by

12 Imam Setelah Rasulullah Saaw Dalam Riwayat Ahlussunnah [1/2]

اِنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ اْلبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا

“Sesungguhnya Allah berkehendak mensucikan kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sesuci-sucinya” [QS. al-Ahzab: 33]

Ayat Tathir adalah Landasan bagi Imamah

Memandang pembahasan-pembahasan yang lalu bahwa hikmah ilahiah membuat Allah swt mengenalkan syarat terpenting bagi imamah (kesucian) dan orang-orang yang memiliki syarat terpenting itu secara langsung kepada masyarakat agar mereka tidak terjatuh ke dalam kesesatan. Untuk itulah, Allah swt menurunkan ayat tathir sebagai landasan untuk mengenalkan dan mengarahkan umat kepada Ahlulbait Rasulullah dan para imam suci.

Salah satu ayat yang menunjukkan kesucian Ahlulbait adalah ayat yang sangat populer, yang berbunyi, Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih- bersihnya.

Ulama Syiah dan juga sebagian Ahlus Sunnah menjadikan ayat tersebut sebagai alasan atau argumen mengenai kesucian Ahlulbait. Sehubungan dengan ini, harus ditelaah beberapa persoalan.

Sebab Turunnya Ayat (sya’nun nuzul ayat) Ahlul Kisa

Tidak ada yang memperselisihkan bahwa ayat di atas diturunkan berkaitan dengan Rasulullah saw, Imam Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Kitab-kitab Syiah dan Ahlus Sunnah meriwayatkan tentang itu. Di antaranya adalah beberapa riwayat berikut ini.

  1. Aisyah berkata, “Suatu pagi, Rasulullah saw keluar dari rumahnya dengan mengenakan jubah hitam yang terbuat dari kain wol. Imam Hasan, Imam Husain, Fatimah, serta Ali diminta untuk masuk ke dalam jubah itu seraya berkata, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
  2. Ummu Salamah berkata, Ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya turun di rumahku. Hari itu, Fatimah membawa sebuah tempat yang dipenuhi oleh makanan. Kemudian Rasulullah meminta Fatimah agar memanggil Ali, Hasan, serta Husain. Ketika semua sudah datang, Rasulullah mengajak mereka makan. Kemudian ayat tathir turun. Rasul menyelimuti mereka semua dengan aba’ah (semacam jubah) dari kota Khaibar dan sebanyak tiga kali Rasulullah berdoa, “Ya Allah! Mereka adalah Ahlubaitku, jauhkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka.”
  3. Amer bin Abi Salamah berkata, “Ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih bersihnya turun di rumah Ummu Salamah. Kemudian Rasulullah saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Kemudian beliau menyelimuti mereka dengan kain seraya berkata, “Ya Allah! Mereka adalah Ahlulbaitku, hapuskanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka.” Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah! Adakah aku juga bersama mereka?” Rasulullah berkata, “Tetaplah di tempatmu! Engkau juga baik.”
  4. Zainab berkata, “Tatkala Rasulullah saw menyaksikan rahmat Allah turun dari langit, beliau bertanya, “Siapakah diantara kalian yang bisa memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain?” Aku menawarkan diri untuk memanggil mereka.” Zainab memanggil mereka. Ketika mereka sudah datang, Rasulullah saw menyelimuti mereka dengan aba’ah dan beliau sendiri masuk ke dalam aba’ah itu lantas Jibril turun dan membawakan ayat tathir.
  5. Shaddad-abi Amarah berkata, “Aku berkunjung ke rumah Watsilah bin Astqa’ bersama beberapa orang lainnya. Tak lama kemudian mereka (menggunjing Ali). Ketika mereka keluar, Watsilah membisiki telingaku, “Maukah aku ceritakan kepadamu suatu peristiwa yang aku saksikan dengan kedua mataku.” Aku menganggukkan kepalaku dan dia mulai mengisahkan apa yang disaksikannya, “Hari itu, aku berkunjung ke rumah Fatimah untuk menjumpai Ali. Sesampainya di rumah Ali, Fatimah mengatakan bahwa suaminya sedang bersama Hasan dan Husain pergi ke rumah Rasulullah. Kemudian aku menyusul mereka ke rumah Baginda Rasul. Di sana, aku menyaksikan Rasulullah mengambil tangan Hasan dan Husain untuk masuk bersama Ali. Kemudian Rasulullah mendudukan Ali dan Fatimah di sisinya serta mendudukkan Hasan dan Husain di atas pahanya (memangkunya). Kemudian beliau menyelimutkan kain ke atas mereka seraya berkata, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Kemudian beliau berkata, “Mereka adalah Ahlulbaitku dan Ahlulbaitku adalah lebih layak.”
  6. Abu Said Khudri mengatakan, “Ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya diturunkan mengenai lima orang, yakni Rasulullah saw, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain.”
  7. Dalam khutbahnya, Imam Hasan berkata, “Kami adalah Ahlulbait yang dalam firman Allah disebutkan, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih- bersihnya.

Memandang hadis-hadis yang disebutkan itu -banyak lagi contoh yang seperti itu- sya’nun nuzul ayat tathir adalah bahwa suatu hari, Rasulullah saw memanggil Imam Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain ke sisinya dan mereka duduk di atas permadani. Kemudian Rasulullah meletakkan kain atau aba’ah atau karpet kasar hitam dari Khaibar ke atas mereka. Kemudian turun ayat tathir dari Allah dan beliau membacakannya lalu berkata, “Ya Allah! Mereka adalah keluargaku. Maka sucikanlah kotoran dan kekejian dari mereka.”

Hadis tersebut populer dengan nama hadis kisa’ dan dinukilkan dalam berbagai ungkapan serta tercatat di dalam kitab Ahlus Sunnah dan Syiah.

Para Saksi Kejadian

Peristiwa Kisa’ merupakan salah satu peristiwa penting Rasulullah saw yang disaksikan sejumlah keluarga dekat, pembantu, dan para sahabat khusus beliau.

Mereka itulah yang meriwayatkan peristiwa tersebut. Sebagian dari mereka adalah sebagai berikut.

  1. Rasulullah saaw merupakan tokoh pertama kejadian itu dan berkali-kali mengisahkannya kepada para sahabat.
  2. Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu dari mereka. Imam Ali menceritakan peristiwa tersebut kepada banyak orang dan berhujah dengannya.
  3. Imam Hasan adalah salah seorang dari mereka.
  4. Aisyah, istri Rasulullah saaw, dalam sebuah hadis mengatakan, “Aku juga menyaksikan kejadian ini.”
  5. Umar putra Abi Salamah yang merupakan hasil didikan rumah Rasulullah saw.
  6. Zainab yang hidup di rumah Ummu Salamah.
  7. Stauban yang merupakan budak yang dibebaskan oleh Rasulullah saw. Mengenai Stauban disebutkan bahwa dia senantiasa berada dengan Rasulullah, baik ketika Rasulullah berada dalam perjalanan maupun tidak.
  8. Wastilah bin Asqa’ yang merupakan salah seorang abdi di rumah Rasulullah saw.
  9. Ummu Salamah merupakan salah seorang istri Rasulullah saw yang seolah-olah peristiwa tersebut terjadi di rumahnya dan mengisahkannya kepada banyak orang.
  10. Kelompok lain dari perawi hadis seperti Abul Hamra’, Anas bin Malik, Abu Sa’id Khudri, dan Ibn Abbas -meskipun tidak tentu bahwa orang-orang ini menyaksikan peristiwa yang sebenarnya, namun kemudian hari, mendengar kisah itu dari Rasulullah saw atau dari salah seorang saksi atau mereka melihat bahwa setelah peristiwa ini, Rasulullah saw untuk sekian lama melewati rumah Sayyidah Fatimah Az-Zahra dan memanggil penghuni rumah itu dengan sebutan Ahlulbait dan mengatakan, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Abul Hamra mengatakan, “Rasul saw selama enam bulan menghampiri pintu rumah Fatimah seraya berkata, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Abu Barzah mengatakan, “Selama tujuh belas bulan, aku shalat bersama Rasulullah saw dan manakala keluar dari rumah, beliau mengunjungi rumah Fatimah dan berkata, “Ash-shalatu alaikum”! Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Imam Ali bin Abi Thalib berkata, “Setiap pagi, Rasulullah saw datang ke rumah kami dan berkata, “Semoga Allah merahmati kalian! Bangunlah dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Abu Said Khudri berkata, “Tatkala ayat Wa’mur ahlaka bish-shalat turun, Rasulullah saw selama sembilan bulan, setiap harinya, mendatangi pintu rumah Fatimah dan Ali seraya berseru, “Telah tiba saat shalat. Semoga Allah merahmati kalian. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Untuk sekian lama, Rasulullah saw melanjutkan kebiasaan ini dengan tujuan pertamanya adalah beliau ingin menunjukkan bahwa perlakuannya itu bukan perkara biasa. Beliau ingin memberitahukan kepada para sahabatnya agar nanti tidak ada dari mereka yang berkata, “Peristiwa Kisa’ hanya pertemuan kekeluargaan biasa; kedua, beliau ingin menjelaskan siapa sebenarnya Ahlulbait sehingga nantinya tidak ada yang mengatakan bahwa ayat ini diturunkan untuk istri-istri Nabi saw; dan ketiga, beliau ingin agar para sahabatnya menceritakan hal ini kepada orang-orang lain.

Nash-nash Hadis Al-Kisa Menurut Ahlussunnah

Hadits “Al-Kisa” mengandung dua pengertian pokok yang amat besar dan penting. Yaitu:

Pertama, pembuktian atau Dalil tentang kesucian “Ahlul-Bait” Rasulullah SAW
Bahwa yang dimaksud “Ahlul-Bait” ialah Imam Ali bin Abi Thalib r.a., Fatimah Azzahra r.a., Al-Hasan dan Al-Husein radhiyallahu `anhuma.
Nash-nash Hadits tersebut diriwayatkan oleh berbagai sumber dan oleh banyak Rawi (orang yang menyampaikan riwayat) dengan teks yang agak berlain-lainan, tetapi mempunyai makna yang sama.

Dibawah ini kami kutipkan Firman Allah SWT dan beberapa nash dari Hadits “Al-Kisa” :

اِنَّمَايُرِيْدُالله ُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً.( الأحزاب/۳۳)ه

Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian “Ahlul-Bait” dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.

وَرُوِىَ اْلإِمَامْ أَحْمَدْوَالتُرْمُذِي عَنْ أُمِ سَلَمَةَ أَنَهُ لَمَّا نَزَلَ قَوْلُهُ تَعاَلَى: (اِنَّمَايُرِيْدُاللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً. الأحزاب/۳۳) أَدَارَالنَّبِي صلّى الله عليه وسلّم كِسَاءَهُ عَلَى عَلِي وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ فَقَالَ: (اَللٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرهُمْ تَطْهِيْراً)ه

أحمد في المسند (١/٣٣١، ٣/۲٥۹، ۲۸٥، ٦/۲۹۲، ۲۹۷، ۳۰٤) والترمذي رقم (۳۲۰٥، ۳۷۸٦) في التفسير باب (ومن سورة الأحزب) وفي المناقب باب (مناقب أهل بيت النبي صلى الله عليه وسلم (٥/۳۲۸، ٦۲١) ورقم (۳۸۷۰ ) في (فضل فاطمة رضي الله عنها) وقال حديث حسن صحيح. والحاكم في المستدرك (۳/١٤٦). والطبراني في (( الكبير)) من عدة طرق (۳/٤٦-٥١) من رقم (۲٦٦۳–۲٦۷۲) ه

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmudzi dari Umi Salamah, sesungguhnya pada saat Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian “Ahlul-Bait” dan mensucikan kalian sesuci-sucinya. Al Ahzab/33 ) Nabi SAW mengerubungkan (menutupi) kain Kisa` nya diatas Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidatuna Fatimah, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husein RA. Dan beliau Nabi SAW berdo`a: (Ya Allah, mereka ini adalah Ahlulbaitku. Karena itu hilangkanlah noda kotoran (ar-rijsa) dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.)

قَلَتْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدِيْ وَعَلِيٌّ وَفَاطِمَةُ وَالْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ، فَجَعَلْتُ لَهُمْ خُزَيْرَةً، فَأَكَلُوْاوَنَامُوْاوَغَطَّى عَلَيْهِمْ كِسَاءً أَوْقَطِيْفَةً ثُمَّ قَالَ: اَللّٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ اَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرهُمْ تَطْهِيْراً

Ummu Salamah r.a. berkata: pada suatu hari Rasulullah SAW berada ditempat kediamanku bersama Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein. Untuk mereka kubuatkan Khazirah (makanan terbuat dari tepung dan daging). Setelah makan mereka tidur, kemudian oleh Rasulullah SAW mereka diselimuti dengan kisa, atau kain sutera, seraya berucap: “Ya Allah, mereka Ahlul-Baitku, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”.

(Dari Hadits Zaid, dari Syahr bin Hausyab. Lihat Tafsir At-Thabariy: 22/6)

قَالَتْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: لَمَّا نَزَلَتْ هٰذِهِ اْلأٰيَةُ ﴿ اِنَّمَايُرِيْدُالله ُلِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً.﴾ دَعَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًاوَحُسَيْنًا، فَجَلَّلَ عَلَيْهِمْ بِكِسَاءٍخَيْبَرِيٍّ وَقَالَ: اَللّٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ، اَللّٰهُمَّ اَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا. قَالَتْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: أَلَسْتُ مِنْهُمْ ؟ قَالَ: أَنْتِ إِلٰى خَيْرٍ

Ummu Salamah r.a. berkata: ketika turun ayat (Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran dari kalian “Ahlul-Bait” dan mensucikan kalian sesuci-sucinya) Rasulullah SAW memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan husein, kemudian beliau menyelimuti mereka dengan kisa buatan Khaibar seraya berucap: “Ya Allah, mereka Ahlul-Baitku, ya Allah, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Ummu Salamah bertanya: “Tidaklah aku termasuk mereka?”, Rasulullah SAW menjawab: “Engkau berada didalam kebajikan”.

(Dari Hadits Waki`, dari Abdulhamid bin Bahram, dari Syahr bin Hausyab, dari Fudhail bin Marzuq, dari `Athiyyah, dari Abu Sa`id Al-Khudriy, bersal dari Ummu Salamah r.a. Lihat Tafsir At-Thabariy:22/7)

قَالَ عَبْدُاللهِ بْنُ وَهْبِ بْنِ زُمْعَةٍ: أَخْبَرَتْنِيْ أُمُّ سَلْمَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: أَنَّ رَسُوْلَ الله ِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فَاطِمَةَ وَالْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ رَضِيَ الله ُعَنْهُمْ، ثُمَّ أَدْخَلَهُمْ تَحْتَ ثَوْبِهِ، ثُمَّ جَأَرَ إِلَى اللهِ تَعَالىٰ وَقَالَ: هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ. فَقَالَتْ أُمُّ

سَلْمَةَ: يَارَسُوْلَ اللهِ، أَدْخِلْنِيْ مَعَهُمْ، قَالَ: إِنَّكِ مِنْ أَهْلِيْ

Abdullah bin Wahab bin Zam`ah mengatakan: Ummu salamah r.a. memberitahu kepadaku, bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW mengumpulkan Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husein r.a, kemudian ketiga-tiganya dimasukkan kedalam jubahnya, lalu beliau berdo`a mohon kepada AllAh SWT: “mereka Ahlul-Baitku”. Ummu Salamah berkata: “Ya Rasulullah, masukkanlah aku bersama mereka..” Rasulullah SAW menjawab: “Engkau termasuk keluargaku”.

(Dari Hadits Hasyim bin `Utbah bin Abi Waqqas, berasal dari Abdullah bin Wahab bin Zam`ah. Lihat Tafsir At-Thabraniy: 22/7 dan Tuhfatul-Ahwadziy: 9/66)

قَالَ عُمَرُبْنُ أَبِيْ سَلْمَةَرَبِيْبُ النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَزَلَتْ هٰذِهِ اْلأٰيَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِيْ أُمِّ سَلْمَةَ ” اِنَّمَايُرِيْدُالله ُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرُكُمْ تَطْهِيْراً” فَدَعَاحَسَنًا وَحُسَيْنًا وَفَاطِمَةَفَأَجْلَسَهُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَدَعَاعَلِيًّافَأَجْلَسَهُ خَلْفَهُ، فَتَجَلَّلَ هُوَوَهُمْ بِاالْكِسَاءِثُمَّ قَالَ: اَللّٰهُمَّ هٰؤُلآءِ أَهْلُ بَيْتِيْ، فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرهُمْ تَطْهِيْرا.ً قَالَتْ أُمُّ سَلْمَةَ: أَنَامَعَهُمْ؟ قَالَ: أَنْتِ عَلَى مَكَانِكِ أَنْتِ عَلَى خَيْرٍ

Umar bin Abi Salamah anak tiri Rasulullah SAW mengatakan, bahwa ayat “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan kotoran dari kalian Ahlul-Bait dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya“, turun kepada Rasulullah SAW dirumah Ummu Salamah, kemudian Rasulullah SAW memanggil Hasan, Husein dan Fatimah, lalu ketiganya diminta duduk didepan beliau. Beliau memanggil Ali lalu diminta duduk dibelakang beliau. Kemudian beliau bersama mereka menyelimuti diri dengan kisa seraya berucap: Ya Allah, mereka Ahlul-Baitku, maka hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata: apakah aku bersama mereka? Rasulullah SAW menjawab: engkau berada ditempatmu dan engkau memperoleh kebajikan.

(dari Hadits Muhammad bin Sulaiman Al-Ashbahaniy, dari Yahya bin Ubaid Al-Makky, dari `Atha bin Abi Rabbah, berasal dari Umar bin Abi Salamah. Lihat Tafsir At-Thabariy:22/7 dan Tuhfatul-Ahwadziy: 9/66)

Hadist Tsaqalain Menurut Ahlussunnah

Fatwa Al-Alim Al-Alamah Assayyid Al-Habib Hasan Bin Ali Bin Hasyim Bin Ahmad Bin Alwy Ba’agil Al-Alawy (Mufti Mazhab Syafi’i di Makkah Al-Mukarramah Wafat Tahun 1335 H.)

Jawaban Mengenai Hadits,”Aku tinggalkan pada kalian Ats-tsaqalain (dua pusaka), yaitu Kitabullah (Alqur’an) dan Keluargaku (yaitu) Ahli Baitku”.

Saya pernah ditanya mengenai hadits, “Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat setelah (berpegang teguh kepada) keduanya; kitabullah (Alqur’an) dan ……..” apakah -kata penanya itu-hadits tsb shahih jika ditambah dengan kata-kata (akhirnya) ‘itraty wa ahli baity (keluargaku yaitu ahli Baitku) atau mungkin yang benar, wasunnaty (dan sunnahku). Dia berharap agar dapat menjelaskan sanad hadits tsb.

Sebenarnya, hadits yang tsabit dan shahih adalah hadits yang berakhir dengan wa ahli baity. Sedang yang berakhir dengan kata-kata wa sunnaty itu bathil (salah) dari sisi matan dan sanadnya. Berikut penjelasan mengenai sanad hadits tsb.

Hadits tsb diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya (IV: 1873 no. 2408 cetakan Abdul-Baqy) dari Sayyidina Zaid bin Arqam r.a. Dia berkata, “Suatu hari Rasulullah saw. Pernah berdiri dihadapan kami seraya berkhutbah disuatu tempat (kebun) kosong diantara Makkah dan Madinah. Beliau saw memuji Allah SWT dan menyanjung-Nya. Lalu menasehati dan mengingatkan (ummatnya). Kemudian bersabda, “Amma ba’du (adapun sesudah itu), ingatlah wahai sekalian manusia, sesunguhnya aku ini hanya manusia biasa, hampir-hampir (sebentar lagi) akan datang utusan Tuhanku (yang akan memanggilku ke Hadhrat-Nya), maka akupun (pasti) mengabulkannya. Dan aku akan meninggalkan pada kalian dua pusaka. Pertama, Kitabullah itu dan peganglah teguh-teguh.” Beliau saw. Memerintahkan untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an sebagai Kitabullah dan mendorong untuk mengamalkannya. Kemudian beliau saw bersabda, “Dan Ahli Baitku (keluargaku)”

Itulah Lafadh atau redaksi Imam Muslim. Dan diantara perawi lain yang meriwayatkan dengan redaksi seperti itu ialah Al-Darimy dalam Sunan-nya (II : 431 – 432) dengan isnad shahih seperti (terangnya) matahari. Ada juga perawi lain yang meriwayatkan hadits tsb seperti redaksi Imam Muslim itu.

Sedang riwayat Imam Turmudzi terdapat kata-kata, wa ‘itraty ahli baity (dan keturunanku [yaitu] ahli baitku [keluarga rumahku]).” Dalam Sunan Turmidzi (V: 663 no. 3788), Rasulullah saw. Bersabda,

“Sesungguhnya aku meninggalkan pada kalian apa yang jika kalian pegang (erat-erat) pasti kalian tidak akan sesat sudah aku (tiada). Salah satunya lebih agung dari pada yang lainnya, (yaitu) Kitabullah. Dia merupakan tali yang memanjang dari langit ke bumi. Dan keturunanku (yaitu) ahli baitku. Kedua pusaka itu tidak akan berpisah sehingga keduanya dapat mendatangkan haudh-telaga-kepadaku. Perhatikanlah (berhati-hatilah dan pikirkanlah) bagaimana kalian memperlakukan mereka sepeninggalku.”Hadits shahih.

Adapun kata-kata wa sunnaty (dan sunnahku), saya tidak meragukan ke-maudhu’-annya karena ke-dha’if-an sanadnya, dan faktor-faktor lainnya yang sangat mempengaruhi kelemahannya.

Hadist 12 Imam Menurut Ahlussunnah

Dengan hadis Indzar kita akan mengetahui bahwa sejak awal kenabiannya Rasulullah saw telah memilih dan mengangkat Ali bin Abi Thalib (as) sebagai saudaranya, washi dan khalifahnya.

Allah swt berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الاْقْرَبِين

“Berilah peringatan kerabatmu yang terdekat” (Asy-Syu’ara’: 214),

Ketika ayat ini turun Rasulullah saw mengumpulkan tokoh-tokoh dari keluarga terdekatnya dan mengajak mereka agar masuk Islam. Kisah ini disebutkan dalam buku-buku sejarah Islam, kitab-kitab tarikh, sirah, tafsir dan hadis.

Dalam suatu riwayat disebutkan: Abdullah bin Abbas mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: Ketika ayat ini turun kepada Rasulullah saw, beliau mengajakku dan bersabda: “Wahai Ali, sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mengingatkan kerabatku yang terdekat.” Kemudian Rasulullah saw mengumpulkan keluarga terdekatnya dan menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Allah swt. Ketika mereka berkumpul Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Abdullah Muthallib, aku datang kepada kalian untuk menyampaikan dua kebaikan dunia dan akhirat. Allah memerintahkan aku untuk mengajak kalian pada kebaikan itu. Siapakah di antara kalian yang bersedia membantuku untuk urusanku ini, dan menjadi saudaraku, washiku dan khalifahku untuk kalian?” Mereka yang hadir semuanya diam, tidak bersedia. Lalu aku (Ali), yang saat itu paling muda dari mereka, berkata: Ya Nabiyallah, aku bersedia menjadi pembantumu dalam urusanmu ini. Kemudian Rasulullah saaw memegang pundakku dan bersabda:

“Sesungguhnya ini (Ali) adalah saudaraku, washiku dan khalifahku untuk kalian, maka dengarlah dia dan taatilah dia.” Kemudian mereka berdiri sambil tertawa dan berkata kepada Abu Thalib: Dia (Muhammad) menyuruhmu mendengar Ali dan mentaatinya. (Ma’alim At-Tanzil 4: 278-279).

Macam-macam Redaksi Hadis Indzar

Redaksi hadis Indzar bermacam, antara lain:

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya ini (Ali) adalah saudaraku, washiku dan khalifahku untuk kalian, maka dengarlah dia dan taati.”

Rasulullah saw bersabda:

“Siapakah yang akan berbaiat padaku untuk menjadi saudaraku, washiku, dan pemimpinmu sesudahku?” Kemudian aku (Ali) mengulurkan tanganku dan berkata: Aku mau berbaiat kepadamu. Lalu Rasulullah saw membaiatku.

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya ini (Ali) adalah saudaraku demikian dan demikian.”

Mengapa dalam riwayat ini tidak disebutkan kalimat: Washiku dan khalifahku? Di sinalah terjadinya penyimpangan hadis Nabi saw oleh orang-orang tertentu.

Kisah dan Hadis Indzar dengan segala macam redaksinya terdapat dalam kitab:

  1. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, jilid 6, halaman 324-329, Darul Fikr, Bairut 1403.
  2. Tafsir Ath-Thabari, jilid 19, halaman 74 dan 75, Darul ma’rifah, Bairut.
  3. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 6, halaman 168, Dar Thayyibah, Riyadh 1418 H.
  4. Tafsir Ibnu Hatim, jilid 9, halaman 26-28; berbeda dengan cet Maktaba Nazzar Baz, Mekkah Mukarramah 1417 H.
  5. Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 111, no: 885, Dar Ihya’ Turats Al-Arabi, Bairut 1414 H.
  6. Sunan Al-Kubra, jilid 9, halaman 7, Darul Ma’rifah, Bairut.
  7. Sunan An-Nasa’i, jilid 6, halaman 248. Dar Ihya’ Turats Al-Arabi.
  8. Kanzul Ummal, jilid 13, halaman 131 dan 149, Muassasah Ar-Risalah, Bairut 1405 H.
  9. Majma’uz zawaid, jilid 8, halaman 113 dan 303.
  10. Ta’rib At-Tahdzib, jilid 2, halaman 144.
  11. Khashaish Amirul Mu’minin, halaman 86, cet Al-Ghura.
  12. Minhaj As-Sunnah, jilid 7, halaman 302.

Para perawi hadis Indzar

  1. Ibnu Ishhaq, penulis Sirah
  2. Ibnu Jarir Ath-Thabari
  3. Ibnu Abi Hatim Ar-Razi
  4. Ibnu Mardawaih
  5. Al-HafizhAbu Na’im Al-Isfahani
  6. Al-Baihaqi
  7. Ahmad bin Hanbal
  8. An-Nasa’i
  9. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Bazzar, penulis Musnad
  10. Said bin Manshur, penulis Musnad
  11. Al-Hafizh Abul Qasim Ath-Thabari, penulis Mu’jam Al-Awsath
  12. Al-Hafizh Abu Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi, penulis Al-Mustadrak
  13. Al-hafizh Abu Ja’far Ath-Thahawi, penulis Musykilul Atsar.
  14. Abdurrahman bin Abi Hatim Ar-Razi, penulis Tafsir.
  15. Al-Hafizh Al-Baghawi, penulis Tafsir.
  16. Al-Hafizh Ibnu Asakir Ad-damsiqi, penulis Tarikh Damsiq.
  17. Al-Hafizh Ibnu Atsir, penulis Al-Kamil fit Tarikh.
  18. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Haitsami, penulis Majma’uz zawaid.
  19. Al-Hafizh Adz-Dzahabi
  20. Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi, penulis Ad-Durrul Mantsur.
  21. Syeikh Ali Al-Muttaqi Al-Hindi, penulis Kansul Ummal.

Hadis tentang 12 imam menunjukkan bahwa pasca Rasulullah saw hanya ada 12 imam, amir atau khalifah. Tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Dari mana kita harus menghitungnya, ya dari pasca Rasulullah saw … Dan siapa saja orang-orangnya? Dan apa konsekuensi mengingkarinya?

Redaksi hadis ini bermacam-macam, mari kita telusuri:

Dalam Shahih Bukhari juz 4, kitab Ahkam disebutkan:

روى‌ جابر بن‌ سَمُرة‌ فقال‌: سمعت‌ُ النبيّ صلّي‌ الله عليه‌ [وآله‌] وسلّم‌ يقول‌: يكون‌ اثنا عشر أميراً. فقال‌ كلمة‌ً لم ‌أسمعها، فقال‌ أبي‌: أنّه‌ قال‌: كلّهم‌ من‌ قريش‌.

Jabir bin Samurah meriwayatkan, “Aku mendengar Nabi (saww) berkata” :”Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy.”[Sahih Bukhari (inggris), Hadits: 9.329, Kitabul Ahkam; Sahih al-Bukhari (arab) , 4:165, Kitabul Ahkam]

Dalam Shahih Muslim 4: 79 disebutkan:

Jabir bin Sammarah berkata: aku bersama ayahku datang kepada Nabi saw, lalu aku mendengar beliau bersabda:

“Sungguh persoalan ini tidak akan tercapai sehingga ia berada di bawah kepemimpinan dua belas khalifah.” Kemudian beliau mengucapkan suatu kalimat yang tidak jelas bagiku. Lalu aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang diucapkan oleh beliau. Ayahku berkata bahwa Nabi saw bersabda: “Semuanya dari suku Quraisy.”

Dalam Shahih Muslim 2, bab mengikuti suku Quraisy disebutkan:

Rasulullah saw bersabda:

“Agama akan selalu tegak sampai hari kiamat di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari golongan quraisy.” Di sini redaksi hadis ini bermacam-macam, antara lain bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Islam selalu mulia di bawah pimpinan dua belas khalifah yang semuanya dari quraisy.”

“Persoalan manusia senantiasa berlalu di bawah kepemimpinan dua belas tokoh, semuanya dari suku Quraisy.”

“Agama ini akan selalu mulia dan terjaga di bawah kepemimpinan dua belas khalifah, semuanya dari suku Quraisy.”

Dalam Shahih At-Turmidzi, jilid 2:

“Islam akan selalu tegak di bawah kepemimpinan dua belas amir, semuanya dari suku Quraisy.”

Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal 1: 398 disebutkan:

Masyruq berkata: aku pernah duduk-duduk dengan Abdullah bin Mas’ud, ia membacakan ayat Al-Qur’an kepada kami. Kemudian ada seseorang bertanya kepadanya: wahai Abu Abdurrahman, apakah kamu pernah bertanya kepada Rasulullah saw berapa jumlah khalifah yang akan memimpin ummat Islam. Ibnu Mas’ud menjawab: ya, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw, lalu beliau bersabda:

“Dua belas khalifah seperti jumlah pemimpin Bani Israil.”

Dalam redaksi yang lain:

Jabir bin Sammarah berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda dalam haji wada’:

“Agama ini akan selalu jelas bagi orang yang bermaksud padanya, dan tidak membahayakannya orang yang menentang dan menyerangnya, sehingga berlalu dari ummatku dua belas amir, semuanya dari suku Quraisy.” (Musnad Ahmad 5: 89).

Dalam Shawa’iq Al-Muhriqah, Ibnu Hajar, bab 11, pasal 2 disebutkan:

Jabir bin Sammarah berkata bahwa Nabi saw bersabda:

“Akan ada sesudahku dua belas amir, semuanya dari suku Quraisy.”

Dalam Kanzul Ummal, Al-Muttaqi, jilid 6: 160 disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Akan ada sesudahku dua belas khalifah.”

Dalam Kitab Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qunduzi Al-Hanafi, bab 95:

Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Wahai Jabir, sesungguhnya para washiku (penerima wasiatku) dan para Imam kaum muslimin sesudahku adalah: pertama Ali, kemudian Al-Hasan, kemudian Al-Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang terkenal dengan julukan Al-Baqir dan kamu akan menjumpainya wahai Jabir, dan jika kamu menjumpainya sampaikan padanya salamku; kemudian Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Al-Hasan bin Ali; kemudian Al-Qaim, namanya sama dengan namaku, nama panggilannya sama dengan nama panggilanku, yaitu putera Al-Hasan bin Ali, di tangan dialah Allah tabaraka wa ta’ala membuka kemenangan di bumi bagian timur dan barat, dialah yang ghaib dari para kekasihnya, ghaib yang menggoncangkan kepercayaan terhadap kepemimpinannya kecuali orang yang hatinya telah Allah uji dalam keimanan.”

Kemudian Jabir bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah, apakah manusia memperoleh manfaat dalam keghaibannya? Nabi saw menjawab: “Demi Zat Yang Mengutusku dengan kenabian, mereka memperoleh cahaya dari cahaya wilayahnya (kepemimpinannya) dalam keghaibannya seperti manusia memperoleh manfaat dari cahaya matahari walaupun matahari itu tertutup oleh awan. inilah rahasia Allah yang tersimpan dan ilmu Allah yang dirahasiakan, Allah merahasiakannya kecuali dari ahlinya.”

Hadis Tsaqalayn adalah hadis yang menegaskan bahwa umat Islam wajib berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Ahlul bait Nabi saw. Redaksi hadis ini bermacam-macam, antara lain:

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang berharga: Al-Qur’an dan ‘Itrahku, Ahlul baitku.”

“Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian, yang jika kalian bepegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat: Al-Qur’an dan ‘Itrahku, Ahlul baitku.”

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan tersesat sesudahku: Al-Qur’an dan ‘Itrahku.”

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua khalifah: Al-Qur’an dan ‘Itrahku. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, kalian tidak akan tersesat sesudahku.”

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka yang berharga: Al-Qur’an dan ‘Itrahku, Ahlul baitku. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan tersesat sesudahku. Maka janganlah kalian mendahului keduanya sehingga kalian binasa, jangan menganggap enteng keduanya sehingga kalian binasa, dan jangan mengajari mereka karena mereka lebih tahu dari kalian.”

“Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian sesuatu jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan tersesat sesudahku, yang satu lebih agung dari yang lain: Al-Qur’an adalah tali penyambung dari langit ke bumi dan ‘Itrahku, Ahlul baitku. Keduanya tidak akan terpisahkan sehingga keduanya kembali padaku di telaga surga, maka perhatikan bagaimana sikap mereka kepada keduanya sesudahku” [SI]

bersambung…….

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed