by

Setelah Rasulullah SAW, Adakah Orang Yang Lebih Jujur Dari Fathimah?

Secara bahasa, hadis berarti baru. Jika seseorang menceritakan kembali keadaan yang telah lalu, maka bagi pendengar kejadian itu seolah-olah baru terjadi. Hadis memiliki peranan yang penting karena hadis memberikan sumbangan untuk kemajuan hidup manusia. Hadis juga merupakan perantara bagi penyampaian ide, pikiran, pengalaman dan ilmu masyarkat zaman dahulu kepada masyarakat di saat ini.

Namun secara istilah Islam, ucapan, kata-kata dan taqrir (diamnya) para manusia suci as. Dalam sejarah Islam, penulisan hadis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah saw. Imam Ali as adalah orang pertama yang menulis hadis, langsung  dari apa yang didiktekan oleh Rasulullah saw. Metode penulisan ini berasal dari Rasulullah saw dan terus berlangsung sampai ke Imam Mahdi *Semoga Allah mempercepat kemunculannya*.

Beberapa sahabat juga ada yang menulis hadis, misalnya Abu Rafi, yang menulis bab khusus tentang wudhu. Para Imam suci as pun memberikan perhatian khusus tentang penulisan hadis. Imam Ja’far Shadiq as yang aktif mengajar, berkata kepada murid-muidnya, “Tulislah dan sampaikan lagi kepada yang lainnya. Suatu hari nanti, tulisan itu akan menjadi bahasan utama dan rujukan terhadap penafsiran al-Quran serta hukum-hukum”. (Muhammad Yazdi, Siri dar Tarikhe Hadist, 1396, hal. 10-17)

Hadis dan al-Quran ibarat dua sisi mata uang, saling berhubungan dan terkait. Al-Quran yang merupakan kitab suci abadi hanya memuat hal-hal ang bersifat umum. Untuk mengetahui maksud al-Quran secara terperinci, hendaklah merujuk kepada penjelasan dari orang yang kepadanya diturunkan al-Quran, yaitu Rasulullah saw. Rasulullah saw sendiri pernah bersabda, “Sepeninggalku, umat harus mengikuti al-Quran dan itrahku. “ Rasulullah saw menempatkan itrahnya sebagai padanan atau penjelas al-Quran sendiri.

Sementara itu, hadis juga tidak dapat berdiri sendiri tanpa al-Quran. Kendati hadis ditulis langsung secara cermat, tidak dapat dipungkiri, ketika hadis disampaikan kembali terkadang si pendengar salah memahami makna dan maksud si pembicara. Selain itu, ada juga orang-orang yang menjual agamanya dengan harga yang murah dengan membuat hadis-hadis palsu. Oleh karena itu, kandungan hadis harus diperiksa, apakah sesuai dengan al-Quran atau tidak. Apalagi tidak sesuai maka hadis itu tidak dapat diterima. Para imam suci as selalu menekankan bahwa hadis yang tidak sesuai dengan al-Quran, bukanlah hadis dari mereka. (Muhammad Yazdi, Siri dar Tarikhe Hadist, 1396, hal. 26-28).

Kejujuran perawi hadis merupakan faktor penting untuk mengetahui kedudukan hadis yang disampaikan agar selanjutnya kita dapat mengambil sikap untuk menerima atau menolak hadis yang disampaikannya.

Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Fathimah Zahra as dalam kurun waktu hidupnya yang relatif singkat itu, ternyata cukup banyak. Hadis-hadis tersebut ada yang didengar langsung dari Rasulullah saw dan ada pula yang berasal dari tulisan yang diperintahkan Rasulllah untuk menuliskannya (Ali Akbar Shaduqi, Fatimeh Zahra as, terjemah, 1364, hal. 21).

Untuk menilai kedudukan hadis Fathimah as, maka kita juga harus meneliti tentang kejujurannya, sehingga kita dapat menilai apakah hadis tersebut dapat dijadikan sebagai penjelas al-Quran atau tidak.

Aisyah pernah berkata, “Setelah Rasulullah, aku tidak pernah melihat orang yang lebih jujur dari Fatimah.”(Ibrahim Amini, opcit, hal. 96)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed