by

Strategi Al-Husain Sepanjang Perlawanan

Tentunya, apa yang kami katakan bahwa tujuan kebangkitan al-Husain ialah kesyahidan dan Tuhan menuntut kesyahidannya, tidak berarti bahwa Tuhan menghendaki agar beliau menolak baiat kepada Yazid lalu bergegas memberitahu orang-orang Yazid supaya datang membunuhnya sehingga, dengan cara yang ‘lucu’ ini, beliau menyelesaikan tugas ilahinya sembari menyebut cara itu sebagai suatu perjuangan.

Sesungguhnya tugas al-Husain ialah kebangkitan melawan kekuasaan busuk Yazid dan menolak baiat kepadanya. Penolakan tegas ini, yang berakhir dengan kesyahidannya, harus dituntaskannya sesempurna mungkin melalui cara yang mungkin ia tempuh.

Dari sinilah, kita bisa melihat bagaimana strategi dan taktik al-Husain sepanjang perlawanannya begitu luwes menurut perkembangan kondisi. Sejak awal pergerakannya yang ditekan oleh Gubernur Madinah, al-Husain bergerak dari kota itu pada malam hari menuju Makkah, kota kehormatan Allah dan keamanan agama. Di sanalah, beliau berlindung selama beberapa bulan. Selama itu pula, beliau diawasi agen rahasia penguasa, sampai saatnya usaha pembunuhan terhadapnya diputuskan oleh sekelompok utusan di musim haji atau penangkapan atasnya untuk segera diserahkan ke pusat kekuasaan di Syam (Syiria).

Pada saat yang bersamaan, banjir surat terus mengalir deras dari masyarakat Irak kepada beliau. Lewat ratusan dan ribuan surat itu, mereka mengundang beliau untuk datang ke sana sambil menyatakan jaminan dan ikrar setia untuk membelanya. Al-Husain pun mengambil keputusan tegas untuk memulai perlawanan bersenjata tatkala surat terakhir dari penduduk Kufah (Irak) yang melengkapi kebulatan tekad mereka tiba di tangan beliau.

Sebagai upaya menyempurnakan hujjah atas mereka, pertama-tama al-Husain mengutus Muslim bin Aqil selaku delegasinya ke kota itu. Selang beberapa waktu, beliau menerima surat dari Muslim yang menerangkan bahwa kondisi kota dan masyarakat di sana mendukung rencana beliau.

Dengan menimbang dua faktor tersebut, yakni masuknya orang-orang penguasa Syam secara rahasia dalam rangka membunuh atau menangkap beliau dan kehormatan Baitullah (Rumah Allah) serta kesiapan penduduk Kufah untuk menyertai perlawanannya, al-Husain bergerak menuju kota itu (Kufah). Di tengah perjalanan, beliau menerima berita terbunuhnya Muslim dan Hani secara kejam. Lalu, beliau pun mengubah taktik perlawanan dan perang agresifnya menjadi perlawanan defensif dan segera melakukan penyeleksian atas jamaah yang melingkunginya. Hanya orang-orang yang setialah yang dapat bertahan bersama sang penghulu para shyahid, hingga darah penghabisan untuk kemudian menjumpai kesyahidan mereka. [Diterjemahkan oleh Ammar Fauzi, dari Jurnal Hukumate Islame, th. 7, No. 3, Qom, 2003)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed