by

KONTROVERSI DISERTASI HUBUNGAN NON MARITAL

Dunia medsos heboh oleh kabar disertasi tentang tema fikih kontroversial yang diluluskan oleh sebuah perguruan tinggi negeri Islam. Keintiman di luar ikatan nikah memang bukan hal baru dalam perbincangan para ahli fikih karena memang sempat termaktub dalam teks agama. Tapi apakah kehalalannya masih berlaku, itulah yang menjadi persoalan.

Terlepas dari detail bahasan dalam disertasi tersebut, dalam fikih yang terstruktur dan selalu dinamis dengan lomba kreasi jurisprudensial yang tak pernah mandek takkan terjadi kejutan kontroversial karena prosedur dan mekanisme istinbath berdasarkan asas kompetensi dan otoritas selalu dipatuhi.

Kontroversi demi kontroversi dalam Kalam dan Fikih niscaya meletus sebagai ekspresi pembangkangan teologis dalam sebuah fikih yang stagnan dan tersandera oleh produk-produk ijtihad para pendahulu yang telah berlalu.

Abduh, Arkoun, Hasan Hanafi, Abu Zaid, Shahrur dan sederet nama pemikir yang hidup lama dalam kungkungan salaf yang dianggap taken for granted dan dipastikan takkan bisa ditandingi oleh generasi setelah mereka, melakukan pembangkangan dalam kalam dan jurisprudensi.

Kontroversi keabsahan hubungan seksual non maritial dalam sebuah disertasi beberapa hari lalu adalah problema internal para penganut sebuah mazhab fikih yang terlanjur menutup rapat pintu ijtihad.

Produk karya akademik berupa pendapat yang bertentangan dengan fikih mainstream tentu saja mengundang kehebohan dan pro kontra. Mungkin karena dianggap bisa menggoyahkan bangunan fikih yang telah dimapankan dan dianggap final, pendapat tentang keabsahan hubungan tanpa akad nikah diberi hadiah “sesat” oleh sekelompok orang yang melantik diri sendiri sebagai dewan perwakilan agama alias distributor tunggal fatwa.

Jauh sekali sebelum kebisingan terkait fikih nikah yang dijadikan disertasi itu, Syiah telah dihujat, disesatkan dan dikafirkan karena menghalalkan hukum nikah temporal yang dalil-dalil tekstualnya bertebaran dalam khazanah teks yang diakui oleh seluruh mazhab Islam.

Pro dan kontra atau silang pendapat seputar produk ijtihad (tema-tema spekulatif atau zhanni) di kalangan fuqaha Syiah adalah hal biasa bahkan niscaya. Bukan hanya niscaya, dialektika intelektual dalam studi-studi lanjutan atas (Bahts Kharij) merupakan tradisi yang dirawat. Pintu ijtihad dalam Syiah Ushuli selalu terbuka. Karena itu, tak mengejutkan bila fatwa para mujtahid berlainan bahkan kadang bertolak belakang. Masyarakat Syiah yang mayoritasnya berhaluan ushuli terikat dalam struktur taklif dan hierarki kompetensi fikih yang rapi dan terjuntai hingga level terendah muqallid alias awam.

Singkatnya, ini bukan problema fikih Islam yang terbagi dalam Syiah dan Sunni tapi problem internal fikih Sunni. Semoga segera reda dan tidak menambah kebingungan umat semazhab.

Dr Muhsin Labib Assegaf

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed