by

Berkah Dan Pesan Kebangkitan Imam Husain, Oleh : Imam Khomeini (4)

UPAYA-UPAYA MELEMAHKAN SYIAR ISLAM

Pada zaman ini, kita membutuhkan majlis-majlis tersebut lebih daripada masa-masa sebelumnya. Jangan sampai kita dihasut oleh sebagian orang untuk mengeluarkan uang kita demi membiayai perang atau korban perang. Memang benar bahwa kita harus memperhatikan para korban perang dan menghargai jerih payah mereka selama perang. Namun, bukan berarti kita harus mengkonsentrasikan diri kita pada hal itu saja dan melalaikan yang lain. Sekali lagi, saya menekankan bahwa sekarang kita memerlukan majlis-majlis takziah lebih daripada dahulu. Pawai-pawai Asyura ini telah memiliki warna politik dan hal ini memang benar adanya.

Ketika jutaan orang berkumpul untuk memperingati kesyahidan Imam Husain as dan di sana para penceramah membicarakan isu-isu terkini, inilah Revolusi. Maka itu, kita memerlukan syiar Ilahi. Sebagian orang sering mengatakan bahwa karena sudah sukses dalam Revolusi Islam (Iran), maka kita tidak lagi memerlukan peringatan Asyura. Ini sama saja dengan menyatakan bahwa kita tidak lagi memerlukan shalat setelah menang dalam Revolusi Islam (Iran). Justru kita melakukan revolusi untuk menegakkan shalat dan melakukan syiar-syiar Islam lainnya, bukan untuk meruntuhkannya.

Menjaga Asyura tetap hidup adalah tugas politik dan ibadah. Berkabung untuk orang yang telah berkorban demi Islam berperan besar dalam memajukan revolusi. Kita sangat berhutang budi pada majlis-majlis duka ini serta takbir-takbir yang diserukan di sana. Kita tidak berkumpul dalam majlis-majlis ini untuk sekadar menangis. Tangisan kita adalah tangisan politik. Air mata kita akan menghancurkan segala hal yang membendung laju Islam. Dahulu pun mereka berkumpul meratapi kekalahan Iran dari Islam. Kalau memang tangisan itu bermasalah, kenapa mereka menangisi kegagalan upaya mereka untuk memenangkan Majusi atas Islam?

Sebagian orang tidak mengingingkan kita menangisi seorang syahid Islam. Mereka mempermasalahkan tangisan kita. Mereka tidak ingin kita menghidupkan sebuah peristiwa yang menghancurkan penguasa di zaman itu. Mereka tidak menghendaki kita menjadi seperti para syahid Karbala. Mereka dikerahkan untuk mempropagandakan hal ini dan sayangnya, sebagian orang malah tertipu oleh mereka. Para pemuda hendaknya sadar bahwa semua propaganda anti-syiar Islam berasal dari musuh-musuh Islam dan disebarkan oleh antek-antek mereka. Rahasia apa yang ada di balik serban dan majlis duka ini hingga mereka berambisi melenyapkannya? Sesungguhnya majlis-majlis ini adalah pemersatu umat. Mereka takut terhadap para penceramah yang berbicara di tengah orang-orang dan mampu menyatukan rakyat untuk menentang penjajahan. Inilah yang mereka takutkan. Sekadar kita hadir untuk menangis tidak akan membuat mereka khawatir selama minyak kita dapat mereka ambil dan kita diam saja. Yang mereka khawatirkan ialah dampak politik majlis-majlis ini.

Mereka yang percaya diri sebagai cendekiawan jangan berpikir bahwa majlis-majlis semacam ini sudah tidak lagi berarti. Sebaliknya, tangisan-tangisan inilah yang melancarkan kerja kita dan menyadarkan rakyat. Kita harus mengambil pelajaran dari pelarangan Ridha Khan terhadap penyelenggaraan majlis Asyura. Ia melarang majlis Asyura karena majlis ini bertentangan dengan kepentingannya. Ia menentang ulama karena mereka membahayakannya. Begitu pula halnya ketika ia menentang universitas. Ia baru menyetujui universitas yang seiring dengan kamauannya dan para alumnusnya yang bekerja bagi kepentingannya.

Di zaman ini, kekuatan besar dunia menentang semua label Islam bangsa kita. Propaganda mereka lebih berbahaya daripada ancaman perang mereka. Di sini, kita harus serius menghadapinya. Bangsa yang siap untuk syahid dan memandangnya sebagai sebuah kemuliaan tidak pernah merasa takut untuk berperang. Lagi pula ketika perang terjadi rakyat kita akan lebih sadar dan bergairah. Kalian lihat, perang ini  (perang Iran-Irak –penerj) kembali menghidupkan Iran dan membakar kembali semangat revolusi. Meskipun mulanya kita berpikir bahwa perang ini merugikan, ia ternyata juga membawa sisi positif. Memang, kita banyak kehilangan anak-anak muda kita dalam perang ini. Namun, demi tegaknya Islam, tidak ada yang perlu ditakuti. Yang harus dikhawatirkan adalah propaganda-propaganda mereka untuk menutup majlis-majlis Asyura. Mereka menghimbau kita untuk lebih memperhatikan para korban perang dan tidak menghamburkan uang demi Asyura. Bagaimana bisa si Fulan mengatakan hal ini sedangkan ia sendiri mengetahui berkah politik dari majlis-majlis itu? Tentunya, kita semua bertanggungjawab mengurus para korban perang ini dan mencukupi kebutuhan mereka.

Mengurus para korban perang bukan berarti kita melupakan Asyura. Kedua-duanya harus kita lakukan. Acara-acara Asyura harus tetap berjalan. Rakyat harus bersungguh-sungguh menjaga syiar-syiar Islam, khususnya Asyura ini. Makna sabda Rasululah saw, “Aku bagian dari Husain,” adalah bahwa agamaku tetap hidup karenanya (Husain). Semua karunia ini berasal dari kesyahidan al-Husain as. Bani Umayah bertekad untuk melenyapkan Islam dari muka bumi dan mendirikan kerajaan Arab. Dengan syahidnya Imam Husain as, umat Islam sadar bahwa permasalahannya bukan antara Arab dan non-Arab tetapi antara Islam dan kekufuran.

Oleh karena itu, jagalah acara-acara Asyura ini baik-baik. Sesungguhnya acara seperti ini menghidupkan Islam dalam hati kalian. Jagalah shalat jamaah, shalat Jumat, hari-hari besar Islam, dan syiar-syiar di dalamnya. Ulama dan para penceramah harus membimbing rakyat dalam masalah-masalah sosial-politik Islam dan jangan melupakan majlis-majlis takziah ini karena dengannya kita akan tetap hidup.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed