by

Mengapa Muslim Syiah tidak Berpuasa di Hari Asyura?

Postingan ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung atau menghina kepercayaan atau prakti-praktik agama siapa pun. Ini hanyalah sebuah tanggapan bagi mereka yang meminta klarifikasi.

Dari semua peristiwa yang terjadi, hari ketika Imam Hussain, cucu Nabi Muhammad SAW tercinta terbunuh adalah peristiwa tragedi terbesar yang pernah ada. Beliau menjadi martir bersama dengan anggota keluarganya, hanya karena menentang ketidakadilan.
Keluarga Yazid (Bani Umayyah) dan keluarga Ziyad bersukacita pada hari Imam Hussain dibunuh. Mereka tidak hanya merayakan hari tersebut (Ashura), tetapi mereka mengubahnya menjadi sebuah tradisi untuk tahun-tahun berikutnya. Mereka mengumpulkan keluarga dan teman-teman mereka dan bersukacita atas kesyahidan Imam Husain.
W

puasa adalah bentuk ibadah yang luar biasa, kami memiliki keraguan mengenai puasa Ashura. Tentu saja ibadah puasa adalah hal yang baik untuk dilakukan kapan saja sepanjang tahun (kecuali hari raya Idul Fitri), tetapi yang menjadi masalah adalah sejarah politik di balik puasa Ashura itu sendiri.
Membunuh cucu Nabi adalah sebuah kejahatan besar, oleh karena itu Bani Umayyah berusaha untuk mengalihkan fokus masyarakat dari hari Asyura. Dengan adanya kekuatan dan uang, mereka menyebarkan kepada umat Islam bahwa Ashura adalah hari yang diberkati. Mereka melakukannya dengan melakukan doktrinasi kepada umat bahwa di hari Ashura, Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan umatnya dari serangan Firaun, Tuhan menyelamatkan Nabi Ibrahim as dari api Namrud, dan sebagainya. Untuk berterima kasih kepada Tuhan atas hari yang diberkati itu, mereka mendorong orang-orang untuk berpuasa di Asyura.
Berikut adalah beberapa poin yang menunjukkan bagaimana hadits-hadits berbicara tentang puasa Asyura dibuat. Nabi mungkin tidak pernah mengatakannya, tetapi mereka dipalsukan setelah Muhammad SAW meninggal.

Pertama:
Ada beberapa hadits di Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan Tirmidzi yang memberi tahu kita ketika Nabi tiba di Madinah, dia melihat orang-orang Yahudi berpuasa, Setelah mengetahui alasan mengapa mereka berpuasa, dia berkata bahwa kita orang Muslim lebih dekat dengan Musa, jadi kita juga harus berpuasa. Jika Anda menganalisis hadits ini, Anda akan menyadari bahwa mereka semua kembali ke empat perawi yang konon meriwayatkannya langsung dari Nabi:
1- Ibn Abbas
2- Abu Musa Al-Ash’ari
3- Abu Huraira
4- Mu’awiya

Nabi datang ke Madinah tahun pertama Hijrah. Adapun Ibnu Abbas, ia lahir tiga tahun sebelum masa Hijrah, yang membuatnya berusia empat tahun ketika Nabi seharusnya mengatakan Hadis ini. Dalam ilmu Hadits, narasi seorang bocah lelaki berusia empat tahun umumnya tidak dapat diterima.
Sementara Abu Musa, ia berasal dari suku Bani Ashar di Yaman yang menjadi Muslim sebelum masa Hijrah, tetapi dia tidak terlihat di Madinah sampai pertempuran Khaibar pada tahun ke-7 setelah Hijrah. Nabi telah mengirimnya ke Yaman untuk berkhotbah di sukunya. Karena itu, Abu Musa tidak berada di Madinah pada tahun pertama Hijrah, jadi bagaimana mungkin ia menceritakan hadits ini?
Adapun Abu Hurairah yang juga berasal dari Yaman, dia juga tidak terlihat di Madinah sampai setelah pertempuran Khaibar pada tahun ke-7 masa Hijrah. Dan Muawiyah, putra Abu Sufyan, ia menjadi Muslim pada tahun ke-8 Hijrah, jadi bagaimana ia bisa menceritakan sebuah hadis dari Nabi tujuh atau delapan tahun sebelum ia menjadi Muslim. Beberapa hadits kembali ke Ibn Zubair yang juga masih seorang anak muda ketika Nabi memasuki Madinah.
Oleh karena itu, sangat jelas bahwa semua perawi hadits ini tidak ada di Madinah pada saat itu, atau mereka adalah anak laki-laki, jadi bagaimana kita dapat menerima hadis semacam itu?
Cukup meyakinkan bahwa hadis tersebut kemudian dipalsukan oleh Bani Umayya.

Kedua:

Mari kita lihat kata “Ashura” yang disebutkan dalam hadits.
Menurut Ibn Al-Atheer, ada dua makna bagi Ashura; makna lama dan makna baru. Makna lamanya, yaitu waktu Arab dan waktu Nabi yang berarti hari ke-10 di setiap bulan. Makna baru muncul setelah Imam Hussain terbunuh pada tanggal 10 Muharram. Setelah itu, Asyura dikenal sebagai hari ke-10 bulan Muharram, berbeda dari makna sebelumnya yang merupakan hari ke-10 setiap bulan. Jadi ketika Nabi diduga mengatakan hadits ini, dia hanya mengatakan tentang Ashura, dan dia tidak mengatakan mengenai hari ke-10 di bulan itu.
Ini menunjukkan bahwa hadits tersebut telah dipalsukan setelah hari Asyura, dan itu hilang dari pikiran orang-orang yang memalsukannya sebelum Asyura, kata itu memiliki makna yang berbeda dan lebih umum.

Ketiga:
Hari ini, pergilah ke orang Yahudi mana pun, bahkan pergilah juga ke para cendekiawan mereka, dan tanyakan kepada mereka: Apakah Anda memiliki puasa pada hari di mana Allah menyelamatkan Musa as?, atau hari yang sesuai dengan ke-10 Muharram? Mereka tidak melakukannya, dan mereka akan memberi tahu Anda bahwa bahkan di masa lalu mereka tidak memiliki puasa seperti itu. Mereka berpuasa di Yum Kippur, hari ketika Musa as kembali dari gunung Sinai dan menyadari bahwa bangsanya menyembah anak sapi. Untuk menebus dosa mereka, mereka berpuasa, tetapi mereka tidak memiliki puasa di hari Tuhan menyelamatkan mereka dari firaun. Tetapi hadits dalam kitab-kitab Sahih memberi tahu kita bahwa itu adalah tradisi orang Yahudi, dan mereka semua berpuasa hari itu.
Jika Anda bahkan melihat hari ketika orang Yahudi berpuasa, itu tidak pernah sesuai dengan hari ke-10 Muharram ketika Nabi datang ke Madinah. Itu berhubungan dengan Muharram pada tahun ke 28 setelah Hijrah.

Keempat:
Tampaknya orang yang memalsukan hadis tidak menyadari bagaimana Kalender Islam dimulai.Selama masa kekhalifahan Umar, karena umat Islam menginginkan tanggal yang ditetapkan sebagai rujukan, ia menciptakan kalender Hijriah dengan meminta nasihat kepada Imam Ali as. Jadi mereka memutuskan untuk membuat titik awal migrasi Nabi, dan mereka membuat di tanggal 1 Muharram.
Namun, Nabi memasuki Madinah di bulan Rabi-ul-Awwal, bukan di Muharram, sehingga orang yang mungkin memalsukan hadis berasumsi bahwa Nabi memasuki Madinah di Muharram karena pada saat itulah kalender dimulai. Jadi hadist memberi tahu kita bahwa ketika Nabi pertama kali memasuki Madinah dan dia melihat orang-orang Yahudi berpuasa di Asyura, tetapi Nabi tidak memasuki Madinah di bulan Muharram, dia melakukannya di Rabu-ul-Awwal, sepuluh bulan sebelum Muharram! Dan ini jelas perbedaannya!

Kelima:
Nabi tahu lebih banyak tentang Syariat dari para nabi sebelumnya seperti Nabi Musa, dan dia tidak membutuhkan orang-orang Yahudi untuk mengajarinya. Nabi juga lebih tinggi daripada mengikuti apa yang akan dilakukan orang Yahudi.

Keenam

Kenapa ada begitu banyak penekanan pada puasa Asyura di seluruh dunia? Ribuan pidato didedikasikan untuk itu, jutaan pamflet didistribusikan yang mendorong orang-orang untuk berpuasa di Asyura, dan sebagainya. Padahal, ada banyak hari lain di sepanjang tahun yang sangat disarankan kepada kita untuk berpuasa, seperti di tanggal 27 Rajab, tetapi mengapa kita tidak melihat satu pun pamflet atau pidato yang mendorongnya?

Ini menunjukkan bahwa hal tersebut adalah masalah politik, yang awalnya dirancang untuk mengalihkan perhatian dari kesyahidan Imam Hussain as, dan menganggapnya sebagai hari yang diberkati. Saya tidak tahu bagaimana orang bisa berdiri di Hari Pengadilan sebelum Nabi Muhammad SAW dan menganggap hari cucunya dibantai sebagai hari yang diberkati.
Dengan demikian, berdasarkan alasan-alasan ini kami kami berkeberatan dengan puasa Asyura. Bani Umayyah ada di belakang hal tersebut, dan menganggapnya sebagai hari yang diberkati bukanlah penyerangan terhadapi kami, melainkan merupakan penyerangan terhadap Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.

Syed Baqir Al Qazwini

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed