by

Jika Ada Nabi Dari Kalangan Perempuan, Dialah Sayyidah Fathimah Zahra, Posisinya Seperti Rasulullah SAW.

Sudah populer di kalangan kita, ucapan sang Khatamul Anbiya, Muhammad saw tentang sosok wanita yang memainkan peranan penting dalam keberlangsungan risalah, yaitu “Fathimah adalah wanita surga termulia.” (Ibrahim Amini, Bonuye Nemunehe Islom, 1369, hal. 95. ). Di lain waktu, Rasulullah saw bersabda, “Hai Ali, Fathimah adalah bagian dari diriku, cahaya mataku dan buah hatiku. Siapa yang membuatnya marah, berarti membuatku marah dan siapa yang membuatnya gembira, berarti membuatku gembira. (Ibrahim Amini, Bonuye Nemunehe Islom, 1369, hal. 99.)

Ya, Fathimah Zahra as adalah sosok wanita paling mulia yang pernah hidup di muka bumi. Ia lahir dari rumah suci kenabian dan tumbuh besar dalam lingkaran wahyu. Semenjak kecil, ia tidak gemar dengan permainan anak-anak, karena waktunya lebih banyak dimanfaatkan untuk berzikir kepada Allah swt. Ketika ia menyaksikan perlakuan buruk kaum musyrik Mekkah terhadap ayah tercintanya, ia berusaha menghibur untuk meringankan beban sang ayah dengan bahasa yang polos, lugu, sementara pipinya bercucuran air mata. (Ghulam Ali Musawi Sistani, Partu-ye az Zendegone do Bonuye Buzurge Islam, 1377, hal. 57-61)

Babak-babak kehidupan Fathimah Zahra as tidak pernah lepas dari episode penting perjalanan Islam. Ketika Rasulullah saw bermubahalah dengan para pendeta Najran yang tidak mau mengakui kebenaran Islam, beliau menyertakan Fathimah as sebagai wakil dari Ahlulbaitnya untuk bermubahalah, bukan istri-istrinya.

Fathimah Zahra as telah sampai kepada maqam ‘ubudiyah’ yang tinggi yang hanya bisa diraih oleh Rasulullah saw dan Imam Ali as. Ketika malam tiba, ia menenggelamkan diri dalam munajat kepada Allah swt di mihrabnya hingga menjelang fajar sehingga kakinya menjadi bengkak. (Abdul-Husain Asghari, Simoye Fotimeh dar Quran va Etrat, hal. 11). Dialah wanita yang beruntung karena memperoleh kehormatan dari Allah untuk disucikan seperti yang terekam di dalam Ayat Thathhir.

Imam Ali as sendiri, sang suami, ketika ditanya Rasulullah saw tentang Fathimah Zahra as, menggambarkannya sebagai teman terbaik dalam ketaatan kepada Allah swt. Imam Khomeini ra berkata, “Seandainya Fathimah as itu laki-laki, maka dia akan menjadi nabi dan seandainya dia laki-laki, dia akan berada di posisi Rasulullah saw.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed