by

Berkah Dan Pesan Kebangkitan Imam Husain, Oleh : Imam Khomeini (3)

Peran Acara-acara Asyura dalam Kebangkitan Rakyat

Dulu, mereka selalu mengatakan bahwa kita adalah bangsa yang cengeng dengan tujuan menjauhkan kita dari majlis-majlis Asyura. Majlis-majlis Asyra ini dibubarkan oleh orang-orang yang justru hadir di dalamnya. Apakah pembubaran ini karena majlis-majlis itu sendiri atau karena mereka tahu betapa besar pengaruhnya hingga mereka melarang penyelenggaraannya? Masalah pelarangan dan pembubaran ini sama dengan pelarangan memakai sorban karena mereka tahu bahwa sorban dan majlis duka ini akan menjadi penjegal kepentingan dan maksud mereka.

Di bulan Muharram ini, ketika sebuah bangsa berkumpul untuk memperingati kesyahidan Imam mereka, janganlah kalian menduga bahwa mereka datang hanya untuk menangisi Imam Husain. Beliau sama sekali tidak membutuhkan tangisan kita. Tangisan itu tidak berpengaruh (bagi Imam Husain –peny)

Rahasia majlis-majlis ini adalah kemampuannya untuk menyatukan mereka dan membangun persatuan di antara mereka. Di dua bulan suci ini (Zulhijjah dan Muharram –penerj), khususnya Asyura, jutaan orang berkumpul dan menyerukan hal yang sama. Pada bulan Muharram ini, ulama dan para pencermaah dapat memoblisasi rakyat dan menghimpun mereka untuk satu tujuan. Sisi politik majlis-majlis ini lebih kuat daripada sisi-sisi lainnya. Para imam maksum as tidak sembarang – kita berlindung kepada Allah- menyuruh kita untuk berkabung mengenang musibah mereka. Bukan sebuah omong kosong bahwa kita akan mendapatkan pahala saat menangis, membuat orang menangis, atau berpura-pura menangis sekalipun demi memperingati musibah para Imam kita.

Inti masalah Asyura bukan menangis atau berpura-pura menangis tetapi muatan politik yang ada pada majlis-majlis itu. Melalui majlis-majlis tersebut, para Imam as hendak menyatukan pengikut-pengikutnya dan menggerakkan mereka untuk bangkit. Kebanyakan perkara dalam Islam bermuatan politik. Perkumpulan-perkumpulan yang sebagiannya diwajibkan atau disunahkan, semua itu, adalah perkara-perkara politik. Salah satunya ialah ibadah haji. Di Makkah, jutaan muslim berkumpul untuk melaksanakan ibadah yang diwajibkan Allah atas mereka. Ini bukan berarti Allah membutuhkan ibadah kita. Dia mewajibkan haji supaya Muslim berkumpul di satu tempat dan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Islam.

Sayangnya, karena ketidaktahuan kita, umat Islam memang berkumpul di Makkah tetapi tidak tergerak untuk mendiskusikan masalah-masalah mereka. Alhamdulillah, sekarang kondisinya lebih baik. Alangkah baiknya bila negara-negara Muslim itu sedikit bersusah payah untuk memberangkatkan sebagian rakyatnya beribadah haji hingga mereka bisa berkumpul bersama saudara Muslim lainnya. Muatan politik dalam pertemuan besar umat Islam dalam haji adalah mereka saling berkenalan dengan yang lain, mengetahui persoalan masing-masing, dan mencoba untuk mencari jalan keluarnya.

Kalau menunaikan ibadah haji sesuai dengan ruhnya, tentu umat Islam tidak akan menemui berbagai problem seperti sekarang ini. Alangkah baiknya bila negara-negara Muslim memahami hikmah pertemuan rakyat mereka di Makkah dan tidak tunduk kepada kekuatan-kekuatan besar dunia. Semestinya mereka memahami bahwa memerintah rakyat yang sadar masih lebih baik daripada memerintah rakyat yang tidak mengetahui apa pun. Menanggung musibah karena menentang kediktatoran adalah lebih baik daripada hidup senang dalam perbudakan.

Kalau saja menyadari hal tersebut, mereka akan mempermudah urusan haji bagi rakyat mereka hingga ibadah haji berlangsung lebih baik lagi daripada sekarang. Mereka sendiri akan pergi haji dan duduk bersama pemimpin-pemimpin negara lain untuk membicarakan jalan keluar bagi persoalan-persoalan mereka. Bila hal ini terwujud, niscaya Islam akan menjadi satu kekuatan dunia yang tak tertandingi.

Selain haji, hari raya Id merupakan  satu Momentum lain bagi Muslim untuk berkumpul dan bersatu. Begitu pula shalat Jumat yang di dalamnya dibicarakan berbagai masalah terkini. Alhamdulillah, di Iran, hal ini sudah berjalan cukup baik dan semoga akan lebih baik lagi daripada yang ada sekarang.

Masih ada lagi shalat-shalat jamaah di masjid yang memungkinkan umat Islam untuk berkumpul. Namun, harus diusahakan supaya masjid tidak hanya dipenuhi oleh orang-orang tua tetapi anak-anak muda juga harus berkumpul di sana. Kalau menyadari betapa banyak masalah politik yang bisa diselesaikan dalam perkumpulan-perkumpulan seperti ini, kita tidak akan lagi santai seperti sekarang dan membiarkan masjid-masjid itu hanya disesaki orang-orang tua. Bulan-bulan Muharram, Shafar, dan Ramadhan menyediakan banyak berkah yang tak terhitung. Berkumpulnya rakyat untuk mengenang Imam Husain as tetap memiliki berkahnya yang khas meskipun masalah-masalah politik tidak diungkapkan di dalamnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed