by

Arbain, Buah Manis Perjuangan Karbala

Lelah, letih dan haus, itulah yang kami rasakan ketika itu. Setelah berjalan hampir 10 jam dari kota Najaf menuju kota suci Karbala, kami duduk sebentar di sebuah trotoar. Tiba-tiba ada suara berbisik, “Silahkan mampir ke tenda (disebut “maukib”) kami.”

Seorang kakek menghampiri kami dan mengajak kami ke maukibnya. Kami pun mengikuti langkahnya menuju maukib. Di dekat maukib terlihat ramai sekali karena terdapat dapur darurat yang didirikan oleh masyarakat setempat untuk para peziarah.

Ketika memasuki maukib kami mendapatkan hampir segala sesuatu yang kami butuhkan. Temanku yang kehausan langsung ingin mengambil minuman, namun teman yang lain mengingatkan, “Tanya dulu harganya berapa.” (Baca: Karbala… Aku Menuju)

Dia pun bergegas mencari kakek pemilik maukib. Setelah bertemu, temanku langsung menanyakannya. Kakek itu hanya menjawab, “Semuanya gratis, ini hadiah dari kami untuk para peziarah Imam Husein as.” Alhamdulillah, ucap temanku spontan.

Di maukib semua kebutuhan kami ada, dari makanan segar, tempat istirahat, obat-obatan, tempat melakukan panggilan telepon internasional untuk menghubungi kerabat, dan kebutuhan lainnya. Semuanya gratis. Bahkan, jamaah tidak perlu membawa apa-apa dalam perjalanan 400 mil itu, kecuali pakaian yang mereka gunakan dan sepanjang jalan sudah disediakan wifi gratis untuk koneksi internet.

Yang lebih menarik lagi adalah bagaimana masyarakat Irak menyuguhkan makanan dan minuman untuk para peziarah. Pemilik dan petugas mawkib akan mencegat para peziarah di jalan, memohon untuk menerima pelayanan mereka. Sering kali pelayanan itu bukan hanya memberi makanan dan minuman saja, tapi juga rangkaian pelayanan yang lebih cocok untuk raja: Pertama-tama mereka akan memijat kaki kita, lalu kita akan disuguhi makanan hangat yang lezat, dipersilahkan untuk beristirahat sementara pakaian kita akan dicuci, disetrika. Semuanya akan selesai setelah kita tidur siang. Dan sekali lagi, semuanya gratis.

Subhanallah, ini adalah manifestasi dari cinta yang sebenarnya. Seakan-akan para malaikat Allah swt turun ke bumi menjamu para peziarah putra kesayangan Nabi Muhammad saw, Al-Husain as.

Para pencinta Imam Husein as dari seluruh pelosok negeri berbondong-bondong menuju pusara beliau, tuk memperingati hari ke-40 setelah kesyahidannya yang biasa disebut arba’in, tepatnya pada tanggal 20 Safar.

Ada beberapa sebab mengapa kita memperingatinya hari Arbain Imam Husain as

  1. Sejarah menyebutkan bahwa kafilah tawanan Ahlul Bait as setelah peristiwa Asyura digiring dari Karbala ke Kufah lalu menuju Damaskus. Dari Damaskus, kafilah dengan pimpinan Sayyidah Zainab dan Imam Ali Zainal Abidin yang saat itu masih sakit, kemudian kembali lagi ke Karbala. Mereka tiba di sana tepat pada arba’in atau hari ke-40. Setibanya di Karbala, Imam Ali Zainal Abidin dan Sayyidah Zainab beserta rombongan bertemu seorang sahabat Nabi yang bernama Jabir bin Abdullah Al-Anshari. Jabir adalah seorang pencinta Ahlulbait yang saat tragedi Karbala tidak bisa ikut karena tua dan buta. Kecintaan Jabir kepada Ahlul Bait Nabi saw mendorongnya untuk berziarah ke Karbala. Jabir tiba di Karbala tepat pada hari arbain, sehingga bertemulah kedua kafilah ini; yang satu dari Madinah dan yang satu dari Damaskus. Kisah ini merupakan salah satu alasan yang kemudian oleh kaum Muslim Syiah dijadikan sebagai awal mula prosesi peringatan arbain.
  2. Ziarah di hari arbain dianggap sebagai ciri khas seorang mukmin dan pengikut Ahlul Bait. Dalam sebuah hadis masyhur dari Imam Hasan Askari disebutkan bahwa beliau memberikan ciri khas kepada para pengikut Ahlul Bait itu dengan melakukan ziarah arba’in.
  3. Pelajaran yang bisa disampaikan dan bisa diambil hikmahnya pada hari-hari Asyura’ berbeda dengan hari arba’in. Pada episode ini, terdapat khutbah-khutbah Sayyidah Zainab di sepanjang jalan ketika banyak orang bertanya langsung siapa mereka yang berada di kafilah itu. Begitu juga saat di istana Ubaidillah bin Ziyad dan di istana Yazid. Selain itu, masih ada Imam Ali Zainal Abidin yang berbicara kepada berbagai kelompok di sepanjang jalan. Menurut banyak riwayat, banyak sekali khutbah beliau yang kemudian bisa diambil sebagai pelajaran.

Melihat 3 alasan di atas maka sudah sepatutnya hari arba’in diperingati. [Safinah]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed