berikut (Dinukil oleh al-Alusi dalam tafsirnya, Ruhul Ma’ani, jilid 26/66, dari Tarikh ibn al-Wardi dan Kitab al-Qafi bi al-Qafiyyat) :

Gagak itu telah menggaok
Kujawab, biar kau katakan sesuatu atau tidak
Kini aku telah mengambil penuh
Tuntutanku atas sang Rasul

Ketika semua tawanan dari keluarga Nabi dan kepala para syahid dihadapkan kepada Yazid, ia melantunkan bait-bait syair yang di antaranya sebagai berikut.

Telah bermain (Bani) Hasyim dengan kekuasaan
Meski tidak ada berita yang datang
Pun wahyu yang turun

Pemerintahan Yazid sebagai kepanjangan tangan politik Muawiyah telah berhasil memperlakukan Islam dan Muslimin, di antaranya, dengan menghilangkan hubungan Ahlulbait Nabi saw dengan umat Islam dan para pengikutnya dari ingatan mereka.

Dalam kondisi demikian ini, sebuah cara dan langkah yang paling dapat memastikan terkuburnya Ahlulbait dan runtuhnya asas kebenaran ialah bahwa Sayidus Syuhada, al-Husain. menyatakan baiatnya kepada Yazid dan mengakuinya sebagai khalifah Rasulullah saw yang berdaulat dan harus ditaati.

Imam Husain Terhadap Baiat Yazid

Bersandar pada khalifah sejati sebelumnya, al-Husain tidak siap membaiat Yazid: baiat yang berakibat fatal dan akan menginjak-injak agama dan ajaran sucinya. Baginya, tidak ada lagi taklif (kewajiban agama) selain menolak baiat. Sikap inilah yang hanya direstui oleh Tuhan.

Dari sisi lain, sikap penolakan al-Husain tersebut malah meninggalkan resiko yang menyakitkan sebab kekuatan besar yang begitu tangguh untuk dilawan saat itu mengerahkan segenap wujudnya dalam meminta baiat (yakni, merebut baiat atau memenggal kepala), dan tidak akan puas selain mendapatkan baiat. Oleh karena itu, kematian al-Husain dibalik penolakan baiatnya kepada penguasa adalah kepastian yang tidak bisa ditawar.

Al-Husain as dengan mempertimbangkan kemaslahatan Islam dan Muslimin mengambil keputusan tegas untuk tidak memberikan baiatnya dan siap dibunuh. Begitu mantapnya beliau memilih mati ketimbang hidup.

Keputusan dan pilihan ini beliau ambil sesuai dengan kewajiban Tuhan atasnya untuk menolak baiat dan memilih mati. Pada titik inilah, kita memahami isyarat yang terkandung dalam sejumlah riwayat, yakni tatkala Rasulullah berkata kepada sang cucu, al-Husain, dalam mimpinya, “Sesungguhnya Allah ingin melihatmu terbunuh.” Pernyataan yang sama terdapat dalam jawaban beliau kepada mereka yang menahan keputusan kebangkitannya, “Bahwasannya Allah ingin melihatku terbunuh.”

Bagaimanapun, maksud keinginan Allah ini adalah kehendak tinta (tasyri’i), bukan kehendak cipta (takwini) karena kehendak cipta Allah -sebagaimana yang sudah dijelaskan pada tempatnya – tidak berpengaruh dalam kehendak dan tindakan.

Bersambung ke…. Allamah MH Thabathabai : Falsafah Kebangkitan Imam Husain (Bag. 3)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed