by

Kedudukan Para Imam bagi Syiah

Imam-imam Syiah adalah para pemimpin yang terdiri dari dua belas orang dan berasal dari keluarga Rasulullah saw. Dalam pandangan Syiah, para Imam ini adalah para khalifah setelah Nabi Muhammad saw dan pemimpin-pemimpin umat Islam. Imam Pertama adalah Imam Ali as dan para Imam setelahnya adalah anak-anak dan cucu-cucu dari pasangan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah sa.

Imam-imam ini diangkat oleh Allah swt dan memiliki ilmu Ilahi, maqam ishmah (maksum) dan wewenang untuk memberi syafaat. Umat Islam dengan ber-tawassul (berperantara) kepada mereka dapat ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah swt. Para Imam as di samping berposisi sebagai pusat rujukan ilmu, mereka juga adalah pemimpin politik umat Islam. Terdapat banyak ayat yang membahas tentang masalah kepemimpinan (imamah) para Imam tanpa menyebut langsung nama mereka. Ayat-ayat seperti Ayat Ulil Amri, Ayat Tathir, ayat wilāyah, Ayat Ikmāl, Ayat Tabligh dan Ayat Shadiqin adalah beberapa contoh ayat yang menyinggung tentang kepemimpinan mereka.

Dalam beberapa riwayat dari Rasululah saw disebutkan tentang ciri-ciri, nama-nama dan jumlah para Imam as. Di antara hadis yang paling terkenal yang dapat disebutkan di sini adalah Hadis Tsaqalain, Hadis Manzilah, Hadis Safinah, Hadis Yaumuddar, Hadis Madinatul ‘Ilmi, hadis thair masywi, hadis rayat, Hadis Kisa’, hadis Jabir, dan hadis dua belas khalifah. Berdasarkan riwayat-riwayat ini, para imam seluruhnya berasal dari Quraisy dan Ahlulbait Nabi Muhammad saw dan Imam Mahdi as yang dijanjikan adalah Imam Pamungkas dari silsilah imamah dalam mazhab ini.

Terdapat juga banyak riwayat dari Rasulullah saw terkait dengan imamah Imam Ali as sebagai Imam yang Pertama dalam pelbagai literatur. Demikian juga, terdapat beberapa riwayat dari Nabi Muhammad saw dan Imam Ali as yang menegaskan tentang keimamahan Imam yang Kedua. Kemudian setelah itu, setiap Imam, memperkenalkan Imam setelahnya sesuai dengan nash. Sesuai dengan kandungan nash-nash ini, para Imam dan khalifah setelah Nabi Muhammad saw terdapat dua belas orang. [1]

Ajaran imamah para Imam Duabelas merupakan salah satu fondasi keyakinan Syiah Dua Belas Imam. Keyakinan ini didukung oleh banyak nash dari Rasulullah saw dan para Imam as yang dapat dijumpai dalam beberapa literatur. Para ahli tafsir dan teolog Syiah meyakini bahwa dalam Alquran juga disinggung tentang masalah imamah para Imam. [2]

Di antara ayat-ayat Al-Quran yang menyinggung masalah imamah adalah Ayat Ulil Amri, Ayat Tathir, Ayat Wilayah, Ayat Ikmal, Ayat Tabligh, dan Ayat Shadiqin. Sesuai dengan keyakinan Syiah Duabelas Imam, masa keimamahan Dua Belas Imam bermula semenjak wafatnya Nabi Muhammad saw pada tahun 11 H/632 dan ketika Imam Ali as menjadi Imam dan terus berlangsung hingga sekarang ini tanpa terputus. Semenjak tahun 260 H/873, setelah wafatnya Imam Hasan Askari as dan berpindahnya posisi imamah ke putranya, Imam Mahdi as. Pada masa Imam Mahdi as, kondisi imamah berubah dari kondisi lahir (zhuhur) menjadi kondisi ghaib dan masa panjang keimamahan Imam Mahdi as hampir dalam kondisi ghaibat. Kaum Syiah memandang para Imam itu sebagai maksum dan memiliki ilmu ladunni. [3]

Mereka meyakini bahwa dengan bertawassul kepada mereka dapat bertaqarrub kepada Allah swt. Ziarah kuburan para Imam merupakan bagian dari ajaran Syiah dan mereka menilai bahwa para Imam ini menyandang kedudukan di sisi Allah swt dan dapat memberikan syafaat kepada umatnya.[4]

Dalil-dalil Pembuktian Imamah

Dalil-dalil pembuktian imamah, senantiasa menjadi tema penting bagi penyusunan buku di kalangan Syiah Imamiyah dan ulama Syiah telah banyak menulis buku dengan pendekatan yang beragam dalam hal ini. Kitab Sulaim bin Qais al-Hilali adalah kitab yang ditulis pada akhir-akhir abad pertama Hijriyah. Kitab ini tergolong sebagai kitab yang paling kuno yang menyebutkan tentang Dua Belas Imam. [5] Sebagai contoh buku dalam masalah nash atas Dua Belas Imam as yang harus disebutkan di sini adalah tulisan-tulisan seperti Muqtadhab al-Atsar karya Ibnu ‘Ayyassy Jauhari (W. 401 H/1010), dan Kifayat al-Atsar karya Khazar Qummi (akhir-akhir abad 4 H) dimana para penulisnya berusaha mengumpulkan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan nash para imam Dua Belas dari literatur-literatur yang beragam dari kalangan Syiah dan Sunni. Di samping kitab-kitab nash-nash, yang patut disebut di sini seperti Dalāil al-Imāmah dalam masalah mukjizat para Imam, seperti Dalāil al-Imāmah yang disandarkan sebagai karya Ibnu Rustam Thabari (cetakan Najaf, 1383 H), atau karya dengan judul umum Al-Washiyah dalam memaparkan perpindahan wasiat dalam silsilah para Imam Dua Belas, seperti Itsbāt al-Washiyyah karya Mas’udi (cetakan Najaf, Kitabkhaneh Haidairiyah). [6] Para teolog melakukan pembuktian secara referensial (naqli) imamah para Imam Dua Belas as dan mengkhususukan sebuah pasal dari karya penting mereka. [7] Di antara yang terkenal dari riwayat ini yang dapat disebut pada kesempatan ini adalah seperti hadis tsaqalain, hadis Manzilah, hadis Safinah, hadis Yaum al-Dar, hadis Madinah al-‘Ilm, hadis Thair Masywi, hadis Rayat, hadis Kisa, hadis Jabir, dan hadis Dua Belas Khalifah.

Hadis 12 Khalifah

Di samping hadis-hadis Syiah, di kalangan Sunni juga terdapat hadis-hadis yang menyebutkan tentang adanya 12 imam setelah Nabi Muhammad saw. Sepanjang abad pertama Hijriyah diriwayatkan hadis-hadis dari sahabat Nabi saw dengan kandungan berisi berita gembira tentang 12 imam yang disampaikan oleh Nabi saw dalam berbagai kesempatan. Di antara hadis-hadis ini, hadis dari Jabir bin Samurah yang dinukil dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim merupakan hadis yang paling dikenal; dalam hadis ini dijelaskan bahwa para pemimpin setelah Nabi Muhammad saw ada 12 orang dan kesemuanya berasal dari Quraisy. [8] Hadis ini yang merupakan hadis terkenal di dunia Islam, pertama-tama disebutkan dalam literatur-literatur Sunni dan kemudian masuk ke dalam literatur-literatur Syiah. [9] Dalam tingkatan selanjutnya harus disebutkan sebuah hadis dari Ibnu Mas’ud yang menyatakan bahwa jumlah pemimpin terdapat 12 orang sama dengan jumlah pemimpin Bani Israel. [10] Sunni menyodorkan penafsiran lain dari 12 pemimpin ini dan memperkenalkan 12 orang lain selain para Imam Syiah. [wikishia]

Catatan Kaki

  1. Thabathabai, Syi’ah dar Islām, hlm. 197-199.
  2. Makarim Syirazi, Payām Qur’ān, jld. 9, Imāmān dar Syiah, hlm. 182 dan seterusnya.
  3. Terjemahan Persia al-Mizan, jld. 13, hlm. 274.
  4. Syaikh Thusi, al-Tibyan, jld. 1, hlm. 214.
  5. Syaikh Thusi, al-Tibyan, jld. 1, hlm. 227; silakan lihat Najjasyi, hlm. 440.
  6. Untuk contoh-contoh lainnya silakan lihat, ibid, hlm. 219, 298.
  7. Misalnya silakan lihat, Sayid Murtadha, hlm. 502-503; Allamah Hilli, hlm. 314.
  8. Silakan lihat, Bukhari, jld. 8, hlm. 127; Muslim, jld. 3, hlm. 1454-1453; Abu Daud, jld. 4, hlm.106; Tirmidzi, jld. 4, hlm 501.
  9. Bandingkan dengan Nu’mani, hlm. 62; Ibnu Babawaih, hlm. 469 dan seterusnya; Khazar, 49 dan seterusnya; Ibnu ‘Ayyasyh, hlm. 4.
  10. Silakan lihat, Ahmad bin Hanbal, jld. 1, hlm. 398, 406; Hakim, jld. 4, hlm. 501; bandingkan dengan Nu’mani, 74-75; Khazar, hlm. 23 dan seterusnya; Ibnu Ayyash, hlm 3.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed