by

Cara Membuat Hoax Terbaik

Banyak ayat berbicara tentang kebenaran, mendapatkan, mengelola, mengungkapkan dan mendistribusikan kebenaran dalam bentuk informasi dan berita. Ayat di bawah ini secara khusus terfokus pada pengolahan fakta dan berita yang perlu diwaspadai, terutama tehnik-tehnik memanipulasi fakta.

 وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu mencampuraduk kebenaran dengan kebatilan dan kamu menyembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]: ayat 42)

َAyat ini hampir sepenuhnya terulang di surah Al Imran [3], ayat 71, dalam bentuk kalimat interogarif kritik yang mempertanggungjawabkan perilaku Ahlul Kitab dalam membohongkan kebenaran.

Namun, sebelum menggali tehnik-tehnik membuat kebohongan atau hoax yang dibongkar Alquran, perhatikan elemen kalimat dalam ayat di atas. “Mencampuraduk” padanan untuk talbisū, kata kerja perintah yang diderivasi dari lubs atau labsLubs berarti menutupi dan dari bentuk dasar inilah kata libas (pakaian, busana) diderivasi. Sementara labs berarti ragu dan bimbang karena rancu dan bercampur aduk sehingga mengecoh dan membingungkan.

Dalam terjemahan ayat, talbisū dipadankan dengan mencampuraduk, tidak dengan menutupi, mengingat makna menutupi akan terulang di lanjutan ayat, yaitu menyembunyikan.

Tetapi, bisa juga kata talbisū dipadankan dengan menutupi atau mengenakan dan memakaikan. Maka, terjemahan ayat itu menjadi: janganlah kalian membusanai kebenaran dengan kebatilan. Selain sabagai sarana penutup, busana dan pakaian juga berfungsi sebagai alat mempersolek dan mempercantik. Maka, busana dalam hal ini yaitu merias dan mengemas kebenaran dengan campuran kebatilan sehingga membuat mata rabun dan gagal memilah keduanya.

Salah satu kebutuhan primer manusia dalam menimbang, mengambil keputusan, bersikap dan bertindak ialah informasi. Dengan informasi, suatu masyarakat bergerak ke satu titik. Arah dan gerak suatu masyarakat ditentukan secara dominan oleh informasi, data dan pengetahuan. Maka mutlak diperlukan data dan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Kebutuhan ini, di dunia sekarang, terasa begitu vital dan menentukan nasib, tak kurangnya dengan kebutuhan kita pada oksigen. Membuat hoax sama halnya menyebarkan gas beracun yang membuat masyarakat mati atau bisa menjadi ancaman bagi lapisan yang lain. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa melawan hoax berarti juga menghidupkan masyarakat yang ditunjang, pertama-tama, dengan mengenali hoax dan memilahnya dari fakta dan kebenaran.

Banyak ayat berbicara tentang kebenaran, mendapatkan, mengelola, mengungkapkan dan mendistribusikan kebenaran dalam bentuk informasi dan berita. Adapun ayat ini terfokus, di antaranya, pada pengolahan fakta dan berita yang perlu diwaspadai.

“Jika kebatilan dikemukakan sejernihnya, tidak akan ada kekhawatiran, dan jika kebenaran dikemukakan juga dengan jernih, mulut penentangan akan terbungkam. Hanya bahaya akan muncul tatkala kebenaran dan kebatilan dicampuraduk; masing-masing ditampilkan sebagiannya hingga membuka jalan setan menguasai pengikut-pengikutnya”
(Nahj al-Balaghāh, kalimat no. 50)

Satu: ayat ini pertama-tama mengingatkan agar peduli terhadap nilai kebenaran dan kesalahan di samping nilai kebaikan dan keburukan, nilai keadilan dan kezaliman. Alquran mendorong manusia agar berpikir dan beriman dalam kerangka benar atau salah, bekerja dan bertindak dalam kerangka baik atau buruk, adil atau zalim. Atas dasar nilai-nilai inilah Alquran mengatur kehidupan, “Janganlah ….”

Dua: kebenaran itu adalah benar, dan kebatilan tidak akan menjadi benar. Di balik larangannya, ayat memerintahkan agar seorang Muslim menjaga kebenaran tetap utuh dan berbeda dari kebatilan; menempatkan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan, tidak menukar posisi satu dengan yang lain hanya demi keuntungan, status, kepentingan golongan.

Tiga: tidak menjaga utuh kebenaran dengan cara-cara: membuat hoax, menciptakan keraguan dan curiga, menyebarkan kebohongan, berita kosong dan tuduhan palsu, menyesatkan opini publik sama artinya menghilangkan nilai kemanusiaan dan merusak kebutuhan primer manusia. Ini kejahatan luar biasa kejam dan dan dosa besar.

Empat: ayat ini tidak menyinggung kebatilan dan kebohongan yang dibuat sepenuhnya batil, sama sekali bohong. Ini barangkali karena membuat berita dan informasi 100% hoax, selain tidak butuh keterampilan, akan mudah diidentifikasi dan cepat dibedakan dari kebenaran dan fakta.
Ali berkata, “Ketahuilah, kalau saja kebenaran itu murni, tidak akan terjadi perselisihan; dan kalau saja kebatilan itu murni, tidak akan samar bagi orang berakal, tetapi diambil sebagian dari ini dan sebagian dari itu” (Nahj Al-Balaghah, Hikmah no. 74).

Lima: Membuat hoax dan kebohongan perlu pengetahuan. Maka, pembuat hoax adalah orang yang tahu dan sadar mana kebenaran dan mana kebohongan, “… padahal kalian tahu.” Di ayat lain juga disebutkan, “dan mereka mengatakan kebohongan terhadap Allah, padahal mereka mengetahui” (QS. Al Imran [3]: 78).

Enam: ayat ini mengungkapkan dua tehnik membuat hoax, yakni cara-cara mengolah fakta dan informasi menjadi tidak utuh:

  1. Mengungkapkan fakta dan informasi valid sepenuhnya sekaligus ditambah-tambahi, entah untuk pencitraan, membentuk opini, dramatisasi peristiwa atau memprovokasi dan menyulut emosi: “menyampuradukkan kebenaran dengan kebatilan”;
  2. Tidak mengungkapkan fakta dan informasi valid sepenuhnya: “menyembunyikan kebenaran”, yaitu dengan cara-cara:
    (a) Mengungkapkan fakta dengan mengurangi dan memotong-motong fakta.
    (b) Memendam dan mengubur fakta melalui teknik menumpuk isu di atas isu atau mengalihkan isu dengan isu lain agar publik kehilangan perhatian terhadap fakta dan informasi yang dibutuhkan;
    (c) sama sekali tidak meliput dan tidak melaporkan fakta seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Tujuh: informasi yang dicampuraduk atau disembunyikan bisa berupa teks tulisan, suara, gambar foto ataupun video. Pembuat berita hoax bisa dengan menyamarkan atau memotong informasi dari konteks, yaitu lingkungan, situasi atau latar, termasuk ruang dan waktu munculnya informasi. Dalam ilmu tafsir, konteks dari teks suatu ayat dapat ditemukan dalam sabab al-nuzul dan sya’n al-nuzul.

Delapan: Berita abu-abu hasil penyampuran hak-batil dan bohong-fakta ini dalam bahasa agama disebut dengan syubhat, yaitu penyamaran dan penyaruan; kebohongan yang menyamar dan menyaru kebenaran. “Muslihat paling sulit yaitu menampilkan kebatilan dalam bentuk kebenaran di hadapan orang berakal jernih.” (Ali bin Abi Thalib ra.).

Sembilan: “Padahal kalian tahu”, yakni tahu mana yang benar mana yang batil, dan tahu mana berita hoax mana berita otentik. Maka, ada motif tidak terpuji dalam membuat hoax. Pengetahuan akan kebenaran yang disertai motif mulia tidak akan mendorong orang mencoba merekayasa fakta dan memproduksi hoax.

Sepuluh: menyampaikan kebenaran dan mempublikasikan fakta bukan berarti berbicara sembarangan dan sesuka hati dengan dalih hak berbicara dan kebebasan pers. Publikasi fakta perlu maksud mulia, yakni dalam rangka kebaikan dan kemaslahatan publik. Tanpa maksud mulia ini, mempublikasi fakta dan menerbitkan data bisa jadi membongkar rahasia, membuka aib, mencemarkan nama baik, mengadu domba, mentransaksikan kesaksian, menciptakan kegaduhan. Rumusannya: tahu kebenaran x maksud mulia = bijaksana menyampaikan berita. Maka, hoax bukan hanya mempublikasikan kebenaran tanpa maksud mulia; hoax juga perilaku men-share berita tanpa tahu kebenaran. “Jangan mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui, tetapi juga jangan mengatakan setiap yang kamu ketahui” (Nahj Al-Balaghah, kalimat no. 379).

“Derajat kekafiran paling rendah ialah seseorang mendengar pembicaraan saudaranya lalu menyimpannya untuk suatu saat menggunaknnya untuk mempermalukan dirinya, sungguh dia tidak berperikemanusiaan” (La’ali Al-Akhbar, hlm. 1860)

Sebelas: “padahal kalian tahu”, yakni berita bohong adalah bohong dan tetap hoax selama tidak diketahui, dan selama itu pula hanya diketahui kebohongannya oleh pembuatnya sendiri. Namun, setiap orang punya mata hati yang tak bisa dibohongi, dan pembuat hoax pasti tahu kalau dia sedang merekayasa fakta, membuat bohong dan menyebarkannya. Sekecil apa pun suara batin akan terdengar dengan frekuensi kendati sudah rendah untuk menegur kesalahan yang dilakukan sendiri dengan sepengetahuannya. Mata hati dan fitrah insani ini merupakan sebaik-baiknya bukti yang mengawasi.

Dua belas: Nabi SAW mengingatkan, “Baju kebohongan itu transparan.” Ya, libās ‘pakaian’ hoax itu tipis, cepat atau lambat akan tampak wajah kebohongannya dan terbongkar hoaxnya. Keberhasilan orang merahasiakan hoaxnya di dunia hanyalah skandal tertunda yang pasti terbongkar di dunia lain: “Di hari ditampakkan segala rahasia” (QS. Al-Thariq [86]: 9).[ph] (TAFSIR-QURAN.COM)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed