by

Kebiasaan Nabi SAW Setelah Turunnya Ayat Penyucian (Tathir)

Anas bin Malik meriwayatkan, “Sejak turun ayat ‘Sesungguhnya Allah berkehendak… (kalimat terakhir al-Ahzab ayat 33)’ dan selama enam bulan sesudah itu, Rasulullah SAW biasa berdiri di pintu rumah Fathimah dan berkata, ‘Waktunya untuk salat, wahai Ahlulbait! Sungguh Allah berkehendak untuk menghilangkan segala yang dibenci dari kalian dan menjadikan kalian suci dan tak ternoda.” [1]

Abu Hurairah meriwayatkan, “Rasulullah selama sembilan bulan di Madinah terus menerus mendatangi pintu Ali pada setiap salat subuh, meletakkan kedua tangan beliau di kedua sisi pintu dan berseru, “Ash-shalah! Ash-shalah’ Sungguh Allah akan menghindarkan segala kekotoran dari kalian, wahai Ahlulbait Muhammad, dan akan menjadikan kalian suci dan tak ternoda.” [2]

Ibnu Abbas meriwayatkan, “Kami menyaksikan Rasulullah selama sembilan bulan mendatangi pintu rumah Ali bin Abi Thalib, pada setiap waktu salat dan berkata, ‘Assalamu‘alaikum wa Rahmatullahi Ahlulbait! Sungguh hanyalah Allah berkehendak menghilangkan segala kejahatan dari kalian, Ahlulbait, dan mensucikan kalian sesuci-
sucinya.’ Beliau melakukan hal ini tujuh kali setiap hari.” [Referensi Sunni: al-Durr al-Mantsur, oleh Hafizh Suyuthi, jilid 5, hal. 198.]

Dalam kitab Majma az-Zawa’id dan Tafsir-nya Suyuthi, telah dikutip dari Abu Said Khudri dengan variasi kalimat sebagai berikut : Selama tujuh puluh hari Nabi Suci SAW mendekati rumah Fathimah Zahra setiap pagi dari biasa berkata, “Kedamaian atas kalian wahai Ahlulbait! Waktu shalat telah tiba.” Dan setelah itu beliau biasa membaca, “Wahai Ahlulbait Nabi…” dan kemudian berkata, “Aku berperang dengan siapa yang memerangi kalian dan aku berdamai dengan siapa yang berdamai dengan kalian!” [Referensi Sunni: Tafsir al-Durr al-Mantsur, oleh Hafizh Suyuthi, jilid 5, hal.199; Majma’ az-Zama’id oleh Haitsami, jilid 9, hal. 121, 168.]

Orang-orang yang bersaksi bahwa ayat pensucian (al-Ahzab : 33) berkenaan dengan keutamaan Keluarga Suci (Ahlulbait) yaitu:

Hasan bin Ali bin Abi Thalib

Hakim dalam hubungannya dengan prestasi-prestasi Hasan dan Haitsami telah meriwayatkan bahwa Hasan telah berdiri di depan orang-orang setelah syahidnya ayahnya, Ali bin Abi Thalib, dan berkata selama pidatonya;
“Wahai orang-orang! Siapa yang mengetahui aku mengenaliku, dan siapa yang tidak mengenaliku harus mengetahui bahwa akulah Hasan bin Abi Thalib. Aku putra Nabi Suci dan Washi-nya. Akulah putra dari orang yang mengajak orang-orang menuju Allah dan memperingatkan mereka akan siksaan api neraka-Nya. Akulah putra dari ‘Suluh Yang Menerangi’ (sirajan munira). Aku adalah anggota dari keluarga yang Jibril biasa turun ke dalamnya dan naik lagi menuju langit. Aku anggota keluarga yang Allah telah mencegah segala kekotoran dari mereka dan menjadikan mereka suci. [Referensi Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 172; Majma’ azZawdid, Haitsami, jilid 9, hal. 172]

Telah diriwayatkan dalam Majma’ az-Zawa’id dan Tafsir Ibnu Katsir, bahwa; Setelah kesyahidan ayahnya dan saat menduduki kekhalifahan, suatu hari ketika Hasan sedang menjalankan shalat, seseorang menyerangnya dan
menikamkan sebilah pedang di pahanya. Dia tetap berada di tempat tidur selama beberapa bulan. Setelah sembuh, dia memberikan khutbah dan mengatakan, “Wahai orang Irak! Demi Allah, Kami adalah Amir kalian, tamu kalian dan termasuk salah seorang anggota keluarga yang Allah Yang Maha Besar telah berfirman, …Wahai Ahlulbait Nabi…!

Hasan membahas masalah ini panjang lebar sehingga orang-orang yang ada di mesjid mulai menangis. [Referensi Sunni: Majrna’ az-Zawa’id, Haitsami, jilid 9, hal. 172; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 486; Riwayat ini juga telah dilaporkan oleh Tabarani dan yang lainnya]

Ummul Mukminin, Ummu Salamah

Dalam kitab Musykil al-Atsar, Tahawi telah mengutip Umrah Hamdaniah mengatakan; “Aku pergi ke Ummu Salamah dan menyapanya. Dia bertanya, ‘Siapakah kamu?’ Aku menjawab, ‘Saya Umrah Hamdaniah.’ Umrah
kemudian melanjutkan ceritanya. Lalu aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin! Katakanlah sesuatu tentang orang yang telah terbunuh di antara kita hari ini. Sekelompok orang menyukainya dan sekelompok yang lain bermusuhan dengannya!” (yang dia maksud adalah Ali bin Abi Thalib).

Ummu Salamah berkata, ‘Apakah kamu termasuk yang menyukainya atau yang memusuhinya?’ Aku menjawab, Aku tidak menyukainya dan tidak pula memusuhinya.’ (Di sini cerita kacau, dan setelah itu) Ummu Salamah mulai bercerita tentang turunnya ayat tathhir dan pada sisi ini mengatakan, ‘Allah menurunkan ayat …Wahai Ahlulbait Nabi.. tidak ada seorangpun dalam kamar saat itu kecuali Jibril, Nabi suci, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Aku berkata, ‘Wahai Nabi Allah! Apakah aku juga termasuk Ahlulbait?’ Beliau menjawab, ‘Allah akan memberimu pahala dan membalas jasamu.’ Aku berharap bahwa beliau akan mengatakan “Ya” dan itu akan merupakan jawaban yang sangat lebih berharga dibandingkan dengan apa pun di dunia ini.” [Referensi Sunni: Musykil al-Atsar, Tahawi, jilid 1, ha1. 336]

Ahmad dalam Musnad-nya, Thabari dalam Tafsir-nya dan Tahawi dalam Musykil al-Atsar telah mengutip Syahru bin Hausyab sebagai mengatakan: Ketika berita kesyahidan Husain sampai di Madinah, saya mendengar Ummu Salamah berkata, “Mereka telah membunuh Husain. Aku sendiri telah menyaksikan bahwa Nabi Suci membentangkan mantel Khabari beliau kepada mereka dan mengatakan, ‘Ya Allah! Inilah anggota keluargaku! Singkirkanlah dari mereka segala kekotoran dan jadikanlah mereka bersih dan suci!’’ [Referensi Sunni: Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 298; Tafsir alKabir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 6; Musykil al-Atsar, oleh Tahawi, jilid l, hal. 335.]

Abdullah Ibnu Abbas

Ahmad, Nasa’i, Muhibuddin, dan Haitsami telah melaporkan (kata-kata diambil dari Musnad Ahmad) bahwa Amru bin Maimun berkata; “Aku bersama Ibnu Abbas ketika 9 orang datang kepadanya dan mengatakan, ‘Ibnu Abbas, keluarlah bersama kami, atau biarkanlah kami sendiri!’ Dia menjawab, ‘Aku akan keluar bersama kalian’ Pada hari-hari itu mata Ibnu Abbas baik-baik saja dan dia dapat melihat. Mereka terlibat dalam percakapan, dan saya tidak memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Setelah beberapa saat Ibnu Abbas kembali kepada kita. Dia kemudian mengibaskan pakaiannya seraya berkata, ‘Celakalah mereka! Mereka berbicara tentang seorang yang menikmati sepuluh keunggulan’ (Kemudian Ibnu Abbas merinci keutamaan Ali hingga dia berkata), ‘Nabi Suci mengembangkan mantel beliau di atas Ali, Hasan dan Husain dan bersabda, “Wahai Ahlulbait Nabi! Allah berkehendak untuk menjaga kalian dari segala jenis kekotoran dan cela, dan akan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” [3]

Sa’ad bin Abi Waqqash

Dalam al-Khasyaisy, Nasa’i telah mengutip Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash yang bercerita bahwa Muawiyah telah berkata kepada Sa’d bin Abi Waqqash; “Mengapa kamu menolak untuk mencaci Abu Turab?” Sa’d menjawab, “Aku tidak akan mencaci Ali karena tiga sifatnya yang aku dengar dari Nabi Suci. Jika satu saja dari ketiganya ada padaku, itu jauh lebih berharga bagiku ketimbang barang apa pun di dunia ini. Aku mendengar dari Nabi Suci ketika beliau meninggalkan Ali untuk melakukan peperangan, bersama-sama perempuan dan anak-anak sebagai wakil
beliau di Madinah. Ali bertanya, ‘Akankah anda meninggalkanku bersama-sama dengan perempuan dan anak-anak di Madinah?’ Nabi Suci menjawab, ‘Tidak sukakah kamu bahwa kedudukanmu di sisiku seperti halnya kedudukan Harun di sisi Musa?’ Pada hari penentuan Khaibar, juga, aku mendengar Nabi Suci berkata, ‘Besok, aku akan serahkan panji-panji (tentara) kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya’.

Semua orang di antara kita sangat ingin dianugerahi dan dipilih oleh pernyataan itu, dan berharap panji-panji itu
akan ada di tangan kita. Sementara itu Nabi Suci berkata, ‘Bawalah Ali ke hadapanku!’ Maka Ali datang dan matanya sedang sakit. Nabi Suci kemudian menorehkan ludah beliau ke mata Ali dan memberikan panji-panji ke tangannya.
Pada kesempatan lain, ketika ayat tathhir diturunkan, Nabi Suci memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ke dekat beliau dan berkata, ‘Ya Allah! Inilah Ahlulbaitku.” [Referensi Sunni: al-Khasyaisy, Nasa’i, hal. 4; Cerita yang hampir sama dapat dibaca pada shahih Muslim, versi ini laris, bab CMXCVI (keutamaan Ali), hal. 1284, hadis ke 5.916]

Thabari, Ibnu Katsir, Hakim dan Tahawi juga telah mengutip Sa’d bin Abi Waqqash bahwa pada saat turunnya ayat ini, Nabi Suci memanggil Ali bersama-sama dengan kedua putranya dan Fathimah dan mengerudungi mereka di bawah mantel beliau dan berkata, “Ya Allah! Inilah anggota keluargaku.” [Referensi Sunni: Tafsir al-Kabir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hat. 7; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 485; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, hal. 147; Musykil al-Atsar oleh Tahawi, jilid 1, hal. 336; jilid 2, hal. 33; Tarikh Thabari, versi Arab, jilid 5, hal. 31]

Abu Said Khudri

Diriwayatkan bahwa Abu Said Khudri berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, Ayat ini telah diturunkan tentang lima orang yaitu aku sendiri, Ali, Hasan, Husain dan Fathimah”. [Referensi Sunni: Tafsir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 5, tentang ayat 33:33; Dhakha’ir al-Uqbah, Muhibuddin Thabari, hal. 24; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, bagian l, hal. 221;11-lajma’ az-Zawa’id, Haitsami]

Watsilah bin Asqa’

Mengenai ayat 33 Surah al-Ahzab, Thabari meriwayatkan bahwa Abu Ammar mengatakan; “Aku sedang duduk-duduk dengan Watsilah bin Asqa ketika sebuah diskusi tentang Ali terjadi, dan orang-orang memakimakinya. Ketika
kejadian tersebut hampir berakhir, dia mengatakan kepadaku, ‘Tetaplah duduk hingga aku dapat bercakap-cakap denganmu tentang orang yang telah mereka maki-maki tersebut. Aku sedang bersama Nabi Suci ketika
Ali, Fathimah, Hasan dan Husain mendekati beliau dan Nabi Suci membentangkan mantel beliau ke atas mereka dan berkata, “Ya Allah! Inilah Ahlulbaitku. Hindarkanlah dari mereka setiap kekotoran dan jadikanlah mereka bersih dan suci”. [Referensi Sunni: Tafsir al-Kabir oleh Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 6; al-Mustadrak, Hakim, jilid 2, hal. 416; jilid 3, hal. 417; Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal. 107; Majma’az-Zarca’id, Haitsami, jilid 9, ha1.167; Musykil al-Atsar, Tahawi, jilid l, ha1.346; Sunan, Baihaqi, jilid 2, ha1.152]

Ibnu Atsir juga telah mengutip Syaddad bin Abdillah berkata; “Saya telah mendengar dari Watsilah bin Asqa bahwa ketika kepala Husain dibawa, salah satu orang Suriah memaki Husain dan ayahnya, maka Watsilah berdiri dan berkata, Aku bersumpah demi Allah bahwa sejak aku mendengar Nabi Suci berkata tentang mereka, “Wahai Ahlulbait Nabi! Allah bermaksud hendak mensucikanmu dari kekotoran dan cela, dan hendak mensucikanmu sesuci-sucinya,” aku selalu mencintai Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.” [Referensi Sunni: Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 20]

Ali bin Husain / Zainal Abidin as

Thabari, Ibnu Katsir dan Suyuthi dalam tafsir mereka menyatakan; Ali bin Husain telah berkata kepada seorang Suriah, Pernahkah kamu membaca ayat ini dalam Surah al-Ahzab, Wahai Ahlulbait Allah hendak menghilangkan segala kekotoran dari kamu dan akan mensucikan kamu dengan sesuci-sucinya?’ Orang Suriah tersebut berkata, ‘Apakah ayat ini berkenaan dengan kalian?’ Imam menjawab, ‘Ya, ayat itu berkenaan dengan kami”. [Referensi Sunni: Tafsir al-Kabir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 7; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 486; Tafsir al-Durr al-Mantsur, Hafizh Suyuthi, jilid 5, hal. 199]

Kharazmi telah mengutip kalimat berikut ini dalam kitabnya Maqtal: Ketika Zainal Abidin dan tawanan-tawanan lain yang berasal dari Keluarga Nabi Suci SAW dibawa ke Damaskus setelah syahidnya Husain cucu Nabi Suci, dan ditempatkan di sebuah penjara yang terletak di sebelah Mesjid Besar Damaskus, seorang lelaki tua mendekati mereka dan berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah membunuh kalian dan membinasakan kalian dan
memusnahkan laki-laki kalian SAW memberikan kekuasaan kepada amirul mukminin (Yazid) atas diri kalian.”
Ali bin Husain berkata, “Hai orang tua! Pernahkah kamu membaca Quran yang suci?” Orang itu menjawab, “Ya!”

Kemudian Imam berkata, “Pernahkah kamu membaca ayat Katakanlah Hai Muhammad! Aku tidak meminta upah apa pun kepada kalian atas misiku kecuali kecintaan kepada keluargaku (al-qurbaa)?” Orang tua itu berkata, “Ya, saya pernah membacanya!”

Imam berkata, “Pernahkah kamu membaca ayat Maka berikanlah apa yang pantas bagi keluarga terdekat, fakir miskin dan para pejalan dan ayat. Ketahuilah bahwa apa saja (pendapatan) yang kamu peroleh maka seperlimanya adalah untuk Allah, Rasul, keluarga terdekat dan fakir miskin, jika kamu beriman kepada Allah dan apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami dalam al-Quran?” Orang tua itu menjawab, “Ya, saya pernah membacanya!”

Imam berkata, “Aku bersumpah demi Allah bahwa kata `keluarga terdekat’ merujuk kepada kami, dan ayat-ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan kami. (Imam menambahkan), “Dan pernahkah juga kamu membaca ayat ini
dalam Quran dimana Allah berfirman, Wahai Ahlulbait… (33:33)?” Orang tua itu berkata, “Ya, saya telah membacanya!” Imam berkata, “Apa yang dimaksud dengan Ahlulbait Nabi? Kamilah yang telah dihubungkan oleh
Allah secara khusus dengan ayat tathhir!” Orang tua itu berlanya, “Saya bertanya kepadamu, demi Allah, apakah kamu keluarga yang sama?” Imam menjawab, “Aku bersumpah demi kakekku Nabi Allah bahwa kamilah orang yang sama!” Orang tua itu tertegun dan menunjukkan penyesalan atas apa yang telah dia katakan. Kemudian dia
mengangkat kepalanya menuju langit dan berkata, “Ya Allah, aku mohon ampun atas apa yang telah aku katakan, dan meninggalkan permusuhan dengan keluarga ini dan membenci musuh-musuh keturunan Muhammad!” [Referensi Sunni: Maqtal Husain, Khatib Kharazmi]

 

Catatan Kaki

  1. Referensi Sunni: Shaih-Turmudzi, jilid 72, ha1.85; Musnad Ahrnad Ibn Hanbal, jilid 3, hal. 258; al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.158 yang menulis bahwa hadis ini shahih sesuai dengan kriteria Bukhari dan Muslim (tapi keduanya tidak melaporkan); Tafsir al-Durr al-Manfsur, Suyuthi, jilid 5, hal. 197, 199; Tafsir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 5,6 (mengatakan ‘selama tujuh bulan’); Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 483; Musnad, Tialasi, jilid 8, hal. 274; Usd al-Ghabah, Ibnu Atsir, jilid 5, hal. 146.
    27.
  2. Referensi Sunni: Tafsir al-Durr al-Mantsur, Suyuthi, jilid 5, hal. 198,199; Tafsir, Ibnu Jarir Thabari, jilid 22, hal. 6; Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 483; Dhakha’ir al-Llqbah oleh Muhibuddin Thabari, hal. 24 dari otoritas Anas bin Malik; Isti’ab oleh Ibnu Abdul Qarr, jilid 5, hal. 637; Usd al-Ghabah oleh Ibnu Atsir, jilid 5, hal. 146; mazma az’Zawa’id oleh Haitsami, jilid 9, hal. 121, 168; musykil al- Atsar oleh Tahawi, hal. 338.
  3. Referensi Sunni: Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 1, hal. 331 (edisi pertama); Musnad, Ahmad bin Hanbal, jilid 5 hadis ke 3062 (edisi kedua); al-Khasyaisy, Nasa’i, hal. 11; ar-Riyadh an-Nadhirah, Mulubuddin Thabari, jilid 2, hal. 269; majma az-Zawa’id, Haitsami, jilid 9, hal. 119.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed