by

Jawaban Kantor Ayatullah Sistani kepada BBC terkait Beberapa Praktik yang tidak Pantas

Kantor Yang Mulia Ayatullah Sayyid Ali Sistani menerima beberapa pertanyaan pada 25 September 2019 dari Koresponden Khusus BBC Nawal Al Maghafi.

Berikut adalah ringkasan dari pertanyaan-pertanyaan ini:

Kita memiliki beberapa rekaman tentang dua rohaniawan di Irak, yang menyebut mereka sebagai pengikut Ayatullah Agung Sayyid Ali Al Sistani terlibat dalam melanggar hukum Irak, melalui menyediakan dan menawarkan wanita untuk Nikah Mut’ah (temporer). Mereka mengenakan biaya atas pelayanan, yang termasuk perdagangan seksual.

  1. Apakah Kantor dari Yang Mulia mengecam beberapa praktik ini yang telah kami tunjukkan?. Kami memiliki rekaman yang menunjukkan beberapa rohaniawan memberikan nasihat keagamaan yang membolehkan untuk mengadakan perkawinan dengan anak-anak di bawah umur sesuai hukum Irak yaitu 15 tahun. Beberapa rohaniawan memperlihatkan gadis-gadis yang sangat muda dan mereka menspesifikasi aktivitas seksual yang mereka klaim diperbolehkan.
  2. Apakah kantor dari Yang Mulia mengecam nasihat seperti ini yang diberikan para rohaniawan ini?, Dalam edisi sebelumnya dari Buku ‘Minhaj Al Shalihin – ‘Transaksi’ , Yang Mulia menulis bahwa dibolehkan untum melakukan aktivitas seksual, selain berhubungan seksual (penetrasi), dengan istri yg belum mencapai baligh/dewasa. Kita khawatir bahwa nasihat ini tidak termasuk dalam edisi terbaru yang tersedia.
  3. Bisakah Yang Mulia menjelaskan nasihat keagamaannya terkait hal tersebut?

Jawaban:

Kantor Ayatullah Sayid Ali Sistani, Najaf – Irak.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih dan penyayang.

  1. ‌Praktik tersebut, jika itu terjadi seperti anda telah sebutkan, adalah tentu terkutuk dan dikecam. Mereka yang merupakan pengikut sejati Marjaiyyat (Otoritas Keagamaan) tidak akan melakukan hal tersebut . Sesungguhnya Nikah Temporer (Mut’ah), yang diperbolehkan dalam Mazhab Syiah Imamiyyah, dan mirip seperti Pernikahan Permanen, yang dapat didasarkan pelepasan semua hak tetapi hak persetubuhan tidak dapat digunakan untuk tujuan perdagangan seksual seperti disebutkan (di atas), karena akan menodai kehormatan wanita dan kemanusiaannya. Karena itu mereka yang melakukan praktik-praktik seperti itu adalah orang yang rusak dan mereka menyalahgunakan agama untuk memenuhi tujuan terlarang mereka.

    ‌Ajaran Agama Islam yang murni dan khususnya keyakinan para pengikut Ahlulbait Nabi (salam baginya) menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, kesucian dan penghormatan terhadap hak pria dan wanita secara sederajat dan mempedulikan terhadap penjagaan dan perlindungan keluarga sebagai kesatuan utuh untuk masyarakat yang sehat tanpa mengabaikan kebutuhan alami manusia. Dan tidak diperbolehkan untuk mendistorsi dan melecehkan setiap fatwa agama dengan cara yang akan melanggar tujuan mulia dari nilai-nilai utama ini.

    ‌Oleh karena itu adalah wajib bagi pejabat berwenang terkait untuk mengambil tindakan hukum pencegahan terhadap tindakan tidak bermoral tersebut di manapun terjadi. Sayangnya yang terlihat adalah kelemahan aturan hukum di negara ini yang memungkinkan beberapa orang melakukan serangkaian praktik yang tidak sah. Sampai mencapai titik menjalankan prostitusi dan mempromosikannya.
  2. Hal ini juga dikutuk dan hal yang sama berlaku seperti yang dijelaskan di atas. Kami menekankan perlunya otoritas resmi yang berwenang untuk menuntut mereka yang tampil dengan busana keagamaan namun melakukan tindakan seperti itu, atau mempromosikan hal semacam itu yang membawa dampak sangat buruk pada masyarakat dan status agama di benak masyarakat.

  3. Perkawinan usia muda oleh pria yang belum mencapai usia baligh (dewasa) dengan wanita yang belum mencapai usia baligh (dewasa) adalah sampai sekarang masih umum di dalam masyarakat Dunia Timur. Karenanya Kitab peraturan Agama memasukkan beberapa aturannya dalam cetakan-cetakan sebelumnya, tetapi perlu diamati bahwa itu sudah berkurang pada saat ini dan itu telah dihapus pada cetakan edisi terbaru. Apa yang ingin kami tekankan adalah bahwa orang tua dari wanita
    tidak bisa memberikan izin untuk pernikahannya kecuali memang minat keinginannya (tiada paksaan – red), dan paling sering terjadi adalah tidak ada keinginan dalam pernikahannya sehingga dia mencapai kedewasaan secara jiwa dan raga kesiapan untuk beraktivitas seksual, karena itu juga bukan keinginannya untuk menikah yang bertentangan dengan hukum yang akan membuatnya bertanggung jawab atas dampak dan masalah yang tidak perlu.

26 Muharram 1441 / ‌26 September 2019

‌diterjemahkan oleh Galih dari sumber halaman situs http: ijtihadnet.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed