by

Pembangkangan Sahabat dan Tragedi Karbala

Rasulullah Saw dalam sebuah hadis bersabda, “Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lalu siapa lagi? Kalian akan mematahkan pegangan Islam satu demi satu. Hal pertama yang kalian rusak adalah amanah dan yang terakhir shalat.”

Maksud Rasulullah Saw dari amanah adalah yang pertama al-Quran dan yang kedua Ahlul Baitnya. Beliau berkata, “Sesungguhnya keduanya (al-Quran dan Ahlul Bait) tidak akan terpisah sampai mendatangiku di telaga Kautsar. Janganlah kalian mendahului dan meninggalkan mereka, maka kalian akan tersesat dan bisana.”

Banyak orang bertanya, mengapa – langsung setelah wafatnya Rasulullah Saw – jalur gerakan kemajuan Islam seketika berubah haluan dan keadaan seperti ini terus berlanjut, dari satu sisi ajaran al-Quran sudah tidak diamalkan dan dari sisi lain, al-Quran dianggap sudah cukup sebagai pegangan dan Ahlul Bait dihalangi dari memperoleh haknya yaitu posisi khalifah dan imamah. (Shahih Bukhari, jilid 1, hal 2-22)

Dalam menjawab pertanyaan penting ini – mengapa dua amanah peninggalan Rasulullah Saw (Quran dan Ahlul Bait) diperlakukan seperti itu – sebagian intelektual Muslim hanya menyinggung peristiwa dan keributan para pemimpin Muhajirin dan Ansar di tengah persiapan pemakaman Rasulullah.

Sekelompok lain hanya berusaha memperkenalkan para aktor pembuat keributan ini tanpa memberikan sebuah kesimpulan yang rasional. Kelompok intelektual lain justru menjustifikasi tindakan-tindakan yang terjadi selama proses pemakaman Rasulullah Saw.

Jadi untuk memperoleh sebuah penjelasan yang rasional, faktual, dan jawaban yang memuaskan, kita perlu mencari akar penyebab terjadinya peristiwa dan keributan itu sehingga semua tabir tersingkap dan menemukan titik terang. Semua tindakan dan keributan ini tidak terjadi seketika dan sekaligus, tetapi sebuah rentetan dari gerakan sistematis dan terencana.

Saqifah Bani Sa’idah.

Gerakan politik bawah tanah yang berkedok agama ini sudah dimulai sejak dulu, tetapi ia tidak muncul ke permukaan karena kehadiran dan pengaruh Rasulullah Saw di tengah umat. Namun begitu Nabi wafat, mereka langsung melaksanakan skenarionya langkah demi langkah tanpa perlu takut lagi.

Dengan semangat fanatisme kabilah, mereka melencengkan gerakan progresif masyarakat Islam dari jalurnya dan sistem imamah dalam Islam dirubah menjadi sistem kerajaan dan barang warisan. Padahal, kemajuan masyarakat Muslim masa itu adalah hasil dari 23 tahun jerih payah dan perjuangan Rasul dengan menanggung segala penderitaan, pengucilan, dan pengusiran.

Tindakan mereka telah menghancurkan pencapaian yang dicapai oleh umat Islam bersama Rasulullah dan memicu pertumpahan darah dalam sejarah Islam.

Sejak Rasulullah Saw memulai dakwahnya untuk menyebarkan agama Islam di Mekkah, para pemimpin dan tokoh Quraisy terbelah menjadi dua kubu. Pertama, orang-orang seperti Abu Sufyan, Abu Jahl, dan Abu Lahab mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan dakwah Nabi.

Para tokoh Quraisy ini menyiksa orang-orang yang masuk Islam, melakukan embargo ekonomi, mengejar sekelompok orang Muslim yang hijrah ke Habasyah, dan menyusun rencana teror terhadap Rasulullah. Mereka terus melancarkan permusuhan terhadap Islam dan mengobarkan perang bahkan ketika Nabi telah hijrah ke Madinah. Orang-orang ini juga menolak menyerah selama penaklukan Mekkah.

Kubu Quraisy yang lain memutuskan untuk membentuk sebuah gerakan politik bawah tanah yang berkedok agama sehingga mereka bisa mengejar dan mencapai kepentingan politiknya seiring berjalannya waktu.

Ada dua poin yang patut diperhatikan dalam hal ini. Pertama, gerakan politik bawah tanah ini dibentuk di Mekkah dan pada permulaan pengutusan Rasulullah Saw. Kedua, orang-orang yang sama langsung berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah setelah Rasul wafat. Ini menunjukkan bahwa gerakan agama-politik ini dibentuk dengan rencana yang matang dan tujuan jangka panjang.

Demi menunjukkan bahwa gerakannya tidak memiliki motif politik, para tokoh Saqifah selalu memilih hadir bersama Rasulullah dan berperan aktif di semua pasang-surut sejarah Islam, tetapi ketika beliau membentuk sebuah pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid untuk melawan Romawi, mereka mulai membangkang dengan berbagai alasan seperti, usia Usamah masih sangat muda untuk menjadi seorang panglima pasukan dan tidak tega meninggalkan Rasul dalam kondisi sakit di Madinah.

Ilustrasi peristiwa pengangkatan Imam Ali as sebagai khalifah oleh Rasulullah Saw di Ghadir Khum.

Rasul kesal dengan sikap mereka dan melaknat para sahabat yang menolak perintahnya. Al-Quran jelas-jelas mengingatkan kaum Muslim tentang kewajiban mematuhi perintah Nabi. Allah Swt berfirman, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS: An-Nisa’ ayat 65)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak menerima Nabi Saw sebagai hakim ketika mereka berselisih atau tidak tulus menerima putusannya, maka mereka bukan orang yang beriman. Di samping itu, setelah Nabi mengeluarkan putusan, orang-orang Mukmin harus mematuhinya dan ikhlas menerima apa yang sudah menjadi keputusan serta tunduk mutlak atas keputusan Nabi Saw.

Penekanan ini bertujuan agar budaya menaati perintah Nabi Saw terbentuk di tengah masyarakat Muslim dan semangat tunduk mutlak di hadapan putusan Rasulullah tertanam di hati mereka.

Oleh karena itu, pembangkangan beberapa sahabat dan penolakan mereka untuk bergabung dengan pasukan Usamah, sama sekali tidak dibenarkan. Sikap ini tidak menunjukkan kepatuhan mereka pada putusan dan perintah Rasul Saw.

Jika melihat hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah Saw, bisa dikatakan bahwa beliau memiliki tujuan khusus dari pembentukan pasukan Usamah yaitu hendak mengosongkan Madinah dari sahabat-sahabat yang rakus kekhilafahan.

Pesan yang ingin disampaikan Nabi Muhammad Saw dengan mengangkat Usamah sebagai panglima pasukan yang masih muda, adalah bahwa parameter pengangkatan pemimpin tidak didasarkan pada faktor usia, melainkan dari kelayakan dan kecakapannya.

Setelah Rasulullah wafat, pihak yang menentang pengangkatan Ali bin Abi Thalib as sebagai khalifah menjadikan usianya yang lebih muda dari para sahabat senior lainnya sebagai alasan penolakan mereka.

Penolakan dan pembangkangan ini dilakukan oleh beberapa sahabat Nabi dan musibah ini menimpa umat Islam, bukankah Allah telah berfirman, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS: Al-Hashr ayat 7) (RM)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed