by

Keniscayaan Cahaya Ahlulbait

Saat Anda berjalan menembus malam di sebuah jalan yang sulit dilalui karena penuh dengan lubang dan retakan di sana sini,  saat itu Anda akan sangat membutuhkan pancaran cahaya bulan untuk menerangi jalan yang Anda lalui, sekaligus menjaga Anda dari tergelincir ke dalam lubang-lubang itu. Jika sinar bulan telah membuai mata Anda dengan keindahan dan keanggunannya, terutama saat purnama tiba, maka pandangan Anda akan tertuju pada keindahannya hingga Anda akan berada dalam buaian khayalan yang memberikan kenikmatan jiwa yang amat dalam.

Namun, keindahan bulan itu seringkali membuat Anda lupa daratan hingga tidak menyadari adanya lubang menganga di depan mata. Akibatnya, Anda tergelincir dan mengalami kerugian. Seperti itulah sírah (perjalanan hidup) Ahlul Bait as yang tidak ubahnya bulan purnama yang bersinar indah dan menerangi jalan kehidupan yang kita lalui. Namun, masih banyak di antara kita yang terbuai oleh keanggunan dan keindahan sirah nan suci itu dan hanya melahirkan konsep dan emosi. Mereka tenggelam dalam kekaguman akan sosok para imam pembawa hidayah itu dan emosi mereka tercurah dalam kekaguman itu. Pada saat yang sama mereka lupa bahwa kekaguman itu harus diwujudkan dengan cara meneladani perjalanan hidup mereka. Hal ini yang menyebabkan mereka kehilangan kesempatan untuk meraih anugerah hidayah yang menjadi bekal dalam menghadapi tantangan hidup dan menghindari bencana.

Tidak diragukan lagi bahwa kemurnian dan keindahan yang mewarnai perjalanan hidup Ahlul Bait as selalu melahirkan kekaguman dan kerinduan. Namun semua itu tidak boleh menghilangkan kesempatan untuk meneladani perjalanan tersebut dan meraih nikmat hidayah. Lebilh dari itu, kerinduan dan kekaguman itu harus melahirkan semangat dalam diri kita untuk meraih petunjuk mereka agar sinarnya dapat menerangi jalan kita.

Dalam riwayat Ahlul Bait as, kita mendapati penegasan bahwa berhubungan dengan mereka haruslah dibangun berdasarkan kaidah ittiba’ (mengikuti) dan iqtidä (meneladani), bukan hanya luapan emosi semata.

Sejatinya, jika pandangan kita terhadap Ahlul Bait as adalah seperti pandangan terhadap sebuah lukisan indah yang tergantung di dinding zaman yang kita kagumi keindahannya yang menakjubkan, atau bagai sepotong barang langka tak ternilai harganya yang dipamerkan di museum-museum sejarah tanpa menciptakan refleksi dan kesan dalam kehidupan kita, maka hal itu merupakan sikap tajahul (tidak peduli) terhadap tugas dan peran terpenting Ahlul Bait as, yaitu sebagai pemimpin dan pembawa petunjuk bagi umat manusia.

Sungguh, Ahlul Bait as adalah manusia-manusia yang layak mendapatkan pujian dan penghargaan karena mereka adalah pemilik keutamaan dan kemuliaan. Bahkan Allah telah memuji mereka sebagaimana termaktub dalam kitab-Nya, demikian juga melalui lisan Nabi-Nya yang jujur lagi dapat dipercaya. Hal yang akan menggembirakan hati Ahlul Bait as adalah apabila kita berusaha mengenal ajaran mereka serta berjuang mengikuti jejak mereka, bukan lalai dalam buaian keagungan dan pujian atas mereka.

Demikian halnya dengan perjuangan Ahlul Bait dalam menghadapi kezaliman para pendengki dan pendosa, yang bukan merupakan tindakan asal-asalan. Pengorbanan itu dilakukan demi mewujudkan tujuan mereka yang mulia yaitu mengagungkan kalimat Allah Ta’ala, menebarkan keadilan, dan menegakkan kebenaran.

Ahlul Bait bukanlah manusia-manusia egois yang mengejar pangkat dan kedudukan. Mereka juga bukan sekelompok orang yang mengejar maslahat dan kepentingan golongan. Ahlul Bait as adalah para pengemban risalah suci dan pemilik keagungan akhlak, yang mengabdikan hidupnya demi melayani misi risalah dan nilai-nilai keagungan.

Berbagai kondisi sosial telah mereka lalui, demikian juga dengan pergolakan politik mereka hadapi sepanjang dua setengah abad. Semua itu telah menuntut berbagai variasi peran dan sikap dalam sirah (perjalanan hidup) mereka dengan tetap konsisten pada arah dan tujuan yang mendasari perjuangan. Maslahat agama dan umat selalu menjadi prioritas dan tujuan utama yang pasti bagi Ahlul Bait as.

Dalam tataran praktis, gerakan mereka selalu sejalan dengan situasi dan kondisi sosial masyarakat pada masanya. Antara lain, bahwa berpegang teguh pada satu manhaj dan konsep dasar yang dikuti dengan sikap stagnan bertentangan dengan logika dan tradisi sirah Ahlul Bait as. Selain itu, sikap tersebut juga akan membahayakan manhaj itu sendiri karena menghilangkan kesempatan untuk berkhidmat secara maksimal kepada masyarakat.

Dari sini, kita bisa memahami sikap-sikap yang beragam dan peran-peran yang berbeda dari para Imam Ahlul Bait as dalam menghadapi situasi politik dan gejala sosial pada zamannya. Oleh karena itu, kita melihat di antara mereka ada yang hidup di dalam dan berdamai dengan kekuasaan, ada yang mengasingkan diri dari kekuasan, ada yang melakukan konfrontasi dan revolusi terhadap penguasa, ada yang menduduki jabatan di wilayah tertentu, dan ada pula yang terlunta dalam penjara dan didera berbagai siksa.

Kita juga melihat di antara mereka ada yang menggerakkan aktivitas keilmuan, ada yang membimbing untuk meningkatkan keimanan dan spiritualitas, dan ada pula yang memusatkan perhatian pada pemenuhan hajat fakir miskin. Semua itu merupakan tradisi yang menonjol dalam perjalanan hidup mereka sesuai dengan zaman yang mereka lalui.

Itulah pentingnya kita membaca sirah Ahlul Bait secara tematis namun komprehensif sehingga tidak mudah terpengaruh oleh informasi-informasi yang tidak jelas dan pemahaman yang keliru.

Bermacam-macam peran dan sikap Ahlul Bait as yang kita lihat, baik yang terkait dengan masalah politik maupun sosial yang mengiringi perjalanan mereka, merupakan fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri. Berlaku atau tidaknya suatu peran atau posisi pada masa tertentu akan memunculkan praktik-praktik yang berbeda. Variasi itu muncul dari hasil identifikasi kasus demi menentukan sıkap yang terbaik dan paling cocok. Jadi, hasil dari identifikasi kasus akan berpengaruh terhadap pemilihan sikap dalam menghadapinya.

Dengan demikian, semua pihak yang mempelajari perjalanan Ahlul Bait as, atau berbagai warisan agama secara umum, harus memahami betul bahwa keberhasilan dalam menemukan argumen yang menguatkan pendapat bukanlah suatu pembenaran untuk merendahkan tindakan pihak lain yang berpijak pada landasan prinsip yang sama. Hal itu karena kadang-kadang perbedaan tersebut hanya bersifat parsial dan kondisional.

Jadi, perbedaan praktik perjuangan Ahlul Bait tidak berhubungan dengan revolusi perlawanan ataupun jalan damai. Kedua bentuk perjuangan itu memiliki landasannya dalam agama dan merupakan bagian dari tradisi Ahlul Bait as. Perbedaan yang ada semata-mata muncul karena perbedaan dalam ijtihad untuk mengambil sikap yang cocok ketika menghadapi suatu kondisi tertentu.

Dalam perjalanannya, para Imam Ahlul Bait as sendiri sering menerima kritik dari orang-orang yang hidup sezaman dengan sikap-sikap politik vang mereka ambil. Namun, mereka menjawab semua kritik itu dan menjelaskan bahwa identifikasi atas suatu kondisi menuntut kebijaksanaan dalam mengambil sikap.

Imam Hasan as telah menjawab kritik orang-orang yang mempertanyakan keputusan damai yang dipilihnya saat berhadapan dengan Mu’awiyah. Imam Husein telah menjawab nasihat orang-orang yang melarangnya pergi ke Irak untuk menghadapi kekuasaan Banı Umayyah. Imam Ja’far Shadiq as telah menjawab kritik dari orang-orang yang mengajaknya bergabung dalam gerakan-gerakan revolusi melawan kekuasaan dan Imam menolaknya.

Dalam menjawab kritikan itu, mereka menjelaskan bahwa beragamnya sikap mereka tidak menyalahi prinsip jihad, kaidah penentangan terhadap kezaliman, ataupun kepentingan menjaga maslahat umum. Semua itu semata-mata karena tuntutan situasi dan kondisi yang mendorong mereka untuk mengambil sikap-sikap yang bijaksana.

Salah satu contoh yang jelas adalah seperti yang terlihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Kulaini dalam kitab Al-Kafi, juz 5, halaman 19: Dari Abdul Malik bin Umar berkata, Saya berkata kepada Abu Abdillah (Imam Ja’far Shadiq as) bahwa orang-orang Zaidiyah berkata, “Tidak ada perbedaan antara kami dengan Ja’far kecuali dalam sikapnya yang tidak mewajibkan jihad.” “Aku tidak mewajibkan jihad?” kata Imam Ja’far. Lalu beliau menjelaskan, “Aku melihat bahwa jihad itu penting, namun aku tidak ingin meninggalkan ilmu dan menuju ke arah kebodohan sebagaimana yang mereka inginkan.”

Demikianlah batasan yang dibuat oleh Imam as, yang tidak berbeda dengan selainnya dalam hal prinsip. Perbedaan hanya terletak pada pengambilan sikap atas kasus tertentu karena beliau lebih mengetahui keadaannya, sementara mereka tidak mengetahuinya. (Hasan bin Musa ash-Shafar)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed