by

Pengakuan Mantan Dosen Universitas Ummul Quro Mekah Tentang Cinta Pada Ahlul Bait

Dr. Muhammad Bayoumi Mehran, salah seorang guru besar sejarah Mesir dan Timur Dekat Kuno di Universitas Alexandria di Mesir yang juga seorang pakar riset serta anggota beberapa lembaga dan komisi ilmiah. Beliau pernah mengajar di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud di Riyadh antara tahun 1973-1977 yang kemudian ditarik ke Universitas Ummul Qura di kota Mekah antara tahun 1983-1987. Beliau menukil sebuah kisah menarik dalam bukunya Al-Imamah wa Ahlul Bait :

Telah diriwayatkan (Ibnu Syahrasyub) dalam Al-Manaqib bahwa Imam Abu Hanifah datang untuk menghadiri majelis ceramah Imam Ja’far Shadiq. Imam Shadiq menemuinya dengan menyandarkan tubuh pada sebuah tongkat. Melihat hal itu, Abu Hanifah berkata, “Waha putra Rasulullah, engkau belum terlalu tua hingga membutuhkan tongkat sebagai sandaran tubuhmu!” Imam menjawab, “Memang benar, tapi ini adalah tongkat Rasulullah saw, dan aku ingin mengambil berkahnya.”

Mendengar hal itu, Abu Hanifah melompat dan berkata, “Izinkan aku menciumnya, wahai putra Rasulullah!”

Lalu Abu Abdillah Imam Ja’far Shadiq as menyingkapkan lengan bajunya sambil berkata, “Sesungguhnya engkau telah mengetahui bahwa kulitku adalah kulit Rasulullah, demikian juga dengan rambutku, tapi mengapa engkau tidak menciumnya dan lebih memilih mencium tongkatnya?” (Muhammad Bayoumi Mehran, Al-Imamah wa Ahlul Bait, juz 1 halaman  25, tahun 1995, Dar an-Nahdhah al-‘Arabiya, Beirut.)

Dari generasi ke generasi, telah dinukil banyak hadis Rasul saw yang mengingatkan dan menegaskan keberadaan Ahlul Bait as sebagai wujud yang mewakili kepribadian Rasulullah SAW.

Rasulullah saw pernah bersabda tentang putrinya, Fatimah Zahra, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa yang melukai hatinya, ia telah melukai hatiku.” (Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Kitab Shahih al-Bukhari, bab Manaqib Fatimah, hadis no. 3767 terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut.) Telah termaktub dalam kitab Lisan al-Arab bahwa yang  dimaksud dengan “Fatimah adalah bagian dariku…” adalah sebagaimana potongan yang diambil dari segumpal daging. (Ibnu al-Manzhur, Lisan al-‘Arab, juz 1 halaman 222, tahun 1988, penerbit Dar al-Jail dan Dar Lisan al-‘Arab)

Hal itu senada dengan sabda Rasul kepada Ali, “Engkau dariku dan aku darimu.” (Shahih al-Bukhari, bab Manaqib Ali bin Abi Thalib, halaman 466)

Demikian juga dengan riwayat Ibnu Hanbal di mana Rasul menjelaskan kedudukan AL-Husain, “Husain bagian dariku dan aku bagian darinya. Barangsiapa yang mencintai Husain berarti ia mencintai Allah.” (Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, hadis no. 17704, cetakan ke-1, tahun 1998, penerbit: ‘Alam al-Kutub, Beirut.)

Hadis-hadis di atas mengisyaratkan hubungan alamiah antara Ahlul Bait as dan Rasulullah saw yang menunjukkan betapa mereka adalah  kelanjutan Rasullah saw.

Atas dasar inilah maka kaum muslim memandang Ahlul Bait as dengan kecintaan khusus dan penghargaan yang tiada banding. Sampai-sampai Bukhari telah meriwayatkan hadis dari khalifah ke-1, Abu Bakar, yang meminta maaf kepada Fatimah dalam kasus perampasan tanah Fadak hingga Fatimah marah karenanya. Dalam hadis tersebut Abu Bakar berkata, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya menjalin hubungan dengan keluarga Rasulullah adalah lebih baik bagiku daripada hubungan dengan keluargaku sendiri.” (Shahih al-Bukhari, bab Ghazwat al-Haibar, hadis no. 4241)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed