by

Pandangan Sunni dan Syiah tentang Fikih dan Ijtihad [1/7]

Hasil gambar untuk ijtihad

Di kalangan masyarakat Islam, terminologi fikih dan ijtihad telah tercampur baur, sehingga tidak mudah untuk memisahkan antara keduanya tanpa adanya sebuah kajian yang menyeluruh dan sempurna. Kami akan mulai mengkaji terminologi ijtihad di kalangan mazhab Sunni. Kemudian kami akan memaparkan sikap mazhab Ahlulbait as tentang fikih dan ijtihad di akhir bab ini, insyâ-Allah.

Perkembangan Arti Ijtihad di Kalangan Mazhab Sunni

Terminologi ijtihad dan mujtahid ditemukan agak terakhir dari periode sahabat dan tabiin, karena para sahabat dan tabiin selalu menamakan perubahan hukum yang mereka lakukan sendiri dengan terminologi takwil. Seperti yang telah disebutkan dalam kisah pembunuhan Mâlik bin Nuwairah,yang dilakukan oleh tokoh sahabat dan kemudian meminta maaf atas tindakannya itu lalu berkata kepada Khalifah Abu Bakar: “Wahai Khalifah Rasulullah, sesungguhnya telah bertakwil, dan aku bisa benar dan juga bisa salah.”

Contoh lain seperti yang terdapat di dalam riwayat Az-Zuhrî, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah: “Sesungguhnya salat diwajibkan sebanyak dua rakaat untuk pertama kalinya, kemudian ia menetapkan salat itu di dalam perjalanan dan menyempurnakannya ketika tidak dalam perjalanan.”

Az-Zuhrî berkata: “Aku pernah bertanya kepada ‘Urwah, ‘Lalu mengapa ‘Aisyah menyempurnakan salat ketika dia sedang dalam perjalanan?’ Ia menjawab, ‘Ia telah bertakwil, sebagaimana Utsman juga pernah bertakwil.” [Shahîh Muslim, bab Shalâh Al-Musâfirîn wa Qashruhâ, hadis ke- 3; Shahîh Al-Bukhârî, bab Taqshîr Ash-Shalâh, jil. 1, hal. 134. ]

Ibn Hazm dalam Al-Muhallâ-nya dan Ibn At-Turkamânî dalam Al-Jauhar An-Naqî-nya berkata: “Tiada perbedaan pendapat di kalangan umat bahwa Abdurrahman bin Muljam tidak membunuh Ali kecuali ia telah melakukan
takwil, berijtihad, dan menyangka bahwa dirinya dalam kebenaran. Dalam hal ini ‘Imrân bin Haththân bersenandung, Alangkah indahnya tebasan pedang dari seorang bertakwa itu. Dia tidak menginginkan kecuali keridaan Pemilik ‘Arsy. Pada suatu hari aku akan mengingatnya dan aku meyakini bahwa dialah orang tersempurna timbangannya di sisi Allah.” [Al-Muhallâ, karya Ibn Hazm, jil. 10, hal. 484; Al-Jauhar An-Naqî, karya Ibn At-Turkamânî Al-Hanafî (wafat 750 H.), catatan pinggir Sunan Al-Baihaqî, jil. 8, hal. 58-59.

Di dalam catatan kaki Ash-Shawâ‘iq, Syaikh Abdul Lathîf berkata: “Seluruh sahabat yang hidup pada masa Ali, adakalanya mereka berperang di dalam barisannya, berperang melawannya, dan adakalanya tidak ikut serta dalam
kedua laskar tersebut dan melakukan takwil yang mana dengan tindakan itu, mereka tidak akan keluar dari garis keadilan.” [Catatan kami Ash-Shawâ‘iq, hal. 209]

Berkenaan dengan hak Yazîd, Ibn Katsîr berkomentar: “Para ulama menafsirkan seluruh kekejian yang pernah dilakukan oleh Yazîd bahwa ia telah melakukan takwil dan salah. Mereka menegaskan bahwa dengan demikian, ia adalah seorang imam fasik yang tidak boleh dipecat … dan tidak boleh ditentang. Adapun berkenaan dengan kebahagiaannya yang sangat ketika berita tentang penduduk Madinah dan peristiwa yang menimpa mereka di daerah Harrah sampai ke telinganya, hal itu karena ia meyakini bahwa dirinya adalah seorang pemimpin dan mereka telah menolak untuk menaatinya, serta meyakini seorang pemimpin selain dia. Dengan ini, ia berhak untuk memerangi mereka sehingga mereka kembali menaatinya dan mengikuti jamaah (muslimin).” [Târîkh Ibn Katsîr, jil. 8, hal. 223.]

Di dalam kisah pertama menamakan pembunuhan tokoh Sahabat Mâlik dengan takwil. Di dalam kisah kedua, seorang tabiin, ‘Urwah bin Zubair menamakan tindakan Ummul Mukminin ‘Aisyah menyempurnakan salat ketika ia sedang dalam perjalanan yang bertentangan dengan riwayatnya sendiri sebagai takwil, persis seperti yang pernah dilakukan oleh Utsman. Setelah berlalu beberapa masa, kita dapatkan Ibn Hazm yang meninggal dunia pada tahun 456 Hijriah menyebutkan bahwa Abul Ghâdiyat yang telah membunuh ‘Ammâr bin Yâsir telah melakukan takwil dan berijtihad yang berhak mendapatkan satu pahala.

Kita juga mendapatkan dia dan Ibn At-Turkamânî Al-Hanafî (wafat 750 H) menegaskan bahwa Ibn Muljam yang telah membunuh Imam Ali as juga telah melakukan takwil dan berijtihad.

Kita juga mendapatkan Ibn Hajar menyifati seluruh sahabat dalam seluruh peperangan itu sebagai sosok-sosok yang telah melakukan takwil, dan seorang mujtahid yang salah berhak mendapatkan satu pahala.

Begitulah, pada pertama kalinya, melakukan pendapat pribadi dinamakan dengan takwil dan akhir-akhir ini, dinamakan dengan ijtihad. Setelah itu, para ulama mazhab Khulafâ’ mengikuti para sahabat dan khalifah dalam hal ini dan membuka pintu ijtihad, yaitu mengamalkan pendapat pribadi (al-‘amal bi Ar-ra’y), untuk diri mereka sendiri. Hanya saja, mereka telah meletakkan kaidah-kaidah khusus untuk mengamalkan pendapat pribadi itu, menentukan nama-nama tertentu baginya, dan meletakkan bab-bab tertentu di dalam ilmu Ushûl. Mereka menamakan usaha merujuk kepada kaidah-kaidah yang telah mereka cetuskan sendiri itu dan menentukan hukum-hukum sesuai tuntutan kaidah-kaidah tersebut dengan nama ijtihad, dan menamakan orang yang melakukan semua itu dengan nama mujtahid. Padahal, terminologi syariat yang ada di dalam agama untuk usaha itu adalah fiqih dan orang menguasainya adalah faqih. Atas dasar ini, pada pembahasan berikut ini, selayaknya kita membahas tiga poin:

a. Penggunaan nama ijtihad.
b. Para mujtahid pada abad pertama Hijriah dan contoh-contoh ijtihad mereka.
c. Ijtihad pada abad kedua Hijriah dan selanjutnya, dan menentukan hukum dengan bersandarkan kepada perilaku sahabat.

Penggunaan Kata Ijtihad

Takwil Secara Linguistik dan Terminologis. Abbas bin Ahmad bin Yahyâ yang lebih dikenal dengan nama Tsa‘lab (wafat 291 H) berkata: “Takwil, makna, dan tafsir memiliki satu arti.”

Al-Jauharî (wafat 396 H) berkata: “Takwil adalah menafsirkan sesuatu dengan arti yang dikandungnya. Awwaltuh dan ta’awwaltuh memiliki satu arti.”

Ar-Râghib (wafat 502 H) berkata: “Takwil berasal dari kata aul yang berarti kembali kepada asal sesuatu. Tempat yang biasa digunakan sebagai tempat kembali disebut mau’il. Arti takwil—secara linguistik—adalah mengembalikan sesuatu kepada tujuan yang dimaksud darinya. Di dalam Al-Qur’an yang mulia, kata tersebut juga telah disebutkan demikian, seperti: … padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (QS. Ali ‘‘Imrân: 7)

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali takwilnya. (QS. Al-A‘râf: 53)

Kata takwil digunakan di dalam Al-Qur’an dan sunah untuk mengungkapkan takbir sebuah mimpi, seperti telah disebutkan di dalam kisah Yusuf yang terdapat di dalam ayat: “Beritahukanlah takwilnya” (QS. Yusuf: 36) dan takbir mimpi Rasulullah saw pada saat perang Uhud dalam sabda beliau: “Aku menakwilkan bahwa baju besi itu adalah
Madinah.” [Sunan At-Tirmidzî, jil. 2, hal. 129; Al-Muwaththa’, karya Imam Mâlik, kitab Al-Lubs, bab Mâ Jâ’a fî Al-Inti‘âl, hadis ke-16; Sunan Ad-Dârimî, kitab Ar-Ru’yâ, bab 13]

Ini adalah arti takwil secara linguistik dan itu adalah beberapa contoh penggunaannya. Para sahabat dan tabiin telah menggunakan kata takwil dan yang mereka maksudkan adalah perubahan hukum. Atas dasar ini, kata takwil di dalam tradisi mazhab Khulafâ’ memiliki arti baru.

Ibn Al-Atsîr berkata: “Takwil berasal dari ungkapan âla Asy-syai’ ya’ûlu ilâ kadzâ. Artinya, kembali kepadanya. Dan yang dimaksud dari kata takwil adalah memindahkan arti lahiriah sebuah kata yang asli kepada arti lain yang membutuhkan dalil. Seandainya dalil itu tidak ada, niscaya arti lahiriah itu tidak boleh ditinggalkan.”

Begitulah mereka mengubah arti dan maksud sebuah kata, dan perubahan semacam ini tersebar luas dalam buku-buku referensi hadis (mereka). Di dalam Ash-Shahîh-nya, kitab Al-Adab, Bukhârî berkata: “Bab Man Akfara Akhâh min Ghairi Ta’wîl Fahuwa kamâ qâla” dan “Bab Man Lam Yarâ Ikfâra Dzâlik Muta’awwilan wa Jâhilan.” [Fath Al-Bârî fî Syarh Shahîh Al-Bukhârî, jil. 13, hal. 129-130]

Ketika menjelaskan bab Man Jâ’a fî Al-Muta’awwilîn di dalam kitab Fath Al-Bârî, ia berkata: “Kesimpulannya, orang yang mengafirkan seorang muslim, harus dilihat. Jika ia melakukan hal itu bukan atas dasar takwil, maka ia berhak mendapatkan celaan, dan bisa jadi ia sendiri telah Al-Kâfîr, dan jika ia melakukan hal itu atas dasar takwil, maka juga harus dilihat.

Apabila penakwilannya itu tidak benar, maka ia berhak mendapatkan celaan, dan ia tidak dapat menjadi orang Al-Kâfîr. Yang harus dilakukan adalah hendaklah dijelaskan kepadanya poin kesalahannya dan dicela sesuai dengan kadar yang berhak diterimanya. Yang jelas, ia tidak dapat disamakan dengan orang pertama menurut pendapat mayoritas (jumhûr) ulama. Dan apabila pengafirannya itu berdasarkan kepada takwil yang benar, maka ia tidak berhak mendapatkan celaan, tetapi hujah harus dijelaskan kepadanya sehingga ia kembali kepada kebenaran.

Para ulama berkata, ‘Setiap orang yang telah melakukan takwil adalah dimaafkan karena penakwilannya itu. Ia tidak berdosa jika penakwilannya adalah benar di dalam bahasa Arab dan ia adalah orang terkenal di dalam bidang ilmu.’” [Fath Al-Bârî, jil. 15, hal. 333]

Begitulah mereka mengembangkan (baca: mengubah) arti kata takwil, dan akhir-akhir ini, mereka menamakan penakwilan-penakwilan yang telah dilakukan oleh mereka itu dengan nama ijtihad di dalam tradisi mereka.

Pada pembahasan berikut ini, kita akan menelaah para mujtahid pada abad pertama Hijriah dan beberapa contoh dari hasil ijtihad mereka. Aku tidak tahu bagaimanakah pendapat mereka tentang pengafiran seluruh muslimin
yang telah dilakukan oleh kaum Khawârij. Iya, mereka tidak memberikan uzur bagi mereka dan menamakan mereka orang-orang yang telah keluar dari Islam, kecuali Ibn Muljam, pembunuh Amirul Mukminin. Karena ia telah melakukan takwil dan—yang jelas—memiliki uzur.

Para Mujtahid Mazhab Khulafâ’ Pada Abad Pertama Hijriah dan Beberapa Contoh Produk Ijtihad Mereka

a. Nabi Muhammad SAW

Ketika Ibn Abil Hadîd Hadîd Al-Mu‘tazilî ingin mencari-carikan alasan atas penolakan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar karena tidak mengikuti laskar Usâmah, ia berkata: “Sesungguhnya beliau mengutus sariyah-sariyah itu berdasarkan ijtihad beliau sendiri, bukan berdasarkan wahyu yang haram untuk ditentang.” [Syarah Nahjul Balâghah, karya ‘Izzuddîn Abdul Hamîd bin Muhammad bin Muhammad bin Husain bin Abil Hadîd Al-Madâ’nî Al-Mu‘tazilî, seorang sastrawan dan sejarawan di Baghdad (586-655 H.), syarah surat Imam Ali as. kepada penduduk Mesir yang dikirimkan bersama Mâlik, cet. Mushthafâ Al-Bâbî, Mesir tahun 1329 H., jil. 4, hal. 178.]

Setelah itu, beliau membahas ijtihad Rasulullah SAW dalam peristiwa ini secara panjang lebar. Di dalam pembahasan ijtihad Khalifah Umar nanti, akan disebutkan contoh lain yang mana para ulama menamakan hukum Rasulullah saw dengan ijtihad. Kami juga akan menyebutkan argumentasi-argumentasi mereka atas ijtihad Rasulullah saw secara agak terperinci disertai dengan kritikan kami atas argumentasi tersebut dalam pembahasan-pembahasan berikutnya, insyâ-Allah.

Atas dasar ini, kami menyebutkan Rasulullah saw sebagai nama mujtahid pertama di kalangan mereka, berbeda dengan pendapat mazhab Ahlulbait as yang menafikan ijtihad dari beliau.

b. Khalifah Abu Bakar

Ketika Syaikh Ath-Thûsî mengkritik Khalifah Abu Bakar bahwa ia telah membunuh Al-Fajâ’ah As-Sulamî dan tidak mengakui pewarisan kalâlah dan hak warisan nenek, Al-Qûsyajî menjawab: “Berkenaan dengan pembakaran Al-Fajâ’ah yang telah dilakukannya, hal itu karena kesalahannya dalam berijtihad, dan alangkah banyaknya para mujtahid yang telah melakukan hal yang sama. Adapun berkenaan dengan pewarisan kalâlah dan hak warisan nenek, bukan hanya dia di antara para mujtahid yang ada yang berpendapat demikian, lantaran mereka sedang mencari dasar-dasar hukum dan menanyakan kepada orang yang menguasainya ….” [Tajrîd Al-Kalâm fî Syarah ‘Aqâ’id Al-Islam, karya Khâjah Nasîruddîn Muhammad bin Muhammad bin Ath-Thûsî Al-Jahrûdî (wafat 672 H.). Silakan Anda rujuk juga buku Adz-Dzarî‘ah, jil. 3, hal. 351. Buku Syarah At-Tajrîd ini adalah karya ‘Alâ’uddîn Ali bin Muhammad. Ayahnya menjulukinya dengan julukan Al-Qûsyajî lantaran ia adalah pemelihara burung elang milik raja Mawarâ’An-nahr.]

Ketika Syaikh Ath-Thûsî mengkritiknya kembali bahwa ia tidak menghukum Khâlid dan tidak meng-qishâsh-nya, ia menjawab: “Ia telah menikahi istrinya (Mâlik bin Nuwairah) di negeri peperangan, karena hal ini adalah salah satu masalah yang diputuskan oleh para mujtahhid.”

Ia melanjutkan: “Dan pemrotesan Umar terhadapnya tidak mengindikasikan pengkritikan terhadap kepemimpinan Abu Bakar dan juga tidak menunjukkan niatnya untuk memprotes. Tetapi, ia memprotesnya sebagaimana layaknya sebagian mujtahid memprotes mujtahid yang lain.” [Ini adalah pendapat Al-Qûsyajî dalam buku Syarah At-Tajrîd, cet. Tabriz tahun 1301 H., hal. 407. Silakan Anda rujuk juga Syarah Nahjul Balâghah, jil. 4, hal. 183]

Berkenaan dengan sikap Abu Bakar terhadap kasus Khâlid bin Walîd, Ibn Katsîr berkata: “Abu Bakar masih menetapkan Khâlid sebagai penguasa meskipun ia telah berijtihad dalam membunuh Mâlik bin Nuwairah, dan
ternyata salah (dalam ijtihadnya).” [Târîkh Ibn Katsîr, jil. 6, hal. 323.]

c. Khalifah Umar

Ibn Abil Hadîd menyebutkan kritikan kelima yang ditujukan kepada Umar bin Khatab bahwa ia senantiasa memberikan harta Baitul Mâl kepada orangorang yang tidak berhak. Bahkan, ia memberikan sepuluh ribu Dirham
kepada ‘Aisyah dan Hafshah setiap tahun dan mencegah khumus dari Ahlubait ….

Ia menjawab kritikan tersebut seraya berkata: “Baitul Mâl ditujukan untuk membagi-bagikan harta sesuai dengan hak masing-masing individu. Berkenaan dengan banyak dan sedikitnya (pemberian itu), hal itu diserahkan kepada pengurusnya untuk berijtihad. Berkenaan dengan pelarangan khumus itu, hal itu terjadi karena masalah ijtihad ….”

Ia melanjutkan: “Dengan hukumnya itu, Umar tidak keluar dari metode ijtihad. Barang siapa mempertanyakan tindakannya itu, berarti ia ‘Alâ’uddîn memiliki andil dalam membangun bangunan teropong bintang di Samarqand.

Ia pernah pergi ke Tabriz dan kemudian ke Konstantinopel untuk mendamaikan antara rajanya yang berasal dari silsilah Utsmaniyah dan raja Tabriz, Hasan Ath-Thawîl. Raja Utsmaniyah yang bernama Muhammad itu memuliakannya dan menobatkannya sebagai penanggung jawab penuh di sekolah Aya Sophia. Ia
meninggal dunia di Aya Sophia pada tahun 897 Hijriah. Silakan Anda rujuk biografinya dalam buku Hadiyah Al-‘Ârifîn, jil. 1, hal. 736 dan Al-Kunâ wa Al-Alqâb, jil. 3, hal. 77.

Diriwayatkan dari Ibn Al-Jauzî bahwa ia pernah berkata dalam masalah khumus: “Masalah ini adalah sebuah masalah yang menyangkut ijtihad.”

Ibn Abil Hadîd juga menukil kritikan ketujuh bahwa Umar sangat beraneka ragam dalam menentukan hukum. Bahkan, diriwayatkan ia pernah menentukan hukum untuk kakek sebanyak tujuh puluh ketentuan dan diriwayatkan juga, sebanyak seratus ketentuan. Ia selalu memilih kasih dan melebihkan satu golongan atas golongan yang lain ketika memberi bantuan Baitul Mâl, sedangkan Allah swt. telah menyamaratakan antara seluruh lapisan masyarakat. Ia juga sering menentukan hukum atas dasar pendapat pribadi dan persangkaan.

Ia menyebutkan jawaban yang telah diberikan para ulama bahwa mereka berkata: “Masalah-masalah yang berhubungan dengan ijtihad memperbolehkan perbedaan pendapat dan berpindah dari satu pendapat ke pendapat yang lain sesuai dengan persangkaan yang dominan dan tandatanda (kebenaran sebuah pendapat) yang ada.”
Ia melanjutkan: “Pembahasan yang ada adalah berkenaan dengan konsep qiyâs dan ijtihad itu sendiri. Jika kedua konsep itu dapat dibuktikan, maka seluruh penyelewengan itu tidak dapat dijadikan sebagai kritikan (tha‘n) atasnya.”

Dalam menjawab kritikan Syaikh Ath-Thûsî yang berkata: “Ia memberikan bantuan kepada para istri Nabi saw. dan mewajibkan hal itu, sedangkan ia mencegah Fathimah dan keluarganya untuk mendapatkan hak khumus mereka. Ia menentukan hukum untuk kakek dengan seratus ketentuan dan melebihkan satu golongan atas golongan yang lain dalam pembagian hak Baitul Mâl, sedangkan semua hal itu tidak pernah terjadi pada masa Nabi saw”, ia berkata: “Keempat alasan itu tidak dapat dijadikan kritikan atasnya, karena masalah itu termasuk dalam perbedaan pendapat antara satu orang mujtahid dengan mujtahid lainnya berkenaan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan ijtihad.” [Syarah At-Tajrîd, hal. 408]

Maksud dia adalah, bahwa perbedaan penentangan Khalifah Umar bin Khatab ra atas Rasulullah saw dalam seluruh hukum tersebut termasuk kategori penentangan seorang mujtahid, yaitu Umar, atas pendapat seorang mujtahid yang lain, yaitu Rasulullah saw., dan tiada cela dalam masalah ini.

d. Khalifah Utsman

Ketika Utsman mendapat kritikan karena ia telah membebaskan ‘Ubaidillah bin Umar dari hukuman, Al-Qûsyajî berkomentar: “Ia telah berijtihad dan berpendapat bahwa ia tidak wajib menerima hukuman atas pembunuhan itu, karena hal itu terjadi sebelum dirinya dilantik menjadi pemimpin.” [Syarah At-Tajrîd, hal. 409; Syarah Nahjul Balâghah, jil. 1, hal. 243]

Ibn Taimiyah juga menjawab bahwa masalah ini termasuk masalah yang berhubungan dengan konsep ijtihad. [Minhâj As-Sunah, karya Ahmad bin Abdul, hal.îm bin Abdussalâm bin Abdullah bin Abil Qâsim bin Taimiyah Al-Harrânî Ad-Dimasyqî Al-Hanbalî, founder mazhab Salafiyah (661-728 H.), jil. 3, hal. 203. Para ulama yang hidup satu masa dengannya berfatwa bahwa akidahnya rusak. Penguasa Damaskus memenjarakannya di rumah tahanan Damaskus dan mati di situ. Biografinya terdapat dalam buku Târîkh Ibn Katsîr, jil. 14, hal. 135]

Dalam menjawab kritikan bahwa ia telah menolak hukum tersebut, Al- Mu‘tazilî menukil bahwa para ulama berkata: “Meskipun Rasulullah saw tidak mengizinkan hukum itu ditolak, namun boleh saja ia (Khalifah Utsman) menolaknya jika ijtihadnya menuntut demikian. Hal itu lantaran seluruh kondisi selalu berubah.” [Syarah Nahjul Balâghah, karya Ibn Abil Hadîd Hadîd, jil. 1, hal. 233]

Ibn Taimiyah juga berkomentar: “Hal ini termasuk masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah ijtihad.”
Ketika menjawab kritikan yang diluntarkan kepada Utsman berkenaan dengan peristiwa yang terjadi antara dia dan Ibn Mas‘ûd, Ibn Taimiyah berkata: “Jika setiap individu dari mereka berdua telah berijtihad dalam setiap pendapat yang diluntarkannya, maka Allah akan memberikan pahala kepadanya karena kebaikan-kebaikannya dan mengampuni keburukankeburukannya.”

Ia melanjutkan: “Kadang-kadang seorang imam berijtihad berkenaan dengan (penentuan) sebuah siksa (baca: hukuman) dan ia berhak mendapatkan pahala karena hal itu, dan mereka juga berijtihad dalam seluruh tindakan mereka dan mereka tidak berdosa karena itu, tetapi diberikan pahala karena ijtihad mereka itu. Seperti kesaksian Abu Bakrah atas Mughîrah. Sesungguhnya Abu Bakrah adalah seorang sosok yang saleh dan termasuk salah seorang muslim yang baik. Ia mengharapkan keridaan Allah dalam kesaksiannya itu dan meyakini bahwa dirinya akan
mendapatkan pahala karena itu. [Aku tidak tahu apakah pendapat dia tentang Mughîrah dan tentang kesaksian empat orang saksi atas dirinya bahwa ia duduk di antara dua kaki Ummu Jamîl? Apakah ia akan memandangnya sebagai sosok orang yang telah berijtihad dan berhak mendapatkan pahala atas tindakannya itu lantaran ia adalah sahabat Rasulullah saw?]

Atas dasar ini, tidak mustahil pengha-jaran Ibn Mas‘ûd dan ‘Ammâr yang telah dilakukan oleh Utsman itu termasuk dalam bab ini. Jika masing-masing orang-orang yang berperang—mungkin— berijtihad ketika melakukan peperangan dan kesalahan mereka akan diampuni,2 maka orang-orang yang hanya bermusuhan belakan lebih pantas untuk melakukan demikian.” [Minhâj As-Sunah, jil. 3, hal. 193. Seluruh contoh ijtihad sahabat yang telah
disebutkan oleh Ibn Taimiyah dalam rangka membela Utsman ini termasuk dalam kategori membenarkan klaim sebelum dibuktikan (mushâdarah bi al-mathlûb).

Ketika menjawab kritikan atas Utsman yang telah menambahkan azan ketiga pada hari Jumat, Ibn Taimiyah menjawab bahwa hal ini termasuk masalah yang berhubungan dengan konsep ijtihad.

Di dalam Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah-nya, Ibn Hajar Al-Haitsmî berkata: “Berkenaan dengan Ibn Mas‘ûd, ia sangat menaruh dendam kepada Utsman. Oleh karena itu, kemaslahatan menuntut supaya ia dipecat.5 Lebih dari itu, seorang mujtahid tidak berhak untuk diprotes berkenaan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan konsep ijtihadnya. Akan tetapi, (sayangnya) orang-orang terlaknat dan para pengkritik tersebut tidak memiliki pemahaman (yang cukup), dan bahkan tidak memiliki akal (yang waras).” [Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, karya Ibn Hajar Syihâbuddîn Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al-Mishrî Al-Haitsamî Al-Anshârî (909-974 H.), ditinjau ulang oleh Syaikh Abdul Wahhâb Abdul Lathîf, Maktabah Kairo, tahun 1375 H., hal., 111.]

Ia melanjutkan: “Penahanan Ibn Mas‘ûd dan pemutusan hubungan dengannya yang telah dilakukan oleh Utsman—sesuai dengan berita yang telah sampai kepadanya—adalah suatu tindakan yang memang harus dia ambil. Lebih-lebih setiap individu dari mereka berdua adalah seorang mujtahid. Oleh karena itu, dia tidak berhak dikritik atas tindakan yang telah dilakukannya terhadap yang lain tersebut.”

Ketika Utsman dikritik lantaran ia menyempurnakan salat di Mina ketika ia sedang melaksanakan haji, Ibn Hajar berkat: “Masalah ini termasuk masalah yang berhubungan erat dengan konsep ijtihad. Mengkritik hal itu adalah sebuah kebodohan, keburukan, dan kedunguan yang sangat jelas. Karena menurut pendapat mayoritas ulama, mengqashar salat (di Mina) adalah sesuatu yang boleh, bukan wajib.”

e. Ummul Mukminin ‘Aisyah

Ketika menjawab kritikan ‘Allâmah Al-Hillî3 terhadap ‘Aisyah, Ibn Taimiyah berkata: “Adapun tentang kritikannya yang menegaskan bahwa ‘Aisyah telah menentang firman, ‘Diamlah kamu di rumah-rumah kamu dan janganlah kamu bersolek sebagaimana [kaum] Jahiliyah bersolek’, ia tidak bersolek sebagaimana (kaum) Jahiliyah pertama bersolek, dan perintah untuk diam di rumah itu tidak bertentangan dengan keluar darinya jika hal itu untuk sebuah kemaslahatan … Jika pepergian kaum wanita diperbolehkan untuk ‘Aisyah, ia meyakini bahwa pepergian itu mengandung kemaslahatan untuk seluruh muslimin.

Lalu ia melakukan takwil dalam hal ini … Seorang mujtahid yang bersalah, kesalahannya akan dimaafkan. Dengan demikian, pemaafan bagi ‘Aisyah karena ia tidak tinggal
di rumahnya adalah lebih berhak untuk diberikan kepadanya jika ia telah berijtihad dalam hal ini. Dengan jawaban-jawaban itu, seluruh kritikan yang tertuju kepada keluarnya ‘Aisyah ra. dari rumahnya dapat terjawab. Dan jika
seorang mujtahid telah salah, maka kesalahannya akan diampuni berdasarkan kitab dan sunah.” [Minhâj As-Sunah, karya Ibn Taimiyah, jil. 3, hal. 190]

Ketika ingin mencarikan uzur bagi ‘Aisyah, Al-Qurthubî berkata: “Ia adalah seorang mujtahid yang selalu benar dan berhak mendapatkan pahala atas takwil dan tindakannya itu, karena setiap orang yang berijtihad di dalam hukum pasti mencapai kebenaran.” [Tafsir Al-Qurthubî, jil. 14, hal. 182, tafsir ayat: “Wa lâ tabarrajna”]

‘Allâmah Abu Manshûr Jamâluddîn Hasan bin Yusuf bin Muthahhar Al-Hillî (647 – 726 H.). Di antara karya karyanya adalah buku Minhâj Al-Karâmah. Ibn Taimiyah telah menjawab buku ini dan memberinya judul Minhâj As-Sunah. Dalam pembahasan kita ini, kami merujuk kepada cet. Al-Amîriyah, Mesir, tahun 1322 H.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed