by

‘Islamofobia’ Dokumenter BBC ditentang oleh Ulama-ulama Islam Syiah

Pernyataan berikut telah dikeluarkan dari Organisai Syiah dan Para pimpinan Komunitas Islam Syiah di Britania Raya terkait Dokumenter BBC terbaru.

Pernyataan Pres: Islamofobia dan Penggambaran yang keliru dalam liputan BBC Berbahasa Arab ‘Penyamaran bersama Para Ulama: Perdagangan Seksual Rahasia di Irak.’

Pada 3 Oktober, BBC menyiarkan Sebuah Dokumenter bertajuk ‘Undercover with The Clerics: Iraq’s Secret Sex Trade’ (‘Penyamaran bersama Para Ulama: Perdagangan Seksual Rahasia di Irak’).

Film tersebut menunjukkan penyalahgunaan kekuasaan yang serius dari pihak pria yang digambarkan oleh para pembuat film sebagai ulama. Kita berdiri dalam solidaritas penuh dengan para korban pelecehan ini -saudari kami- dan mendesak Pemerintah Irak untuk segera menuntut mereka yang terbukti melanggar Hukum Irak dan Hukum Islam serta Nilai-nilai Islam. Untuk mereka, tidak ada alasan dan tempat untuk bersembunyi. Kita semua semakin kecewa karena Ulama Syiah sendiri bahwa siapapun yang digambarkan sebagai Ulama dapat menyalahgunakan kekuasaan mereka seperti itu. Irak menghormati Institusi Keulamaan Syiah dan Badan Amal terkait telah melakukan pekerjaan yang tak ternilai untuk membantu para janda perang, untuk memukimkan kembali keluarga yang terpisah dari semua keyakinan, dan memberikan bantuan kepada anak yatim yang menderita oleh kekejaman ISIS.

Kita semua dalam komunitas Internasional menanggung beban trauma yang telah diderita rakyat Irak selama enam belas tahun terakhir dari perang dan tiga dekade kediktatoran. Hari ini, Irak mengalami angka pengangguran, kemiskinan dan kurangnya kesempatan yang menciptakan ruang bagi para oportunis untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka. Kami sangat prihatin bahwa bahasa. pembingkaian, pemilihan para kontributor dan ketidaktepatan faktual dalam film dokumenter akan membuat semakin sulit untuk mencari keadilan bagi para korban pelecehan yang diperlihatkan.

Dokumenter yang ditayangkan dalam BBC Berbahasa Arab dan dibuntuti oleh kicauan dari Akun Media Sosial BBC News Arabic dan BBC World. Film Dokumenter ini ditampilkan secara mencolok di BBC News at Ten (tayangan berita pukul 10 malam) di Britania Raya: sebagai berita utama ketiga dengan kutipan 5 menit dari dokumenter yang dimasukkan dalam buletin berita; dan pemirsa diarahkan untuk menyaksikan film tersebut secara daring.

Kutipan yang diperkenalkan oleh BBC News at Ten menggunakan bahasa yang sangat menyerang dan tidak bertanggung jawab, dengan tuduhan utama adalah bahwa beberapa Ulama Syiah menggunakan ‘Nikah Mut’ah’ sebagai tipu daya Pelecehan Seksual. Penggunaan bahasa yang tidak akurat dan sensasional seperti itu digabungkan dengan citra beberapa tempat suci dan ulama dalam suasana demam Islamofobia tidak mungkin terjadi secara kebetulan, terutama ketika ancaman sayap kanan dan kekerasan terhadap Muslim sering kali didasarkan pada kiasan ideologis yang sama. Film ini mencoba untuk menunjukkan bahwa tempat ziarah Syiah adalah sarang prostitusi, pernyataan yang sangat ofensif jelas tidak didukung oleh bukti.

Kami juga sangat prihatin bahwa orang-orang yang secara diam-diam direkam dalam film ini, yang diperkenalkan para pembuat film sebagai ulama sebagai representasi dari Islam Syiah dan Lembaga-lembaga Keulamaannya, pada kenyataannya tidak memiliki kedudukan di dalam dunia Islam Syiah.bPerlakuan Islamofobik yang tidak peka dari film tentang penyalahgunaan kekuasaan yang serius akan membuat peluang untuk mengatasi penyalahgunaan tersebut. Para pembuat film salah mengidentifikasi mut’ah (perjanjian perkawinan berbatas waktu) sebagai ‘perkawinan pelesiran’ secara keseluruhan, mengaitkan perlindungan kontraktual yang sering digunakan untuk melindungi wanita dalam hubungan pra nikah sebagai pelacuran. Kekejian dan kesalahan karakterisasi yang disengaja ini adalah dasar bagi sepanjang dokumenter ini. Film berdurasi 57 menit ini hanya menampilkan 30 detik komentar dari Otoritas Keagamaan Senior Islam Syiah untuk keseimbangan. Dalam 30 detik itu, kita mendengar bahwa Ayatullah Agung Sayyid Ali Al Sistani, salah satu ulama Syiah terkemuka di dunia, mengutuk dan mengecam praktik yang dipertontonkan.

Sementara itu, para ideolog yang terkenal karena polemik mereka terhadap Ulama Syiah atau Islam pada umumnya diperlakukan sebagai komentator ahli dan memberitahukan bahwa pelecehan semacam itu adalah tersebar secara luas. Para pembuat film mengembangkan informasi bahwa status keagamaan mereka yang ditemukan terlibat atau mendukung kejahatan yang mereka klaim tersebar luas. Dari tiga pria yang diam-diam direkam, satu tampaknya tidak pernah mengenakan pakaian ulama yang terkait dengan ulama syiah. Dalam kasus lain, para pembuat film tampaknya bingung dengan seseorang yang mengenakan pakaian tradisional Irak yang dikenakan banyak komunitas – tetapi yang tidak memiliki makna keagamaan – sebagai seorang ulama. Ini seharusnya sebagai lonceng alarm dalam proses editorial untuk siapapun yang akrab dengan materi ini.

Ketidakakuratan faktual ini merupakan pusat premis dasar film dan pembenaran di bawah Pedoman Editorial BBC sendiri. Sebuah serangan serampangan pada kepercayaan dan institusi minoritas yang teraniaya di dalam Dunia Arab, disiarkan dalam Bahasa Inggris, Arab dan Urdu, telah dibenarkan oleh Manajemen Senior BBC kepada orang berpenampilan ulama yang tampaknya telah direkam diam-diam mendukung tindakan kriminal yang mungkin akan dianggap menjijikkan secara luas.

Mengingat standar editorial yang lemah dari film ini dan liputan sebelumnya dari kisah-kisah terkait dengan Syiah, ada kebutuhan yang jelas untuk lebih banyak adanya literasi keagamaan di dalam tubuh BBC, termasuk BBC seksi Bahasa Arab. Sayangya film-film seperti ini menciptakan sumber ketidakpercayaan yang dalam kerja sama dalam membentuk Literasi Keagaman akan semakin sulit.

Kami khawatir Sensasionalisme Film ini akan menyebabkan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap BBC di Irak dan di seluruh dunia Arab; lonjakan retorika sektarian, yang mengakar dari sikap Islamofobia dan kesulitan bagi Otoritas Hukum di irak untuk menyelidiki kasus penyalahgunaan kekuasaan ini. Kami sangat prihatin mendalam bahwa para korban pelecehan ini akan semakin menderita lagi sebagai akibat dari kelalaian BBC.

Penandatangan:

  1. Dr. Sayed Abbas Naqvi (Masjid Al Asr , g)
  2. Maha Ridha (Yayasan Yatim Piatu Al Kawther)
  3. Ayatulah Dr. Sayed Fadhil Al Milani (Pusat Islam Al Khoei)
  4. Syed Razvi (Al Noor)
  5. Syed Saqib Abidi (Institut Alnoor)
  6. Yayasan Alulbayt as
  7. Amir Hussain (Perkumpulan Babulilm, Irlandia)
  8. Syeikh Imran Hussain ( Yayasan Hosseinieh, Bristol)
  9. Dr Sarah Mehdi (Pusat Islam Huda Surrey)
  10. Dr Naqvi (Yayasan Kemanusiaan Amal Internasional n Kepercayaan)
  11. Syed Shah (Misi Hussaini Newport)
  12. Arshad Turabi (Hussainia, Bradford, Britania Raya)
  13. Misi Keislaman Hussainia, London
  14. Pusat Islam Hyderi, London
  15. Sayed Zafar Abbas (Masjid Husainiyyah Idaara e Maarif e Islam, Birmingham)
  16. Umme Arbab Shah (Pusat Imam Ali, High Wycombe)
  17. Hashim Nowrozzadeh ( Yayasan Imam Hussein Foundation, Watford)
  18. Sayed Razavi ( International Islamic Link)
  19. Islamic Centre of England
  20. Islamic Universal Association
  21. Imran Ramzan (Jamia Aale Abba, Newport)
  22. Sayed Mahdi Rabbani ( Khatom Al-Nabayeen Islamic Foundation)
  23. Sayed Abbas Naqvi (Majlis e Ulama e Shi’a)
  24. Masters Foundation
  25. Shaykh Ayub Rashid ( Muslim Community of Essex)
  26. Muntazar Nassar (Muslim Youth Association)
  27. Sheikh Mohammed Al-Hilli (Noor Trust, UK)
  28. Shaykh Jafar Najim ( Sakina Trust)
  29. Zahra Kazmi (Save Muslim Heritage)
  30. Syed Fida Hussain Bukhari ( Tawheed Centre Liverpool)
  31. Sayed Qassim al Jalali ( Wembley Ahlulbait Centre)
  32. Sheikh Fazleabbas Datoo (Wessex Shia Ithna Asheri Jamaat)
  33. Sayed Mohamed Al-Musawi World Ahlul-Bayt(as) Islamic League
  34. Syed Amir Saqlain Zainabiya Welfare Foundation
  35. Dr Alaa Amin

Apakah itu Mut’ah?

Mut’ah, yang diterjemahkan secara keliru dan ofensif di sepanjang film dokumenter BBC seksi Bahasa Arab sebagai ‘pernikahan pelesiran/kenikmatan’, sebenarnya merujuk pada perjanjian pernikahan sementara. Mut’ah seharusnya melindungi hak-hak wanita dalam hubungan pra nikah. Mut’ah sering digunakan oleh pasangan selama periode penjajakan, atau pertunangan sebelum pernikahan permanen, untuk membangun kecocokan mereka dalam kondisi yang disepakati oleh orang dewasa dan keluarga yang menyetujuinya. Beberapa pasangan setuju bahwa di bawah perjanjian nikah mut’ah bahwa mereka tidak akan berhubungan seksual selama periode kontrak tersebut.

Tetapi kondisi persetujuan yang diinformasikan harus selalu dipenuhi dalam pernikahan secara Islam apapun agar pernikahan tersebut sah. Dan jika itu adalah pernikahan pertama seorang wanita, ayahnya atau walinya juga harus menyetujuinya sebagai bentuk perlindungan baginya. Dalam hukum Islam, minimal dua bulan harus berlalu sebelum seorang wanita dapat menikah kembali setelah perceraian atau akhir dari kontrak mut’ah sebelumnya. Ini dimaksudkan sebagai perlindungan spesifik terhadap penyalahgunaan mut’ah dan jika kondisi ini tidak dipenuhi, perjanjiaan tidak bisa secara wajar digambarkan sebagai pernikahan mut’ah yang sesuai dengan Hukum Islam.

Diterjemahkan oleh Galih dari halaman situs https: en.shafaqna.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed