by

Ga Jaman Lagi Suka Mengkafirkan Apalagi Orang Itu Sudah Bersyahadat

Beberapa tahun yang lalu pernah bermunculan kelompok yang mengkafirkan kelompok lain selain kelompoknya sendiri. Mereka hanya menerima cara ber-Islam sesuai dengan pemahamannya saja. Sebenarnya, orang-orang dari kelompok-kelompok tersebut adalah itu-itu juga. Merekalah yang disebut dengan istilah “Takfiri”.
Lalu bagaimanakah hukum mengkafirkan orang-orang yang mempercayai rukun iman dan mengerjakan rukun Islam menurut ajaran as-Sunnah?
Di dalam ajaran Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, kaum muslimin harus berhati-hati dari sikap mengkafirkan orang-orang Islam. Selain bisa merusak kerukunan dan persatuan Islam, dampaknya bagi pelaku juga sangat besar. Ini ada beberapa hadis mengenai hal itu seperti berikut:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dan Abdullah bin Numair keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut.” (Sahih Muslim hadis no 91.) 
Hadis ini diakui kesahihannya oleh ahlul hadits.
*****
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ غَزْوَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ مُسْلِمٍ أَكْفَرَ رَجُلًا مُسْلِمًا فَإِنْ كَانَ كَافِرًا وَإِلَّا كَانَ هُوَ الْكَافِرُ
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Fudhail bin Ghazwan dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim yang mengkafirkan saudaranya sesama muslim, jika memang benar maka ia kafir. Tetapi jika tidak benar, maka kekafiran itu akan kembali kepada dirinya (orang yang menuduh).” Sunan Abu Daud hadis no. 4067.
Syaikh Nashiruddin Albani mensahihkan hadis ini.
*****
حَدَّثَنَا يَعْلَى بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا فُضَيْلٌ يَعْنِي ابْنَ غَزْوَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ كَفَّرَ رَجُلًا فَإِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا فَقَدْ بَاءَ بِالْكُفْرِ
Telah menceritakan kepada kami Ya’la bin Ubaid telah menceritakan kepada kami Fudlail -yakni Ibnu Ghazwan- dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lelaki mana saja yang mengkafirkan orang lain, maka ia akan kafir jika memang benar adanya. Namun jika tidak benar, maka ucapan itu akan kembali kepada orang yang mengatakannya.” Musnad Imam Ahmad hadis no. 4515
*****
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي نُشْبَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ مِنْ أَصْلِ الْإِيمَانِ الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نُكَفِّرُهُ بِذَنْبٍ وَلَا نُخْرِجُهُ مِنْ الْإِسْلَامِ بِعَمَلٍ وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللَّهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ لَا يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ وَلَا عَدْلُ عَادِلٍ وَالْإِيمَانُ بِالْأَقْدَارِ
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Burqan, dari Yazid bin Abu Nusybah, dari Anas bin Malik, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tiga perkara yang merupakan dasar keimanan, yaitu: menahan diri dari orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH, dan kita tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, serta tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan. Jihad tetap berjalan sejak Allah mengutusku hingga umatku yang terakhir memerangi Dajjal, hal itu tidaklah digugurkan oleh kelaliman orang yang lalim, serta keadilan orang yang adil, dan beriman kepada taqdir.” Sunan Abu Daud hadis no. 2170.
Perhatikanlah gaesss…., Betapa pentingnya kita berhati-hati dalam menjatuhkan vonis kafir kepada seseorang yang mengucapkan kalimat tauhid, bahkan sekiranya mereka pelaku maksiat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada sebuah perang, salah seorang sahabat membunuh musuh yang sudah menyerah dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Kejadian ini kemudian disampaikan kepada Rasulullah Saw sehingga beliau menampakkan wajahnya yang tidak ridha dengan kejadian itu. Sahabat itu mengatakan, “Ya Rasulullah, musuh itu bersyahadat hanya karena menghindari tebasan pedangku”. Rasulullah Saw kemudian menjawab, “Sudahkah engkau membelah dadanya?” (lihat kisah lengkapnya di Sahih Muslim hadis no. 149)
حَدَّثَنَا هَاشِمٌ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ عَنْ بِشْرِ بْنِ عَاصِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مَالِكٍ اللَّيْثِيُّ قَالَ
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ إِذْ قَالَ الْقَائِلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا قَالَ الَّذِي قَالَ إِلَّا تَعَوُّذًا مِنْ الْقَتْلِ فَذَكَرَ قِصَّتَهُ فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُعْرَفُ الْمَسَاءَةُ فِي وَجْهِهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَبَى عَلَيَّ مَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Telah menceritakan kepada kami Hisyam berkata; telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Humaid bin Hilal dari Bisyr bin ‘Ashim berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Uqbah bin Malik Al Laitsi berkata; tatkala Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam sedang berkhutbah, ada seorang yang berkata; “Wahai Rasulullah, demi Allah, bagaimana jika ada orang yang mengucapkan syahadat hanya sebagai alat untuk menghindari pembunuhan?” lalu dia menyebutkan kisahnya. Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mendatanginya dan kelihatan muram pada wajahnya lalu bersabda: “Allah Azzawajalla melalui perantaraanku menolak siapa saja yang membunuh seorang mukmin,” beliau mengatakannya sebanyak tiga kaliMusnad Imam Ahmad hadis no. 16394

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed